Menjaga Pergaulan, Renungan Keenam Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang nasehat Guru untuk menjaga pergaulan sebagai bahan introspeksi. Mereka paham pembicaraan mereka nyaris seperti pembicaraan anak-anak dibanding mereka yang telah mencapai tingkat kesadaran tinggi. Karena itu mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka ingin membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Membuka hati dengan repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri.

Sang Istri: Guru menekankan urutan sadar, bebas dan hidup. Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan” disampaikan……… Kita harus mulai dari kesadaran. Sadar dulu, baru memproklamasikan kemerdekaan. Kemerdekaan, kebebasan tanpa kesadaran tidak akan tahan lama. Kesadaran adalah bekal awal. Tanpa bekal itu, kebebasan, kemerdekaan yang kita proklamasikan tidak bermakna sama sekali. Sewaktu-waktu, jiwa kita bisa dijajah kembali. Dulu penjajahnya lain, sekarang penjajahnya lain. Budak tetap budak. Sekali lagi, sadarilah kemampuan diri, potensi diri-keilahian dan kemuliaan diri. Setelah menyadarinya, baru memproklamasikan kemerdekaan. Baru membebaskan diri dari segala sesuatu yang mengikat diri kita, yang merantai jiwa kita. Setelah bebas, kemudian kita baru hidup. Kita baru bisa menikmati hidup ini. Kita baru bisa merayakan kehidupan!

Sang Suami: Mengenai kebebasan, maksudnya bebas dari keterikatan. Dalam buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia” disampaikan bahwa…….. Kita tidak pernah bisa membebaskan diri dari dunia, karena dunia dan kita terbuat dari bahan baku yang sama. Perhiasan yang terbuat dari emas tidak dapat membebaskan diri dari emas. Bebaskan diri kita dari keterikatan, karena keterikatan kita bersifat ilusif. Keterikatan manusia tidak pada tempatnya. Keterikatan manusia adalah ciptaannya sendiri. Tercipta karena ketidaktahuan……

Sang Istri: Paling tidak ada dua hal, “harta dan keluarga” yang paling mengikat dan merintangi perjalanan manusia. Harta mewakili segala macam kepemilikan kita, baik kepemilikan materi dan kepemilikan non-materi. Keluarga mewakili segala macam hubungan kita, pergaulan kita. Kita sekarang membicarakan tentang pergaulan. Kita harus hati-hati dalam berhubungan atau bergaul dengan mereka yang belum sadar.

Sang Suami: Dalam buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia” disampaikan bahwa………. Gerbang Kebebasan dijaga oleh empat pengawal. Pengawal pertama adalah Shaanti, damai. Ia yang sudah damai dapat merasakan kedamaian di dalam dirinya dan dapat pula mendamaikan. Pengawal Gerbang Kebebasan kedua adalah Aatma Vichaarana. Aatma Vicharana berarti “menganalisa diri”, introspeksi diri, mawas diri, setiap upaya untuk mengenal diri dapat disebut Aatma Vichaarana. Pengawal Gerbang Kebebasan ketiga adalah Santhosa, kepuasan. Bukan memuaskan diri, tetapi memang puas. Santhosa bukanlah kepuasan yang disebabkan oleh sesuatu. Pengawal keempat Gerbang Kebebasan adalah Sadhusanga atau Satsanga berarti “Pergaulan dengan mereka yang baik”. Tidak perlu bermusuhan dengan dengan mereka yang kurang baik, tetapi kita juga perlu menghindari pergaulan yang tidak menunjang kesadaran……

Sang Istri: Saya ingat beberapa buku yang membicarakan tentang perlunya kewaspadaan dalam pergaulan. Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan…….. Pergaulan buruk, tidak baik dan tidak menunjang kasih tentu saja “tidak menciptakan” hawa nafsu, amarah dan keterikatan, tetapi hanya “membangkitkan”. Berarti bahwa hawa nafsu, amarah dan keterikatan itu sudah ada di dalam diri manusia. Pergaulan yang tidak menunjang kasih hanya menjadi trigger, pemicu. Seperti halnya seorang pecandu, jangan harap bisa bebas dari kebiasaan itu……… Dalam buku “Fiqr Memasuki Alam Meditasi Lewat Gerbang Sufi” disampaikan bahwa……… Jangankan bergaul, bertemu dengan seorang yang tidak sadar sudah cukup untuk menyeret kesadaran anda ke titik terbawah, terendah. Jangan keluar dari “kamar kesadaran” bila diluar sana masih gelap gulita. Jangan bersikap “sok mau bantu”, bila belum mampu………

Sang Suami: Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” disampaikan……… Seorang teman merasa “it is okay” jika dirinya bergaul dengan orang-orang yang tidak sadar. “Bukanlah mereka justru membutuhkan kesadaran? Kenapa aku harus menghindari mereka?” Ia ingin membantu, tetapi malah terseret. Jangankan berhubungan dengan orang-orang yang tidak atau belum sadar, kadang berhubungan dengan orang-orang yang tidak “tahu” pun bisa membahayakan. Sesungguhnya, pergaulan seperti itu justru lebih membahayakan. Jaga pergaulan. Mereka yang tidak tahu lebih parah daripada mereka yang tidak sadar, karena pengetahuan adalah anak tangga pertama menuju kesadaran diri………

Sang Istri: Benar suamiku, dalam buku “Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi” disampaikan……. Demikian pula penemuan para saintis, para ilmuwan segala jaman. Setiap elemen memiliki daya tarik untuk menarik elemen yang sama. Berarti penyakit akan menarik penyakit, kekacauan akan menarik kekacauan. Sebaliknya, ke-selarasan akan menarik keselarasan. Daya tarik dalam kehidupan kita sehari hari juga persis demikian apabila kita senang minum alkohol, pergaulan kita tak akan jauh dari orang orang yang senang minum alkohol. Apabila kita senang baca buku, teman teman akrab kita pasti juga para pembaca buku……

Sang Suami: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan……… Untuk itu perhatikan pula pergaulanmu. Pikiran menjadi kacau kembali bila pergaulanmu kacau dan tidak menunjang kedamaian dan ketenangan yang telah kau peroleh dengan susah payah…….. Berada dalam lingkup seorang guru spiritual disebut Satsang, pergaulan yang baik, tepat dan benar. Satsang juga berarti pergaulan dengan mereka yang menunjang peningkatan kesadaran. Sebaliknya, kusang adalah pergaulang yang tidak baik, tidak tepat, tidak benar, dan tidak menunjang kesadaran manusia. Seorang panembah akan selalu menghindari kusang, Ia akan selalu mencari Satsang……..

Sang Istri: Saya ingat, dalam buku “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, Karya Terakhir Mahaguru Shankara Saadhanaa Panchakam” disampaikan………. Bersahabatlah dengan Para Bijak. Seperti ayat-ayat lain, ayat ini dimaksudkan bagi para Saadhaka, yaitu mereka yang “sedang menjalani” pelatihan rohani; bukan bagi mereka yang merasa “sudah selesai menjalani”nya; Bukan bagi mereka yang menganggap dirinya sudah cukup bijak, sehingga tidak lagi membutuhkan bantuan dari para bijak. Ayat-ayat ini dimaksudkan bagi mereka yang tidak angkuh, yang siap menundukkan kepala, dan mau belajar. Kita akan menjadi orang seperti orang-orang yang biasa kita ajak bergaul. Karena ayat ini mudah dimengerti: Bergaullah dengan para bijak, bersahabatlah dengan mereka, supaya kita sendiri nanti juga bisa bijak. Siapa saja yang patut disebut bijak? Setiap orang yang emosinya tidak bergejolak; setiap orang yang dapat berpikir dengan jernih dan tidak terbawa oleh amarah; setiap orang yang bertindak sesuai dengan kesadarannya, bukan karena hasutan, karena dipengaruhi orang. Selain itu, orang bijak adalah setiap orang yang dapat mendengarkan suara hatinya; setiap orang yang dapat membedakan tindakan yang tepat dari yang tidak tepat……..

Sang Suami: Alam telah memberi pelajaran kepada kita bagaimana pergaulan dengan mereka yang berjiwa keras atau berjiwa lembut. Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara” disampaikan……. Bergaul dengan mereka yang berjiwa keras akan mengeraskan jiwa kita. Bergaul dengan mereka yang berjiwa lembut akan melembutkan jiwa kita. Kekerasan sudah pasti menciptakan keterikatan. Benda-benda keras membutuhkan pengikat. Sementara sesuatu yang lembut seperti air dan angin misalnya, tidak membutuhkan tali pengikat. Air di selokan depan ashram menyatu dengan air di kali Ciliwung kemudian kali itu pun menyatu dengan air laut tanpa membutuhkan tali pengikat. Sampah keras di dalam kali butuh truk sampah untuk  dipersatukan dan dibuang ke tempat penimbunan sampah…….

Sang Istri: Kita yang sudah termasuk “usia sepuh” pun perlu menjaga pergaulan. Dalam buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia” disampaikan bahwa………. Untuk menemukan kesucian diri. Bergaullah dengan para suci. Waspadai pergaulan, walau sudah berusia sepuh. Sayangi siapa saja. Tegur dan sapa siapa saja. Berhubungan dengan siapa saja. Tapi tak perlu bersahabat, rapat bergaul dengan siapa saja. Persahabatan menuntut interaksi energi dalam volume yang cukup besar. Persahabatan melibatkan setiap lapisan kesadaran manusia : lapisan fisik, energi, mental-emosional, intelektual, spiritual semuanya terlibat……..

Sang Suami: Untuk menjaga pergaulan diperlukan adanya support group yang tepat. Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” disampaikan…… Jagalah pergaulanmu. Untuk itu, adalah penting bagi kita untuk memilih support group yang tepat. Peran support group sudah diakui oleh dunia medis. Ada support group bagi penderita kanker, ada pula bagi keluarga penderita. Ada support group bagi penderita diabetes, ada pula bagi keluarganya. Sayang, dunia medis belum melakukan penelitian tentang pentingnya peran support group bagi manusia sehat, untuk menjaga kesehatannya…….

Sang Istri: Aku ingat suamiku, dalam buku tersebut juga disampaikan……… Support group bagi manusia dalam bahasa kuno disebut satsang atau right company. Pada awal mulanya setiap pertemuan agama berperan sebagai support group. Para peserta bekerja dalam kelompok untuk mengikis keangkuhan mereka dan memupuk kebersamaan. Kemudian, apa yang mereka peroleh dari group project itu diterapkan di luar kelompok; dengan sesama manusia, sesama makhluk. Adalah empat hal utama yang mesti dilakukan oleh support group. Pertama: Ia menunjang perkembangan diri kita. Kedua: Tidak mengangkat-angkat kita, sehingga ego kita akan menjadi-jadi. Ketiga: Menunjukkan kesalahan-kesalahan kita. Keempat: Support group membantu kita supaya kita dapat memperbaiki diri. Membantu kita tidak selalu berarti membiayai, mendanai, membekali kita dengan materi atau benda, tetapi membantu dalam hal pemberdayan diri, sehingga kita dapat membantu diri sendiri……….

Sang Suami: Istriku, bukankah kita punya sahabat-sahabat di dunia maya? Kita dapat memanfaatkan persahabatan tersebut dengan berpedoman pada buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” tersebut yaitu: Pertama: Ia menunjang perkembangan diri kita. Kedua: Tidak mengangkat-angkat kita, sehingga ego kita akan menjadi-jadi. Ketiga: Menunjukkan kesalahan-kesalahan kita. Keempat: Membantu kita supaya kita dapat memperbaiki diri………. Semoga……

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Oktober 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: