Jika Manusia Memahami Tauhid, Tiada Namanya Kehendak Bebas Manusia


oleh Marhento Wintolo pada 29 Oktober 2010 jam 8:35.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150300202900445#!/note.php?note_id=10150313968175445

Al-Ambiyaa ayat 25 dan 29 adalah intisari pengetahuan sejati, “tiada Tuhan selain Aku”. Dan, pandangan yang keliru adalah, “Ada Tuhan, tapi aku juga memiliki kebebasan atas diriku”. Pandangan pertama menciptakan transpersonal psyche, jiwa yang tidak terbatas. Jiwa yang merangkul. Pandangan kedua menciptakan limited ego. Karena, jika aku memiliki kebebasan untuk melakukan segala sesuatu, maka orang lain pun punya.

Celakanya, kita tidak rela. Mau kita hanyalah diri kita saja yang memiliki kebebasan seperti itu, orang lain tidak boleh dan tidak bisa memiliki kebebasan yang sama. Alhasil terjadilah konflik. Pandangan pertama tidak bisa menciptakan konflik, karena tidak ada dualitas. Mau berkonflik dengan siapa? Lawannya mana? Bukankah semuanya adalah percikan dari Nur Ilahi yang sama?

Sufi Nanak berkata, “segala sesuatu berasal dari nur yang sama, siapa baik, dan siapa pula jahat – aku tak bisa berkata.” Pandangan pertama tidak menghakimi, dan tidak pula berkata bila ia tidak menghakimi. Istilah itu sudah tidak eksis baginya. Kita yang masih menganut paham dualitas menciptakan istilah menghakimi, dan tidak menghakimi. Kemudian kita menempatkan diri dalam kelompok yang tidak-menghakimi sesuai dengan pemahaman kita yang jelas subjektif. Dan, “menghakimi” orang lain, kemudian menempatkannya dalam kelompok yang menghakimi, lagi-lagi sesuai dengan pemahaman kita. Betapa gusarnya kita ketika orang lain tidak mau mendengar “nasihat” kita? Dan, betapa senangnya bila orang lain mau mendengar.

Tauhid bebas dari penghakiman, tapi ketika berada di tengah keramaian dunia, tetaplah mesti memilah, tentunya “tanpa menghakimi”. Yang nyaman dan menyenangkan itu tidak jahat, dan yang mulia tidak perlu diberi label “yang maha baik”. Pilihlah yang memuliakan tanpa menghakimi bahwa yang menyenangkan dan menyamankan itu jelek. Pekerjaan di dunia ini tidak melulu memuliakan, jelas lebih banyak yang menyenangkan/menyamankan. Buang air besar itu apa? Memuliakan atau menyamankan? Bagi manusia pekerjaan tersebut sekedar menyamankan (relief), bagi cacing yang hidup dari najis, itu memuliakan, menghidupinya. Salam Kesadaran Memilah

Al-Ambiyaa ayat 25: Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.

Al-Ambiyaa ayat 29: Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: “Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: