Kematian Sebuah Refleksi II


oleh Waskito Giri Sasongko pada 11 Oktober 2010 jam 20:10.(sebuah telaah sangat-sangat awal secara antropologis)

http://www.facebook.com/#!/notes/waskito-giri-sasongko/kematian-sebuah-refleksi-ii/458695942520

“Kulo nderek belangsungkawa sedane embah nggeh, dik…O-nggeh, matursembah nuwun, pangestunipun Gusti Alloh, mas… Pripun ceritane embah, dik? Kok, sajak ndadak sanget nggeh…kulo mireng kabar bilih embah gerah, ketingale sawek tigang dinten kepungkur nggeh, dik? Kulo dereng sempet niliki, eh alah koq malah empun seda….lha embah gerah menapa nggeh, dik? Sasat mboten nganggem gerah, mas…namun kados tiyang masuk angin…sedane kemawon sajak kados tiyang sare…sasampune embah melingi sedaya, ninggal pesen tumrap sedaya, teras embah pamitan kepengin sare. Teras let  mboten danggu, makles sedo….sajak sedane sekeco nika lho, mas…monggo kulo aturi mersani embah, nak ketingal sajak sedane mawon kanti mesem. O-alhammdulillah, dik…syukur, syukur…sedane embah mugi ketampi Gusti, dik. Nggeh, pangestune lan dongane nggeh, mas…”

Demikianlah tertegun saya mendengar obrolan ini, obrolan ringan dalam suatu layatan embah teman di sebuah dusun kecil yang jauh dari kegaduhan riuh rendah pembudayaan modernitas. Saya terkesan, bahkan sejenak pukau dan sekaligus gusar diri sebenarnya. “Ini kematian tapi bukan layaknya kematian” gumanku. Seolah-olah sama sekali tidak terbersit kemuraman dalam kisah kematian embah teman ini. Dan selalu saja tema kematian senantiasa tak pernah luput dalam menginterupsi kesadaran saya, dan saya yang malah menjadi muram. Kesadaran saya, ibarat sebuah tanggul yang bocor di sana-sini sehingga airnya tiba-tiba menyeruak keluar dari retakan-retakan dindingnya itu, tiba-tiba saja saya rasakan ribuan desiran serabut halus ketakutan menyergap memenuhi ruang batin sehingga sejenak memaksa diri saya mengjangkah keluar dari rutinitas kehidupan sehari-hari: “Ya, bagaimana dengan kematianku nanti? Akankah, saya sanggup sesahaja alur runut embah teman saya itu? Ataukah, saya akan menyusuri jalan lazim yang biasa ditempuh orang modern saat ini, yakni tersungkur tak sadarkan diri lebih dulu dalam beberapa hari, minggu, atau bahkan bulan, kemudian tanpa pernah tersadar lagi lalu menghembuskan nafas?”

Saya kira, kisah kematian seperti embah teman saya ini pasti sudah sering kita dengar. Bahkan sangat mungkin banyak kisah, tidak hanya satu atau dua cerita kita dengar, baik itu dari lingkungan terdekat kita ataupun lingkungan agak jauh ataupun sekadar mendengar kisah buah bibir. Apa yang bisa kita lihat, bahwa seolah-olah bagi generasi embah-embah kita ini kematian terasa begitu alamiah, suatu proses yang tanpak wajar begitu saja tanpa mesti terdengar isak tangis apalagi sedu-sedan menyanyat mengiringi. Lebih-lebih dalam banyak kasus generasi embah-embah kita ini cenderung seda sepuh, meninggal usia lanjut.

Sejenak diam, teringat kisah embah saya sendiri. Sejak kecil, kira-kira waktu itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, selalu saja saya dibuat gigil jika mesti berjalan melewati sisi halaman belakang rumah embah dari ibu. Pasalnya, dalam persepsi masa kecil saya ada suatu pemandangan yang tampak ganjil di sana. Di tritisan belakang rumah embah bergantungan empat peti mati. Empat peti mati sederhana dari kayu jati pedesaan yang sengaja dibuat dan disiapkan untuk embah kakung dan embah putri beserta embah buyut kakung dan embah buyut putri saya. Kebetulan kedua embah buyut berumur panjang, sehingga saya beroleh kesempatan mengenalnya secara pribadi. Belakangan, ketika embah buyut kakung meninggal, saya semakin tahu bahwa ternyata tidak hanya peti mati yang telah embah siapkan, namun tak ketinggalan juga sebidang tanah “rumah masa depan” telah dipersiapkan untuk beliau.

Ya, embah punya kuburan keluarga. Di areal pemakaman itu didirikan sebuah rumah, saya rasa tidaklah tepat jika dikatakan sekadar cungkup, karena selain cukup besar ada stlye tersendiri yang sengaja diguratkan estestis. Arsiteknya adalah embah sendiri. Dalam niatan embah tidak hanya indah, rumah masa depan ini sengaja dibangun sekokoh mungkin. Rumah masa depan dirancang sanggup bertahan hingga bumi ini merusak karena kiamat ujar embah waktu itu.

Kapasitas tentu tidak terlalu besar, namun tampak jelas makam itu ditata sedemikian rupa, berurut dari yang paling tua diposisi sebelah paling atas, terus anaknya, istrinya anaknya, anaknya yang lain lagi beserta istrinya, dst., dst. Selalu yang laki-laki berada di posisi sebelah kanan, sedang perempuan di posisi sebelah kirinya. Tanahnya diplester semen. Karena diplester semen maka jauh-jauh hari sudah dibuatlah lubang-lubang di tanah perkuburan itu. Nah, rumah masa depan telah purna disiapkan sebegitu rupa bahkan ketika embah kakung dan embah putri sendiri masih terhitung sehat dan bugar. Pernah dengan nada berseloroh embah berkata pada saya, “le…thole…nak kowe gelem, sesuk kowe ya manggon kene ya keno…”  Saya tentu hanya tersenyum kecut mendengar tuturannya.

Tentu tidak ada yang aneh dengan semua gejala perilaku embah saya ini, setidaknya setahu saya tradisi membangun makam keluarga adalah khas kultural masyarakat manusia. Kita bisa bersangka-sangka bahwa sejak ditemukannya peti batu (sarkofagus), maka kita tahu sejak zaman batu besar (megalitikum) itu pulalah masyarakat manusia telah mengenal tradisi penguburan. Konon, banyak orang mengantakan kuburan dan upacara penguburan adalah suatu penanda mulai muncul terbentuknya peradaban masyarakat manusia. Di Mesir, katakanlah bangunan Piramida, contohnya setidaknya juga dipercaya orang sebuah kuburan keluarga raja-raja Firaun. 

Tanpa kecuali bagi keluarga orang Jawa, tentu. Lebih-lebih di kalangan aristokratnya, keberadaan kuburan keluarga adalah hal yang signifikan. Kita tahu makam satu wangsa dinasti seorang raja beserta para pewarisnya bisa telah disiapkan tanah kuburnya, bahkan jauh-jauh hari sebelum takdir kematian itu sendiri tiba menjemput mereka satu-per-satu. Di Jogjakarta, tepatnya di Imogiri Bantul misalnya, kita bisa saksikan satu makam keluarga raja-raja wangsa Mataram dibangun di atas perbukitan kecil. Juga di Kotagede Jogjakarta, atau di Mangadeg Karanganyar, atau di daerah-daerah lainnya. Di sana galibnya ada ratusan orang yang secara umum memiliki tali-temali ikatan darah dengan para penguasa atau elite tanah Jawa masa lalu yang dipersemayamkan di situ. Tidak ketinggalan pak Harto mantan presidan kedua kita itu, kasat mata berpamrih niatan mengumpulkan satu wangsa keluarganya dalam satu areal tanah rumah masa depan bersama.

Timbul pertanyaan yang mengusik dan menggelisahkan hati saya, pertama, mengapa generasi kultural embah kita beserta generasi masyarakat Jawa masa lalu dapat dengan begitu mudah menyikapi fenomena kematian? Bahkan tampak jauh-jauh hari sudah menyiapkan seluruh rangkaian prilaku individualnya menyosong kematian, dan ini menurut saya sebagai bagian dari prilaku budaya masyarakat secara lebih luas? Kedua, mengapa generasi kultural kita, sebuah generasi masyarakat yang menghidupi budaya hiper-modern tampak menjadi relatif lebih tidak mudah mengandaikan proses kematian dalam sikap hidup kita? Apa yang salah dengan modus budaya kita saat ini? Dan lalu apa kata kunci yang dapat kita petik hikmahnya dari alam budaya masyarakat Jawa masa lalu? Saya curiga bahwa di balik gejala sosiokultural masyarakat Jawa membangun makam keluarga ini, ada suatu pra asumsi (preassumtion) yang, entah sadar atau tidak, telah mereka bayangkan dalam melihat fenomena kematian itu sendiri. Sehingga timbul pertanyaaan ketiga, apa yang generasi masyarakat Jawa masa lalu andaikan atau persepsi dalam melihat dan menyikapi peristiwa kematian, baik itu suatu konsep yang terumuskan maupun yang tidak terumuskan sebagai dasar keyakinan metafisika mereka?

Nah, pada titik ini harapan kita ialah dapat merefleksikan perubahan-perubahan mendasar yang telah terjadi, baik itu secara sosiologis, antropologis, maupun psikologis, di mana kita melihat perbedaan-perbedaan yang muncul dalam masyarakat kita dulu dan sekarang, khususnya dalam hal mempersepsi kematian.

Kuburan dan Filsafat Orang Jawa

Dapat dikata kuburan adalah merupakan salah satu titik sentral dalam kehidupan orang Jawa. Setidaknya kuburan, ibaratnya ibukanlah sekadar pintu belakang tetapi juga adalah pintu depan sebuah rumah. Sampai hari ini paling tidak masih dapat kita saksikan sebuah tradisi ritual kubur ialah suatu kelaziman dalam masyarakat ini, tentunya selain ziarah pada kuburan keluarganya sendiri, lebih dari itu galibnya adalah kuburan daripada para leluhur masyarakat Jawa yang notabene dianggap keramat atau memiliki daya shakti.

Motivasinya bisa sangat beraneka ragam tentu. Ketika orang dilanda kesusuhan maka ia pergi ke kuburan. Ketika ia berpamrih naik pangkat ritual ke kuburan. Ketika orang ingin usahanya maju pun tak segan pula ke kuburan. Bahkan, ketika hendak mau nyalon jadi DPR atau Presiden pun tidak sedikit yang kita dengar sebagian dari para calon yang berlatarbelakang budaya Jawa akan meluangkan waktu pergi ke kuburan untuk memantapkan kenyakinannya. Ritual kubur seolah-olah menjadi bagian penting dari laku masyarakat Jawa dalam memaknai kehidupannya. Jika kita meminjam pemerian Clifford Geertz kejamakan ritual ini muncul di kalangan masyarakat Jawa dengan latarbelakang cultural “priyayi” dan terlebih khususnya ”abangan”, dan tidak sedikit terjadi dalam masyarakat “santri” tradisional.

Tidak aneh jika ada sementara kalangan peneliti dengan cukup gegabah berani menyimpulkan bahwa, pemujaan—menurut saya lebih tepatnya “pemuliaan”—terhadap leluhur adalah asal muasal “agama asli” orang Jawa sebelum agama Hindu dan Budha masuk ke tanah nusantara. Tentu banyak dasar asumsi, data arkeologis dan argumentasi antropologis dipaparkan di sana-sini, yang intinya bahwa agama-agama tanah Hindustan ini ketika masuk ke tanah Jawa telah mengalami proses Jawanisasi (lokalisasi) sebegitu rupa hingga menjadi lebih selaras dengan nafas konsepsi ritual kubur orang Jawa (baca: agama asli) daripada wajah kedua agama ini sebagaimana bentuk aslinya di tanah asalnya, India. Tanpa terkecuali dengan agama Islam, juga pada awalnya lebih merupakan proses Jawanisasi Islam daripada Islamisasi Jawa. Fundamentalisme Islam, bagaimanapun adalah gejala modern masyarakat kita.

Apa yang menjadi kata kunci kesimpulan para peneliti ini adalah, bahwa adanya praktik ritual atau ziarah kubur yang khas masyarakat Jawa adalah merupakan struktur dasar yang menyusun sistem teologi orang Jawa, yang tampaknya saja seolah-olah telah dirumuskan dalam “jubah baru” Hindu atau Buddha maupun Islam, tetapi sesungguhnya tetaplah berstruktur “nalar lama”, berstruktur nalar teologi Jawa. Sejauh ini tampaknya tafsiran soal agama asli ini tetaplah bernilai sebuah spekulasi pemaknaan semata daripada sebuah postulasi antropologis yang serta merta faktual, dan banyak hal di sana-sini tentu masih dapat kita perdebatkan (debatable) kebenarannya.

Namun, apa yang tetap menarik untuk kita simak lebih mendalam di sini ialah, bahwa ritual kubur ini jelas bermakna signifikan dalam kehidupan orang Jawa. Bahwa, dalam keberadaan makam itu sendiri sebagai lokus budaya orang Jawa, saya nyakin terdapat kata kunci penting yang tersimpan untuk memahami alam batin generasi kultural embah-embah masyarakat kita dulu. Nah, pada titik inilah, jika kita dedah secara mendalam saya myakin kita dapat melihat bagaimana modus prasangka (pre-assumption) nilai-nilai kultural budaya Jawa yang melatarbelakangi pengandaian mereka dalam memaknai fenomena kematian. Artinya, bagaimana kematian ini dikonsepsi dan dipersepsi dalam alam budaya Jawa tentu sangat berkorelasi sangat dekat dengan pengandaian individu-individu orang Jawa dalam memaknai dan menyikapi proses kematiannya tersebut.

Tapi, sebelum kita memasuki pembahasan kita perihal konsepsi kematian orang Jawa, ada baiknya jika pada titik ini kita melihat terlebih dahulu konsepsi kehidupan yang mereka rumuskan. Karena bagaimana cara orang melihat kehidupan akan sangat terkait mait dengan bagaimana orang mempersepsi kematian. Dan bagaimana orang mengkonsepsi dan mempersepsi fenoma kematian tentu juga terkait-mait dengan bagaimana orang mempersepsi kehidupan. Bagaimanapun, keduanya, kehidupan dan kematian, adalah dua sisi mata uang yang saling mengandaikan satu sama lain.

Dalam pandangan masyarakat Jawa tentang kehidupan, sebagaimana pandangan budaya Timur secara umum, tanpak jelas cenderung mendudukkan konsepsi harmoni atau keselarasan sebagai faktor signifikan yang membentuk sistem nilai-nilai filosofi pandangan dunianya. Konsepsi keselarasan ini tentunya termaknai secara luas, tidak semata-mata termaktub dalam artian kosmologis melainkan juga dalam artian antropologis, yakni adanya keselarasan hubungan antara manusia dengan alam (universe) dan manusia dengan masyarakat adalah tujuan ideal yan harus dicapai oleh tiap-tiap individual orang Jawa. Dengan begitu bagi kesadaran subyek orang Jawa, kesanggupan untuk menjaga atau menciptakan keselarasan itu sendiri menjadi hal yang demikian penting. Menjadi selaras adalah semacam seni par excellent dalam kehidupan orang Jawa.

Konsepsi keselarasan itu sendiri secara paradigmatik berdiri kukuh di atas fondasi asumsi gagasan lain yang tidak kalah mendasarnya, yakni bahwa manusia sebagai jagad cilik merupakan representasi dari alam semesta sebagai jagad gede. Atau biasa kita sebut dengan model paradigma makrokosmos dan mikrokosmos, di mana relasi keduanya ini sebenarnya sangat berjalin berkelidan baik secara lahir maupun batin. Jagad gede atau makrokosmos ini diandaikan di dalam dirinya sendiri (an sich) adalah representasi dari, atau senantiasa bergerak menuju pada, adanya suatu keselarasan itu sendiri.

Dengan demikian, prinsip keselarasan yang ada di dalam dan bekerja pada struktur jagad gede ini lantas kita tempatkan sebagai semacam ‘aturan’ atau sebutlah kaidah hukum alam (nomos), di mana kesadaran kita sebagai jagat cilik dalam partisipasinya dalam kehidupan alam raya ini ini harus diarahkan pada adanya model keselarasan tersebut. Sehingga ideal kehidupan yang harus kita lakukan dalam kehidupan ini—meminjam istilah Plato—adalah ‘mimesis’, yakni bahwa partisipasi kita dalam menjalani proses kehidupan ini harus ‘meniru’ logika dari hukum alam atau nomos sebagai suatu prinsip idealnya yang bekerja dan menjadi struktur dari jagat gede (makrokosmos). Dalam tradisi filsafat paradigma semacam ini lazimnya dikategorikan sebagai suatu pandangan “kosmosentrisme”.

Pada titik ini, timbul pertanyaan lebih jauh, yakni bagaimana kesadaran kita dapat ‘meniru’ (mimesis) dengan tepat gerak alam sebagai perwujudan ideal dari gerak keselarasan tersebut? Apa kata kuncinya agar hidup kita menjadi selaras dengan idea keselarasan dalam artian Platonik ini? Kita tahu orang Jawa seringkali merumuskan hal ini dalam suatu konsep aksiologis kehidupan bahwa “urip ki mung mampir ngomber”. Atau dalam konsep yang lain, “urip ki mung sakdermo nglakoni” atau “nrima ing pandhum”.

Jika konsep ini kita dedah secara mendasar akan tampak bahwa dalam konsepsi ini sebenarnya tersembunyi suatu asumsi filosofis tersendiri, yang membentuk cara pandang dunia orang Jawa yang beranggapan bahwa segala sesuatu di alam raya ini sebenarnya sudah tertentukan. Ketertentuan takdir kehidupan ini adalah bagian dari pengejawantahan akan hukum keselarasan alam itu sendiri. Menurut pemahaman orang Jawa, kita sebenarnya hanya sekadar menjalani hidup kita masing-masing sebagaimana telah digariskan oleh kuasa takdir. Seluruh peristiwa yang terjadi, baik atau buruk, bahagia atau derita, kaya atau miskin, adalah buah dari ketentuan takdir kita sendiri-sendiri yang harus kita terima dengan suatu sikap legawa. Sikap legawa adalah situasi batin yang muncul karena sikap nrimo ing pandhum itu sendiri, kemampuan diri untuk menerima segala bentuk kehidupan yang ada sebagaimana adanya.

Bagi orang Jawa, selain bahwa kehidupan di dunia ini disadari sebenarnya hanya berdurasi waktu teramat singkat (mung mampir ngombe), lebih dari itu kesanggupan kita untuk bersikap legawa adalah kata kunci penting bagi kesadaran kita untuk menjadi pribadi yang selaras, tidak hanya dalam diri sendiri namun sekaligus dengan alam semesta. Pribadi yang selaras adalah pribadi yang tenang dalam segala situasi dan kondisi perubahan, baik hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Kesanggupan diri untuk menjadi pribadi yang selaras, menjadi jiwa yang alus ini, adalah suatu modal kesadaran orang Jawa untuk dapat memahami secara intuisi (batin) tentang misteri hakikat realitas kehidupan yang teramat halus, termasuk di dalamnya memahami maksud tujuan dari kelahiran dan kemantian dirinya.

Selain, bahwa keselarasan ini dapat ditempuh dengan sikap (olah) batin yang terangkum dalam konsep legawa ini, konsep keselarasan ini juga muncul dalam praktik ritual orang Jawa yang kita kenal dengan nama “slametan” . Di sini ritual slametan dapat kita lihat sebagai bagian dari ‘piranti’ orang Jawa dalam praktik menyelaraskan dirinya dengan alam lingkungannya yang lebih besar. Adalah sebuah kekeliruan besar jika kita memandang ritual slametan sebagai semata memiliki aspek dimensi sosial saja (interhuman), karena dalam persepsi orang Jawa ritual ini dilakukan dengan pengandaian lebih jauh dan mendalam daripada itu. Bahwa, ritual slametan tidak hanya ditujukan bagi mereka yang masih hidup melainkan juga tertuju untuk mereka yang telah meninggal; tidak hanya bagi mereka yang hidup di alam lair atau wadak ini melainkan juga ditujukan bagi mereka yang hidup di alam lain (alus atau ghaib). Bagi orang Jawa slametan menjadi semacam wadah interaksi dan interelasi antar keberadaan (interbeing).

Dengan begitu slametan , barangkali mirip halnya fungsi sajen atau sesaji dalam agama Hindu, yaitu sebagai media artikulasi atau komunikasi untuk menyampaikan maksud atau tujuan mereka yang hidup di alam lair atau wadak ini kepada mereka yang sudah tidak berdiam di alam lair, dan sekaligus kepada mereka yang memang sejak awal hidup di alam alus atau ghaib ini. Tujuan mendasarnya adalah terciptanya suatu keselarasan itu sendiri, keselarasan lair kalawan batin, keselarasan mikrokosmos dan makrokosmos. Dan ketika keselarasan ini telah meng‘ada’ (being) secara lair kalawan batin, maka dengan sendirinya kita akan menjadi selaras dengan maksud dan tujuan dari keberadaan yang lebih besar di luar diri kita, di mana titik terjauhnya adalah menjadi selaras dengan maksud dan tujuan alam semesta (baca: hukum alam atau nomos).

Dalam dunia batin orang Jawa tampak jelas bahwa alam di sini dan alam di sana, lair kalawan batin, atau alam wadak dan alam ghaib/alus, bukanlah sesuatu yang serta merta terpilah dan terpisah secara tajam melainkan suatu kesantuan yang padu yang diandaikan memiliki suatu interrelasi dan interaksi di antara keduanya secara timbal balik, yang masih pengaruh-mempengaruhi. Dengan demikian dalam pandangan orang Jawa, sebenarnya implisit tersimpulkan bahwa kematian tentu juga bukanlah suatu ‘keterputusan’ (diskontinuitas) yang mutlak, melainkan masih mengandaikan ada suatu ‘ketersinambungan’ (kontinuitas) tertentu; akan tetap selalu ada suatu ketersinambungan antara alam di sini dan alam di sana.

Sebagaimana dalam ritual Slametan, dalam praktik ritual kubur terlebih-lebih, sangat jelas kasat mata adanya konsepsi ‘ketersinambungan’ antara alam di sini dan alam di sana terandaikan sebegitu rupa dalam benak para pelaku ritual ini. Pepunden atau leluhur yang dikeramatkan ini, yang lazimnya dianggap memiliki shakti ini, dalam benak para pelaku ritual selalu dibayangkan sebagai keberadaan yang masih ‘hidup’ dan tidak mati. Ada beberapa istilah kunci untuk menunjuk keberadaan para pepunden atau leluhur ini, yang tersirat jelas anggapan atau persepsi bahwa keberadaan mereka sebenarnya masih hidup. Kata “sumare” (yang tidur) atau kata “lenggah” (yang duduk atau berkuasa), misalnya, sering kita lihat istilah ini digunakan sebagai suatu pemaknaan oleh para pelaku ritual untuk menunjuk keberadaan para pepunden atau leluhur yang tengah mereka ziarahi, selain terkandung makna bahwa keberadaan mereka masih hidup, lebih jauh juga masih memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perubahan kehidupan para pelaku ritual tersebut menuju pada suatu bentuk keselarasan tertentu. ‘Pesan’ dari para leluhur atau pepunden yang sumare atau lenggah di makam ini, konon, sebagai hasil laku para pelaku ritual kubur akan disampaikan melalaui mimpi atau petunjuk tertentu ketika para pelaku ini khusuk dalam berkontemplasi diri.

Kita juga dapat mengamati gejala konsepsi bahwa kematian bukanlah suatu ‘keterputusan’ yang mutlak, dalam praktik ritual “geblagan”, yaitu bagian dari praktik slametan dalam konteks tujuan yang lebih khusus. Geblagan adalah suatu ritual slametan yang khusus dilakukan masyarakat Jawa untuk orang-orang yang telah meninggal. Dari hitungan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, mendak pisan (tahun pertama), mendak pindho (tahun kedua), mendak telu atau nyewu atau ngijing (tahun ketiga). Konon, menurut anggapan umum ketika orang meninggal belum memasuki tahun ketiga maka jiwanya masih sangat dekat dengan kehidupan alam manusia di dunia, sehingga dibutuhkan suatu upaya-upaya tertentu dari yang masih hidup untuk menyelaraskannya.

Ritual geblagan ini tentu fungsinya laiknya doa yang berpamrih ‘mengingatkan’ pada orang yang meninggal tersebut akan tujuan dirinya setelah kematian. Ada transisi dimensional yang telah dilalui oleh jiwa yang meninggal ini ketika ia telah memasuki tahun ketiga, sehingga sebagai penanda kematangannya dibuatlah kijing atau ngijing (nisan) di atas tanah kuburnya dan, lebih dari itu, seringkali pula tak lupa disematkan nama baru dengan imbuhan gelar “Kyai” atau “Nyai”. Proses pemberian nama baru ini sebagai penanda fase kejiwaan yang telah dilalui oleh orang Jawa setelah kematiannya ini, sebenarnya pun jamak dilakukan ketika dulu mereka masih hidup sebagai penanda periodesasi fase-fase kematangan jiwa yang telah dilalui oleh orang Jawa.   

Persepsi adanya ketersinambungan antara hidup sebelum dan sesudah mati ini, selain tampak kasat mata dalam praktik ritual kubur dan upacara slametan, sebenarnya tanpa terkecuali juga implisit muncul dalam pengandaian masyarakat Jawa ketika mereka bermaksud membangun kuburan keluarga. Bagaimana tata letak urutan kuburan itu sendiri, dari yang paling tua di sisi atas dan yang paling muda di sisi bawah selain mencerminkan aspek sosiologis orang Jawa yang secara hirarkis mendudukkan orang tua sebagai lebih tinggi (leluhur) dan harus dihormati, lebih jauh juga memperlihatkan pengandaian mereka bahwa setelah kematian mereka masih bisa berkumpul kembali sebagaimana dulu ketika masih hidup. Seolah-olah, kematian sesungguhnya tidak membawa suatu perubahan secara mendasar baik dalam konteks ruang dan waktu dimensional dengan kehidupan sewaktu kita masih hidup. Setidaknya, demikianlah dalam pandangan common sense masyarakat Jawa perihal kematian, yang akar pemahamannya tentu dapat kita lacak dalam konsepsi kematian yang secara sadar lebih terumuskan dalam pandangan dunia tradisi tarekat-tarekat orang Jawa.

Benar, bahwa dalam pandangan hidup orang Jawa kehidupan di dunia ini selalu dipandang dalam konteks makna sebagai dasar pijak atau batu loncatan untuk memasuki alam kehidupan setelah kematian. Dalam tarekat-tarekat Jawa, aspek ini sangat mengemuka. Selalu ditekankan bahwa kehidupan di sini sebenarnya justru hakikatnya ialah kematian, sebagaimana hal ini kita lihat dalam konsepsi Syeh Siti Djenar, misalnya, dan mendudukkan kehidupan setelah kematian sebagai tujuan hidupnya yang lebih mendasar. Menurut paham ini, selalu ditekankan bahwa kehidupan yang sejati sesungguhnya justru bermula setelah kita mengalami kematian. Tidak aneh jika meditasi dalam pandangan tarekat-tarekat Jawa ini adalah sinonim arti dengan seni melatih diri untuk mati. Bahwa meditasi identik dengan penguasaan atas ngelmu atau kawruh tentang “pangrucatan” atau bisa disebut juga “pangukutan”, halnya seni penguasaan ilmu bardo thodol dalam tradisi Tibetan Buddhisme.

Nah, setelah mati pergi ke mana? Apakah yang sesungguhnya mati, dan apakah yang akan senantiasa hidup langgeng? Dalam tradisi tarekat Jawa, konsep “urip” (hidup) itu sendiri diartikan sebagai suatu entitas abadi. “Urip tan kena ing pati” demikianlah sering diungkapkan dalam khasanah tarekat orang Jawa. Kata urip abukanlah lawan dari kata mati. Apa yang menjadi lawan kata mati adalah kata lair. Diri yang sejati adalah urip itu sendiri, urip yang tanpa perlu atribusi maupun predikat tambahan. Ketika seseorang telah mengenal entitas urip yang ada dan meng-ada (being) dalam keberadaannya, kematian selalu hanya berarti kematian jasad semata. Sehingga kematian lebih dimaknai sebagai matinya nafsu-nafsu akan jasad manusiawi untuk menemukan hakikat urip itu sendiri, urip sebagai ‘ada’ (being) yang tidak meruang dan mewaktu namun sekaligus selalu hadir meruang dan mewaktu di manapun.

Pada titik ini, kita dapat melihat bagaimana kenyakinan pandangan dunia Jawa selalu mengandaikan bahwa kehidupan itu sesungguhnya adalah realitas yang satu dan tunggal. Adalah benar simpulan Zootmulder, bahwa dalam budaya Jawa terkandung paham monisme dan patheisme sekaligus, baik dalam artian lahir maupun batin. Sehingga, bagi mereka, batasan-batasan dimensional antara alam mereka yang hidup dan alam mereka yang mati menjadi serba relatif dan secara metafisis (ontologis) sebenarnya tidaklah berdasar sama sekali. Sehingga, implikasi logisnya, kematian dalam konsepsi orang Jawa bukanlah dianggap sebagai suatu ‘keterputusan’ yang mutlak, melainkan sangat jelas mengandaikan suatu bentuk ‘ketersinambungan’ tertentu sebagai benang merahnya.

Dalam perjalanan sejarahnya, konsepsi filosofis dari tradisi tarekat-tarekat (esoterisme) Jawa ini, yang sebenarnya pekat dengan pendekatan dan metodelogi interdisipliner, kemudian terderivasi ke dalam suatu konsep filsafat populer a-la masyarakat Jawa. Sebagaimana kita saksikan dalam munculnya bentuk gejala kulturalnya, yakni adanya praktik ritual kubur dan slametan, beserta pembangunan kuburan keluarga, sebenarnya ialah pengejawantahan terhadap asumsi nilai-nilai konsep metafisis dari tradisi tarekat-tarekat Jawa secara khusus (esoterisme) ke dalam suatu pandangan common sense budaya masyarakat Jawa secara umum (eksoterisme). Saya tidak tahu, apakah ini semata-mata gejala distorsi atau pendangkalan gagasan, dari suatu konsepsi yang lahir dari tradisi esoterisme tarekat ke dalam suatu tradisi common sense (populer culture), tapi yang jelas bahwa masyarakat kita dulu secara umum tidaklah pernah mengalami kegagapan diri ketika mempersepsi fenomena kematian dibandingkan generasi kita saat ini.

Refleksi

Ya, begitulah pandangan common sense budaya Jawa masa lalu, yang sebagai sistem pandangan dunia hidup ditompang oleh struktur masyarakat agraris. Bentuk hubungan kerja yang sangat dekat dengan tanah (alam), yang bergantung pada siklus kemurahan alam yang notabene juga masih berjalan begitu teratur, membuat keberadaan alam itu sendiri tidak saja dirasakan menjadi sebuah berkah tersendiri, namun lebih jauh pun diandaikan memiliki kebertujuannya sendiri yang bisa dirasakan. Siklus kondisi alam yang dirasakan begitu tertata ini dibatinkan dalam benak mayarakat Jawa sebagai adanya keselarasan dalam jagat gede itu sendiri.

Kehidupan masyarakat petani yang begitu dekat dengan suara gemericik air sungai mengalir, desiran angin mengusap lembut, dan suara batang-batang pohon bambu yang berisik saling bergesek diselingi kicau burung-burung yang menyuarakan kegembiraan, seolah-olah membawa alam kesadaran kita memasuki suasana kontemplasi yang begitu dalam. Alam di luar seolah-olah melarut masuk ke dalam, menyetubuhi relung-relung kesadaran diri. Dengan begitu alam seolah-olah tengah membisiki kesadaran kita dengan suatu ‘pesan’ tertentu, bahwa alam pada dirinya sendiri selain merupakan suatu entitas yang hidup ia juga memiliki kebertujuannya, sehingga keberselarasan diri kita dengan alam adalah satu-satunya kata kunci menuju kebenaran atau kenyataan. Pandangan dunia Jawa, seperti galibnya pandangan dunia tradisional lainnya, pada waktu itu—dalam konteks keruangan dan kemewaktuannya sendiri—masih dirasakan sebagai suatu pandangan yang ‘utuh’.

Generasi embah-embah kita hidup dalam populasi masyarakat pedusunan yang relatif homogen, yang antar warganya saling mengenal satu demi satu, membuat suasana kerukunan dan kekeluargaan lebih mudah terjalin. Struktur kerja yang memprasyaratkan adanya kerja sama (mutualisme simbiosis) dalam mengolah tanah memudahkan generasi embah-embah kita hidup dalam iklim yang tanpa kompetisi, tanpa ambisi karena kepentingan-kepentingan hidup mereka memang secara umum strukturnya tampak lebih sederhana dan mudah. Dengan begitu konsep keselarasan atau harmoni, struktur pekerjaan pertanian yang dekat dengan alam, yang dalam mekanisme kerja memiliki ritme yang pelan, dan bentuk alam yang notabene masih relatif dalam kondisi alaminya, membuat cara pandang dunia filsafat Jawa dan alam situasi materialnya masih terasa sinkronik satu sama lain.

Berbeda dengan kehidupan kita saat ini. Kita hidup dalam suatu atmosfir budaya setelah Nitsczhe mengumandangkan nyanyian “kematian Tuhan”. “Tuhan telah mati, dan kitalah manusia sendiri yang membunuhNya”, ujarnya jauh-jauh hari telah memprediksi konsekuensi logis dari kuasa nalar budaya masyarakat modern di mana kita hidup saat ini.

Kita hidup dalam situasi masyarakat rasional, di mana seluruh bangunan mitologi yang bersumber pada kepercayaan a-priori cara pandang dunia tradisional (teologi), tampak mulai runtuh satu demi satu. Atau kalaupun tidak sepenuhnya hancur, ia laiknya sebuah kepingan cara pandang dunia di tengah-tengah ribuan atau jutaan kepingan cara pandang dunia lainnya, yang sangat mungkin satu sama lainnya sebenarnya saling bertentangan sebegitu rupa menjadi mosaik yang membentuk dan menganyam alam kesadaran kita. Kini, sangatlah tidak mungkin kita beriman tanpa menyertakan suatu sikap kritis kita, sikap rasional, atau tanpa dasar pijak sama sekali atas akal sehat kita. Berbeda dengan generasi kultural kita, generasi kultural embah kita dulu lebih mudah menerima suatu cara pandang dunia tertentu tanpa mereka mesti bersikap mempertanyakannya kembali.

Kita hidup dalam suatu struktur masyarakat industrial, masyarakat urban, di mana ritme kehidupan berjalan begitu sangat cepat dan sangat kompetitif, kehidupan warga satu sama lain tidak saling mengenal sehingga hubungan antar diri menjadi begitu fungsional dan tidak pernah mempribadi. Kita hidup dalam suatu dunia yang serba mengasingkan, di dalam suatu habitat kehidupan yang serba artifisial, gedung-gedung beton tinggi, kepadatan dan kesemrawutan lalu lintas, yang ini tentu juga tidak pernah dirasakan oleh generasi embah-embah kita dulu.

Sejarah masyarakat modern, seperti kita lihat, bagaimanapun berdiri kukuh di atas jangkar proyek deskralisasi pandangan dunia teologis (tradisional), yang sadar atau tidak sebenarnya telah menguapkan hampir seluruh dimensi kehidupan spiritualitas (batin) manusia. Kini, sangatlah mustahil kita mampu beriman sebagaimana modus keberimanan masyarakat tradisional dulu, beriman secara dogmatis tanpa reserve atau sekadar bersikap taqlid.

Adalah logis jika pandangan dunia kita kemudian sudah tidak lagi kita rasakan ‘utuh’, lebih-lebih pandangan dunia tradisional atau teologis nyata telah terfragmentasi sebegitu rupa oleh dialektika ilmu pengetahuan manusia modern. Tidak aneh jika ada sebagian orang mengatakan bahwa kita hidup dalam suatu budaya yang schizophrenic. Situasi ini tentu juga tidak pernah dirasakan oleh generasi embah-embah kita dulu, suatu generasi ketika cara pandang kultural Jawa masa lalu masih mereka rasakan serba ‘utuh’ dan serba tidak pernah dipertanyakan kebenarannya.

Dengan begitu kehidupan manusia mengalami proses penduniawiannya (sekularisasi) besar-besaran. Langit suci teologis telah kehilangan sakralitasnya, bahkan telah dikosongkan dari nilai kesubtansialitasannya sebagai dampak gerak sejarah kemajuan peradaban modern. Jika dulu paradigma teosentrisme atau kosmosentrisme tampak dominan, saat ini paradigma antroposentrisme-lah yang memegang kemudi penilaian dan kesadaran subjek manusia. Bagaimanapun, manusia adalah pusat dan ukuran dari segalanya, dan bukan kosmos atau theos.

Di satu sisi, ini tentu merupakan gejala yang sehat. Karena berkat adanya kemajuan sains dan teknologi, selangkah demi selangkah manusia mulai menemukan ruang independensi kesadarannya yang lebih otentik. Di sini paradigma saintisme dan ilmu pengetahuan seolah-olah hadir sebagai suatu bentuk “agama baru”, atau paling tidak minimal menjadi semacam “supporting system” yang signifikan dalam cara manusia modern memahami dunianya, memahami dan memaknai keberadaan dan kesemestaannya.

Kegelisahan dan pencarian manusia akan keotentikan dirinya ini tentu tidak serta merta berakhir, namun ia laiknya justru menemukan suatu tumpuan baru yang akan membuka kemungkinan ke arah perkembangan cakrawala baru, ke arah bentuk spiritualitas baru, suatu kemungkinan arah gerak sejarah peradaban dan kebudayaan yang baru. Dulu di zaman pencerahan itu, harapan ini tampak pekat dengan suatu optimisme bahwa akan hadir suatu jenis kebudayaan dan peradaban baru yang lebih mengemban nilai-nilai humanistik. Suatu kebudayaan dan peradaban yang lebih memungkinkan realisasi terhadap seluruh potensi kemanusiaan kita, manusia, di bandingkan zaman-zaman sebelumnya. Waktu itu orang ramai-ramai menyebut lahirnya “humanisme universal” dengan suatu perasaan takjub yang euphoria, yang saat ini sebagai kepercayaan manusia modern ternyata perlahan-lahan mulai meruntuh.

Di sisi lain, konsekuensi ini semua harus kita bayar mahal. Laiknya kisah Sisifus yang dihukum karena mencuri khasanah pengetahuan milik para dewa, manusia modern dengan capaian sains dan ilmu pengetahuannya justru menemukan ternyata ‘langit suci’nya ternyata kosong dari adanya Tuhan personal yang dulu pernah mereka bayangkan. Mitos telah bertransformasi menjadi logos. Mistis menjadi matematis. Sakralitas menjadi sekularisasi. Religiusitas menjadi intitusionalitas, sehingga kedalaman makna ritual pun sekadar menjadi serimonialisasi sebuah komoditas budaya.

Dampak terjauhnya ialah, bahwa manusia modern menjadi merasa kehilangan “kehangatan kosmik” yang dulu pernah ia sangka miliki ini. Ternyata manusia dalam proses pencarian keotentikannya ini menemukan dirinya ‘terlempar’ sendirian di alam semesta yang maha luas, semesta yang impersonal dan buta akan tujuan pada dirinya sendiri. Tuhan personal atau Supreme Being telah kehilangan relevansinya. Budaya modern telah kehilangan semua rasa tentang yang suci (sacral), kehilangan tujuan akan transendensi kesadaran ataupun rasa aman bahwa hidup manusia dipelihara oleh Tuhan. Dan manusia sebagai hasil puncak kreasi evolusi semesta atau bumi, yang sejak mula eksistensinya merasa memiliki kesadaran sebagai penanda keber‘ada’nya (being) ini, tetap saja harus terus bergerak mencari dan mencari makna (nilai-nilai) hidupnya sendiri.

Sebagaimana kisah Sisifus yang dikutuk oleh para Dewa untuk mendorong batu besar dari bawah dan meluncurkan dari atas gunung, demikian berulang-ulang tanpa henti, pun spicies manusia pun adalah mahluk yang ‘dikutuk’ semesta untuk terus-menerus bertanya dan bertanya pada dirinya sendiri, menguji dan menguji, akan kebenaran batas-batas eksistensi dirinya yang ditenun dari gudang prasangkanya sendiri. 

Namun, jelas ternyata tidak semua individu-individu manusia modern sanggup memerankan peran Sisifus ini, yang menurut Albert Camus menjalani hidupnya yang absurd ini dengan suka rela dan rasa bahagia. Sebab selain tentu terasa sangat menjemukan, mengasingkan, pedih, dan menyakitkan, lebih dari itu ia akan merasa bahwa hidupnya ini seolah-olah menjadi sia-sia dan tanpa makna. Persoalan kematian tetaplah menjadi sebuah misteri yang gusar, atau bahkan terasa lebih menakutkan, karena pengandaian perihal eskatologi yang pernah dirumuskan oleh agama-agama manusia tidak mudah lagi kita bayangkan aktualitasnya. Selalu saja menjadi sebuah dunia makna yang ‘pecah’ ketika pandangan dunia agama-agama manusia ini dipaksakan kembali menjadi suatu kerangka pandangan kita saat ini.

Nyata bahwa kita sebagai manusia saat ini, yang hidup dalam atmosfir kultur hiper-modern ini, telah kehilangan jejak-jejak akan adanya kepercayaan atau sejenis kenyakinan yang ‘utuh’. Secara umum tidak ada lagi ruang nalar dogmatisme dalam pandangan dunia kita. Evolusi kebudayaan seakan-akan telah membawa kita pada titik terjauhnya yang membuat kita tidak pernah lagi bisa berbalik arah.

Namun, seperti telah kita catat di depan, sebaliknya jika kita cermati dari gejala kematian yang banyak muncul saat ini, kita melihat tidak sedikit proses kematian orang modern galibnya sangat berbeda dengan alur runut kisah kematian embah teman saya itu. Ragam penyebabnya pun semakin banyak, baik itu karena serangan stroke, anfal, tumor, diabetes, dll., dll., tapi dalam banyak kasus bisa kita catat seakan-akan selalu lebih berpola general: sakit, koma, dan kemudian mati.

Dari fenomena ini, setidaknya, tampak nyata bahwa orang modern dalam menyikapi gejala kematian yang hakikinya alamiah ini, malah tertatih-tatih dibandingkan dengan generasi embah-embah kita dulu. Seolah-olah kita telah lupa bahwa adanya kelahiran senantiasa mengandaikan adanya kematian. Ataupun jika kita paham logika itu, kita sengaja mengabaikannya dan membenamkan jauh-jauh dari alam kesadaran dan kegelisahan kita. Atau malah sekadar menyikapinya dengan suatu rasionalisasi diri sebagai suatu kamuflase atau eskapisme yang menenangkan diri.

Ya, tampak kasat mata kita lebih senang membenamkan diri pada banalitas rutinitas kehidupan sehari-hari, urusan kerjaan, dinamika karir, urusan bisnis, mencari uang, menyiapkan atau menata masa depan, dsb., dsb. Seolah-olah kematian bukanlah lagi termasuk ancangan perihal urusan masa depan kita. Berbincang perihal kematian seakan-akan tidak lagi merupakan bagian dari realisme kehidupan kita, alih-alih menjadikannya tujuan dari kehidupan itu sendiri.

Menyatukan kembali makna pandangan dunia yang sudah ‘retak’ ini tentu tidaklah mudah. Bersemangat romantisme halnya para fundamentalisme agama, tentu hanya akan menjadi gejala anomali kultural tersendiri. Pribadinya pun tampak cenderung split personality. Namun, sekadar menjadikan tujuan diri sebagai tawanan obyek-obyek dan benda-benda materi ataupun pemuasan syahwat, sebagaimana hal ini diideal-citakan dalam masyarakat konsumeristik saat ini tentu juga bukan suatu pilihan hidup yang ideal. Bagaimanapun, kerinduan masyarakat manusia akan adanya suatu pandangan dunia yang ‘utuh’ tapi sekaligus merupakan wujud realisasi potensi dirinya yang otentik adalah bentuk kerinduan terdalam umat manusia sejak dulu.

Pada titik ini, kita membutuhkan adanya suatu tranformasi nilai-nilai menuju suatu budaya pasca-agama dan pasca-modern untuk menciptakan suatu pengalaman baru perihal yang ilahi atau kesadaran transendensi. Kesadaran transendensi adalah potensi dan sekaligus tujuan terakhir dari keberadaan dirinya sebagai manusia, tanpa mesti kembali dikeruhi dengan adanya ilusi perihal keberadaan Tuhan personal atau Supreme Being, yang dalam sejarahnya telah memberi banyak pengalaman dan mimpi buruk.

*****

_/\_

Jakarta, 11 Oktober 2010. 

oleh Waskito Giri Sasongko pada 11 Oktober 2010 jam 20:10.(sebuah telaah sangat-sangat awal secara antropologis)

http://www.facebook.com/#!/notes/waskito-giri-sasongko/kematian-sebuah-refleksi-ii/458695942520

 

“Kulo nderek belangsungkawa sedane embah nggeh, dik…O-nggeh, matursembah nuwun, pangestunipun Gusti Alloh, mas… Pripun ceritane embah, dik? Kok, sajak ndadak sanget nggeh…kulo mireng kabar bilih embah gerah, ketingale sawek tigang dinten kepungkur nggeh, dik? Kulo dereng sempet niliki, eh alah koq malah empun seda….lha embah gerah menapa nggeh, dik? Sasat mboten nganggem gerah, mas…namun kados tiyang masuk angin…sedane kemawon sajak kados tiyang sare…sasampune embah melingi sedaya, ninggal pesen tumrap sedaya, teras embah pamitan kepengin sare. Teras let  mboten danggu, makles sedo….sajak sedane sekeco nika lho, mas…monggo kulo aturi mersani embah, nak ketingal sajak sedane mawon kanti mesem. O-alhammdulillah, dik…syukur, syukur…sedane embah mugi ketampi Gusti, dik. Nggeh, pangestune lan dongane nggeh, mas…”

Demikianlah tertegun saya mendengar obrolan ini, obrolan ringan dalam suatu layatan embah teman di sebuah dusun kecil yang jauh dari kegaduhan riuh rendah pembudayaan modernitas. Saya terkesan, bahkan sejenak pukau dan sekaligus gusar diri sebenarnya. “Ini kematian tapi bukan layaknya kematian” gumanku. Seolah-olah sama sekali tidak terbersit kemuraman dalam kisah kematian embah teman ini. Dan selalu saja tema kematian senantiasa tak pernah luput dalam menginterupsi kesadaran saya, dan saya yang malah menjadi muram. Kesadaran saya, ibarat sebuah tanggul yang bocor di sana-sini sehingga airnya tiba-tiba menyeruak keluar dari retakan-retakan dindingnya itu, tiba-tiba saja saya rasakan ribuan desiran serabut halus ketakutan menyergap memenuhi ruang batin sehingga sejenak memaksa diri saya mengjangkah keluar dari rutinitas kehidupan sehari-hari: “Ya, bagaimana dengan kematianku nanti? Akankah, saya sanggup sesahaja alur runut embah teman saya itu? Ataukah, saya akan menyusuri jalan lazim yang biasa ditempuh orang modern saat ini, yakni tersungkur tak sadarkan diri lebih dulu dalam beberapa hari, minggu, atau bahkan bulan, kemudian tanpa pernah tersadar lagi lalu menghembuskan nafas?”

Saya kira, kisah kematian seperti embah teman saya ini pasti sudah sering kita dengar. Bahkan sangat mungkin banyak kisah, tidak hanya satu atau dua cerita kita dengar, baik itu dari lingkungan terdekat kita ataupun lingkungan agak jauh ataupun sekadar mendengar kisah buah bibir. Apa yang bisa kita lihat, bahwa seolah-olah bagi generasi embah-embah kita ini kematian terasa begitu alamiah, suatu proses yang tanpak wajar begitu saja tanpa mesti terdengar isak tangis apalagi sedu-sedan menyanyat mengiringi. Lebih-lebih dalam banyak kasus generasi embah-embah kita ini cenderung seda sepuh, meninggal usia lanjut.

Sejenak diam, teringat kisah embah saya sendiri. Sejak kecil, kira-kira waktu itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, selalu saja saya dibuat gigil jika mesti berjalan melewati sisi halaman belakang rumah embah dari ibu. Pasalnya, dalam persepsi masa kecil saya ada suatu pemandangan yang tampak ganjil di sana. Di tritisan belakang rumah embah bergantungan empat peti mati. Empat peti mati sederhana dari kayu jati pedesaan yang sengaja dibuat dan disiapkan untuk embah kakung dan embah putri beserta embah buyut kakung dan embah buyut putri saya. Kebetulan kedua embah buyut berumur panjang, sehingga saya beroleh kesempatan mengenalnya secara pribadi. Belakangan, ketika embah buyut kakung meninggal, saya semakin tahu bahwa ternyata tidak hanya peti mati yang telah embah siapkan, namun tak ketinggalan juga sebidang tanah “rumah masa depan” telah dipersiapkan untuk beliau.

Ya, embah punya kuburan keluarga. Di areal pemakaman itu didirikan sebuah rumah, saya rasa tidaklah tepat jika dikatakan sekadar cungkup, karena selain cukup besar ada stlye tersendiri yang sengaja diguratkan estestis. Arsiteknya adalah embah sendiri. Dalam niatan embah tidak hanya indah, rumah masa depan ini sengaja dibangun sekokoh mungkin. Rumah masa depan dirancang sanggup bertahan hingga bumi ini merusak karena kiamat ujar embah waktu itu.

Kapasitas tentu tidak terlalu besar, namun tampak jelas makam itu ditata sedemikian rupa, berurut dari yang paling tua diposisi sebelah paling atas, terus anaknya, istrinya anaknya, anaknya yang lain lagi beserta istrinya, dst., dst. Selalu yang laki-laki berada di posisi sebelah kanan, sedang perempuan di posisi sebelah kirinya. Tanahnya diplester semen. Karena diplester semen maka jauh-jauh hari sudah dibuatlah lubang-lubang di tanah perkuburan itu. Nah, rumah masa depan telah purna disiapkan sebegitu rupa bahkan ketika embah kakung dan embah putri sendiri masih terhitung sehat dan bugar. Pernah dengan nada berseloroh embah berkata pada saya, “le…thole…nak kowe gelem, sesuk kowe ya manggon kene ya keno…”  Saya tentu hanya tersenyum kecut mendengar tuturannya.

Tentu tidak ada yang aneh dengan semua gejala perilaku embah saya ini, setidaknya setahu saya tradisi membangun makam keluarga adalah khas kultural masyarakat manusia. Kita bisa bersangka-sangka bahwa sejak ditemukannya peti batu (sarkofagus), maka kita tahu sejak zaman batu besar (megalitikum) itu pulalah masyarakat manusia telah mengenal tradisi penguburan. Konon, banyak orang mengantakan kuburan dan upacara penguburan adalah suatu penanda mulai muncul terbentuknya peradaban masyarakat manusia. Di Mesir, katakanlah bangunan Piramida, contohnya setidaknya juga dipercaya orang sebuah kuburan keluarga raja-raja Firaun. 

Tanpa kecuali bagi keluarga orang Jawa, tentu. Lebih-lebih di kalangan aristokratnya, keberadaan kuburan keluarga adalah hal yang signifikan. Kita tahu makam satu wangsa dinasti seorang raja beserta para pewarisnya bisa telah disiapkan tanah kuburnya, bahkan jauh-jauh hari sebelum takdir kematian itu sendiri tiba menjemput mereka satu-per-satu. Di Jogjakarta, tepatnya di Imogiri Bantul misalnya, kita bisa saksikan satu makam keluarga raja-raja wangsa Mataram dibangun di atas perbukitan kecil. Juga di Kotagede Jogjakarta, atau di Mangadeg Karanganyar, atau di daerah-daerah lainnya. Di sana galibnya ada ratusan orang yang secara umum memiliki tali-temali ikatan darah dengan para penguasa atau elite tanah Jawa masa lalu yang dipersemayamkan di situ. Tidak ketinggalan pak Harto mantan presidan kedua kita itu, kasat mata berpamrih niatan mengumpulkan satu wangsa keluarganya dalam satu areal tanah rumah masa depan bersama.

Timbul pertanyaan yang mengusik dan menggelisahkan hati saya, pertama, mengapa generasi kultural embah kita beserta generasi masyarakat Jawa masa lalu dapat dengan begitu mudah menyikapi fenomena kematian? Bahkan tampak jauh-jauh hari sudah menyiapkan seluruh rangkaian prilaku individualnya menyosong kematian, dan ini menurut saya sebagai bagian dari prilaku budaya masyarakat secara lebih luas? Kedua, mengapa generasi kultural kita, sebuah generasi masyarakat yang menghidupi budaya hiper-modern tampak menjadi relatif lebih tidak mudah mengandaikan proses kematian dalam sikap hidup kita? Apa yang salah dengan modus budaya kita saat ini? Dan lalu apa kata kunci yang dapat kita petik hikmahnya dari alam budaya masyarakat Jawa masa lalu? Saya curiga bahwa di balik gejala sosiokultural masyarakat Jawa membangun makam keluarga ini, ada suatu pra asumsi (preassumtion) yang, entah sadar atau tidak, telah mereka bayangkan dalam melihat fenomena kematian itu sendiri. Sehingga timbul pertanyaaan ketiga, apa yang generasi masyarakat Jawa masa lalu andaikan atau persepsi dalam melihat dan menyikapi peristiwa kematian, baik itu suatu konsep yang terumuskan maupun yang tidak terumuskan sebagai dasar keyakinan metafisika mereka?

Nah, pada titik ini harapan kita ialah dapat merefleksikan perubahan-perubahan mendasar yang telah terjadi, baik itu secara sosiologis, antropologis, maupun psikologis, di mana kita melihat perbedaan-perbedaan yang muncul dalam masyarakat kita dulu dan sekarang, khususnya dalam hal mempersepsi kematian.

Kuburan dan Filsafat Orang Jawa

Dapat dikata kuburan adalah merupakan salah satu titik sentral dalam kehidupan orang Jawa. Setidaknya kuburan, ibaratnya ibukanlah sekadar pintu belakang tetapi juga adalah pintu depan sebuah rumah. Sampai hari ini paling tidak masih dapat kita saksikan sebuah tradisi ritual kubur ialah suatu kelaziman dalam masyarakat ini, tentunya selain ziarah pada kuburan keluarganya sendiri, lebih dari itu galibnya adalah kuburan daripada para leluhur masyarakat Jawa yang notabene dianggap keramat atau memiliki daya shakti.

Motivasinya bisa sangat beraneka ragam tentu. Ketika orang dilanda kesusuhan maka ia pergi ke kuburan. Ketika ia berpamrih naik pangkat ritual ke kuburan. Ketika orang ingin usahanya maju pun tak segan pula ke kuburan. Bahkan, ketika hendak mau nyalon jadi DPR atau Presiden pun tidak sedikit yang kita dengar sebagian dari para calon yang berlatarbelakang budaya Jawa akan meluangkan waktu pergi ke kuburan untuk memantapkan kenyakinannya. Ritual kubur seolah-olah menjadi bagian penting dari laku masyarakat Jawa dalam memaknai kehidupannya. Jika kita meminjam pemerian Clifford Geertz kejamakan ritual ini muncul di kalangan masyarakat Jawa dengan latarbelakang cultural “priyayi” dan terlebih khususnya ”abangan”, dan tidak sedikit terjadi dalam masyarakat “santri” tradisional.

Tidak aneh jika ada sementara kalangan peneliti dengan cukup gegabah berani menyimpulkan bahwa, pemujaan—menurut saya lebih tepatnya “pemuliaan”—terhadap leluhur adalah asal muasal “agama asli” orang Jawa sebelum agama Hindu dan Budha masuk ke tanah nusantara. Tentu banyak dasar asumsi, data arkeologis dan argumentasi antropologis dipaparkan di sana-sini, yang intinya bahwa agama-agama tanah Hindustan ini ketika masuk ke tanah Jawa telah mengalami proses Jawanisasi (lokalisasi) sebegitu rupa hingga menjadi lebih selaras dengan nafas konsepsi ritual kubur orang Jawa (baca: agama asli) daripada wajah kedua agama ini sebagaimana bentuk aslinya di tanah asalnya, India. Tanpa terkecuali dengan agama Islam, juga pada awalnya lebih merupakan proses Jawanisasi Islam daripada Islamisasi Jawa. Fundamentalisme Islam, bagaimanapun adalah gejala modern masyarakat kita.

Apa yang menjadi kata kunci kesimpulan para peneliti ini adalah, bahwa adanya praktik ritual atau ziarah kubur yang khas masyarakat Jawa adalah merupakan struktur dasar yang menyusun sistem teologi orang Jawa, yang tampaknya saja seolah-olah telah dirumuskan dalam “jubah baru” Hindu atau Buddha maupun Islam, tetapi sesungguhnya tetaplah berstruktur “nalar lama”, berstruktur nalar teologi Jawa. Sejauh ini tampaknya tafsiran soal agama asli ini tetaplah bernilai sebuah spekulasi pemaknaan semata daripada sebuah postulasi antropologis yang serta merta faktual, dan banyak hal di sana-sini tentu masih dapat kita perdebatkan (debatable) kebenarannya.

Namun, apa yang tetap menarik untuk kita simak lebih mendalam di sini ialah, bahwa ritual kubur ini jelas bermakna signifikan dalam kehidupan orang Jawa. Bahwa, dalam keberadaan makam itu sendiri sebagai lokus budaya orang Jawa, saya nyakin terdapat kata kunci penting yang tersimpan untuk memahami alam batin generasi kultural embah-embah masyarakat kita dulu. Nah, pada titik inilah, jika kita dedah secara mendalam saya myakin kita dapat melihat bagaimana modus prasangka (pre-assumption) nilai-nilai kultural budaya Jawa yang melatarbelakangi pengandaian mereka dalam memaknai fenomena kematian. Artinya, bagaimana kematian ini dikonsepsi dan dipersepsi dalam alam budaya Jawa tentu sangat berkorelasi sangat dekat dengan pengandaian individu-individu orang Jawa dalam memaknai dan menyikapi proses kematiannya tersebut.

Tapi, sebelum kita memasuki pembahasan kita perihal konsepsi kematian orang Jawa, ada baiknya jika pada titik ini kita melihat terlebih dahulu konsepsi kehidupan yang mereka rumuskan. Karena bagaimana cara orang melihat kehidupan akan sangat terkait mait dengan bagaimana orang mempersepsi kematian. Dan bagaimana orang mengkonsepsi dan mempersepsi fenoma kematian tentu juga terkait-mait dengan bagaimana orang mempersepsi kehidupan. Bagaimanapun, keduanya, kehidupan dan kematian, adalah dua sisi mata uang yang saling mengandaikan satu sama lain.

Dalam pandangan masyarakat Jawa tentang kehidupan, sebagaimana pandangan budaya Timur secara umum, tanpak jelas cenderung mendudukkan konsepsi harmoni atau keselarasan sebagai faktor signifikan yang membentuk sistem nilai-nilai filosofi pandangan dunianya. Konsepsi keselarasan ini tentunya termaknai secara luas, tidak semata-mata termaktub dalam artian kosmologis melainkan juga dalam artian antropologis, yakni adanya keselarasan hubungan antara manusia dengan alam (universe) dan manusia dengan masyarakat adalah tujuan ideal yan harus dicapai oleh tiap-tiap individual orang Jawa. Dengan begitu bagi kesadaran subyek orang Jawa, kesanggupan untuk menjaga atau menciptakan keselarasan itu sendiri menjadi hal yang demikian penting. Menjadi selaras adalah semacam seni par excellent dalam kehidupan orang Jawa.

Konsepsi keselarasan itu sendiri secara paradigmatik berdiri kukuh di atas fondasi asumsi gagasan lain yang tidak kalah mendasarnya, yakni bahwa manusia sebagai jagad cilik merupakan representasi dari alam semesta sebagai jagad gede. Atau biasa kita sebut dengan model paradigma makrokosmos dan mikrokosmos, di mana relasi keduanya ini sebenarnya sangat berjalin berkelidan baik secara lahir maupun batin. Jagad gede atau makrokosmos ini diandaikan di dalam dirinya sendiri (an sich) adalah representasi dari, atau senantiasa bergerak menuju pada, adanya suatu keselarasan itu sendiri.

Dengan demikian, prinsip keselarasan yang ada di dalam dan bekerja pada struktur jagad gede ini lantas kita tempatkan sebagai semacam ‘aturan’ atau sebutlah kaidah hukum alam (nomos), di mana kesadaran kita sebagai jagat cilik dalam partisipasinya dalam kehidupan alam raya ini ini harus diarahkan pada adanya model keselarasan tersebut. Sehingga ideal kehidupan yang harus kita lakukan dalam kehidupan ini—meminjam istilah Plato—adalah ‘mimesis’, yakni bahwa partisipasi kita dalam menjalani proses kehidupan ini harus ‘meniru’ logika dari hukum alam atau nomos sebagai suatu prinsip idealnya yang bekerja dan menjadi struktur dari jagat gede (makrokosmos). Dalam tradisi filsafat paradigma semacam ini lazimnya dikategorikan sebagai suatu pandangan “kosmosentrisme”.

Pada titik ini, timbul pertanyaan lebih jauh, yakni bagaimana kesadaran kita dapat ‘meniru’ (mimesis) dengan tepat gerak alam sebagai perwujudan ideal dari gerak keselarasan tersebut? Apa kata kuncinya agar hidup kita menjadi selaras dengan idea keselarasan dalam artian Platonik ini? Kita tahu orang Jawa seringkali merumuskan hal ini dalam suatu konsep aksiologis kehidupan bahwa “urip ki mung mampir ngomber”. Atau dalam konsep yang lain, “urip ki mung sakdermo nglakoni” atau “nrima ing pandhum”.

Jika konsep ini kita dedah secara mendasar akan tampak bahwa dalam konsepsi ini sebenarnya tersembunyi suatu asumsi filosofis tersendiri, yang membentuk cara pandang dunia orang Jawa yang beranggapan bahwa segala sesuatu di alam raya ini sebenarnya sudah tertentukan. Ketertentuan takdir kehidupan ini adalah bagian dari pengejawantahan akan hukum keselarasan alam itu sendiri. Menurut pemahaman orang Jawa, kita sebenarnya hanya sekadar menjalani hidup kita masing-masing sebagaimana telah digariskan oleh kuasa takdir. Seluruh peristiwa yang terjadi, baik atau buruk, bahagia atau derita, kaya atau miskin, adalah buah dari ketentuan takdir kita sendiri-sendiri yang harus kita terima dengan suatu sikap legawa. Sikap legawa adalah situasi batin yang muncul karena sikap nrimo ing pandhum itu sendiri, kemampuan diri untuk menerima segala bentuk kehidupan yang ada sebagaimana adanya.

Bagi orang Jawa, selain bahwa kehidupan di dunia ini disadari sebenarnya hanya berdurasi waktu teramat singkat (mung mampir ngombe), lebih dari itu kesanggupan kita untuk bersikap legawa adalah kata kunci penting bagi kesadaran kita untuk menjadi pribadi yang selaras, tidak hanya dalam diri sendiri namun sekaligus dengan alam semesta. Pribadi yang selaras adalah pribadi yang tenang dalam segala situasi dan kondisi perubahan, baik hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Kesanggupan diri untuk menjadi pribadi yang selaras, menjadi jiwa yang alus ini, adalah suatu modal kesadaran orang Jawa untuk dapat memahami secara intuisi (batin) tentang misteri hakikat realitas kehidupan yang teramat halus, termasuk di dalamnya memahami maksud tujuan dari kelahiran dan kemantian dirinya.

Selain, bahwa keselarasan ini dapat ditempuh dengan sikap (olah) batin yang terangkum dalam konsep legawa ini, konsep keselarasan ini juga muncul dalam praktik ritual orang Jawa yang kita kenal dengan nama “slametan” . Di sini ritual slametan dapat kita lihat sebagai bagian dari ‘piranti’ orang Jawa dalam praktik menyelaraskan dirinya dengan alam lingkungannya yang lebih besar. Adalah sebuah kekeliruan besar jika kita memandang ritual slametan sebagai semata memiliki aspek dimensi sosial saja (interhuman), karena dalam persepsi orang Jawa ritual ini dilakukan dengan pengandaian lebih jauh dan mendalam daripada itu. Bahwa, ritual slametan tidak hanya ditujukan bagi mereka yang masih hidup melainkan juga tertuju untuk mereka yang telah meninggal; tidak hanya bagi mereka yang hidup di alam lair atau wadak ini melainkan juga ditujukan bagi mereka yang hidup di alam lain (alus atau ghaib). Bagi orang Jawa slametan menjadi semacam wadah interaksi dan interelasi antar keberadaan (interbeing).

Dengan begitu slametan , barangkali mirip halnya fungsi sajen atau sesaji dalam agama Hindu, yaitu sebagai media artikulasi atau komunikasi untuk menyampaikan maksud atau tujuan mereka yang hidup di alam lair atau wadak ini kepada mereka yang sudah tidak berdiam di alam lair, dan sekaligus kepada mereka yang memang sejak awal hidup di alam alus atau ghaib ini. Tujuan mendasarnya adalah terciptanya suatu keselarasan itu sendiri, keselarasan lair kalawan batin, keselarasan mikrokosmos dan makrokosmos. Dan ketika keselarasan ini telah meng‘ada’ (being) secara lair kalawan batin, maka dengan sendirinya kita akan menjadi selaras dengan maksud dan tujuan dari keberadaan yang lebih besar di luar diri kita, di mana titik terjauhnya adalah menjadi selaras dengan maksud dan tujuan alam semesta (baca: hukum alam atau nomos).

Dalam dunia batin orang Jawa tampak jelas bahwa alam di sini dan alam di sana, lair kalawan batin, atau alam wadak dan alam ghaib/alus, bukanlah sesuatu yang serta merta terpilah dan terpisah secara tajam melainkan suatu kesantuan yang padu yang diandaikan memiliki suatu interrelasi dan interaksi di antara keduanya secara timbal balik, yang masih pengaruh-mempengaruhi. Dengan demikian dalam pandangan orang Jawa, sebenarnya implisit tersimpulkan bahwa kematian tentu juga bukanlah suatu ‘keterputusan’ (diskontinuitas) yang mutlak, melainkan masih mengandaikan ada suatu ‘ketersinambungan’ (kontinuitas) tertentu; akan tetap selalu ada suatu ketersinambungan antara alam di sini dan alam di sana.

Sebagaimana dalam ritual Slametan, dalam praktik ritual kubur terlebih-lebih, sangat jelas kasat mata adanya konsepsi ‘ketersinambungan’ antara alam di sini dan alam di sana terandaikan sebegitu rupa dalam benak para pelaku ritual ini. Pepunden atau leluhur yang dikeramatkan ini, yang lazimnya dianggap memiliki shakti ini, dalam benak para pelaku ritual selalu dibayangkan sebagai keberadaan yang masih ‘hidup’ dan tidak mati. Ada beberapa istilah kunci untuk menunjuk keberadaan para pepunden atau leluhur ini, yang tersirat jelas anggapan atau persepsi bahwa keberadaan mereka sebenarnya masih hidup. Kata “sumare” (yang tidur) atau kata “lenggah” (yang duduk atau berkuasa), misalnya, sering kita lihat istilah ini digunakan sebagai suatu pemaknaan oleh para pelaku ritual untuk menunjuk keberadaan para pepunden atau leluhur yang tengah mereka ziarahi, selain terkandung makna bahwa keberadaan mereka masih hidup, lebih jauh juga masih memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perubahan kehidupan para pelaku ritual tersebut menuju pada suatu bentuk keselarasan tertentu. ‘Pesan’ dari para leluhur atau pepunden yang sumare atau lenggah di makam ini, konon, sebagai hasil laku para pelaku ritual kubur akan disampaikan melalaui mimpi atau petunjuk tertentu ketika para pelaku ini khusuk dalam berkontemplasi diri.

Kita juga dapat mengamati gejala konsepsi bahwa kematian bukanlah suatu ‘keterputusan’ yang mutlak, dalam praktik ritual “geblagan”, yaitu bagian dari praktik slametan dalam konteks tujuan yang lebih khusus. Geblagan adalah suatu ritual slametan yang khusus dilakukan masyarakat Jawa untuk orang-orang yang telah meninggal. Dari hitungan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, mendak pisan (tahun pertama), mendak pindho (tahun kedua), mendak telu atau nyewu atau ngijing (tahun ketiga). Konon, menurut anggapan umum ketika orang meninggal belum memasuki tahun ketiga maka jiwanya masih sangat dekat dengan kehidupan alam manusia di dunia, sehingga dibutuhkan suatu upaya-upaya tertentu dari yang masih hidup untuk menyelaraskannya.

Ritual geblagan ini tentu fungsinya laiknya doa yang berpamrih ‘mengingatkan’ pada orang yang meninggal tersebut akan tujuan dirinya setelah kematian. Ada transisi dimensional yang telah dilalui oleh jiwa yang meninggal ini ketika ia telah memasuki tahun ketiga, sehingga sebagai penanda kematangannya dibuatlah kijing atau ngijing (nisan) di atas tanah kuburnya dan, lebih dari itu, seringkali pula tak lupa disematkan nama baru dengan imbuhan gelar “Kyai” atau “Nyai”. Proses pemberian nama baru ini sebagai penanda fase kejiwaan yang telah dilalui oleh orang Jawa setelah kematiannya ini, sebenarnya pun jamak dilakukan ketika dulu mereka masih hidup sebagai penanda periodesasi fase-fase kematangan jiwa yang telah dilalui oleh orang Jawa.   

Persepsi adanya ketersinambungan antara hidup sebelum dan sesudah mati ini, selain tampak kasat mata dalam praktik ritual kubur dan upacara slametan, sebenarnya tanpa terkecuali juga implisit muncul dalam pengandaian masyarakat Jawa ketika mereka bermaksud membangun kuburan keluarga. Bagaimana tata letak urutan kuburan itu sendiri, dari yang paling tua di sisi atas dan yang paling muda di sisi bawah selain mencerminkan aspek sosiologis orang Jawa yang secara hirarkis mendudukkan orang tua sebagai lebih tinggi (leluhur) dan harus dihormati, lebih jauh juga memperlihatkan pengandaian mereka bahwa setelah kematian mereka masih bisa berkumpul kembali sebagaimana dulu ketika masih hidup. Seolah-olah, kematian sesungguhnya tidak membawa suatu perubahan secara mendasar baik dalam konteks ruang dan waktu dimensional dengan kehidupan sewaktu kita masih hidup. Setidaknya, demikianlah dalam pandangan common sense masyarakat Jawa perihal kematian, yang akar pemahamannya tentu dapat kita lacak dalam konsepsi kematian yang secara sadar lebih terumuskan dalam pandangan dunia tradisi tarekat-tarekat orang Jawa.

Benar, bahwa dalam pandangan hidup orang Jawa kehidupan di dunia ini selalu dipandang dalam konteks makna sebagai dasar pijak atau batu loncatan untuk memasuki alam kehidupan setelah kematian. Dalam tarekat-tarekat Jawa, aspek ini sangat mengemuka. Selalu ditekankan bahwa kehidupan di sini sebenarnya justru hakikatnya ialah kematian, sebagaimana hal ini kita lihat dalam konsepsi Syeh Siti Djenar, misalnya, dan mendudukkan kehidupan setelah kematian sebagai tujuan hidupnya yang lebih mendasar. Menurut paham ini, selalu ditekankan bahwa kehidupan yang sejati sesungguhnya justru bermula setelah kita mengalami kematian. Tidak aneh jika meditasi dalam pandangan tarekat-tarekat Jawa ini adalah sinonim arti dengan seni melatih diri untuk mati. Bahwa meditasi identik dengan penguasaan atas ngelmu atau kawruh tentang “pangrucatan” atau bisa disebut juga “pangukutan”, halnya seni penguasaan ilmu bardo thodol dalam tradisi Tibetan Buddhisme.

Nah, setelah mati pergi ke mana? Apakah yang sesungguhnya mati, dan apakah yang akan senantiasa hidup langgeng? Dalam tradisi tarekat Jawa, konsep “urip” (hidup) itu sendiri diartikan sebagai suatu entitas abadi. “Urip tan kena ing pati” demikianlah sering diungkapkan dalam khasanah tarekat orang Jawa. Kata urip abukanlah lawan dari kata mati. Apa yang menjadi lawan kata mati adalah kata lair. Diri yang sejati adalah urip itu sendiri, urip yang tanpa perlu atribusi maupun predikat tambahan. Ketika seseorang telah mengenal entitas urip yang ada dan meng-ada (being) dalam keberadaannya, kematian selalu hanya berarti kematian jasad semata. Sehingga kematian lebih dimaknai sebagai matinya nafsu-nafsu akan jasad manusiawi untuk menemukan hakikat urip itu sendiri, urip sebagai ‘ada’ (being) yang tidak meruang dan mewaktu namun sekaligus selalu hadir meruang dan mewaktu di manapun.

Pada titik ini, kita dapat melihat bagaimana kenyakinan pandangan dunia Jawa selalu mengandaikan bahwa kehidupan itu sesungguhnya adalah realitas yang satu dan tunggal. Adalah benar simpulan Zootmulder, bahwa dalam budaya Jawa terkandung paham monisme dan patheisme sekaligus, baik dalam artian lahir maupun batin. Sehingga, bagi mereka, batasan-batasan dimensional antara alam mereka yang hidup dan alam mereka yang mati menjadi serba relatif dan secara metafisis (ontologis) sebenarnya tidaklah berdasar sama sekali. Sehingga, implikasi logisnya, kematian dalam konsepsi orang Jawa bukanlah dianggap sebagai suatu ‘keterputusan’ yang mutlak, melainkan sangat jelas mengandaikan suatu bentuk ‘ketersinambungan’ tertentu sebagai benang merahnya.

Dalam perjalanan sejarahnya, konsepsi filosofis dari tradisi tarekat-tarekat (esoterisme) Jawa ini, yang sebenarnya pekat dengan pendekatan dan metodelogi interdisipliner, kemudian terderivasi ke dalam suatu konsep filsafat populer a-la masyarakat Jawa. Sebagaimana kita saksikan dalam munculnya bentuk gejala kulturalnya, yakni adanya praktik ritual kubur dan slametan, beserta pembangunan kuburan keluarga, sebenarnya ialah pengejawantahan terhadap asumsi nilai-nilai konsep metafisis dari tradisi tarekat-tarekat Jawa secara khusus (esoterisme) ke dalam suatu pandangan common sense budaya masyarakat Jawa secara umum (eksoterisme). Saya tidak tahu, apakah ini semata-mata gejala distorsi atau pendangkalan gagasan, dari suatu konsepsi yang lahir dari tradisi esoterisme tarekat ke dalam suatu tradisi common sense (populer culture), tapi yang jelas bahwa masyarakat kita dulu secara umum tidaklah pernah mengalami kegagapan diri ketika mempersepsi fenomena kematian dibandingkan generasi kita saat ini.

Refleksi

Ya, begitulah pandangan common sense budaya Jawa masa lalu, yang sebagai sistem pandangan dunia hidup ditompang oleh struktur masyarakat agraris. Bentuk hubungan kerja yang sangat dekat dengan tanah (alam), yang bergantung pada siklus kemurahan alam yang notabene juga masih berjalan begitu teratur, membuat keberadaan alam itu sendiri tidak saja dirasakan menjadi sebuah berkah tersendiri, namun lebih jauh pun diandaikan memiliki kebertujuannya sendiri yang bisa dirasakan. Siklus kondisi alam yang dirasakan begitu tertata ini dibatinkan dalam benak mayarakat Jawa sebagai adanya keselarasan dalam jagat gede itu sendiri.

Kehidupan masyarakat petani yang begitu dekat dengan suara gemericik air sungai mengalir, desiran angin mengusap lembut, dan suara batang-batang pohon bambu yang berisik saling bergesek diselingi kicau burung-burung yang menyuarakan kegembiraan, seolah-olah membawa alam kesadaran kita memasuki suasana kontemplasi yang begitu dalam. Alam di luar seolah-olah melarut masuk ke dalam, menyetubuhi relung-relung kesadaran diri. Dengan begitu alam seolah-olah tengah membisiki kesadaran kita dengan suatu ‘pesan’ tertentu, bahwa alam pada dirinya sendiri selain merupakan suatu entitas yang hidup ia juga memiliki kebertujuannya, sehingga keberselarasan diri kita dengan alam adalah satu-satunya kata kunci menuju kebenaran atau kenyataan. Pandangan dunia Jawa, seperti galibnya pandangan dunia tradisional lainnya, pada waktu itu—dalam konteks keruangan dan kemewaktuannya sendiri—masih dirasakan sebagai suatu pandangan yang ‘utuh’.

Generasi embah-embah kita hidup dalam populasi masyarakat pedusunan yang relatif homogen, yang antar warganya saling mengenal satu demi satu, membuat suasana kerukunan dan kekeluargaan lebih mudah terjalin. Struktur kerja yang memprasyaratkan adanya kerja sama (mutualisme simbiosis) dalam mengolah tanah memudahkan generasi embah-embah kita hidup dalam iklim yang tanpa kompetisi, tanpa ambisi karena kepentingan-kepentingan hidup mereka memang secara umum strukturnya tampak lebih sederhana dan mudah. Dengan begitu konsep keselarasan atau harmoni, struktur pekerjaan pertanian yang dekat dengan alam, yang dalam mekanisme kerja memiliki ritme yang pelan, dan bentuk alam yang notabene masih relatif dalam kondisi alaminya, membuat cara pandang dunia filsafat Jawa dan alam situasi materialnya masih terasa sinkronik satu sama lain.

Berbeda dengan kehidupan kita saat ini. Kita hidup dalam suatu atmosfir budaya setelah Nitsczhe mengumandangkan nyanyian “kematian Tuhan”. “Tuhan telah mati, dan kitalah manusia sendiri yang membunuhNya”, ujarnya jauh-jauh hari telah memprediksi konsekuensi logis dari kuasa nalar budaya masyarakat modern di mana kita hidup saat ini.

Kita hidup dalam situasi masyarakat rasional, di mana seluruh bangunan mitologi yang bersumber pada kepercayaan a-priori cara pandang dunia tradisional (teologi), tampak mulai runtuh satu demi satu. Atau kalaupun tidak sepenuhnya hancur, ia laiknya sebuah kepingan cara pandang dunia di tengah-tengah ribuan atau jutaan kepingan cara pandang dunia lainnya, yang sangat mungkin satu sama lainnya sebenarnya saling bertentangan sebegitu rupa menjadi mosaik yang membentuk dan menganyam alam kesadaran kita. Kini, sangatlah tidak mungkin kita beriman tanpa menyertakan suatu sikap kritis kita, sikap rasional, atau tanpa dasar pijak sama sekali atas akal sehat kita. Berbeda dengan generasi kultural kita, generasi kultural embah kita dulu lebih mudah menerima suatu cara pandang dunia tertentu tanpa mereka mesti bersikap mempertanyakannya kembali.

Kita hidup dalam suatu struktur masyarakat industrial, masyarakat urban, di mana ritme kehidupan berjalan begitu sangat cepat dan sangat kompetitif, kehidupan warga satu sama lain tidak saling mengenal sehingga hubungan antar diri menjadi begitu fungsional dan tidak pernah mempribadi. Kita hidup dalam suatu dunia yang serba mengasingkan, di dalam suatu habitat kehidupan yang serba artifisial, gedung-gedung beton tinggi, kepadatan dan kesemrawutan lalu lintas, yang ini tentu juga tidak pernah dirasakan oleh generasi embah-embah kita dulu.

Sejarah masyarakat modern, seperti kita lihat, bagaimanapun berdiri kukuh di atas jangkar proyek deskralisasi pandangan dunia teologis (tradisional), yang sadar atau tidak sebenarnya telah menguapkan hampir seluruh dimensi kehidupan spiritualitas (batin) manusia. Kini, sangatlah mustahil kita mampu beriman sebagaimana modus keberimanan masyarakat tradisional dulu, beriman secara dogmatis tanpa reserve atau sekadar bersikap taqlid.

Adalah logis jika pandangan dunia kita kemudian sudah tidak lagi kita rasakan ‘utuh’, lebih-lebih pandangan dunia tradisional atau teologis nyata telah terfragmentasi sebegitu rupa oleh dialektika ilmu pengetahuan manusia modern. Tidak aneh jika ada sebagian orang mengatakan bahwa kita hidup dalam suatu budaya yang schizophrenic. Situasi ini tentu juga tidak pernah dirasakan oleh generasi embah-embah kita dulu, suatu generasi ketika cara pandang kultural Jawa masa lalu masih mereka rasakan serba ‘utuh’ dan serba tidak pernah dipertanyakan kebenarannya.

Dengan begitu kehidupan manusia mengalami proses penduniawiannya (sekularisasi) besar-besaran. Langit suci teologis telah kehilangan sakralitasnya, bahkan telah dikosongkan dari nilai kesubtansialitasannya sebagai dampak gerak sejarah kemajuan peradaban modern. Jika dulu paradigma teosentrisme atau kosmosentrisme tampak dominan, saat ini paradigma antroposentrisme-lah yang memegang kemudi penilaian dan kesadaran subjek manusia. Bagaimanapun, manusia adalah pusat dan ukuran dari segalanya, dan bukan kosmos atau theos.

Di satu sisi, ini tentu merupakan gejala yang sehat. Karena berkat adanya kemajuan sains dan teknologi, selangkah demi selangkah manusia mulai menemukan ruang independensi kesadarannya yang lebih otentik. Di sini paradigma saintisme dan ilmu pengetahuan seolah-olah hadir sebagai suatu bentuk “agama baru”, atau paling tidak minimal menjadi semacam “supporting system” yang signifikan dalam cara manusia modern memahami dunianya, memahami dan memaknai keberadaan dan kesemestaannya.

Kegelisahan dan pencarian manusia akan keotentikan dirinya ini tentu tidak serta merta berakhir, namun ia laiknya justru menemukan suatu tumpuan baru yang akan membuka kemungkinan ke arah perkembangan cakrawala baru, ke arah bentuk spiritualitas baru, suatu kemungkinan arah gerak sejarah peradaban dan kebudayaan yang baru. Dulu di zaman pencerahan itu, harapan ini tampak pekat dengan suatu optimisme bahwa akan hadir suatu jenis kebudayaan dan peradaban baru yang lebih mengemban nilai-nilai humanistik. Suatu kebudayaan dan peradaban yang lebih memungkinkan realisasi terhadap seluruh potensi kemanusiaan kita, manusia, di bandingkan zaman-zaman sebelumnya. Waktu itu orang ramai-ramai menyebut lahirnya “humanisme universal” dengan suatu perasaan takjub yang euphoria, yang saat ini sebagai kepercayaan manusia modern ternyata perlahan-lahan mulai meruntuh.

Di sisi lain, konsekuensi ini semua harus kita bayar mahal. Laiknya kisah Sisifus yang dihukum karena mencuri khasanah pengetahuan milik para dewa, manusia modern dengan capaian sains dan ilmu pengetahuannya justru menemukan ternyata ‘langit suci’nya ternyata kosong dari adanya Tuhan personal yang dulu pernah mereka bayangkan. Mitos telah bertransformasi menjadi logos. Mistis menjadi matematis. Sakralitas menjadi sekularisasi. Religiusitas menjadi intitusionalitas, sehingga kedalaman makna ritual pun sekadar menjadi serimonialisasi sebuah komoditas budaya.

Dampak terjauhnya ialah, bahwa manusia modern menjadi merasa kehilangan “kehangatan kosmik” yang dulu pernah ia sangka miliki ini. Ternyata manusia dalam proses pencarian keotentikannya ini menemukan dirinya ‘terlempar’ sendirian di alam semesta yang maha luas, semesta yang impersonal dan buta akan tujuan pada dirinya sendiri. Tuhan personal atau Supreme Being telah kehilangan relevansinya. Budaya modern telah kehilangan semua rasa tentang yang suci (sacral), kehilangan tujuan akan transendensi kesadaran ataupun rasa aman bahwa hidup manusia dipelihara oleh Tuhan. Dan manusia sebagai hasil puncak kreasi evolusi semesta atau bumi, yang sejak mula eksistensinya merasa memiliki kesadaran sebagai penanda keber‘ada’nya (being) ini, tetap saja harus terus bergerak mencari dan mencari makna (nilai-nilai) hidupnya sendiri.

Sebagaimana kisah Sisifus yang dikutuk oleh para Dewa untuk mendorong batu besar dari bawah dan meluncurkan dari atas gunung, demikian berulang-ulang tanpa henti, pun spicies manusia pun adalah mahluk yang ‘dikutuk’ semesta untuk terus-menerus bertanya dan bertanya pada dirinya sendiri, menguji dan menguji, akan kebenaran batas-batas eksistensi dirinya yang ditenun dari gudang prasangkanya sendiri. 

Namun, jelas ternyata tidak semua individu-individu manusia modern sanggup memerankan peran Sisifus ini, yang menurut Albert Camus menjalani hidupnya yang absurd ini dengan suka rela dan rasa bahagia. Sebab selain tentu terasa sangat menjemukan, mengasingkan, pedih, dan menyakitkan, lebih dari itu ia akan merasa bahwa hidupnya ini seolah-olah menjadi sia-sia dan tanpa makna. Persoalan kematian tetaplah menjadi sebuah misteri yang gusar, atau bahkan terasa lebih menakutkan, karena pengandaian perihal eskatologi yang pernah dirumuskan oleh agama-agama manusia tidak mudah lagi kita bayangkan aktualitasnya. Selalu saja menjadi sebuah dunia makna yang ‘pecah’ ketika pandangan dunia agama-agama manusia ini dipaksakan kembali menjadi suatu kerangka pandangan kita saat ini.

Nyata bahwa kita sebagai manusia saat ini, yang hidup dalam atmosfir kultur hiper-modern ini, telah kehilangan jejak-jejak akan adanya kepercayaan atau sejenis kenyakinan yang ‘utuh’. Secara umum tidak ada lagi ruang nalar dogmatisme dalam pandangan dunia kita. Evolusi kebudayaan seakan-akan telah membawa kita pada titik terjauhnya yang membuat kita tidak pernah lagi bisa berbalik arah.

Namun, seperti telah kita catat di depan, sebaliknya jika kita cermati dari gejala kematian yang banyak muncul saat ini, kita melihat tidak sedikit proses kematian orang modern galibnya sangat berbeda dengan alur runut kisah kematian embah teman saya itu. Ragam penyebabnya pun semakin banyak, baik itu karena serangan stroke, anfal, tumor, diabetes, dll., dll., tapi dalam banyak kasus bisa kita catat seakan-akan selalu lebih berpola general: sakit, koma, dan kemudian mati.

Dari fenomena ini, setidaknya, tampak nyata bahwa orang modern dalam menyikapi gejala kematian yang hakikinya alamiah ini, malah tertatih-tatih dibandingkan dengan generasi embah-embah kita dulu. Seolah-olah kita telah lupa bahwa adanya kelahiran senantiasa mengandaikan adanya kematian. Ataupun jika kita paham logika itu, kita sengaja mengabaikannya dan membenamkan jauh-jauh dari alam kesadaran dan kegelisahan kita. Atau malah sekadar menyikapinya dengan suatu rasionalisasi diri sebagai suatu kamuflase atau eskapisme yang menenangkan diri.

Ya, tampak kasat mata kita lebih senang membenamkan diri pada banalitas rutinitas kehidupan sehari-hari, urusan kerjaan, dinamika karir, urusan bisnis, mencari uang, menyiapkan atau menata masa depan, dsb., dsb. Seolah-olah kematian bukanlah lagi termasuk ancangan perihal urusan masa depan kita. Berbincang perihal kematian seakan-akan tidak lagi merupakan bagian dari realisme kehidupan kita, alih-alih menjadikannya tujuan dari kehidupan itu sendiri.

Menyatukan kembali makna pandangan dunia yang sudah ‘retak’ ini tentu tidaklah mudah. Bersemangat romantisme halnya para fundamentalisme agama, tentu hanya akan menjadi gejala anomali kultural tersendiri. Pribadinya pun tampak cenderung split personality. Namun, sekadar menjadikan tujuan diri sebagai tawanan obyek-obyek dan benda-benda materi ataupun pemuasan syahwat, sebagaimana hal ini diideal-citakan dalam masyarakat konsumeristik saat ini tentu juga bukan suatu pilihan hidup yang ideal. Bagaimanapun, kerinduan masyarakat manusia akan adanya suatu pandangan dunia yang ‘utuh’ tapi sekaligus merupakan wujud realisasi potensi dirinya yang otentik adalah bentuk kerinduan terdalam umat manusia sejak dulu.

Pada titik ini, kita membutuhkan adanya suatu tranformasi nilai-nilai menuju suatu budaya pasca-agama dan pasca-modern untuk menciptakan suatu pengalaman baru perihal yang ilahi atau kesadaran transendensi. Kesadaran transendensi adalah potensi dan sekaligus tujuan terakhir dari keberadaan dirinya sebagai manusia, tanpa mesti kembali dikeruhi dengan adanya ilusi perihal keberadaan Tuhan personal atau Supreme Being, yang dalam sejarahnya telah memberi banyak pengalaman dan mimpi buruk.

*****

_/\_

Jakarta, 11 Oktober 2010.

Iklan

3 Tanggapan

  1. Terima Kasih Mas Koko’. Tulisan yang komprehensif yang merumuskan kehidupan dan kematian generasi dahulu dan generasi sekarang dengan apik. Mohon izin share di Blog pribadi…… Mengenai roh leluhur pada saat ini sudah dapat dijelaskan dengan pemahaman tentang energi. Energi itu kekal hanya berubah bentuk. Mereka yang saat kematian masih mempunyai ego, obsesi, keterikatan duniawi, mereka akan lahir lagi menyelesaikan evolusinya. Selama masih mempunyai ego, mempunyai dualitas, maka dia belum menyatu dengan sang Energi Agung. Mind seseorang lah yang membuat setiap orang merasa ada dan berbeda…….. Leluhur adalah gumpalan energi, gugusan pikiran atau mind yang “sudah tidak berwujud”, mereka yang telah mendahului kita. Dan energi tidak pernah mati. Hanya berubah bentuk, beralih wujud. Mereka sedang menunggu giliran untuk berwujud “kembali”. Selama berada di alam transisi, dalam bentuk mind atau gugusan pikiran, mereka pun butuh makanan yang bisa membantu evolusi mereka. “Energi Kasih” adalah makanan utama. Tradisi-tradisi kuno menganjurkan persembahan atau offering bagi para leluhur. Apa yang kita persembahkan tidak penting. Yang penting adalah niat kita. Rasa serta kasih di balik persembahan itu. Ketika kita memasak atau mempersembahkan bubur atau kue kesukaan orang tua yang sudah wafat, timbul energi dari rasa kasih, rasa rindu terhadapnya. Bubur dan kue persembahan tidak penting. Yang penting adalah energi dari rasa kasih yang timbul saat memasak atau mempersembahkan. Mereka yang “tidak tahu” akan mencap kita sebagai pemuja leluhur. Tidak perlu menanggapi mereka. Untuk apa?
    Namaste __/\__

  2. Mas, izin share ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: