Ketekunan-Keyakinan-Kesabaran, Renungan Kesebelas Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham pembicaraan mereka nyaris seperti pembicaraan anak-anak dibanding mereka yang telah mencapai tingkat kesadaran tinggi. Karena itu mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka ingin membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Membuka hati dengan repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri.

Sang Istri: Dalam buku “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, Karya Terakhir Mahaguru Shankara Saadhanaa Panchakam”, disampaikan tentang lima butir pencerahan: Kenalilah dirimu, Jagalah pergaulanmu, Pertahankanlah kesadaranmu, Tekun dan bersemangatlah selalu, Berkaryalah sesuai dengan kesadaranmu…….. Dalam buku “Neo Psyhic Awareness “ disampaikan……… Kita sangat bergairah saat mendalami sesuatu yang baru, namun beberapa lama kemudian kegairahan itu mulai melentur. Dalam kaitannya dengan meditasi, kegairahan awal itu biasanya berlanjut hingga tiga bulan saja. Setelah itu, kita membutuhkan disiplin diri, ketekunan, dan barangkali support group untuk membantu kita bertahan, hingga pada suatu ketika timbul “kesadaran” dari “dalam diri” dan kesadaran itu menjadi kekuatan diri kita untuk bertahan…….. support group sudah pernah kita bicarakan dalam konteks menjaga pergaulan. Suamiku, mari kita berdiskusi tentang “ketekunan”…….

Sang Suami: Baik istriku, dalam buku “Total Success, Meraih Keberhasilan Sejati” disampaikan…….. Bagi Shankara disiplin adalah ketekunan dan keceriaan. Shankara tidak setuju dengan disiplin yang dipaksakan. Disiplin tidak bisa dari luar, mesti dari dalam diri. Manusia tidak dapat didisiplinkan. Ia mesti mendisiplinkan diri. Disiplin diri berarti tekun, bukan karena di paksa, tetapi karena sadar bahwa ketekunan itu dibutuhkan; bahwa ketekunan itu demi kebaikan dirinya juga, maka ia tetap ceria.  Ya, orang yang menerapkan disiplin bagi dirinya tidak pernah berkeluh-kesah. la juga tidak mencari perhatian. la tidak mengaduh-aduh. la selalu ceria……..

Sang Istri: Ibadah pun membutuhkan ketekunan. Dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri “ disampaikan……… Ibadah, Pemujaan, Sembahyang adalah sarana untuk menciptakan Pengabdian dalam diri kita. Tidak lebih dari itu. Disiplin-disiplin seperti itu dibutuhkan untuk melahirkan Pengabdian dalam diri kita. Begitu lahir Rasa-Pengabdian dalam diri kita, kita akan mulai melihat kekasih kita di mana-mana. Dia ada di Selatan dan di Timur, di Utara dan di Barat, Dia di mana-mana. Dengan kesadaran seperti itu, apa pun yang kita lakukan akan menjadi pemujaan. Kita tidak akan lagi melakukan sesuatu untuk keuntungan pribadi, apa pun yang kita lakukan, kita lakukan demi cinta kasih…….

Sang Suami: Para leluhur kita mempunyai istilah tapa, tekun di dalam mengendalikan diri. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan…….. Tapa berarti “latihan-latihan untuk mengendalikan diri”. Jadi seorang Tapasvi atau “praktisi tapa” adalah seseorang yang telah berhasil mengendalikan dirinya. Yang bisa disebut tapa bukanlah latihan-latihan untuk mengembangkan tenaga dalam. Bukan juga latihan-latihan untuk menambah kewaskitaan kita. Menambah atau mengembangkan berarti kita masih “mengejar” sesuatu. Kita belum tenang, kita masih gelisah. Berarti kita belum ber-tapa. Tapa juga berarti “disiplin”. Kendati latihannya sudah benar, tujuannya pun sudah betul—untuk mengendalikan diri—jika kita tidak melakukannya secara teratur, kita belum ber-tapa. Hari ini latihan untuk mengendalikan diri, besok tidak. Lusa latihan lagi, lalu berhenti lagi. Ini pun belum bisa disebut tapa. Latihan untuk mengendalikan diri secara teratur, itulah tapa. Berlatih untuk mengendalikan diri pada setiap saat, itulah tapa………

Sang Istri: Benar suamiku, kita harus tekun, disiplin dalam menghindari keadaan yang tidak menunjang kesadaran. Dalam buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern” disampaikan…….. Menghindari keadaan yang tidak menunjang  – menyangkut disiplin atau pengendalian diri. “Diri” dalam hal ini masih terkait dengan lapisan kesadaran jasmani kita. Inilah olah raga dalam arti sebenarnya. Membebaskan diri dari harapan, keterikatan, dan lain sebagainya berkaitan dengan lapisan pikiran dan perasaan. Inilah olah cipta dan olah rasa. Kemudian, setelah mengolah diri, kita baru terjun ke dunia untuk berkarya tanpa pamrih dengan semangat menyembah. Pun sebelumnya, sebelum turun ke dunia, kita sudah menemukan potensi diri. Kita sudah memahami kemampuan diri. Berkarya dengan semangat menyembah berarti ibadah. Inilah pemahaman Gita tentang ibadah……….

Sang Suami: Ketekunan dapat dilakoni bila kita memiliki keyakinan dan kesabaran. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan……… Keyakinan dan kesabaran adalah perahu yang dapat mengantarmu ke tepi seberang. Keyakinan dan kesabaran membersihkan jiwa dan menyucikan hati. Keyakinan dan kesabaran melenyapkan rasa takut, dan membebaskan kita dari segala macam penderitaan, keculitan, serta keraguan. Keyakinan dan kesabaran ibarat saudara kembar yang senantiasa melindungi kita dari segala macam marabahaya……… Biarlah orang lain mengejekmu, jangan membalas dia dengan ejekan. Jika kau bersabar, maka kau akan selalu bahagia. Biarlah seluruh dunia bersikap tidak waras, kau tetaplah tenang. Janganlah terganggu, anggap semuanya sebagai adegan dalam pertunjukan……..

Sang Istri: Sabar harus dilakukan sepanjang hayat. Dalam buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia” disampaikan………. Sabar bukanlah one time shot, sabar adalah a life time affair. Simak yang satu ini : Bila kepala tasbih kau anggap mewakili Allah. Kemudian butir pertama kau anggap mewakili Sifat Utama-Nya : Maha Pengasih. Maka butir terakhir adalah Maha Sabar. Berawal dari-Nya, berakhir pada-Nya. Kasih mengantarmu ke dunia. Sabar mengajakmu balik pada-Nya. Sesungguhnya Sabar itulah Tuhan. Bila kau ingin Berketuhanan. Janganlah membalas kekerasan dengan kekerasan……

Sang Suami: Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” disampaikan…….. Shirdi Sai Baba, mistik sufi yang seumur hidup tinggal di masjid, menempatkan sabar dan keyakinan diatas segalanya, saburi dan shraddha, demikian dalam bahasa Marathi, salah satu dialek di India. Hubungan kita dengan sesama manusia menuntut kesabaran, dan hubungan kita dengan Tuhan menuntut keyakinan. Dua kata sederhana ini mengatur seluruh kehidupan manusia. Interaksi dengan dunia dan hubungan dengan Tuhan adalah dua urusan utama manusia. Sejak lahir sampai mati, inilah dua hal yang harus diurusi. Karena itu, kesabaran dan keyakinan dapat dijadikan landasan bagi dharma, bagi kewajiban dan tugas kita di dunia……

Sang Istri: Untuk tekun dan sabar dalam meningkatkan kesadaran kita harus yakin akan adanya hukum alam. Dalam buku “Indonesia Under Attack, Membangkitkan Kembali Jatidiri Bangsa” disampaikan……. Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa setiap pekerjaan yang baik akan membawakan hasil yang baik pula. Jaminan apa lagi yang kubutuhkan? Keyakinanku itulah jaminanku. Karena, keyakinan itu bukanlah khayalan atau awan-awan belaka. Keyakinan itu sesuai dengan Hukum Alam, Hukum Aksi Reaksi, Hukum Sebab-Akibat. Sebab itu, sekali lagi kukatakan: Aku tidak membutuhkan jaminan keberhasilan untuk memotivasiku. Aku bekerja karena aku suka bekerja, tidak membutuhkan jaminan keberhasilan. Dan, jika ada seorang pun yang memahami apa yang tengah kulakukan, maka aku sudah merasa terberkati. Karena, dalam Hukum Alam yang kuketahui satu ditambah satu tidak selalu dua……….

Sang Suami: Kita juga harus yakin pada kebijakan Ilahi. Dalam buku “Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru” disampaikan……… Pengalaman-pengalaman dalam hidup ini ibarat musim, datang silih berganti. Tak satu pun kekal, abadi. Harta benda, ketenaran, kedudukan, kecantikan, ketampanan semuanya fana; tak ada yang langgeng. Bahkan, keberanian, semangat hidup, positive thinking pun tidak langgeng. Saat ini masih berani, sesaat kemudian takut. Saat ini masih cerdas, sesaat lagi lenyap tanpa bekas segala kecerdasan itu. Karena itu, terimalah hidup ini seutuhnya. Ada panas, ada dingin; ada pedas, ada manis; ada suka, ada duka… semuanya bagian dari hidup yang satu dan sama. Terimalah semuanya dengan kedua tangan terbuka karena dengan menutup tangan pun kita tak mampu menolaknya. Pengalaman-pengalaman itu memperkaya hidup, memperkuat jiwa. Terimalah semuanya dengan rasa syukur, dengan penuh yakin pada Kebijakan Ilahi dan apa yang telah ditentukan-Nya bagi perkembangan jiwa kita……… Dalam buku “Bersama J.P Vaswani Hidup Damai & Ceria” disampaikan…….. Kegelisahan membuat kita jauh dari kebahagiaan. Kita harus yakin bahwa apa pun yang terjadi, itu adalah kehendak Tuhan. Dan tentunya kita harus menerima kehendak Tuhan, karena kehendaknya itu semata-mata untuk kebaikan diri kita sendiri. Apabila ada suatu kesusahan dalam hidup kita, anggaplah itu sebagai pemberian Tuhan dan terimalah dengan senang hati……..

Sang Istri: Dan, kita harus yakin pada Guru pada Mursyid. Dalam buku “Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah” disampaikan………. Para Shaykh, para Pir, Para Mursyid bagaikan bahtera Nabi Nuh. Dan senantiasa mereka mengajak kita untuk menaiki bahtera mereka. Bila ingin selamat, kita harus menerima ajakan mereka. Harus memenuhi panggilan mereka. Di atas segalanya, kita harus meyakini kebijakan mereka. Jangan angkuh, jangan sombong. Tidak perlu memamerkan pengetahuanmu. Gunakan sayap mereka untuk terbang tinggi. Kadang mereka mengasihi kamu. Kadang memarahi kamu. Jangan kira amarah mursyid berbeda dari kasih mereka. Dua-duanya sama. Karena “dua-duanya” bertujuan untuk membantu sang murid! Seorang mursyid tidak punya agenda lain, kecuali “peningkatan kesadaran” para muridnya. Untuk itu, dia berada di tengah kita. Apa pun yang mereka lakukan, demi kebaikan kita……….

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

November 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: