Maya, Ilusi, Dualitas, Renungan Keempatbelas Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai alat untuk introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Sri Sai Satcharita” dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Bukan apa-apa, mereka hanya membuka diri dan membombardir diri dengan wisdom dari buku-buku tersebut, agar esensi dari buku-buku tersebut dapat merasuki diri.

Sang Istri: Suamiku, mari kita membicarakan tentang maya, ilusi, dualitas. Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan bahwa keberadaan kita pun hanyalah sebuah asumsi…….. Ini badan, itu kendaraan. Ini tangan, itu tiang. Aku insan, dia binatang. Aku bijak, dia bodoh. Apa yang ada di balik “aku insan” dan “dia binatang”? Atom, molekul…. Bisakah kita melihat atom? Atom hanyalah sebuah asumsi. Ada karena kita berasumsi ada. Ada karena kita berasumsi ada. Keberadaan kita pun sekadar asumsi. We think we are. Di balik asumsi-asumsi itu, adakah kebenaran lain? Jangan meminjam pengetahuan dari buku untuk menjawab pertanyaan ini, karena pengetahuan dan buku pun sekadar asumsi. Keberadaan kita sekadar asumsi. Narada mengajak kita untuk melampaui segala macam asumsi. Untuk melampaui kesadaran ilusif, ke-“aku”-an yang tak bersubstansi………

Sang Suami: Biarlah kita pinjam pengetahuan dari buku sebentar untuk sekedar mengevaluasi diri……. Kita menjalani kehidupan dalam otak kita. Orang yang kita lihat, rasa basahnya air, harumnya bunga, semuanya terbentuk dalam otak kita. Padahal satu-satunya yang ada dalam otak kita adalah sinyal listrik. Ini adalah fakta yang menakjubkan bahwa otak yang berupa daging basah dapat memilah sinyal listrik mana yang mesti diinterpretasikan sebagai penglihatan, sinyal listrik mana sebagai pendengaran dan dan mengkonversikan material yang sama dengan berbagai penginderaan dan perasaan………. Meskipun orang menganggap material ada di luar kita, cahaya, bunyi dan warna di luar otak kita itu tidak ada, yang ada adalah energi. Benda di luar hanya ada dalam paket energi. Paket energi tersebut dilihat oleh retina. Retina mengirim sinyal listrik ke otak. Otaklah yang menginterpretasikan itu adalah suatu benda. Bunyi juga terbentuk kala gelombang-gelombang energi menyentuh telinga kita, kemudian diteruskan ke otak dan diintepretasikan sebagai bunyi tertentu oleh otak kita………. Fisika quantum memperlihatkan bahwa klaim adanya eksistensi materi tidak mempunyai landasan yang kuat. Materi adalah 99,99999 % hampa. Yang ada diluar otak hanyalah paket-paket energi, otaklah yang menginterpretasikan itu adalah benda. Alam semesta seperti yang kita lihatpun hanya ada karena adanya otak kita. Yang luar biasa adalah mengapa penginterpretasian dari banyak otak di banyak manusia sama semua. Berarti ada kesatuan penginterpretasian dari semua makhluk.

Sang Istri: Suamiku, aku ingat buku “Neo Psyhic Awareness” yang menyampaikan…….. Manusia berada antara hewan dan malaikat: Manusia adalah titik tengah… Manas + isha = manushya = manusia. Tambahkan manas atau mind, pikiran pada Isha atau keilahian, maka “terjadilah” manushya atau manusia. Manushya atau manusia dikurangi manas atau mind (pikiran) tinggal isha, keilahian. Pikiran menjauhkan kita dari Allah. Pikiran itulah hijab, maya, ilusi yang sebenarnya juga merupakan ciptaan-Nya. la menciptakan pikiran terlebih dahulu, supaya manusia tercipta. Peleburan pikiran mempertemukan diri kita dengan Sang Maha Cipta, bukan Pencipta, tetapi Cipta. Ia bukanlah “sosok” pencipta. Ciptaan terjadi karena Keberadaan-Nya, Kehadiran-Nya……..

Sang Suami: Benar istriku, dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan bahwa…….. Maya adalah ilusi yang menciptakan dualitas panas-dingin, siang-malam, laki-perempuan, suka-duka, dan lain sebagainya. Sebab itu maya juga merupakan dasar penciptaan. Tanpa ilusi dualitas, tak akan terjadi penciptaan. Maka, selama kita masih menjadi bagian dari ciptaan, pengaruh maya mustahil untuk dihindari. Maka, kita perlu menjaga kesadaran kita supaya kita terlalu terperangkap dalam permainan maya, permainan dualitas. Seorang Sadguru mengingatkan kita karena peran penting maya dalam mempertahankan ciptaan, sekaligus bahayanya, dan mengajarkan cara supaya kita tidak tenggelam dalam lautan maya, tapi bisa berenang dengan penuh kesadaran……..

Sang Istri: Untuk membebaskan diri dari maya, kesadaran ilusif, kesadaran rendah yang membelenggu batin kita, dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan……. agar kita menghindari Duhsanga, pergaulan dan lingkungan yang tidak menunjang pertumbuhan kasih di dalam diri. Dekati mereka yang sudah menemukan kebenaran di dalam diri, Satsanga. Dan engkau akan menjadi Nirmamah. Engkau akan berhasil melampaui kesadaran ilusif – ke-“aku”-anmu yang tak bersubstansi. Nir berarti “bukan, tidak, tanpa”. Mamah berarti “ke-‘aku’-an” – kesadaran ilusif, maya. Nirlaba berarti “tanpa keuntungan” atau non-komersil. Nirmamah setingkat lebih tinggi dari Nirlaba. Yang dinafikan, ditiadakan, di negasi bukan hanya keuntungan, tetapi ke-“aku”-an dan rasa kepemilikan. Satsanga bisa menciptakan kesadaran Nirmamah. Asal mereka yang kita dekati dan “gauli” betul-betul para Satsangi – mereka yang sudah dekat dengan Kebenaran, yang sudah melampaui ke-“aku”-an. Ya, yang benar-benar Satsangi dan bukan sekadar menyandang “gelar” Satsangi, karena dengan gelar itu seseorang tidak serta-merta melampaui ke-“aku”-an……….

Sang Suami: Benar istriku, dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara” disampaikan……. Dengan Satsang, pergaulan baik atau “good company” kata Shankara, “bebaskan dirimu dari keterikatan.” Berarti pergaulan yang baik justru membebaskan jiwa manusia, tidak membelenggu dirinya. Tidak menambah keterikatannya. Dan, pergaulan yang tidak baik, bad company atau Kusanga menambah keterikatannya, membelenggu jiwanya. Gunakan tolok ukur ini untuk mengevaluasi persahabatan kita selama ini………

Sang Istri: Aku ingat sebuah wejangan tentang Surat Al-A’raaf ayat 113……. Apa yang membedakan Musa dari para ahli sihir? Musa berkarya tanpa pamrih demi kepentingan umum. Para ahli sihir berkarya karena dijanjikan harta kekayaan dan kedudukan oleh Firaun. Sekarang mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, kita berada di kubu mana? Adakah diantara kita seorang Musa yang sedang berkarya untuk kepentingan umum tanpa mementingkan dirinya? Sayang, kita semua adalah budak Firaun, yang hanya mau “mengabdi” jika dibayar, dijanjikan ini dan itu. Kita lupa akan kerasulan dan kekhalifan di dalam diri kita. Maka, kita tidak mencapai ketinggian yang dijanjikan Qur’an, kesadaran kita malah semakin merosot ke bawah…….. Ketika Musa berada di tengah kita pun, kita masih sibuk bergaul, dan bersosialisasi dengan budak-budak Firaun. Kita lupa akan potensi diri kita. Inilah penyakit utama yang diderita oleh umat manusia, oleh kita semua – penyakit lupa. Tapi, masih belum terlambat. Begitu sadar, kita mesti segera berpisah dari kaum Firaun dan bergabung dengan kaum Musa. Kita mesti belajar memilah, mana yg tepat, mulia, dan tinggi. Dan, mana yg tidak tepat, sekedar menyenangkan, dan malah merendahkan. Pilihan kita mesti tepat, dan kita memilih yang tepat.

Sang Suami: Termotivasi untuk berkarya demi kepentingan sesama karena “janji surga” pun masih menempatkan kita dalam kabilah, dalam suku Firaun, bersama budak-budak lain. Kita mesti segera berpisah dari mereka, sehingga dapat berhamba kepada Allah. Inilah permainan Tuhan, permainan ular tangga. Ia sedang menyaksikan jatuh-bangun kita. Dan dari waktu ke waktu Ia pun mengingatkan kita lewat para kekasihNya, “Bereskan niatmu. Niatmu dapat mengantarmu ke ketinggian yang sesungguhnya adalah takdirmu.”…… Sekarang ini kita masih berniat, berhasrat “Firaun” – materi. Maka, hidup kita pun menjadi materiil, samar, bayang-bayang, maya, ilusi. Sekarang tinggal berpindah niat, tidak lagi memperhatikan bayang-bayang tapi memusatkan seluruh perhatian, seluruh kesadaran pada Ia yang terbayang – mengalihkannya dari materi ke ruhani.

Sang Istri: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan bahwa pada suatu hari Sang Sadguru bersabda, “Aku seorang fakir, tidak punya tanggungan maupun keterikatan. Aku tinggal di satu tempat, tidak kemana-mana. Ke-‘aku’an pun telah kunafikan, tetap saja maya masih menggoda-Ku. Para dewa, malaikat pun digoda maya, apalagi seorang fakir biasa seperti diri-Ku… Hanyalah mereka yang berserah diri kepada Tuhan dan memperoleh anugerah-Nya terbebaskan dari godaan maya……

Sang Suami: Dalam salah satu wejangan yang pernah aku dengar disampaikan……. Keselarasan antara apa yang ada dalam hati dan yang kita perbuat mengantar kita ke svarga, fitrah kita, kodrat kita (innalillahi…..). Jannah – itulah idulfitri. Ketidakselarasan mengantar kita ke narka, untuk mengulangi pelajaran yang belum selesai, dan itulah jahannam, itulah Yaumid din – wilayah kekuasaan Yama, mayapada. Yama, Maya……. Simran, constant remembrance, zikir tanpa tasbih dan tanpa suara yang tak pernah putus – itulah antidote untuk maya. Ketika itu terjadi Yama tidak berkuasa lagi…….

Sang Istri: Hubungan dengan dunia sebatas hi dan bye. Untuk jual kue, untuk jadi DJ, silakan. Itu urusan perut. Tapi pintar-pintar, begitu urusan selesai, cepat-cepat pulang. Seperti pembantu yang pulang hari, ia ingin pekerjaannya cepat selesai supaya bisa cepat pulang. Kita sekarang ini menjadi pembantu yang “nginap di dalam”. Padahal penginapan ini hanya membuktikan bahwa kita adalah budak jenis baru. Pulang hari, selesai pekerjaan pulang. Selesai jualan kue, selesai DJ, pulang ke Bunda Mahamaya. Bunda akan membebaskan diri kita dari cengkeraman maya, karena ia adalah Mahamaya. Ia berada di atas maya, jika kita berpaling kepadaNya, kita akan ikut melampaui maya……. Semoga……..

Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

November 2010

Iklan

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: