Guru Menurunkan Tingkat Kesadaran Agar Dapat Berkomunikasi Dengan Murid, Renungan Keempat Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai alat untuk introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Sri Sai Satcharita” dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Bukan apa-apa, mereka hanya membuka diri agar esensi dari buku-buku tersebut dapat mereka resapi.

Sang Suami: Istriku, dalam buku “Youth Challenges And Empowerment” disampaikan bahwa……. Jenderal Douglas MacArthur pernah berkata, orang menjadi tua karena meninggalkan idealnya  atau tidak lagi berupaya untuk mencapainya. Usia hanyalah meyebabkan keriput pada kulit, tanpa daya tarik atau kehendak yang kuat jiwamu berkeriput. Kau adalah semuda imanmu, dan setua keraguanmu; semuda rasa percaya dirimu, dan setua rasa takutmu; semuda harapanmu, dan setua keputusasaanmu. Di tengah setiap hati atau jiwa atau psike, adalah ruang perekam atau arsip. Selama ia menerima pesan-pesan nan indah, penuh harapan, keceriaan, dan semangat, selama itu pula kau masih berusia muda. Ketika hati atau jiwa atau psikismu tertutup oleh salju pesimisme dan sinisisme, maka saat itulah kau menjadi tua. Kemudian, seperti kata para penyair, kau melentur dan lenyap…… Kini Orang Tua dan Teman-Teman telah memberkahi kita bahwa jiwa kita akan selalu muda, maka mulai saat ini kita tidak akan membahasakan diri kita sebagai orang tua setengah baya lagi. Dulu berpegang kultur Jawa, kita memanggil mereka yang lebih muda dari kita sebagai Mas dan Mbak, panggilan anak kita terhadap mereka. Mulai saat ini kita akan lebih sering memanggil mereka Boss, agar jiwa kita tetap muda. Semoga Teman-Teman kita, semoga Boss-Boss maklum……

Sang Istri: Seorang guru TK harus menurunkan tingkat kemampuan ilmiahnya untuk secara sederhana mengajari murid-muridnya. Tetapi walau berkomunikasi dengan anak didiknya menggunakan bahasa kanak-kanak, sang guru tidak melupakan tingkat kemampuan intelektualnya. Begitu ke luar dari ruang belajar murid-muridnya, sang guru kembali menjadi seseorang dengan tingkat intelektual yang sebenarnya…….. Seorang pilot pesawat di angkasa juga harus menurunkan pesawatnya di bandara untuk menjemput penumpang yang akan dibawanya terbang ke angkasa.

Sang Suami: Demikian pula dengan seorang Satguru. Dia harus menurunkan tingkat kesadarannya agar dapat berkomunikasi dan meningkatkan kesadaran para muridnya. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan…….. Seorang Satguru tidak pernah menempatkan diri di atas panggung yang sangat tinggi, sehingga kita tidak dapat menggapai Beliau. Dengan menunjukkan sisi kemanusiannya, Sang Guru Sejati hendak meyakinkan kita, Lihat, aku pun manusia biasa seperti dirimu. Jika, aku bisa mengalami  peningkatan kesadaran, penjernihan pikiran, dan pemurnian rasa, maka, kau pun bisa. Pasti!………

Sang Istri: Seorang Satguru telah menemukan Jati Diri. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan……… Jati Diri sesungguhnya adalah Kesadaran Murni. Kesadaran yang utuh, tidak terbagi. Kesadaran yang satu adanya. Kesadaran yang bercahaya, karena cahaya itu merupakan sifatnya. Cahaya yang tidak mengenal perpisahan dan perbedaan. Turun sedikit dari Tingkat Kesadaran Murni, kita akan melihat perpisahan, pembagian dan perbedaan. Setinggi-tingginya kesadaran kita, jika masih satu anak tangga saja di bawah Kesadaran Murni, kita masih berada pada tingkat kesadaran rendah. Apa yang kita anggap Superconsciousness atau Kesadaran Supra, Kesadaran Tinggi, masih satu anak tangga di bawah Kesadaran Murni. Karena itu, berada pada tingkat Kesadaran Supra pun, kita masih akan melihat perbedaan………

Sang Suami: Untuk menulis buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” ini pun Shri Shankara harus menurunkan kesadarannya. Dalam buku tersebut disampaikan…….. Berada pada tingkat Kesadaran Murni, dia tidak akan bisa menulis sesuatu. Bagaimana bisa menulis, kalau berpikir pun tidak bisa. Pada tingkat Kesadaran Murni, pikiran, rasa, semuanya terlampaui. Avatar berarti “Ia yang turun”. Lalu, oleh mereka yang tidak mengetahui artinya diterjemahkan sebagai “turun dari sono”. Entah dari mana! Sebenarnya, tidak demikian. Avatar berarti “ia yang turun dari tingkat Kesadaran Murni”. Seorang avatar harus menurunkan kesadarannya untuk berdialog dengan kita. Untuk berkomunikasi dengan kita. Dan karena itu, bukan hanya Rama, Krishna, dan Buddha, tetapi Yesus juga seorang Avatar. Muhammad dan Zarathustra juga demikian. Mereka semua harus turun dari tingkat Kesadaran Murni yang telah mereka capai, untuk bisa menyampaikan sesuatu kepada kita. Memang, bahasa Krishna lain. Bahasa Buddha lain. Bahasa Yesus lain. Bahasa Muhammad lain. Memang harus begitu, karena mereka sedang berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda, dengan mereka yang tingkat kesadarannya berbeda-beda……… Kendati seorang avatar, harus menurunkan kesadarannya untuk bisa berkomunikasi dengan kita, sesungguhnya dia tidak pernah lupa akan Jati Dirinya—bahwasanya “Matahari Kesadaran Murni” itulah Kebenaran Diri dia. Ini yang membedakan para avatar dari kita. Kita pun sering mengalami peningkatan kesadaran sesaat. Dalam alam meditasi, kita pun sering mencapai tingkat Kesadaran Murni, tetapi hanya untuk sesaat saja. Lagi-lagi kita “jatuh” kembali. Sengaja penulis buku menggunakan istilah “jatuh”, karena memang itu yang terjadi. Setiap orang yang pernah mencapai tingkat Kesadaran Murni tahu persis bahwa tidak ada yang lebih “nikmat” dari pengalaman itu. Pada saat itu, gelombang kelahiran dan kematian tidak eksis lagi. Kita menyatu dengan Samudra Kehidupan. Sayang, hanya untuk sesaat dan jatuh kembali. Lalu kita berupaya keras untuk mendapatkan pengalaman yang sama. Tetapi tidak berhasil…….

Sang istri: Dalam buku tersebut juga disampaikan……… Para avatar, para mesias, para buddha tidak “jatuh seperti kita. Mereka “turun” dengan penuh kesadaran. Karena itu, wajah mereka berkilau cemerlang. Karena itu, berada dekat seorang avatar saja sudah cukup. Kita akan ketularan virus kesadaran. Virus kesadaran yang ditularkan oleh seorang avatar ibarat benih yang ia tanam dalam jiwa kita. Kita masih harus menyiram dan memupukinya. Jika tidak, biji itu tidak akan tumbuh sehat. Kita harus mempersiapkan lahan diri, sehingga biji kesadaran bisa tumbuh subur………

Sang Suami: Ada yang berpendapat bahwa mind manusia sudah sedemikian maju, maka sudah tidak ada avatar yang perlu turun lagi. Terhadap pandangan demikian, buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”memberi penjelasan……… Para mesias dan avatar dibutuhkan oleh manusia yang masih “bayi”. Sekarang sudah tidak ada “manusia bayi” lagi. Sekarang sudah menjadi dewasa. Dan proses kematangan atau kedewasaannya ini disebut penulis buku sebagai proses kebuddhaan. Ciri-ciri calon buddha. Pertama, dia sudah terbebaskan dari kegelisahan. Kedua, dia sudah menjadi tenang….. Ketiga, tidak menagih sesuatu, tanpa craving. Keempat, berkeinginan tunggal untuk memperoleh kebebasan……… Istriku, kita perlu merenungkan, apakah manusia sudah memenuhi ciri-ciri kedewasaan tersebut?

Sang Istri: Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran” disampaikan……….. Renungkan sebentar: Kesalahan-kesalahan yang kita buat mungkin itu-itu juga. Lagi-lagi kita jatuh di dalam lubang yang sama. Dalam hal membuat kesalahan pun rasanya manusia sangat tidak kreatif. Karena, sesungguhnya tidak banyak kesalahan yang dapat anda buat. Pendorongnya, pemicunya pun tidak terlalu banyak. Keinginan, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan ya Panca-Provokator-itulah yang mendorong kita untuk berbuat salah. Yang kita sebut avatar, atau mesias, atau Buddha telah menguasai kelima-limanya. Kita belum. Menguasai kelima-limanya tidak berarti tidak pernah berkeinginan atau marah. Mereka pun masih punya keinginan-setidaknya untuk berbagi kesadaran dengan kita. Mereka pun bisa marah kalau kita tidak sadar-sadar juga, padahal sudah berulang kali kupingnya dijewer………..

Sang Suami: Benar istriku, dalam buku tersebut juga disampaikan bahwa………  Keserakahan dan keterikatan mereka malah menjadi berkah bagi kita semua. Sampai mereka harus menurunkan kesadaran diri untuk menyapa kita, untuk membimbing kita, untuk menuntun kita. Kenapa? Karena mereka ingin memeluk kita semua. Keserakahan kita sebatas mengejar harta dan tahta; keserakahan mereka tak terbatas. Mereka mengejar alam semesta dengan segala isinya. Mereka ingin memeluk dunia, karena “tali persaudaraan “, karena “ikatan-persahabatan” yang mereka ciptakan sendiri. Keangkuhan dalam diri mereka merupakan manifestasi Kesadaran Diri. Ketika Muhammad menyatakan dirinya sebagai Nabi, dia tidak angkuh. Ketika Yesus menyatakan dirinya sebagai Putra Allah, dia pun sesungguhnya tidak angkuh. Ketika Siddhartha menyatakan bahwa dirinya Buddha, sudah terjaga, dia pun tidak angkuh. Ketika Krishna mengatakan bahwa dirinya adalah “Manifestasi Dia yang Tak Pernah Bermanifestasi, dia pun tidak angkuh. Keakuan kita lain – Ke-“Aku”-an mereka lain. Yang tidak menyadarinya akan membatui Muhammad, akan menyalibkan Yesus, akan meracuni Siddhartha, akan mencaci-maki Krishna……..

Sang Istri: Dalam buku “Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi” disampaikan…….. Para avatar, para mesias dan para Buddha menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh masyarakat luas pada jaman mereka. Tujuan mereka hanyalah satu: keselamatan kita, kesadaran kita, pencerahan kita. Apabila bahasa “kesadaran” belum bisa dipahami, mereka akan menggunakan bahasa yang lebih sederhana. Mereka akan bicara tentang para bidadari di sorga dan penyiksaan dalam api di neraka. Bahasa itu digunakan demi kebaikan kita pula. Setelah terjadinya proses pematangan dan pendewasaan diri, hendaknya kita bisa melihat “kebenaran” di balik kata-kata kias itu. Hendaknya kita menjadi bijak, baik, karena kesadaran itu sendiri, bukan karena harapan sorga atau rasa takut akan penyiksaan di neraka……..

Sang Suami: Dalam buku “Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi” juga disampaikan perihal avatar dalam bahasa sufi, “zat” dan “sifat”……….. Seperti sebab dan akibat, sesungguhnya sifat berasal dari zat. Kemudian, sebagaimana akibat bisa menjadi sebab dan menghasilkan akibat baru. begitu pula sifat bisa menjadi zat dan menghasilkan sifat baru. Demikian yang terjadi terus-menerus. Tetapi, untuk memahaminya dibutuhkan pencerahan diri. Untuk melihatnya, dibutuhkan mata batin yang terang. Rahasia yang terungkapkan bukanlah rahasia lagi. Rahasia yang satu ini pun tidak pernah terungkapkan. Zat menjadi sifat, sifat menjadi zat, atau sebab menjadi akibat dan akibat menjadi sebab lagi – apa  maksud Rumi?  Apa maksud Mansur, Hamzah Fansuri, Sarmad, ketika mereka menyatakan diri sebagai Haq? Apa maksud Yesus ketika ia menyatakan dirinya “satu” dengan Allah? Apa maksud Muhammad, ketika dia pun mengatakan bahwa dirinya adalah Ahmad tanpa “mim”? Sifat yang sedang dalam “proses” menjadi zat kita sebut wali, atau santo, atau pujangga. Lalu, jika Zat turun kembali dan ber-“sifat” lagi, ia disebut Avatar, Mesias, Buddha……….

Sang Isteri: Semoga kita sadar bahwa seorang Guru telah menurunkan tingkat kesadarannya untuk berkomunikasi dan meningkatkan kesadaran kita semua. Semoga kita semua dapat memperbaiki bagaimana etika berguru…….

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Oktober 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: