Zikir, Zakat, Dan Ziarah, 3 “Z” Penangkal Kenakalan Pikiran


oleh Marhento Wintolo pada 17 Oktober 2010 jam 17:36.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia. Sumber FB Bapak Marhento Wintolo.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150287197875445#!/note.php?note_id=10150303035065445

Adakah suatu perbedaan yang paling menonjol antara mereka yang telah menyadari kerasulan di dalam diri dan kita yang belum sadar? Al A’Raaf ayat 188 menjelaskan bahwa seorang rasul, atau seorang yang telah menyadari kerasulannya selalu rendah-hati, “aku tidak kuasa…. aku (tidak) mengetahui…” Kerendahan hati inilah ciri kerasulan di dalam diri kita. Kerendahan hati inilah yang meninggikan kita. Lalu, kita pun bertindak “sesuai kehendak Allah” seperti para rasul.

Pertanyaan yang selalu muncul, “bagaimana bertindak sesuai kehendakNya? Bagaimana mengetahui kehendakNya?” Pertanyaan ini muncul diri syaitan pikiran. Pertanyaan ini mengingkari kemahahadiran Gusti Allah. Dan, menunjukkan bahwa kita masih sepenuhnya dikuasai oleh syaitan pikiran. Pikiran mesti disuruh bersujud, sebanyak kali mungkin, selalu. Supaya ia sibuk dan tidak berkutik. Berilah dia pekerjaan tetap yang menyita seluruh waktunya, zikir, zakat, dan ziarah. Ingat 3 “z” ini. Itulah puasa-pikiran. Kemudian barulah rasa terdalam dapat mendengar suara Allah, dan hati tergerak untuk menerapkan PerintahNya dalam keseharian hidup.

Apa arti zikir, zakat, dan ziarah? Ini adalah TriTunggal antidote terhadap pikiran, Zikir tidak hanya berarti selalu mengingatNya, tapi merasakan kehadiranNya dan melihatNya dimana-mana, sehingga zikir tidak perlu diupayakan lagi. Zakat mengalir sendiri. Bahkan tangan kiri tidak tahu apa yang dilakukan oleh tangan kanan, dan sebaliknya. Lalu, hidup menjadi ziarah, perjalanan suci. Kita berada disini untuk jalan-jalan sebentar. Setelah itu kita mendengar suara Allah dan mengetahui kehendakNya – perintah khusus bagi diri kita masing-masing, rencanaNya bagi kita yang bersifat sangat pribadi.

Belajarlah dari kehidupan Baginda Rasul. Ia telah menjalankan semua itu, ditambah dengan bukan sekedar puasa makan tapi puasa penarikan diri dari hawa nafsu dan tuntutan pancaindra. Puasa terhadap keinginan, amarah, ketamakan, keterikatan, dan keangkuhan. Bukankah setelah melakukan semua itu, barulah Dia menerima wahyu? Amin dulu baru Rasul. Amin berarti fairness in all our dealings. Itu dulu, baru kerasulan….

Al A’Raaf ayat 188: Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: