FEAR, False Emotion Appearing Real


oleh Marhento Wintolo pada 06 November 2010 jam 8:13.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia. Sumber FB Bapak Marhento Wintolo.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150320034260445#!/note.php?note_id=10150321832085445

 

Jalan spiritual, dan penunjuk jalan yang kita peroleh dalam hidup ini adalah “hasil” dari pencarian kita sendiri. Selama entah berapa abad, berapa lama, berapa masa kehidupan, jiwa mencari terus. Akhirnya ia memperoleh apa yang dicarinya. Dan, jiwa sadar sesadar-sadarnya bila apa yang diperolehnya itu adalah hasil pencariannya. Ketika kita berhadapan dengan seorang murshid kita tidak pernah ragu. Kita langsung jatuh “jatuh hati”. Keraguan muncul ketika ia mulai memandu. Karena panduannya tidak sejalan dengan pola pikir kita yang lama. Inilah yang dimaksud dalam surat Fathir ayat 42, “setelah datang seorang pemberi peringatan, mereka malah lari (menjauhi).”

 

Kesalahan seperti ini telah kita lakukan dari zaman ke zaman. Apakah kita tidak diberi tanda-tanda yang tegas tentang sang pemberi peringatan? Apakah kita tidak merasakan kehangatan persahabatan kita dengannya? Kita diberi tanda-tanda yang jelas, kita melihat, kita merasakan. Tapi, pikiran tidak menerima, “itu tanda-tanda yang salah, keliru. Itu bukanlah perasaanmu yang sebenarnya. Kejarlah perasaanmu yang sebenarnya.” Pikiran justru menciptakan “rasa palsu”, emosi buatannya sendiri, untuk menjauhkan kita dari rasa segala rasa, sir un sirr. Kita lupa akan rasa itu, bhavana itu, dan terbawa oleh napsu, emosi rendahan untuk kembali mengejar bayang-bayang.

 

Seorang murshid pernah bercerita tentang  pengalamannya, “ketika aku bersama guruku, penghasilanku tidak seberapa, tapi aku bahagia, damai, ceria, seperti seorang anak yang lugu, kesehatanku sekeluarga pun baik-baik. tapi aku tidak mengapresiasi itu. Setelah aku jauh darinya, penghasilanku meningkat, aku menjadi kaya raya, tapi hilanglah kebahagiaan kedamaian keceriaan, bahkan kesehatan. Untung aku cepat sadar kembali.”

 

Tidak semua mengalami keberuntungan seperti beliau. Tidak semua sadar, dan bertobah, membelok kembali. Karena mind dan “false emotion appearing real” ciptaannya sudah  berkuasa. Kita membutuhkan entah berapa lama lagi untuk jatuh-bangun, jatuh bangun hingga jiwa muak dan mencari kembali, hanya untuk mengulangi kesalahannya lagi. Punarapi jananam punarapi maranam….

 

Al-Fathir ayat 42: Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk daripada salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangan itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran).

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Sedemikian kuatnya pikiran kita. Tidak mau disalahkan. Pikiran kita menciptaka ilusi. “Ini ujian Tuhan. Ini permainan Murshid”. Padahal turun dari kereta adalah kemauan pikiran. Kemudian jalan-jalan di setasiun pun keinginan dia. Kenikmatan yang diperolehnya adalah perasaan buatannya juga yang masih memiliki sarang di otak kita. Qur’an sudah jelas sekali bahwa Allah tidak bertanggung jawab atas seluruh kejadian itu. Kita sendiri yang bertanggung jawab. Betul tidak ada yang kalah tidak ada yang menangdalam pengertian duniawi. Bedanya hanya satu ada yang minum teh di dalam kereta dan sedang menuju tujuan. Ada yang minum teh di peron. Dua-duanya sedang menikmati teh. Bahkan yang ada di peron malah tampak sangat aktif. Mundar-mandir, belanja, jalan-jalan. Yang berada di dalam kereta tampak tidak berbuat apa-apa, padahal ia sedang lari dengan kecepatan kereta. Ia telah berserah diri pada Sang Pengemudi kereta itu. Setiap detik dalam hidupku aku bersyukur, wahai Gurudev, Murshid, Beloved Krishna, syukran aku mendapatkan tempat di dalam keretaMu. Doaku hanya satu, berilah aku kekuatan untuk tidak tergoda oleh tawaran-tawaran para pedagang di setiap stasiun. Mereka menghendaki aku turun untuk belanja. Mereka merayuku, “ah keretanya masih nunggu lama, turun dulu, makan dulu, nanti naik lagi.” Tidak Mursyid, kali ini aku kali ini aku tidak akan tergoda oleh rayuan mereka. Kali ini aku tetap di dalam kereta. Kau telah menyediakan segala kebutuhanku di dalam kereta ini. Kenapa aku mesti turun untuk membeli sesuatu? Bukankah dengan cara itu aku malah akan menghina pemberianMu? Seperti seorang anak yang mencari makan di rumah tetangga, seolah di rumahnya sendiri tidak tersdia makanan. Bukankah itu penghinaan terhadap ibu yang telah melahirkan dan membesarkan diri kita? Kali ini, berilah aku kekuatan sehingga tidak lupa lagi, bahwasanya para pedagang dan perayu di peron.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: