Sudahkah Kita Menjadi Manusia Seutuhnya?


oleh Marhento Wintolo pada 02 Oktober 2010 jam 17:42.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia. Sumber FB Bapak Marhento Wintolo.

http://www.facebook.com/notes.php?id=1587274453&s=10#!/note.php?note_id=10150291000830445

Al-Ankabut bercerita tentang apa yang terjadi pada orang-orang berilmu-pengetahuan, kemudian mengikuti pikiran/perasaan saja dan menggali lubang bagi diri sendiri. Qur’an Karim menjelaskan bahwa mereka pandai dan memiliki visi pula “berpandangan jauh”. Mereka tidak goblok. Tapi tetap binasa, karena menuhankan pikiran/perasaan. Mereka memilih jalan preya, yang menyenangkan hati, “pokoknya dengan melakukan ini aku gembira, aku senang. Aku bisa ini, bisa itu”. Mereka adalah denawa. Sifat mereka berseberangan dengan manusia. Manusia berarti “yang telah melampaui pikiran/perasaan”. Selama masih berhamba pada pikiran/perasaan kita belum manusia.

Orang yang terkendali oleh pikiran/perasaan “merasa” bahwa ia berkuasa, padahal sesungguhnya ia dikuasai oleh perasaannya sendiri. Ia pikir dapat menciptakan apa saja, padahal tidak juga. Qur’an mengingatkan bahaya dibalik pikiran/perasaan seperti itu. Maka, berulang-ulang kita diingatkan supaya tidak takabur. Sesungguhnya selama ini kita memang selalu berhamba pada pikiran/perasaan. Meditasi mengajak kita untuk melampaui keduanya. Maka pikiran/perasaan, mental/emotional layer of consciousness, melempar kartu as-nya, “Akulah segalanya. Aku tahu semua. Aku bisa berbuat apa saja.” Inilah “bisikan syaitan”, inilah “godaan mara” seperti yang dialami juga oleh Siddhartha.

Bagaimana mengatasinya? Bagaimana melewati ujian/cobaan ini? Baginda Rasul menjelaskan: dengan “berhamba”, dengan “mengabdi”. Memproklamasikan kemerdekaan dari perbudakan oleh pikiran/perasaan dan berhamba, mengabdilah pada Allah – inilah jalan shreya, jalan yang mulia. Kita selalu berhadapan dengan pilihan antara preya dan shreya, yang menyenangkan dan yang mulia. Ada juga yang berpikir/merasa, “aku masih belum selesai dengan preya, aku masih harus memuaskan diri dulu.” Ini adalah penyakit lama, bukan penyakit baru. Dalam setiap masa kehidupan kita selalu tergoda oleh preya, babakbelur, bertobat, tapi ketika menemukan shreya, pikiran/perasaan berontak dan kita tersesatkan olehnya. Preya tidak pernah puas, mau melayaninya sampai kapan? Salam Renungan!

Al-Ankabut: Adalah surah ke-29 dalam al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 69 ayat serta termasuk golongan surah-surrah Makkiyah. Dinamai Al-Ankabut berhubung terdapatnya kata Al- Ankabut yang berarti Laba-Laba pada ayat 41 surah ini, dimana Allah mengumpamakan para penyembah berhala-berhala (penyembah dunia) itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat ia menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur.

Al-Ankabut ayat 41: Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: