Pembersihan Diri, Renungan Ketujuh Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri.

Sang Suami: Kita ini sudah terpola begitu lama, subsconcious mind kita sudah terbentuk hampir permanen. Pola lama ini sudah membelenggu diri kita sehingga menyulitkan kita untuk mengubah diri kita ke arah perbaikan. Dalam buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif” disampaikan………. Subconscious mind bagaikan rumput liar. Benih kebajikan apa pun yang kita tanam tidak akan tumbuh, karena dihalang-halangi oleh rumput liar. Tidak ada jalan lain, kecuali mencabut rumput liar, membersihkan lahan, dan setelah itu baru menanam benih kebajikan. Kita menyumbang, melakukan bhakti sosial semuanya percuma. Benih kebajikan tidak tumbuh, selama subconscious mind kita masih memainkan peran utama. Kita malah menjadi arogan. Pegawai di kantor kita tindas. Para gembel di jalanan kita beri makan…….

Sang Istri: ……..Persis seperti indera fisik, psikis pun membutuhkan pembersihan. Sebagaimana pendengaran kita terganggu bila telinga kita penuh kotoran; demikian pun perkembangan kesadaran psikis terganggu, bila “diri” kita penuh dengan sampah pikiran dan emosi. Demi perkembangan diri, atau lebih tepatnya, untuk “memfasilitasi perkembangan diri”, kita perlu “membersihkan diri”. Terimalah “keadaan” diri kita. Terimalah “keadaan kotor” itu. Tidak ada yang salah dengan keadaan itu. Tidak ada yang salah bila kita mengakui bahwa lantai jiwa kita kotor, persis seperti lantai di rumah kita. Dan, sebagaimana kita perlu membersihkan lantai di rumah, perlu menyapunya setiap hari, begitu pula kita perlu membersihkan lantai jiwa setiap hari. Kendati demikian, hendaknya kita juga tidak berhenti pada pengakuan saja. Kita masih harus menindaklanjutinya dengan membersihkan lantai jiwa yang kotor itu…….. Demikian disampaikan dalam buku “Neo Psyhic Awareness”.

Sang Suami: Untuk itu latihan katharsis memegang peran penting dalam hal pemberdayaan diri. Katharsis yang digunakan dalam meditasi akan membersihkan diri kita dari pikiran-pikiran yang terpendam. Ketidakpuasan, kekecewaan, kekhawatiran, rasa benci, takut, cemas, gelisah, amarah-semua itu merupakan sampah dalam diri kita. Dan harus dikeluarkan. Dalam buku “Seni Memberdaya Diri 1, Meditasi Untuk Manajemen Stres dan Neo Zen Reiki” disampaikan cara latihan katharsis…………. “Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan. Jangan memendam emosi. Teriaklah sekuat tenagamu. Bebaskan dirimu dari sumpah-sumpah pikiran, emosi, amarah yang selama ini kau pendam. Keluarkan kegelisahanmu. Muntahkan kekhawatiranmu. Bebaskan diri dari rasa takut! Masukilah alam meditasi, dalam alam itu ada kesehatan, ketenangan dan ketenteraman.”……. meditasi itu hanya dapat terjadi apabila kita sudah membebaskan diri kita dari sampah-sampah pikiran yang kacau dan emosi yang terpendam. Untuk memasuki alam meditasi, duduk hening, diam, tanpa gerakan tidak akan pernah membantu. Kita harus mulai dengan pembersihan diri secara aktif, setelah itu keheningan, ketenangan akan terjadi sendiri………

Sang Istri: Suamiku bukan hanya pembersihan dalam rangka pemberdayaan diri, pembersihan pun juga dilakukan oleh Guru. Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan……. Tuhan bagaikan magnet. Senantiasa siap untuk “menarik” kita. Jiwa kita saja yang karatan, sehingga tidak “ketarik”. Kehadiran para suci di dalam hidup membantu kita membersihkan jiwa. Itu saja. Selanjutnya, tidak perlu mencari Tuhan. Mancari ke mana? Di mana? Dia Maha Dekat dan Maha Hadir Ada-Nya, tidak pernah menghilang. Jiwa yang sudah karatan harus dibakar. Ya, dimasukkan ke dalam api. Tidak ada cara lain untuk membersihkannya. Itu sebabnya proses pembersihan selalu menyakitkan. Bila tidak sakit, berarti karat jiwa kita belum terbakar. Jangan harap “pertemuan” dengan para suci menyelesaikan perkara. Tidak. Sebaliknya, pertemuan itu justru membuka perkara. Jiwa kita dibuka, ditelanjangi. Borok-borok kita diperlihatkan. Pertemuan dengan para suci memang sulit. Hanya terjadi bila dikehendaki oleh Allah. Dan yang lebih sulit lagi, bagaimana mempertahankan pertemuan itu. Bagaimana bertahan menghadapi “ulah” para suci. Mereka tidak pandang bulu, tidak pilih kasih. Berusia tua atau muda, kaya atau miskin, berpangkat atau tidak, semua sama. Mau dibakar, ya dibakar. Mau ditelanjangi, ya ditelanjangi…….  Tidak ada perbedaan antara Dia dan kepunyaan-Nya. Antara Dia dan umat/ciptaan-Nya. Narada boleh berkata demikian, kenyataannya apa? Dia bagaikan magnet. Kita bagaikan besi karatan. Perbedaan ini tampak jelas. Jangankan perbedaan antara Dia dan ciptan-Nya, lihat saja perbedaan antara kita dengan seorang Mahatma Gandhi, Mother Teresa. Antara kita dan Inayat Khan. Apa yang membedakan kita dengan mereka? Lagi-lagi, jawabannya: “Lapisan karat pada jiwa kita”. Lalu lapisan karat ini berasal dari mana? Dari alam sekitar kita, dari air dan angin dan elemen alami lainnya. Dari segala sesuatu yang terciptakan oleh unsur-unsur alami tersebut. Dari pergaulan. Dari masyarakat luas………

Sang Suami: Para suci pun melakukan pembersihan diri, pembersihan ego. Dalam buku “Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah” disampaikan…….. Api Pengetahuan, Api Kesadaran, Api Kebijaksanaan yang dapat membakar habis ketidaktahuan kita, ketaksadaran kita, ketololan kita. Api keinginan, api keterikatan, api keserakahan, api ketidaktahuan, api ketidaksadaran entah berapa “jenis” api yang tersimpan di dalam diri manusia. Atau mungkin semuanya itu hanyalah ekspresi dari satu jenis api yaitu api ke-“aku”-an. Ego manusia. Nabi Ibrahim membiarkan ke-“aku”-annya terbakar habis oleh api itu sendiri. Dia berhasil menaklukkan egonya, sehingga atas perintah Allah dia bersedia mengorbankan anaknya. Dalam kisah ini, anak mewakili “keterikatan”. Dan ketika Ibrahim berhasil membebaskan diri dari keterikatan itu, dia menjadi manusia api. Siapa pun yang mendekatinya akan terbakar. Demikianlah para nabi, para wali, para pir, para mursyid, para avatar, para buddha, para mesias, para guru, para master. Bersahabatlah dengan mereka, sehingga anda pun terbebaskan dari keterikatan……

Sang Istri: Percaya atau tidak percaya sama teori Darwin somehow kita mewarisi insting hewani seperti itu dari evolusi panjang. Itu sebabnya, lewat meditasi kita justru membersihkan otak. Deconditioning dalam bahasa meditasi, dan detoksifikasi dalam bahasa media—dua-duanya sama dan untuk memperbaiki kualitas otak. Kualitas otak tidak bisa diperbaiki dengan apa yang disebut “optimalisasi” otak. Tidak bisa dengan sekadar membaca buku atau diberi perintah, “Janganlah kau membunuh”. Keinginan untuk membunuh dan perangkat otak yang dapat mewujudkan keinginan itu harus diolah sedemikian rupa, sehingga keinginan untuk membunuh lenyap, Perangkat lunak otak  dibersihkan dari program bunuh-membunuh. Kemudian, pemicu-pemicu dari luar pun tak mampu memicu kita untuk melakukan pembunuhan………… Demikian disampaikan dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara”.

Sang Suami: Benar istriku, mestinya kita tidak hanya mengembangkan otak kiri dan otak kanan saja, bagian otak yang bernama lymbic pun perlu dibersihkan. Dalam buku “Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa” disampaikan perihal otak manusia……… Bagian Kiri berurusan dengan logika, matematika, analisa dan lain sebagainya. Sementara, Bagian Kanan lebih “berperasaan”. Sense of Beauty, Keindahan, Estetika, segala macam arts atau seni, bahkan imajinasi, visi… semuanya diurusi Otak Bagian Kanan. Sementara ini kedua bagian itu menjadi budak Lymbic yang masih sangat hewani. Maka segala apa yang kita lakukan masih diwarnai oleh kehewanian kita. Lymbic menyatakan keinginannya, “Aku butuh ini, butuh itu….” Ia memerintah Otak Kiri, “Hai Otak Kiri, usahakan dengan segala cara dan upaya agar keinginanku terpenuhi. Silakan beranalisa, berlogika, ber-apa saja, asal keinginanku terpenuhi.” Ini yang kita sebut akal. Pendidikan yang kita peroleh juga tidak banyak membantu, karena bertujuan untuk mengasah akal belaka. Kita menjadi sangat intelektual. Akal pun ada kalanya berubah menjadi “akal-akalan”. Namun demikian, kita tetap menjadi budak lymbic. Walau, cara kita barangkali menjadi lebih sopan sedikit, lebih lembut – setidaknya “terasa” demikian. Padahal, sami mawon. Tujuan kita masih sama, yaitu memuaskan hewan di dalam diri. Dan, bukan saja Otak Kiri, Otak Kanan pun diperbudak oleh Lymbic. Otak Kanan pun diperintahnya, “Hai Otak Kanan, kamu kan pandai memoles dan menciptakan keindahan, tolong dong keinginan-keinginanku dipoles supaya terlihat lebih indah, lebih halus.” Dengan cara itu, Otak Kanan pun dibuatnya menjadi sibuk untuk menutupi kehewaniannya. Otak Kanan tanpa pembersihan Lymbic hanya akan menghasilkan benda-benda kebutuhan insting yang lebih indah dan mewah. Itu saja. Kita harus selalu mengingatkan diri bahwa kebutuhan insting itu seratus persen adalah sifat hewani, sifat kita yang masih primitif……..

Sang Istri: Ibarat komputer otak kita harus dibersihkan dari semua virus, walaupun diinstall program canggih, bila virus masih bersarang di komputer, maka hasilnya tetap jelek. Bersihkan dulu baru menginstall program baru…….

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Oktober 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: