Amati Dan Renungkan, Sesungguhnyalah Kitalah Pusat Timbulnya Persoalan Yang Melanda Kita


oleh Marhento Wintolo pada 08 Oktober 2010 jam 7:04.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia. Sumber FB Bapak Marhento Wintolo.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150290246060445#!/note.php?note_id=10150295514615445

Ash Shaffat 25 dan 61 jelas sekali bahwa di mata Allah, sifat “tolong-menolong” dan meng”amal”kan kesadaran yang telah kita peroleh dari ilm itulah yang terpenting. Kenapa? Karena, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 39 bahwasanya kita hanyalah memetik buah-perbuatan kita sendiri. Hukum sebab-akibat inilah dasar kehidupan dan kematian.

Bertauhid, mendirikan shalat dan ketentuan-ketentuan iman yang lain semestinya menggerakkan tangan kita untuk meringankan beban sesama makhluk. Iman semestinya menggetarkan hati dan pikiran kita, jiwa kita untuk merasakan penderitaan sesama makhluk dan memikirkan jalan terbaik untuk keluar dari penderitaan itu.

Permainan dunia adalah permainan ular tangga, gelap terang, neraka surga, preya shreya, nikmat mulia, duka suka, derita bahagia. Ketika kita memilih tangga maka sesungguhnya kita membangun tangga bagi semua. Tangga itu bukanlah untuk diri kita saja. Setiap tangga yang dibangun adalah tangga-publik. Adakah kita telah membangun satu pun tangga seperti itu? Setiap tangga kebaikan yang kita bangun, tidak hanya mendekatkan diri kita saja, tapi manusia sejagad dengan DiriNya, dengan Tuhan, atau apa pun sebutan kita bagi Allah Taala.

Berbuat baik adalah jalan menuju surga, menuju fitrah, menuju tempat asal kita, menuju titik tengah yang adalah Dia. Ular kepalsuan, kebencian, keangkuhan dan lain sebagainya menjauhkan kita dari titik tengah. Itulah neraka. Neraka bukanlah ciptaan iblis. Neraka adalah ciptaan pikiran dan perasaan kita sendiri. Makin lemahnya pikiran, makin lemahnya perasaan makin jauhnya kita dari titik tengah.

Yang mesti kita waspadai adalah melemahnya pikiran/perasaan, karena celakanya kita yang berpikiran dan berperasaan lemah selalu menganggap diri yang terkuat. “Merasa” kuat adalah pertanda kelemahan. Ia yang kuat tidak perlu “merasa” kuat. “Berpikir” kuat pun sama, pertanda kelemahan, yang kuat tidak perlu “berpikir” kuat. Siapa yang memikirkan makanan? Siapa yang keluar air liurnya, ketika mencium makanan? Ia yang lapar. Seperti itu pula yang bicara tentang kebaikan, belum baik. Inti Qur’an adalah, Jadilah Baik!

Ash-Shaffat ayat 25: Kenapa kamu tidak tolong-menolong?

Ash-Shaffat ayat 61: Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.

Ash-Shaffat ayat 39: Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: