Ilm Adalah Kebijakan Dalam Bergaul


oleh Marhento Wintolo pada 08 November 2010 jam 9:07.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150321832085445#!/note.php?note_id=10150323616925445

 

Segala kenikmatan dunia adalah untuk dinikmati dan disyukuri, karena semuanya adalah pemberian Gusti Allah. Termasuk kawan, kerabat, bahkan anak-anak kita, dan bukanlah sekedar benda-benda yang jelas selalu berpindah tangan. Al Mumtahanah ayat 3 menjelaskan bahwa semuanya itu tidak dapat membantu kita, yang dapat membantu adalah hasil perbuatan kita sendiri. Perbuatan inilah yang mesti adil atau fair.

Ayat 7 bahkan berharap semoga kita bisa memilah antara mereka yang betul-betul ingin mencelakakan kita dan mereka yang hanya ikut-ikutan saja. Walau berada dalam satu kelompok, kita mesti bersikap adil terhadap mereka yang hanya ikut-ikutan karena kebodohan mereka. Mereka itu justru mesti disayangi. Inilah tuntutan kesadaran dan keadilan, fairness. Pada saat yang sama tidak perlu juga berteman dengan orang-orang yang memang berniat untuk mencelakakan kita.

Ayat 9 dan seterusnya menjelaskan dua macam serangan yang mesti kita hadapi secara gigih, yaitu, serangan terhadap fisik (mengusir/merampas) dan terhadap mental/emosional (iman) kita. Tidak perlu membalas lemparan batu dengan batu. Hindari mereka yang hendak mengubah imanmu. Tidak perlu mengadakan hubungan persahabatan, apalagi mengawini mereka. Lagi-lagi pengertian iman di sini bukanlah sebatas isian kolom di KTP, atau identitas luaran, tapi keyakinan yang muncul dalam diri sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalaman kita sendiri tentang Ilahi. Ini yang disebut Ilm atau pengetahuan sejati, knowingness.

Al-Qur’an berulang-ulang mengingatkan kita supaya berhati-hati terhadap pergaulan. Apa yang dapat kita peroleh dari mereka yang hatinya tertutup? Kasihani, tapi hindari mereka. Tidak perlu di-“gaul”-i. Qur’an Karim membuat kita sangat rendah hati, tidak takabur. Hendaknya kita tidak membenarkan kelemahan kita ingin menjadi pahlawan dan dianggap selalu benar dengan pergaulan tanpa kendali atas nama percaya diri. percaya diri berarti pengendalian diri, bukan pelepasan kendali. Ingat pada akhirnya apa yang kita “kerjakan” itulah yang penting, dan bukanlah yang kita khayalkan, pikirkan, sekedar rasakan atau ucapkan. Selamat Berkarya secara Adil!

Al Mumtahanah ayat 3: Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Al Mumtahanah ayat 7: Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.    

Al Mumtahanah ayat 9: Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: