Apa Salah Setan?


oleh Marhento Wintolo pada 24 Oktober 2010 jam 19:38.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia. Sumber FB Bapak Marhento Wintolo.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150300202900445#!/note.php?note_id=10150309418550445

Surat Ibrahim ayat 22, syaitan pun mengingatkan kita yang mendengar seruannya dan tergoda olehnya, bahwasanya tidaklah dia bersalah. Segala puji bagiMu, Ya Allah, Ya Rabb, syaitan pun Kau beri kesempatan untuk membela diri. Ya, sesungguhnya syaitan tidak bersalah, jangan menyalahkan pikiran, perasaan dan panca indra. Mereka hanya merekam stimuli-stimuli dari luar dan menyampaikan kepada kita. Selanjutnya adalah kebebasan dan wewenang kita, pilihan kita, mau mengindahkannya atau tidak. Syaitan tidak pernah memberi sanksi, tidak ada azab dan tiada pula dijanjikan api neraka kalau kita tidak mengikutinya. Kita sendiri mau ikut, lalu apa salah syaitan?

Mereka yang telah memilih untuk mendengar seruan syaitan dan mengikutinya melakukan hal itu atas resiko sendiri. Mereka mesti menanggung konsekuensi pilihannya itu. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Ketika kita mendengar seruan syaitan yang menggiurkan, “ikutilah aku dan kau akan memiliki “dua dunia” – kita tergiur. Hukum Semesta mengatakan, kau memperoleh hasil tanamanmu. Menanam padi memperoleh padi. Menanam biji asem memperoleh buah asem. Syaitan mengatakan, “tidak, apa pun yang kau tanam buahnya dapat kau ubah.” Enak di dengar. Kita tergiur, salah siapa?

Produsen nakal mempromosikan produk yang tidak baik lewat iklan-iklan yang jreng, kita tergiur. Salah siapa? Mereka mau jualan, itu hak mereka. Apakah kita berkewajiban untuk membeli setiap produk yang dipromosikan? Apakah stasiun teve yang mengiklankan produk-produk itu memberi sanksi. “Kalau tidak beli, kena denda”? Tidak. Kita sendiri yang memutuskan untuk beli produk syaitan. Saat itu kita berpikir, “inilah yang paling hebat, yang selama ini kucari-cari. Tidak ada sanksi apa-apa. Padahal hukum semesta yang selama ini kuikuti hanyalah menakut-nakutiku. Inilah produk yang membebaskan diriku dari rasa takut. Kita membeli produk itu atas kemauan kita sendiri.”

Bukan salah syaitan. Sekarang kita mengetuk pintu syaitan. Percuma, dia pun sedang menderita. Syaitan adalah samsara, kesengsaraan, tidak bisa membantu, justru butuh bantuan. Belok, kembali, taubah – pintu Allah selalu terbuka, welcome home!

Surat Ibrahim ayat 22: Dan berkatalah syaithan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.

Iklan

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: