Antara Hati Nurani dan Guru Ruhani, Renungan Pertama Tentang Berguru


Sepasang suami istri setengah baya sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan pengingat diri. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai mereka jadikan referensi. Bagi mereka buku-buku adalah Surat Cinta dari Gusti, yang perlu dibaca dan dipelajari berulang-kali.

Sang istri: Kita sering membaca pernyataan bahwa untuk mempelajari cara masak-memasak, kita butuh guru. Untuk mempelajari pengetahuan ilmiah kita butuh guru, bahkan seorang guru besar. Untuk mempelajari seni kita butuh mereka yang menguasai seni. Untuk membaca dan menulis di sekolah dasar pun kita memerlukan guru. Bukankah anak-anak yang dibesarkan hewan sejak bayi di hutan tidak bisa membaca dan menulis? Akan tetapi ketika berbicara tentang kesadaran banyak yang ragu, apakah membutuhkan guru juga? Setelah otak berkembang apakah kita juga masih memerlukan seorang guru? Bukankah buku-buku dan artikel di internet sudah tersebar, mudah diperoleh, dan secara otodidak seseorang bisa belajar sendiri?

Sang Suami: Pengetahuan bisa dipelajari sendiri, akan tetapi pengetahuan diperoleh untuk menyempurnakan ego, sedangkan kesadaran untuk mengendalikan ego. Ego juga membuat seseorang merasa dirinya sudah mampu belajar sendiri, tidak perlu belajar dari orang lain? Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan…….. Kita juga bisa memperoleh panduan lewat kitab-kitab suci, ceramah-ceramah para suci dan lain sebagainya. Kendati demikian, kehadiran seorang Guru Pribadi dalam hidup tak tertandingi oleh panduan lain jenis mana pun jua. Kitab-kitab suci pun menjadi lebih bermakna, ketika seorang Guru menjelaskan kepada kita bukan secara lisan, tetapi lewat tindakan nyata, perbuatan, dan kehidupannya sendiri. Ya, kehidupan seorang Guru merupakan tafsir yang paling jelas terhadap ajaran-ajaran suci tersebut……..

Sang Istri: Suamiku, sebagian besar orang mengatakan bahwa mereka mempunyai hati nurani, dan mereka merasa bisa berkonsultasi dan mendengarkan suara hati nurani, guru yang sudah built in di dalam diri. Alam yang serba terbatas ini hanyalah proyeksi dari “Sang Aku”, proyeksi dari Ia yang meliputi Segalanya. Oleh karena itu Guru yang berada di dalam diri dan Guru yang ada di luar diri adalah proyeksi “Sang Aku” yang berkenan memandu kita.

Sang Suami: Istriku, memang ada beberapa orang yang berkata: kita dapat mengetahui bajik dan jahat, benar dan salah, asli dan palsu, dengan berkonsultasi hati nurani kita. Mereka bilang tidak membutuhkan guru di luar diri……. Bagaimana pun harus diingat bahwa hati nurani tidak akan membantu perbaikan pemahaman kecuali hati nurani tersebut telah mencapai tingkat pemurnian yang tinggi. Tingkat kesadaran kita akan mempengaruhi “suara hati nurani” kita. Mind kita yang belum jernih akan mempengaruhi “suara hati nurani”. Hati nurani memang tempat Gusti bersemayam, tetapi suara yang terdengar oleh kita akan dipengaruhi oleh “semrawut”-nya mind kita. “Hati nurani yang belum murni” tidak dapat memberikan saran yang tepat. Seseorang yang masih belum dapat mengendalikan insting hewani sulit mendengarkan suara hati nurani yang membawanya kepada kesadaran. Keyakinan intelektual sangat dipengaruhi oleh pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Intelektualitas, dalam banyak kasus hanya sebagai alat hanya bagi naluri dan keinginan terpendam. Kesadaran seseorang berbicara sesuai dengan  kecenderungan, pendidikan, kebiasaan, nafsu dan masyarakat lingkungannya.

Sang Istri: Suamiku, saya ingat tulisan seorang bijak yang menyatakan bahwa hanya ada dua cara untuk menggapai Gusti. Pertama membesarkan diri, sehingga dapat merangkul Gusti. Atau, kedua memperkecil diri sehingga larut di dalam Gusti.

Sang Suami: Mereka yang memakai cara pertama berketetapan, lebih baik aku menggali diri, mencari jati-diri, untuk apa mencari Tuhan segala? Bukankah telah dikatakan bahwa ia yang menemukan dirinya telah menemukan Tuhan-Nya? Ini yang disebut The Way of Gyaana, Jalur Pengetahuan, jalur yang banyak menggunakan otak dan reasoning. Seorang intelektual tersebut harus mengikis ego dan keangkuhannya lewat diskriminasi dan instropeksi diri. Itulah tuntutan Gyana…….. Diskriminasi antara Preya dengan Shreya, antara yang menyenangkan indra dan pikiran dengan yang memuliakan serta meditasi.

Sang Istri: Konon inilah jalur Arjuna….. untuk apa menyembah? Siapa yang patut kusembah? Krishna hanyalah seorang sahabat. Ia pun sama seperti diriku. Ia pun berdarah dan berdaging. Untuk apa berserah diri segala…….. Tetapi akhirnya Arjuna membenturkan kepalanya dengan tembok ego, dan akhirnya ia pun menundukkan kepalanya, “Katakan Krishna, katakan apa yang harus kulakukan….” Namun bila seorang Arjuna belum juga terbentur kepalanya, ia akan tetap mengagung-agungkan jalurnya dan menganggap jalur itu sebagai satu-satunya jalur yang dapat mengantar dia kepada-Nya.

Sang Suami: Benar istriku, dalam tulisan bijak tersebut juga disampaikan……… jalur kedua adalah Jalur Pengabdian, The Way of DevotionBhakti Maarg. Penyerahan diri. Mereka yang berada pada jalur kedua memahami betul hal itu, dan sama sekali tidak terpengaruh oleh apa pun yang dikatakan oleh para Arjuna. Mereka adalah para Gopi, para Gopal, yang mabuk cinta. Para leluhur menyebut mereka sebagai Cantrik yang berarti orang yang selalu “mengikuti” Guru.

Sang Istri: Tetapi nampaknya banyak juga yang telah berguru bertahun-tahun tetapi belum nampak adanya rasa kepasrahan, atau manembah dalam diri mereka. Ego mereka hanya memilih dan mengambil apa yang di rasa baik dari seorang Guru. Mereka masih manembah pada egonya. Di situlah titik kritisnya, karena mereka lebih mempercayai ego mereka sendiri.

Sang Suami: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” hal tersebut mendapat penjelasan sebagai berikut…….. Panembahan berarti penyerahan diri. Umumnya kita belum siap untuk berserah diri sepenuhnya. Kunjungan kita ke padepokan seorang guru untuk belajar sesuatu tidak serta merta menjadikan kita seorang panembah. “Sekedar berguru” seperti itu bukanlah panembahan. Mereka yang belum siap untuk berguru, dan menjadi panembah dalam arti kata sesungguhnya, menciptakan daftar pajang bagi seorang guru, apa yang boleh dilakukannya, dan apa yang tidak boleh. Kita tidak membutuhkan seorang Guru, kita membutuhkan seorang “pengajar” biasa yang mesti mengikuti kehendak kita………

Sang istri: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” tersebut disampaikan……… Para resi memberi ciri-ciri para Sadguru, Guru yang benar. Mereka telah mengatasi tiga macam keinginan yakni: keinginan untuk memperoleh keturunan, kekayaan, dan ketenaran. Beliau ibarat aliran sungai yang melenyapkan rasa haus setiap Panembah. Beliau tidak pilih kasih. Beliau tidak terikat pada suatu tempat atau tepi. Beliau mengalir terus menuju samudera kebebasan. Bagi kita yang kadang masih bingung, Apa mungkin mengasihi tanpa keterikatan? Maka, analogi tentang sungai tersebut tepat sekali. Aliran sungai mengasihi setiap orang. Ia melayani setiap orang. Pun ia melewati sekian banyak kampung, desa, dan kota. Namun ia tidak terikat pada sesuatu apa pun jua. Ia mengalir terus menerus menuju tujuannya. Seperti itulah kasih tanpa keterikatan. Itulah cinta tanpa syarat, cinta tanpa batas. Para suci seperti menjalani hidup mereka tanpa keterikatan. Mereka mengasihi setiap orang yang mereka lewati tanpa keterikatan. Persis seperti sungai yang memberi kehidupan dalam perjalannya menuju samudera………

Sang Suami: “Kehadiran seorang Guru” dalam hidup memudahkan perjalanan hidup. Ia adalah seorang pemandu yang pernah mengalami apa yang sedang kita alami saat ini. Sungguh sulit mencapai kesadaran diri tanpa seorang pemandu. Ia memudahkan pencarian kita. Aneh, untuk segala sesuatu yang bersifat kebendaan, kita tidak segan-segan minta bantuan dari orang lain. Tapi, untuk perjalanan ruhani kita menolak kehadiran seorang guru. Kita pikir bisa menempuh tanpa pemandu. Sesungguhnya bukanlah sekedar bantuan atau pemandu sembarang yang dibutuhkan dalam perjalanan ruhani. Kita membutuhkan seorang guru yang sudah melewati setiap perjalanan hidup. Sehingga ia memahami kesulitan-kesulitan yang sedang kita hadapi, dan dapat menawarkan jalan keluar. Seorang guru memandu setiap langkah kita hingga mencapai tujuan kita dengan selamat. Memang kita mesti berjalan sendiri. Ia tidak bisa berjalan untuk kita. Tapi, panduan yang diberikannya sungguh sangat bermanfaat…….. Demikian telah disampaikan hal tersebut dalam buku “Shri Sai Satcharita”.

Sang Istri: Benar suamiku, saya juga membaca buku tersebut yang menyampaikan bahwa……… Perjalanan panjang menuju sumber memang penuh tantangan, kebuasan nafsu, keliaran panca indera, keterikatan pikiran, ketidakseimbangan rasa, semuanya itu sangat mengganggu. Maka, pikiran manusia memang mesti dialihkan dari segala sesuatu yang tidak menunjang evolusinya, kepada sesuatu yang menunjangnya. Untuk itu, kita membutuhkan seorang pemandu, seorang yang tahu persis tentang tantangan-tantangan dalam perjalanan. Guru adalah pemandu itu. Alangkah beruntungnya mereka yang memperoleh seorang guru! Apa yang mesti dipikirkan lagi? Apa yang mesti diragukan? Hendaknya mereka tidak bimbang, dan berserah diri kepadanya. Mengikuti petunjuknya, menuruti nasihatnya. Hendaknya mereka tidak bermalas-malasan. Mereka harus menggunakan seluruh tenaga untuk melanjutkan perjalanan bersama Sang Guru. Sungguh sangat beruntungnya mereka sehingga bertemu dengan Ia yang telah tercerahkan, terjaga, dan mengetahui setiap kelemahan dan kekurangan mereka, sehingga dapat menunjukkannya kepada mereka. Selanjutnya, tentu mereka sendiri yang mesti memperbaikinya……….

Sang Suami: Istriku, aku terkesan dengan buku “Shri Sai Satcharita” yang berisi cerita tentang Berguru. Menurut saya buku tersebut pantas untuk dimiliki setiap pejalan spiritual sebagai pengingat diri di setiap waktu. Dalam buku tersebut juga dijelaskan bahwa……. Jiwa manusia ibarat burung di dalam sangkar. Ia tidak sadar bila dirinya terperangkap. Ia puas dengan keadaan di dalam sangkar. Badan, pikiran, dan perasaan kita itulah sangkar jiwa, sangkar kita. Adalah orang Sadguru yang membuat kita sadar akan keadaan kita. Kehadiran seorang Guru dalam hidup adalah berkah Allah. Dengan berkah itu pula, kemudian mata batin kita terbuka. Dan, kita menyadari keadaan kita yang sesungguhnya. Setelah itu, kita baru berupaya untuk membebaskan diri dari sangkar. Nah, soal upaya hal tersebut sepenuhnya tergantung pada diri kita. Tidak seorang pun dapat berupaya untuk kita. Kita mesti berupaya sendiri. Sadguru menunjukkan jalan, selanjutnya kita mesti berjalan sendiri. Seorang pemandu bisa mendampingi kita, tapi kita tetaplah mesti berjalan sendiri. Para panembah dalam kisah-kisah ini memahami betul hal itu. Maka, kehadiran Guru di dalam hidup membuat mereka menjadi lebih dinamis. Bukan bermalas-malasan……

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Oktober 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: