Syukur Sebagai Jalan Memutuskan Rantai Sebab-Akibat


oleh Marhento Wintolo pada 01 Oktober 2010 jam 8:14.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia. Sumber FB Bapak Marhento Wintolo.

http://www.facebook.com/notes.php?id=1587274453&s=10#!/note.php?note_id=10150290246060445

Pagi ini Qur’an Karim mengajak kita untuk bersyukur. An-Naml ayat 40 mengingatkan kita supaya selalu bertanya pada diri sendiri, sudahkah aku mensyukuri pemberianNya hari ini? Atau, aku justru mengingkariNya? Dan, jelas sekali dalam ayat itu bahwa sesungguhnya Gusti Allah tidak terpengaruh oleh apa yang kita lakukan. Mensyukuri atau mengingkari, Gusti tetaplah Maha Kaya Maha Mulia, dan oleh karenanya Ia pun selalu Maha Mengasihi dan Maha Memberi.

Kita tidak mampu, tidak bisa menambahkan sesuatu padaNya dengan bersyukur. Dan, mustahil pula mengurangi sesuatu dengan mengingkari pemberianNya. Rasa syukur yang kita ucapkan bukanlah untuk Gusti, tapi untuk kebaikan kita sendiri. Dengan mengucapkan rasa syukur, kita mengundang berkah dari semesta. Satu kata syukur mengundang 1000 berkah dariNya. Bukan sekedar kenikmatan materi yang kita peroleh, tapi juga kebahagiaan sejati yang tidak dapat diperoleh dari kebendaan. Demikianlah berkah Gusti Allah. Maka, bersyukurlah, mari kita belajar untuk mensyukuri setiap pemberianNya. Kita mesyukuri pagi yang cerah ini, kita mesyukuri badan yang sehat, pikiran yang jernih, dan perasaan yang indah.

Apapun yang kita syukuri, kita peroleh kembali dari semesta dalam porsi yang jauh-jauh lebih besar. Apa yang terjadi jika kita memberi hadiah kepada seorang raja? Dia tidak membutuhkan hadiah itu. Dia tidak kekurangan sesuatu. Tetapi Dia melihat niat kita, Dia menghargai niat itu. Dan Dia menghadiahi kembali kita dengan sesuatu yang nilainya ribuan kali lebih tinggi dari pemberian kita.

Syukur adalah benih yang kita tanam di lahan semesta. Benih yang tidak membutuhkan waktu untuk berbuah dan berbunga. Tanam sekarang dan saat ini juga kita memperoleh buahnya. Syukur melampaui hukum sebab akibat. Hukum sebab akibat bekerja “dalam” waktu. Syukur melampaui batas waktu. Ia memiliki cara kerja sendiri. Mari, kita bersyukur, mesyukuri semesta untuk kemenangan pagi ini! Amin Amen.

An-Naml ayat 40: Berkata orang yang di sisinya ada ilmu dari Kitab: Saya bisa membawanya kepadamu dalam sekejap mata. Tatkala Sulaiman melihat takhta kerajaan itu tetap di hadapannya, ia berkata: inilah kurnia  Tuhanku, supaya Dia mencobaiku , apa adakah aku berterima kasih (kepadaNya) atau aku kafir (tiada berterima Kasih)? Barangsiapa berterima kasih (kepadaNya), maka hanya ia berterima kasih  untuk dirinya sendiri. Barangsiapa yang kafir (ingkar akan nikmat Allah), maka sungguh Tuhanku Mahakaya lagi Pemurah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: