Pekerjaan Utama Manusia Adalah Membunuh Kehewanian Dirinya


 

oleh Marhento Wintolo pada 04 Oktober 2010 jam 17:24.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia. Sumber FB Bapak Marhento Wintolo.

http://www.facebook.com/notes.php?id=1587274453&s=10#!/note.php?note_id=10150292650235445

 

Al Baqarah ayat 83/84 menjelaskan inti keagamaan dalam beberapa kalimat saja. Tidaklah cukup kita menyatakan keimanan kita. Iman mesti diterjemahkan dalam lewat laku kita sehari-hari. Yaitu dengan:

1.       Melayani keluarga, kerabat, sesama manusia,

2.       Bicara dengan lembut,

3.       Shalat, senantiasa mengupayakan peningkatan kesadaran,

4.        Tidak membunuh/mengusir menganiaya diri. Qur’an karim jelas sekali, barang siapa “membunuh” (siapa saja) telah melakukan bunuh diri. Menzalimi siapa saja berarti menzalimi diri. Ini yang terlupakan oleh kita. Bahwasanya begitu beriman pada Allah berarti melihat wajahNya dimana-mana. Sedemikian kronisnya penyakit lupa kita sehingga kita pun sudah lupa bahwa kita sedang menderita penyakit lupa. Dan, dalam keadaan lupa itu kita membaca kitab-kitab suci kita, bahkan menafsirkan ayat-ayat yang dibaca. Hasilnya pasti membingungkan diri dan juga membingungkan orang lain misalnya ayat 212 – perintah untuk membunuh/berperang disini mesti ditafsirkan sesuai dengan keadaan kita saat ini. Berperang melawan siapa? Membunuh apa atau siapa? Bukankah firman sebelumnya jelas sudah bahwa membunuh siapa pun sama dengan bunuh diri. Dalam ayat ini perintah “bunuh” sesungguhnya adalah untuk diri sendiri. Berperanglah melawan napsu rendahan. Walau apa yang kita peroleh lewat napsu rendahan itu menyenangkan dan nikmat (preya). Dan, terimalah yang kau peroleh dari kesadaran tinggi. Walau perolehan itu awalnya terasa tidak nikmat (shreya).

 

Perintah Al Baqarah untuk menyembelih hewan di “dalam diri” kita jelas sekali. Sejinak apapun hewan itu, ia tetap hewan, tidak perlu membela kehewanian-diri, “apa salahnya? Kenapa mesti dibunuh?” Jika manusia diperkenankan memelihara kehewanian di dalam dirinya, maka untuk apa dilahirkan sebagai manusia dengan bonus kesadaran tambahan? Tetap saja lahir sebagai hewan dengan insting hewani.

 

Kesadaran utama manusia adalah kesadaran akan kehewanian di dalam dirinya. Dan, pekerjaan utama manusia adalah penyembelihan hewan itu. Pencapaian utama manusia adalah hidup dalam kemuliaan dan kebahagiaan sejati, dan tidak berhenti di tingkat kenikmatn indra dan kesenangan sesaat saja.

 

Al Baqarah ayat 83: Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. 

Al Baqarah ayat 84: Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu, dan kamu tidak akan mengusir dirimu dari kampung halamanmu, Kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.

Al Baqarah ayat 212: Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di Hari Kiamat. Dan Allah memberi rizki kepada orang-orang yang dikehendakiNya tanpa batas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: