Menjadi Tamu Dunia, Renungan Keenambelas Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri.

Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membaca ulang buku “Ah, Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern” yang menyampaikan……… Segala sesuatu yang “ada” memiliki awal dan akhir. Saat ini ada, sesaat lagi tidak ada. Yang berawal, akan berakhir. Yang lahir, akan mati. Hukum dan peraturan pun demikian. Relevan untuk masa lalu, tidak berarti relevan sepanjang masa. Setiap peraturan, hukum, perundang-undangan harus diperbaiki, disempurnakan dari waktu ke waktu. Tidak ada yang langgeng, yang abadi…… Kita menggunakan diapers atau popok untuk bayi. Berarti, kita membenarkan “aksi ngompol” para bayi. Es Dhammo Sanantano demikianlah kebenaran, demikianlah hukum, demikianlah peraturan bagi para bayi. Akankah anda menghukum seorang bayi karena ia mengompol? Jelas tidak. Percuma, karena dia belum tahu apa-apa. Tetapi jika bayi yang sama sudah berusia tiga-empat tahun dan masih juga mengompol, apa yang akan anda lakukan? Tetap memberikan diapers? Tidak, anda akan mengajari dia. Bahkan jika perlu memberi hukuman ringan, tanpa harus menyakiti dirinya. Hukum diapers yang berlaku bagi para bayi sudah tidak berlaku lagi bagi seorang anak yang berusia 3-4 tahun…….

Sang Suami: Dalam buku “Ah, Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern” tersebut disampaikan dharma yang tidak sama bagi setiap orang……… Dharma seorang bayi lain, dharma orang dewasa lain. Kesalahpahaman terjadi, ketidakpuasan muncul, jika dalam ketidaksadaran kita berupaya untuk memberlakukan satu dharma bagi setiap orang untuk selama-lamanya. Karena tidak sadar akan sifat dharma yang harus berubah dari waktu ke waktu, karena belum memahami sifat hukum yang perlu penyempurnaan dan perbaikan dari masa ke masa, kita selalu bertindak tidak arif, kurang bijaksana. Dharma atau hukum alam berlaku selama kita masih berada dalam alam. Dan dharma atau hukum alam memang bersifat sementara. Ada peraturan baru, dan peraturan lama pun ditinggalkan. Ada yang kurang baik, maka diperbaiki. Ada yang dikurangi, ada juga yang ditambah. Selama anda masih “terikat” dengan alam, mau tak mau kita harus tunduk pada hukumnya. Pengetahuan kita baru sebatas hukum sebab-akibat dan hukum evolusi. Kita belum tahu peraturan bagi “mereka” yang sudah melampauinya. Hukum diapers yang berlaku bagi para bayi yang masih suka ngompol, sudah tidak berlaku lagi bagi seorang anak yang 3-4 tahun usianya. Demikian pula dengan dharma. Dharma seorang bayi lain dengan dharma orang dewasa. Dharma “Para Suci” lain pula…….

Sang Istri: Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki mind. Karena yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, antara panas dan dingin adalah mind. Pengalaman-pengalaman spiritual para santa, santo, wali, pujangga, yogi membuktikan bahwa manusia bisa hidup “tanpa mind”……… Dan, bahkan lebih baik kualitasnya! Penggunaan mind bisa diminimalkan, cukup untuk mengatur anggaran belanja dan sebagainya. Untuk hal-hal yang masih membutuhkan perhitungan dan matematika…… Hingga pada suatu ketika, mind tidak dibutuhkan sama sekali. Bila mind sering-sering mengalami “kematian”, entah lewat “tidur pulas” atau lewat meditasi, lama-lama ia akan “beneran” mati……..

Sang Suami: Berbicara masalah pengalaman spiritual para santa, santo, wali aku ingat sebuah wejangan yang mengetuk nurani……… Asy Syuara’ berulang-ulang mengingatkan supaya kita meniru para rasul, para nabi, dan tidak mengharapkan “upah” dari manusia, antara lain seperti dalam ayat 180. Sesungguhnya inilah yang membedakan kita dari para rasul dan khalifatullah. Kita mengharapkan imbalan dari dunia, dan harapan itu membuat kita menjadi “wargadunia”. Kita menjadi budak dunia. Sementara para rasul dan khalifatullah tetap mempertahankan kewarganegaraan mereka. Mereka tetap menjadi warga surga yang sedang berkunjung ke dunia. Mereka mempertahankan status mereka sebagai “tamu”. Apa arti ibadah atau ritual hajj? Hajj adalah peringatan, untuk mengingatkan kita bahwa fitrah kita bukanlah sebagai warga dunia, tetapi sebagai duta Allah yang berkunjung di dunia atas perintahNya. Jika kita tidak menyadari hal itu, maka kita menjadi warga dunia yang sedang berkunjung ke bait Allah sebagai tamuNya.

Sang Istri: Menurut wejangan tersebut…….. Kita sendiri yang menentukankedudukan kita. Kita sendiri yang memilih dan menempatkan diri sebagai pengunjung/tamu di dunia atau atau sebagai warga tetap. Adab atau disiplin seorang bertamu dunia: Penilaian yang benar; Tidak merampas hak manusia; Tidak merusak dunia dan; Selalu bertaqwa pada Gusti Allah. Inilah adab seorang tamu di dunia. Pilihan sepenuhnya di tangan kita. Sesungguhnya seperti Mursyid mengatakan “Allah Maalik hai” – Gusti Allah Maha Memiliki. Mau jadi warga dunia atau tamu di dunia, kita semua tetaplah milikNya. Adalah demi kebaikan kita sendiri bahwa pilihan itu di-“cipta”-kan supaya kita bisa “bermain” dengan cantik. Marilah kita mencontohi permainan cantik para pecintaNya dengan mempertahankan kewarganegaraan surga kita yang sedang berkunjung ke dunia sebagai tamu.

Sang Suami: Sayidina Umar sang panglima perang berkata bahwa “Pada hakikatnya setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu dan uang yang dimilikinya adalah pinjaman”. Seorang tamu pastilah cepat atau lambat akan pergi, dan pinjaman harus dikembalikan. Sayidina Umar pun berbicara tentang hukum aksi reaksi, hukum sebab akibat, yang pinjam akan mengembalikan……… Para leluhur mempunyai ungkapan “Urip mung mampir ngombe”, hidup hanya sesaat yang seakan hanya untuk minum beberapa tegukan. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju “sangkan paraning dumadi”, menuju ke asal dan juga akhir penciptaan. Aku juga selalu ingat SMS Wisdom yang menyampaikan, bahwa manusia ditakdirkan menjadi peziarah, sayang sekali ia menjadi pengelana tak bertujuan. Bagi para sufi yang penting adalah perjalanan. Hidup mereka seakan sebagai seorang musafir, tamu yang terus berjalan menuju Tuhan…….

Sang Istri: Dalam buku “Ah, Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern” disampaikan……… Seorang tamu seperti Sariputra akan dipercayai penuh oleh manajemen hotel. Mereka yakin bahwa ia tidak akan mencuri handuk dalam kamar mandi.  Tidak akan mencuri asbak dari ruangan tamu. Tidak akan merusak penutup kloset. Ia dipercayai akan menjaga kebutuhan dan keindahan kamar yang disewanya. Tinggal di Hotel Bumi ini, jadilah seorang tamu seperti Sariputra. Sadar sepenuhnya dan bertindak sesuai dengan kesadarannya, maka anda tidak perlu dibelenggu dengan rantai peraturan dan hukum………

Sang Suami: Benar istriku, bukan hanya para leluhur dan para sufi, perjalanan batin dikenal oleh seluruh umat manusia. Dalam buku “Mengikuti Irama Kehidupan, Tao Teh Ching Bagi Orang Modern” juga disebutkan bahwa……… ia yang bijak, melewati kehidupan ini, sambil menikmati perjalanannya. Akan tetapi tidak lupa akan jati dirinya. la tidak terikat pada apa pun juga. la yang bijak tidak akan meninggalkan dunia. la tidak akan masuk hutan dan menjadi seorang pertapa. Atau hidup sangat ketat dalam lingkungan ashram, pesantren atau biara. Hidup di tengah keramaian dunia, menikmati segala pemberian alam semesta, tetapi tidak terikat pada apa pun juga. la tidak akan pernah lupa jati dirinya. la tidak akan pernah lupa bahwa ia hanyalah seorang musafir yang sedang melewati kehidupannya. Dengan sendirinya, ia tidak akan menghimpun harta kekayaan dan menambah bebannya. Perjalanannya masih panjang, ia akan menikmati segalanya, tanpa berkeinginan untuk memilikinya……….

Sang Istri: Aku juga ingat bahwa hidup dalam “Tao” berarti mengalir bagaikan sungai, demikian disampaikan dalam buku “Menemukan Jati Diri, I Ching Bagi Orang Modern”………. Sungai yang tidak pernah berhenti, terus menerus mengalir saja. Seseorang berhenti mengalir karena terikat pada sesuatu, karena berkeinginan untuk memilikinya. Orang bijak menganggap dirinya pengembara. la melewati hidup ini tanpa membebani siapa pun juga. Demi keuntungan pribadi, jangan sampai menyusahkan sesama. Keuntungan seberapa pun yang diraih, toh akan tertinggal di sini juga. Perlu dihayati hidup sebagai seorang pengembara……… Ada pejabat arogan berkata, siapa yang dapat mencopotnya. Dia tidak beranggapan sebagai pengembara. Dia pikir dia akan selalu berkuasa selamanya. Mungkin pelajaran sejarah telah dilupakannya. Bahwa para Hitler dan Mussolini serta diktator berkuasa lainnya, ternyata akhirnya jatuh juga. Anggaplah diri sebagai seorang pengembara. Keberadaan di sini hanya untuk sesaat, sementara saja. Melakoni hidup dengan penuh kesadaran, tidak cari musuh, tidak membuat masalah dengan selalu waspada……

Sang Suami: Dalam buku “Ah, Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern” disampaikan…….. Kita masih terkurung dalam lapisan-lapisan pikiran kita. Lapisan pola pikiran pertama kita warisi dari kelahiran sebelumnya. Obsesi-obsesi dari masa lalu, keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam masa kelahiran sebelumnya, yang melekat sebagai sifat bawaan kita……. Lapisan pola pikiran kedua terbentuk dalam kelahiran kini. Keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi dalam kehidupan saat ini. Lapisan pola pikiran ketiga kita peroleh dari masyarakat, hukum negara, dogma agama, kode etik yang semuanya ikut membentuk lapisan yang ketiga ini. Lapisan-lapisan tersebut bagaikan kurungan diri. Kita belum hidup bebas sejati……..

Sang Istri: Iya suamiku, aku ingat sebuah nasehat bijak…… Kita semua “warga surga yg sedang berkunjung ke dunia”. Anggap saja diri kita sebagai alien, ET. Dan, tujuan kita disini untuk membangun surga di dunia. Supaya teman-teman lain sesama ET punya tempat penginapan yang menyerupai watan, kampung halaman mereka. Sekaligus supaya warga dunia lain “jadi ngerti”, oh ternyata dunia ini nggak seberapa, ada yang lebih cantik! Jadi anggap saja diri kita sales promo dari surga. Semoga kita semua ingat, sesungguhnyalah kita warga surga yang sedang berkunjung ke bumi……..

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

November 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: