Antara Preya dan Shreya, Renungan Kedelapanbelas Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai alat untuk introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Sri Sai Satcharita” dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Bukan apa-apa, mereka hanya membuka diri dan membombardir diri dengan wisdom dari buku-buku tersebut, agar esensi dari buku-buku tersebut dapat merasuki diri.

Sang Istri: Suamiku, dalam buku “Shri Sai Satcharita” disebutkan bahwa…….. Dasar utama, atau bekal utama pemberdayaan diri adalah kemampuan kita untuk memilih mana yang tepat, dan mana yang tidak tepat. Kemampuan ini membuat kita sadar bila apa yang kita kejar selama ini ternyata hanyalah bayang-bayang, bersifat sementara, dan tidak tertangkap. Mengejar segala sesuatu yang bersifat sementara inilah yang membuat kita suka sementara, bahagia sementara, senang sesaat, nyaman sesaat……Dan, ketika saat itu lewat, atau terlewatkan, maka suka pun berubah menjadi duka, bahagia menjadi sengsara, kenyamanan menjadi kegelisahan, dan seterusnya……..

Sang Suami: Iya istriku, dalam buku “Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati” disampaikan……… Bila disuruh memilih antara “yang baik” dan “yang nikmat” biasanya manusia akan memilih “yang nikmat”. Itu sebabnya, seorang anak harus diberi iming-iming kenikmatan permen, “nasinya dihabiskan dulu”, kalau sudah habis, mama berikan permen”. Permen kenikmatan sesungguhnya hanyalah iming-iming. Tidak penting. Yang penting adalah nasi. Bila masih kecil, pemberian iming-iming masih bisa dipahami. Celakanya, kita semua sudah kebablasan. Sudah dewasa, sudah bukan anak-anak lagi, tetapi masih membutuhkan iming-iming “permen kenikmatan”. Kemudian, demi “permen kenikmatan” kita akan melakukan apa saja. Jangankan nasi, batu pun kita makan. Asal mendapatkan permen. Demi “permen kenikmatan”, kita tega mengorbankan kepentingan orang lain. Kitabersedia memanipulasi apa saja. Agama dan kepercayaan akan kita gadaikan bersama suara nurani………

Sang Istri: Harus dipertegas sedikit, bahwa keinginan untuk memperoleh kenikmatan sorga pun sesungguhnya masih merupakan kebutuhan instink hewani. Banyak beranggapan, “Ah, saya kan tidak mengejar seks, kedudukan, atau harta benda. Yang saya kejar kan akhirat.” Lalu, kita berpikir bahwa kita lebih baik daripada mereka yang sedang mengejar seks, harta benda, jabatan, ataupun keinginan-keinginan duniawi yang lain. Padahal, sesungguhnya tidak demikian. Jika kita mengejar akhirat, karena iming-iming kenikmatan sorgawi, sesungguhnya kita masih berada pada kesadaran rendah……… Demikian disampaikan dalam buku “Medis dan Meditasi”.

Sang Suami: Setiap saat kita selalu saja dihadapkan pada pilihan antara yang memuliakan dan yang menyenangkan. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan bahwa………. Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya, yang memuliakan atau yang menyenangkan. Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih “yang memuliakan”. Mereka yang tidak bijak memilih “yang menyenangkan” karena keserakahan dan keterikatan mereka dengan dunia benda……..

Sang Istri: Dalam buku “Panca Aksara, Membangkitkan Keagamaan Dalam Diri Manusia” disampaikan bahwa……… Kita masih ingat tutur Sri Krishna dalam Bhagavad Gita, “Ada yang menyenangkan atau preya, dan ada yang memuliakan atau shreya.” Dharma adalah sesuatu yang memuliakan. Sesuatu yang menyenangkan tidak selalu memuliakan. Tetapi, sesuatu yang memuliakan sudah pasti menyenangkan pula, walau di awalnya tidak terasa demikian. “Sesuatu yang menyenangkan pada awalnya memang terasa manis, tetapi akhirnya terasa pahit. Sebaliknya, sesuatu yang memuliakan, awalnya barangkali terasa pahit – akhirnya manis.” Dharma adalah sesuatu yang memuliakan………

Sang Suami: Aku ingat sebuah wejangan yang menyentuh hati……. Menurut surat al-Anfaal ayat 29, jika kita bekerja dengan penuh kesadaran akan tujuan dan hasil pekerjaan itu, maka kita hanya menanam benih materi-dunia, dan hasilnya pun pasti sama: materi-dunia. Tapi, jika kita bekerja dengan pekerjaannya tetap sama, tetapi dengan semangat persembahan dan tidak memikirkan hasil materi-dunia, maka kita memperoleh hasil-ganda. Hasil materi-dunia sebagai akibat dari sebab pekerjaan tetaplah kita peroleh, ditambah dengan hasil berkah sebagai akibat dari “niat” – dan hasil itulah yang disebut  furqaan. Furqaan berarti “kemampuan untuk memilah/membedakan”. Farq berarti “beda”, furqaan membedakan. Inilah viveka, bodhichitta. Dengan kemampuan inilah kita baru bisa membedakan antara shreya dan preya. Shreya berarti kemuliaan diri. Preya berarti kenikmatan ragawi. Mereka yang tidak memiliki kemampuan ini jelas karena mereka bekerja dengan niat bekerja, bukan dengan niat persembahan mereka memilih preya. Mereka yang berkarya tanpa pamrih dengan semangat persembahan telah memilih shreya……… Berperanglah melawan napsu rendahan. Walau apa yang kita peroleh lewat napsu rendahan itu menyenangkan dan nikmat atau preya. Dan, terimalah yang kau peroleh dari kesadaran tinggi. Walau perolehan itu awalnya terasa tidak nikmat atau shreya.

Sang Istri: Suamiku, aku juga ingat wejangan yang serupa……… Al-Ankabut bercerita tentang apa yang terjadi pada orang-orang berilmu-pengetahuan, kemudian mengikuti pikiran/perasaan saja dan menggali lubang bagi diri sendiri. Qur’an Karim menjelaskan bahwa mereka pandai dan memiliki visi pula “berpandangan jauh”. Mereka tidak goblok. Tapi tetap binasa, karena menuhankan pikiran/perasaan. Mereka memilih jalan preya, yang menyenangkan hati, “pokoknya dengan melakukan ini aku gembira, aku senang. Aku bisa ini, bisa itu”. Mereka adalah denawa. Sifat mereka berseberangan dengan manusia. Manusia berarti “yang telah melampaui pikiran/perasaan”. Selama masih berhamba pada pikiran/perasaan kita belum manusia. Orang yang terkendali oleh pikiran/perasaan “merasa” bahwa ia berkuasa, padahal sesungguhnya ia dikuasai oleh perasaannya sendiri. Ia pikir dapat menciptakan apa saja, padahal tidak juga. Qur’an mengingatkan bahaya dibalik pikiran/perasaan seperti itu. Maka, berulang-ulang kita diingatkan supaya tidak takabur. Sesungguhnya selama ini kita memang selalu berhamba pada pikiran/perasaan. Meditasi mengajak kita untuk melampaui keduanya. Maka pikiran/perasaan, mental/emotional layer of consciousness, melempar kartu as-nya, “Akulah segalanya. Aku tahu semua. Aku bisa berbuat apa saja.” Inilah “bisikan syaitan”, inilah “godaan mara” seperti yang dialami juga oleh Siddhartha.

Sang Suami: Agar tidak terkendali oleh pikiran/perasan dan tidak takabur, Baginda Rasul memberi jalan, dengan “berhamba”, dengan “mengabdi”. Memproklamasikan kemerdekaan dari perbudakan oleh pikiran/perasaan dan berhamba, dengan mengabdi pada Allah – inilah jalan shreya, jalan yang mulia. Kita selalu berhadapan dengan pilihan antara preya dan shreya, yang menyenangkan dan yang mulia. Ada juga yang berpikir/merasa, “aku masih belum selesai dengan preya, aku masih harus memuaskan diri dulu.” Ini adalah penyakit lama, bukan penyakit baru. Dalam setiap masa kehidupan kita selalu tergoda oleh preya, babakbelur, bertobat, tapi ketika menemukan shreya, pikiran/perasaan berontak dan kita tersesatkan olehnya. Preya tidak pernah puas, kita mau melayaninya sampai kapan?

Sang Istri: Dalam buku “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan” disampaikan…….. Mengabdilah selalu pada Yang Mahamemiliki. Mengabdi kepada siapa? Berbakti kepada siapa? Kepada mereka yang mengaku mahatahu dan mahamemiliki? Kepada mereka yang telah menyadarkan hak kita untuk berpikir dan berperasaan? Kepada mereka yang ingin menguasai kita? Kepada mereka yang ingin menguasai kita? Tentunya tidak. Mengabdilah kepada Ia Yang Maha Memiliki. Kepada ia yang adalah Pemilik Tunggal Alam Semesta. Kepada Dia yang disebut Hyang Widhi oleh orang Hindu, Adi Budha oleh orang Buddhis, Bapa di  Surga oleh orang Kristen, dan Allah oleh orang muslim. Dia pula Tao Yang Tak Terungkap, dan Kami Yang Tak Terjelaskan namun dapat “dijalani”, dilakoni dalam keseharian hidup. Dialah Satnaam para pemuja Sikh, Sang Nama Agung Yang Berada di Atas Semua Nama. Janganlah engkau goyah dari imanmu itu, dari pengabdianmu itu. Dari Iman pada Pengabdian itu sendiri……..

Sang Suami: Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan bahwa……. la berkarya bukan bagi dirinya sendiri, bukan bagi keluarganya saja – tetapi bagi seluruh umat manusia. Ia berkarya bagi sesama makhluk. la berkarya bagi Semesta. la tidak memikirkan hasil. Seluruh kesadaran dipusatkannya pada apa yang dikerjakannya. Sehingga hasilnya pun sudah pasti baik. Tidak bisa tidak. Maka, tidak perlu dipikirkan. la berkarya dengan semangat persembahan dan pengabdian pada Hyang Maha Kuasa. Maanava Sevaa atau Pelayanan terhadap Sesama Manusia, bahkan Sesama Makhluk, adalah Maadhava Sevaa atau Pengabdian terhadap Hyang Maha Kuasa. Dia tidak beramal-saleh atau berdana-punia demi pahala atau kenikmatan surgawi. Dia melakukan hal itu karena “senang” melakukannya…….. Semoga………

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

November 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: