Kelompok Musa Atau Firaun Kah Kita?


oleh Marhento Wintolo pada 26 September 2010 jam 8:09. Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento bisa menyebar ke seluruh Nusantara. Sumber FB Bapak Marhento.

http://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150286237625445

Qur’an pagi ini mengantar kita ke Al-A’raaf (ayat 113). Apa yang membedakan Musa dari para ahli sihir? Musa berkarya tanpa pamrih demi kepentingan umum. Para ahli sihir berkarya karena dijanjikan harta kekayaan dan kedudukan oleh Firaun. Sekarang mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, kita berada di kubu mana? Adakah diantara kita seorang Musa yang sedang berkarya untuk kepentingan umum tanpa mementingkan dirinya? Sayang, kita semua adalah budak Firaun, yang hanya mau “mengabdi” jika dibayar, dijanjikan ini dan itu. Kita lupa akan kerasulan dan kekhalifan di dalam diri kita. Maka, kita tidak mencapai ketinggian yang dijanjikan Qur’an, kesadaran kita malah semakin merosot ke bawah.

Ketika Musa berada di tengah kita pun, kita masih sibuk bergaul, dan bersosialisasi dengan budak-budak Firaun. Kita lupa akan potensi diri kita. Inilah penyakit utama yang diderita oleh umat manusia, oleh kita semua – penyakit lupa. Tapi, masih belum terlambat. Begitu sadar, kita mesti segera berpisah dari kaum Firaun dan bergabung dengan kaum Musa. Kita mesti belajar memilah, mana yg tepat, mulia, dan tinggi. Dan, mana yg tidak tepat, sekedar menyenangkan, dan malah merendahkan. Pilihan kita mesti tepat, dan kita memilih yang tepat.

Termotivasi untuk berkarya demi kepentingan sesama karena “janji surga” pun masih menempatkan kita dalam kabilah, dalam suku Firaun, bersama budak-budak lain. Kita mesti segera berpisah dari mereka, sehingga dapat berhamba kepada Allah. Inilah permainan Tuhan, permainan ular tangga. Ia sedang menyaksikan jatuh-bangun kita. Dan dari waktu ke waktu Ia pun mengingatkan kita lewat para kekasihNya, “Bereskan niatmu. Niatmu dapat mengantarmu ke ketinggian yang sesungguhnya adalah takdirmu.” Sekarang ini kita masih berniat, berhasrat “Firaun” – materi. Maka, hidup kita pun menjadi materiil, samar, bayang-bayang, maya, ilusi. Sekarang tinggal berpindah niat, tidak lagi memperhatikan bayang-bayang tapi memusatkan seluruh perhatian, seluruh kesadaran pada Ia yang terbayang – mengalihkannya dari materi ke ruhani. Itu saja.

Al-Araaf ayat 113: Tukang-tukang sihir itu datanglah menghadap Firaun, seraya sembahnya: Adakah kami akan menerima upah jika kami menang?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: