Ilm Bukanlah Ilmu Pengetahuan


oleh Marhento Wintolo pada 18 Oktober 2010 jam 11:47.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia. Sumber FB Bapak Marhento Wintolo.

http://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150293991510445

Al Israa ayat 107-110 mengingatkan kita supaya kita tidak menghakimi iman seseorang. Qur’an mengatakan Allah tidak berkurang karena kekafiran kita dan tidak bertambah karena iman kita. Ia tetap Maha Besar.

Mereka yang “berilmu” tahu dan bersujud. Maksud ilm disini adalah knowingness bukan sekedar knowledge atau ilmu pengetahuan. Ilm adalah “pengetahuan berdasarkan pengalaman pribadi”. Iman adalah hasil dari pengalaman pribadi. Amal adalah penerapan ilm dan iman seperti itu, applied knowingness dan faith.

Pertanyaannya adakah kita memiliki ilm dan iman seperti itu? Pernahkah kita mengalami Tuhan? Atau kita baru sekedar berpengetahuan lewat buku, ceramah dan lain sebagainya? Jika kita memiliki pengalaman pribadi, maka Qur’an jelas sekali, kita tidak akan mempersoalkan sebutan, Allah, Rahman “atau nama yang mana saja”.

Sementara ini kita masih mempersoalkan nama, sebutan, bungkusan. Kita belum masuk ke dalam isinya. Baca kembali ayat-ayat ini, firmanNya jelas sekali, ketika shalaat pun jangan “keras”, dan jangan terlalu “pelan”. Berarti, hindarilah ekstremitas. Jika dalam shalaat pun dianjurkan menghindari ekstremitas, maka betapa tidak dalam segala urusan lainnya! Kita menjadi ekstrem karena belum ber-tauhid.

Tauhid berarti Ialah Awal, Akhir dan Tengah. Ialah semuaNya. Maka untuk apa ekstrem kanan, untuk apa pula ekstrem kiri? Dimana kita berada disanalah, disinilah Allah. Para ekstremis adalah pengikut dualitas. Ekstremitas lahir dari paham dualitas. Para ekstremis belum memahami tauhid.

Melalui pemahaman ini,  kita coba mempraktekkan ayat-ayat yang indah ini, kita kirimkan pemahaman kita ini kepada beberapa teman yang beda agama, sambil mengucapkan dengan penuh keyakinan, Allahku juga adalah Tuhanmu. Kita semua sedang menujuNya lewat jalan yang beda. Aku yakin semua jalan menujuNya. Teman, aku cinta kamu, kita saudara. Dan, aku menghargai “jalan”mu. Jalan-ku dan jalan-mu sama baiknya karena sama-sama mengantar kita pada Ia yang Maha-Baik.

Al-Israa ayat 107-109: Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu.

Al-Israa ayat 110: Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: