Antara Makanan dan Peningkatan Kesadaran, Renungan Kesembilanbelas Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang nasehat Guru perihal makanan sebagai bahan introspeksi. Mereka paham pembicaraan mereka nyaris seperti pembicaraan anak-anak dibanding mereka yang telah mencapai tingkat kesadaran tinggi. Karena itu mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka ingin membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Membuka hati dengan repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri.

Sang Istri: Suamiku, aku baru saja merenung tentang makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. Makanan yang kita makan akhirnya akan menjadi energi untuk kegiatan kita, mengganti sel yang rusak dan sisanya menjadi simpanan energi. Secara garis besar makanan tersebut akan menjadi tubuh kita, otak, jantung, mata, tangan dan seluruh anggota tubuh kita serta energi dari kegiatan kita. Walaupun sebenarnya masih ada ”prana” sebagai salah satu sumber energi. Makan sambil melihat televisi atau sambil membaca tidak menghormati calon organ tubuh kita sendiri. Mengunyah sambil bicara, tak hanya ”tidak menghargai” orang yang diajak bicara, tetapi juga tidak ”respek” kepada makhluk yang akan menjadi tubuh kita, otak, jantung dan organ kita. Makan tidak hanya berkaitan dengan kualitas fisik dan organik, tetapi berkaitan dengan perasaan, kepuasan, berkaitan dengan emosional dan spiritual. Alangkah baiknya, kita makan tidak pada waktu sedang kesal dan kita makan di ruangan yang tenang. Duduk tenang dan berdoa, memberi vibrasi kasih dan syukur kepada makanan.

Sang Suami: Istriku, berbicara masalah makanan aku ingat dalam  buku “Sexual Quotient, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra” disampaikan…….. Bila ingin merasakan Kehadiran Yang Maha Hadir, Maha Hidup dan Maha Ada – maka belajarlah untuk menghormati segala sesuatu di sekitarmu. Benda-benda yang selama ini, karena cara pandang yang keliru, kau anggap mati, sesungguhnya tidak mati. Semuanya hidup. Pedoman Pertama bagi pembangkitan energi di dalam diri adalah: Makanlah untuk bertahan hidup. Janganlah hidup untuk menikmati makanan saja. Hindari makan daging supaya hewan di dalam dirimu mati kelaparan. Sifat kehidupan yang memasuki tubuh kita lewat mulut, mempengaruhi sifat diri kita. Sesuai dengan istilah yang kita gunakan baginya, tumbuh-tumbuhan memiliki sifat utama, yaitu growth, bertumbuh. Bila tumbuh-tumbuhan yang kita konsumsi, maka kemanusiaan di dalam diri kita pun ikut bertumbuh. Sebaliknya, sifat utama hewan adalah kehewaniannya. Dengan mengkonsumsi dagingnya, kita tidak sekadar mengalami pertumbuhan, tetapi pertumbuhan kehewanian di dalam diri. Pedoman Kedua: Jangan lupa berdoa sebelum, sambil dan sesudah makan. Doa sebagai ucapan terima kasih, doa untuk mensyukuri apa yang telah diberikan kepada kita. Awam melahirkan anak. Anak yang bisa hidup selama lima puluh tahun, seratus tahun, akhirnya mati juga. Para nabi, avatar, buddha, mesias melahirkan “kesadaran” yang menuntun umat manusia selama berabad-abad dan tidak pernah mati. Kesadaran yang mereka lahirkan berada dalam diri manusia melekat untuk selamanya. Menjadi bagian kesadaran kolektif manusia untuk selamanya. Bedanya awam menggunakan energi itu as it is, begitu saja. Para maestro mengolahnya terlebih dahulu. Energi yang kita gunakan mirip susu. Energi yang mereka gunakan sudah berupa mentega. Pedoman Ketiga: Pengendalian diri. Kepadatan mempengaruhi getaran. Makin padat makin kurang bergetar. Kepadatan “ruang” sungguh minim sekali sehinga getarannya sungguh dahsyat, hampir tak terdeteksi oleh otak kita yang relatif padat. Bila kita ingin berkesadaran luas, tidak sempit, maka getaran tubuh kita, pikiran serta perasaan kita harus diperdahsyat. Sementara ini, umumnya kita masih bergetar dengan kecepatan tanah. Badan kita terbuat dari tanah. Sperma dari ayah dan ovum dari ibu, dua-duanya berasal dari makanan yang mereka dapatkan dari bumi. Ketergantungan kita sendiri pada bumi dan hasil bumi pun masih sangat kuat. Itulah sebabnya kita masih berpikiran picik, masih berkesadaran rendah, pandangan kita belum jernih. Bagaimana mempercepat getaran kita? Bagaimana memperluas kesadaran kita? Dengan menari, menyanyi, merayakan hidup ini. Keceriaanmu membebaskan dirimu dari belenggu-belenggu yang mengikat jiwamu. Jiwa ceria adalah jiwa yang bebas. Sebaliknya kemurunganmu membebani jiwamu. Keceriaan meringankan jiwamu. Pedoman Keempat: Keceriaan, rayakan hidupmu! Latihan-latihan yang diberikan sangat membantu. Kebiasaan-kebiasaan kita menciptakan pola-pola energi tertentu. Dan, itu hanya dapat diubah dengan latihan. Tidak bisa dengan pengetahuan atau pemahaman belaka. Air seni dan air besar yang kita keluarkan memiliki substansi, dua-duanya mewakili elemen tanah – tidak heran bila kita sangat peka terhadapnya. Sementara itu, energi yang kotor sudah mewakili elemen-elemen yang lebih ringan, api dan angin, makanya kita belum cukup peka terhadapnya. Jangan khawatir, dengan bertambahnya kepekaan diri, pembuangan energi, pikiran serta perasaan “kotor” akan menjadi sangat alami, sealami pembuangan air seni dan air besar………

Sang Istri: Berbicara masalah makanan, aku ingat buku “Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi” yang menyampaikan………. Secara umum, makanan dapat dikelompokkan dalam tiga kategori. Pertama, makanan yang dapat menenangkan pikiran. Kedua, makanan yang membuat kita hiperaktif. Ketiga, makanan yang menggelisahkan kita…….. Makanan yang menenangkan pikiran adalah sayuran yang tidak dimasak lama, hanya diseduh atau ditumis sebentar. Misalnya, gado gado, karedok, salad, sayur sayur yang ditumis, dan lain sebagainya. Nasi, roti, kacang kacangan (kecuali kacang merah), minyak goreng (dalam jumlah terbatas) dan hampir segala macam buah buahan berada dalam kategori makanan yang menenangkan pikiran. Begitu pula, tahu dan tempe. Susu atau produk susu dalam kuantitas yang terbatas kurang lebih 250 cc dalam satu hari juga berada dalam kelompok makanan yang menenangkan pikiran…….. Makanan yang membuat kita hiperaktif adalah daging ayam, ikan, sayur sayuran yang dimasak lama atau digoreng, dan kacang merah. Bawang-bawangan, acar dan segala sesuatu yang tidak segar (buah buahan kaleng) dan lain sebagainya. Susu atau produk susu di atas 250 cc setiap hari, akan membuat kita hiperaktif juga……… Makanan yang menggelisahkan atau membuat kita restless adalah daging yang berwarna merah misalnya sapi, kerbau, kambing, babi, ikan tuna, dan lain sebagainya. Bumbu bumbu yang berkelebihan, segala sesuatu yang terlalu manis dan terlalu pedas. Sedapat mungkin, hindarilah kelompok makanan yang ketiga ini. Apabila kita masih harus makan daging, makanlah daging ayam atau ikan……..

Sang Suami: Dalam buku “Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi” tersebut juga disampaikan……. Karena dua hal, Hazrat Inayat Khan menganjurkan agar kita tidak mengkonsumsi daging. Pengertian daging di sini bukan semata mata daging sapi, tetapi daging apa saja ayam, ikan, semuanya. Pertama, konsumsi daging akan memperlamban proses peningkatan kesadaran dalam diri kita. Kemajuan spiritual kita akan terganggu. Kedua, membunuh binatang dan mengkonsumsi dagingnya sangat tidak bermoral, sangat tidak manusiawi……. Dari segi spiritual, mengkonsumsi daging akan mempengaruhi sifat dan watak manusia. la akan mewarisi watak binatang yang dimakan dagingnya itu. Dari sudut pandang mistik, mengkonsumsi daging akan mempengaruhi pernafasan kita, dan selanjutnya memblokir sentra sentra psikis dalam diri kita, yang sebenarnya berfungsi sebagai “jaringan tanpa kabel”. Sentra sentra psikis atau chakra inilah yang membantu terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri kita, dan menghubungkan kita dengan alam semesta. Untuk itu dianjurkan tidak makan daging. Dari sudut pandang moral, hati seorang pemakan daging akan menjadi keras. Hati yang seharusnya lembut dan diberikan oleh Allah untuk mengasihi sesama makhluk bukan hanya sesama manusia akan kehilangan kelembutan atau rasa kasihnya…….

Sang Istri: Dalam buku “Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi” tersebut juga disampaikan……. Tumbuh tumbuhan itu pun memiliki kehidupan. Kehidupan mengalir lewat tumbuh tumbuhan pula. Namun tumbuh-tumbuhan tidak memiliki mind. Dan oleh karena itu, mengkonsumsi sayur sayuran, buah buahan tidak akan mempengaruhi watak kita, mind kita. Tidak demikian dengan mengkonsumsi daging. Masih ada lagi yang berdalil hewan yang disembelih dan dimakan itu, sesungguhnya mengalami peningkatan dalam evolusi mereka. Dengan mengkonsumsi daging hewan, sebenarnya kita membantu terjadinya peningkatan evolusi mereka……. Kita boleh memberikan seribu satu macam dalil. Dalil tinggal dalil. Yang jelas, mengkonsumsi daging tidak akan membantu manusia dalam hal peningkatan kesadaran. Terjadi evolusi dalam diri hewan hewan itu atau tidak, yang jelas mengkonsumsi daging tidak membantu evolusi spiritual manusia. Melukai makhluk hidup, membunuh dan memakannya, akan membuat kita semakin keras. Segala sesuatu yang lembut dalam diri kita akan lenyap. Rasa kasih terhadap sesama makhluk hidup akan hilang…….. Suamiku, bagaimana pun hendaknya seorang vegetarian tidak menganggap rendah mereka yang masih mengkonsumsi daging. Keangkuhan kita, arogansi kita justru akan menjatuhkan kita lagi, dan akan menjadi rintangan bagi perkembangan spiritual……. kita pun harus menghormati mereka yang makan dengan apa yang mereka dapatkan disekitar lingkungannya, misalnya di daerah salju di Himalaya, di daerah kutub atau di padang pasir sulit mendapatkan makanan vegetarian. Demikian pula ada beberapa orang yang karena kesehatan atau pekerjaannya perlu makan daging. Yang penting makan untuk bertahan hidup. Janganlah hidup untuk menikmati makanan, memuaskan selera. Jangan lupa berdoa sebelum, sambil dan sesudah makan. Doa sebagai ucapan terima kasih, doa untuk mensyukuri apa yang telah diberikan kepada kita. Di Jepang, sebelum makan dibiasakan selalu berdoa mohon maaf kepada hewan yang akan dikonsumsinya. Mungkin saja seorang Guru sekali-sekali makan daging, tetapi hal tersebut tidak akan berpengaruh terhadap kesadarannya, tetapi lain dengan kita yang sedang berusaha meningkatkan kesadaran untuk dapat memahami Sang Guru.

Sang Suami: Membicarakan makanan juga ada kaitannya dengan puasa….. Dalam buku tersebut juga disampaikan……… Tujuan puasa adalah untuk membiarkan nafas atau energi kehidupan mengalir leluasa ke seluruh tubuh, lewat setiap urat, setiap syaraf. Dalam keadaan puasa, urat urat dan jaringan syaraf kita menjadi lebih reseptif terhadap energi kehidupan, terhadap nafas. Tidak ada blokade blokade lagi, sehingga energi bisa melewatinya dengan lebih leluasa. Apabila energi atau nafas dapat melewati urat urat kita, jaringan syaraf kita dengan leluasa, maka kita menjadi lebih peka terhadap apa saja yang terjadi di luar dan di dalam diri kita. Seolah olah setiap pori pori kita terbuka, dan kita mulai menerima energi Ilahi lewat setiap pori-pori, tidak hanya lewat hidung atau mulut. Badan kita hidup kembali. Pengendalian diri, pembatasan diri, juga sangat membantu. Dengan tidak terjadinya pemborosan energi, sentra sentra energi dalam diri kita akan selalu dalam keadaan fit tidak haus energi. Dampak nyatanya tampak pada kepribadian kita. Magnetisme atau daya tarik kita (yang lebih dari sekadar sensual atau seksual) bertambah. Tubuh kita seolah olah memancarkan energi sepanjang hari. Itu pula sebabnya, sebelum melakukan beberapa latihan, kita selalu dianjurkan puasa atau setidaknya menghindari makan daging. Demikian, kita menjadi lebih peka. Dan orang yang peka, yang sensitif, tidak akan menjadi keras. la akan menjadi lembut. Hazrat Inayat Khan membedakan antara orang yang peka dan orang yang tidak peka. Yang peka menjadi semakin lembut, semakin peduli terhadap lingkungan, terhadap sesama makhluk hidup. Kepekaan melahirkan kesadaran dan pencerahan. Dan orang yang sadar menjadi lebih intuitif. la menjadi “intelijen” dalam arti kata sebenarnya…….. Semoga……

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

November 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: