Guru Sebagai Jembatan Antara Manusia dan Gusti, Renungan Kedua Tentang Berguru


Sepasang suami istri setengah baya sedang belajar bagaimana cara berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pemahaman pengetahuan menjadi tidak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Sri Sai Satcharita” dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Buku tidak dibaca tetapi dipelajari. Paathi-to learn, sebuah proses seumur hidup dari lahir sampai mati.

Sang Istri: Semua orang bijak, para suci, para guru dunia telah berguru sebelumnya. Bahkan Sri Rama dan Sri Krishna pun patuh pada Guru mereka. Mereka bukan hanya mencari Guru untuk menambah ilmu seperti yang terjadi di pendidikan formal. Mereka membuka diri, pasrah, manembah terhadap Sang Guru. Mereka tidak menganggap diri mereka sudah bijak dan tidak menganggap bahwa Guru diperlukan hanya untuk melengkapi pengetahuan mereka. Mereka “bisa rumangsa ora rumangsa bisa”, mereka bisa menyadari diri, bukan merasa diri sudah bisa.

Sang Suami: Berbicara tentang kesadaran, maka hal yang utama adalah pengendalian pikiran. Selama ego masih ada, maka pikiran lah yang menjadi penguasa diri. dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena” disampaikan………. Inilah satu-satunya cara untuk menafikan ego. Tidak ada cara lain. Kehadiran seorang Guru dalam hidup kita semata-mata untuk membantu kita tidak menjadi egois. Guru bagaikan katalisator, “perantara yang ada dan tidak ada”. Ia bagaikan  awan yang “menyebabkan” keteduhan untuk sejenak dan berlalu. Awan “tidak memberi” keteduhan, ia “tidak membuat” teduh: ia “menyebabkan” terjadinya teduh. Itulah Guru. Bagi Maria, kesadaran identik dengan Guru. Bagi dia, pencerahan identik dengan Yesus yang dicintainya. Di balik kejadian itu ia tidak melihat andil dirinya sama sekali. Ia tidak merasa melakukan sesuatu yang luar biasa untuk memperoleh pencerahan itu. Apa yang terjadi atas dirinya semata-mata karena “berkah”, karena rahmat, karena anugerah Sang Guru! Kelak, Nanak pun mengatakan hal yang sama. Bertahun-tahun setelah kejadian: Ik Omkaar, Sadguru Prasaad – Hyang Tunggal Itu kutemui berkat rahmat Guruku!

Sang Istri: Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara” disampaikan…….. Penyerahan diri secara total oleh seorang murid sama sekali bukan untuk kepentingan Guru, tetapi untuk kepentingan dirinya sendiri. Melepaskan keangkuhan, keangkuhan, keakuan, ego dan tidak ge-er karena “baru sekadar tahu” adalah demi kebaikan sebagai calon murid. Hubungan antara guru dan siswa, antara murshid dan murid sungguh sangat aneh. Tiada kata untuk menjelaskannya. Tidak ada hubungan darah antara mereka. Tidak ada hubungan daging antara mereka. Tidak ada kewajiban bagi mereka untuk saling berhubungan. Tidak ada tuntutan dari tradisi, budya, agama. Hubungan di antara murshid dan murid  sepenuhnya karena “kesadaran”. Hanya dilandasi kesadaran………

Sang Suami: Yang perlu diperhatikan adalah Guru tidak sekedar memberi wejangan, akan tetapi telah mempraktekkan apa yang disampaikannya. Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan bahwa………. Aachaarya sering diterjemahkan sebagai Guru. Yang dimaksud bukan guru biasa, bukan guru sekolah. Aachaarya adalah seorang Guru-Praktisi. Dari suku kata Aachar atau perilaku, perbuatan, aachaarya berarti seorang yang mempraktekkan apa yang diajarkannya. Seorang guru sekolah “tidak perlu” mempraktekkan apa yang diajarkannya. Sesuka dia. Mau dipraktekkan, oke. Tidak mau pun oke.

Sang Istri: Berguru memang tidak sama dengan belajar pada pendidikan formal. Dalam buku “Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru” disampaikan……..  Berguru tidak sama dengan belajar. Untuk berguru, kepala harus ditundukkan. Untuk berguru, ego harus dinafikan. Tidak perlu ada hubungan batin antara seorang pelajar dan pengajar. Sebaliknya, antara seorang siswa dan guru, yang ada hanyalah hubungan batin. Berguru berarti membuka batin menjalin hubungan batin.

Sang Suami: Jika memutuskan untuk berguru, bergurulah pada seseorang yang kita percayai 100%. Janganlah berguru pada seseorang karena pengetahuan orang itu. Kita harus berguru karena kepercayaan kita. Keputusan untuk berguru harus datang dari diri kita sendiri, kita boleh ada pertimbangan dari luar yang mempengaruhi keputusan kita. Masukan dari luar hanya merupakan bahan pertimbangan. Kita yang mempertimbangkan dan memutuskan. Janganlah berguru pada seseorang hanya karena banyak orang berguru kepadanya. Bila jumlah pengikut menjadi pertimbangan, sesungguhnya kita berguru pada “jumlah”, pada “kuantitas” tidak pada Guru. Kita tidak akan memperoleh sesuatu yang berharga…….. Demikian disampaikan dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”.

Sang Istri: Suamiku, nampaknya Guru memang berkaitan erat dengan Gusti atau Tuhan. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan…….. Hanyalah ada dua aspek Brahman atau Tuhan yang dapat dipahami manusia. Pertama, aspek Nirguna, atau abstrak, gaib, tidak bermanifestasi, tanpa wujud. Dan, dua adalah aspek Saguna, nyata, bermanifestasi, berwujud. Kedua-duanya adalah aspek Brahman atau Tuhan yang sama. Kemudian, ada yang merasa lebih dekat dengan aspek Nirguna, ada pula yang merasa lebih mudah menyadari kehadiran Tuhan lewat aspek Saguna.

Sang Suami: Benar istriku ada kaitan erat antara Gusti dan Sadguru. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” tersebut juga disampaikan…….. Sebagaimana dijelaskan oleh Sri Krishna dalam Bhagavad Geeta, adalah lebih mudah merasakan kehadiran Tuhan lewat aspek Saguna. Karena, manusia sendiri memiliki aspek yang sama, Saguna. Manusia pun nyata, bermanifestasi, atau berwujud. Ada pula yang menggunakan aspek Saguna sebagai batu loncatan. Setelah mencapai tahap tertentu, ia beralih ke aspek Nirguna lewat meditasi dan latihan-latihan lain sebagainya……. Bagi para panembah yang yakin, seorang Sadguru adalah aspek Saguna dari Brahman. Mereka menggunakan wujud Sadguru untuk mencapai Nirguna Brahman, Tuhan yang Tak Berwujud. Pun demikian dengan kita yang percaya kepada seseorang sebagai Sadguru. Adalah sangat mudah untuk mengembangkan kasih tanpa syarat lewat bakti kepada Sadguru………

Sang Istri: Yang harus diperhatikan adalah bahwa semuanya hanya dapat terjadi karena rahmat Gusti. Dalam buku “Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo” disampaikan bahwa…… Seorang guru datang dalam hidup kita bukan karena kehendaknya, tetapi karena dikehendaki-Nya. Kedatangan Seorang murshid atau seorang guru dalam hidup kita “terjadi” karena dikehendaki oleh-Nya. Itulah kenapa kita sujud kepadanya, karena sesungguhnya dengan sujud kepadanya kita sedang sujud kepada-Nya.

Sang Suami: Sebelum kita melanjutkan pembicaraan, ada baiknya kita memahami istilah dan konsep-konsep yang sangat terkait dengan budaya asal Nusantara, yang saat ini sudah hampir terlupakan. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan tentang istilah manembah……….. Terpengaruh oleh budaya asing yang selalu memisahkan materi dan spiritual, seolah keduanya adalah dua entitas yang berbeda, maka kita pun menciptakan kaidah-kaidah tentang apa dan siapa saja yang boleh disembah. Padahal di dalam budaya kita ada tradisi sungkem kepada orangtua, dan siapa saja yang kita pertuakan. Leluhur kita juga menghormati segala sesuatu di dalam alam ini, pepohonan bebatuan, bukit, gunung, kali, sungai, laut, semuanya. Maka tidaklah heran bila kita juga bersungkem pada seorang guru spiritual yang tidak hanya kita hormati, tapi kita anggap sebagai berkah dari Hyang Widhi, dari Hyang menentukan Segalanya………

Sang Istri: Benar suamiku, konsep para leluhur kita tidak berbeda dengan konsep para sufi dan para pencinta yang sangat menghormati mereka yang tengah meningkatkan kesadaran diri mereka. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan……… Para sufi menggunakan “wujud” murshid sebagai gerbang untuk memasuki Tuhan. Ketika Yesus menyatakan diri sebagai pintu untuk memasuki Kerajaan Allah, maksudnya ya itu. Para lama di Tibet melakukan Guru Pooja, penghormatan khusus terhadap para guru. Begitu pula dengan para “pencari” di dataran India. Lewat Guru Bhakti atau cinta tak bersyarat dan tak terbatas terhadap seorang guru, mereka menemukan cinta yang sama di dalam diri mereka masing-masing. Seorang guru tidak membutuhkan puja dan bakti. Dia justru memberikan kesempatan bagi perkembangan puja dan bhakti di dalam diri kita masing-masing. Puja dan bakti terhadap seorang guru tidak berarti mencium kaki atau tangannya. Puja dan bakti terhadap seorang guru semata-mata untuk mendekatkan diri kita dengan Ia yang bersemayam di dalam setiap makhluk.

Sang Suami: Saya jadi ingat buku “Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia” yang menyampaikan bahwa……… Guru adalah jembatan antara manusia dan Tuhan. Dalam diri Guru, kemanusiaan dan ketuhanan – dua-duanya tampak jelas. Jembatan yang selalu ada, tidak pernah tidak ada. Berbahagialah dia yang telah menemukan jembatannya……….

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Oktober 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: