Frekuensi Dari Pikiran, Renungan Keduapuluh Tentang Berguru


Sepasang suami istri setengah baya sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip pandangan dalam buku agar tidak menghilangkan esensi.

Sang Istri: Suamiku, mari kita bicara tentang frekuensi pikiran dari file “quotation of wisdom” yang kita miliki. Dalam buku “Neo Psyhic Awareness” disampaikan bahwa…….. Setiap pikiran yang muncul dalam otak kita juga merupakan sebuah electric impulse. Kemudian, electric impulse itu berubah menjadi radio waves, gelombang suara…….. Saat saya sedang ngegosip atau menjelek-jelekkan Anda dengan penuh semangat-dalam hal ini katakan “semangat negatif. Saat itu, electric impulse “pikiran” saya sudah berubah menjadi gelombang radio, “suara”. Segala cacian yang saya lontarkan kepada Anda, terdengar jelas oleh setiap orang yang berada di sekitar saya. Anda tidak “mendengar”-nya dengan cara itu, karena Anda tidak berada sekitar saya. Sesungguhnya Anda tetap “mendengar”-nya dengan cara lain. Radio waves atau gelombang radio adalah energi dan energi tidak pernah musnah. Radio waves yang telah “menjelma” menjadi suara memang sangat singkat “masa hidupnya” sebagai suara, namun ia tidak mati. la berubah kembali menjadi radio waves dan menuju sasarannya di mana pun sasaran itu (dalam hal ini Anda) berada……. Bila Anda memiliki kemampuan untuk melakukan decoding terhadap radio waves itu, Anda dapat mendengarkan setiap kata yang saya ucapkan. Bila tidak, radio waves itu akan diterima langsung oleh electric impulses di dalam diri Anda dan memengaruhinya, maka kadar gula dalam darah Anda pun pasti meningkat, tekanan ikut meningkat… dan, telinga Anda memerah. Kejadian seperti ini kadang sangat menggelisahkan. Membuat kita tiba-tiba merasakan depresi yang amat sangat. Kita tidak habis mengerti “kenapa?”, karena kita tidak memahami cara kerja energi, cara kerja alam. Lain halnya ketika saya sedang memuji atau bercerita tentang Anda dengan “semangat positif”, dengan cinta, maka terciptalah keadaan harmonious yang luar biasa di dalam diri saya. Irama jantung saya sangat indah. Tekanan darah pun normal, menari-nari ceria, dan electric impulses yang kemudian menjadi radio waves memengaruhi electric impulses di dalam diri Anda secara positif pula. Kesimpulannya, dengan menjelek-jelekkan Anda, sesungguhnya saya mencelakakan diri saya sendiri sebelum mencelakakan Anda. Dengan memuji Anda, saya membahagiakan diri saya sendiri sebelum membahagiakan Anda……..

Sang Suami: Istriku, kita membedakan dulu antara electric impulse yang kasar dan yang halus. Dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” disampaikan……. Adalah perasaan kita yang memberi kesan kasar dan halus. Dan, perasaan kita tergantung pada kesadaran kita. Jika kesadaran kita terfokus pada dunia, getaran itu terasa kasar. Jika kesadaran kita terfokus pada Gusti Pangeran, getaran itu terasa halus. Kasar dan halus tidak bersifat absolut. Kasar bisa terasa halus, dan halus bisa terasa kasar. Dalam menjalani kepercayaan atau agama, jika seorang masih memikirkan pahala yang bersifat “materi” kenyamanan dunia, atau kenikmatan surga maka sesungguhnya ia masih berada pada frekuensi rendah. Ia sedang bergetar dengan keras sekali. Sementara itu, seorang panembah yang berada di tengah keramaian dunia, jika kesadarannya terfokus pada Gusti Pangeran, ia akan berada pada frekuensi yang tinggi. Ia sedang bergetar halus.

Sang Istri: Aku ingat sebuah wejangan tentang frekuensi keterikatan terhadap dunia……. Hubungan dengan Allahdan rasul-Nya berarti hubungan dengan dunia dari sudut pandang yang berbeda, di mana focus kita adalah energy, bukan materi, esensi dan bukan lagi fisik. Maka dijelaskan bahwa mereka yang beriman tidak bisa lagi mencintai atau berhubungan mesra dengan mereka yang tidak beriman, walau yang tidak beriman itu adalah keluarganya sendiri….. Urusannya bukan sombong. Urusannya adalah frekuensi dimana kita berada, beda frekuensi kita tidak lagi menerima siaran “keterikatan” dengan keluarga atau siapa saja yang tidak berada di frekuensi yang sama. Kita tidak membenci mereka, karena untuk membenci pun kita mesti berada di frekuensi yang sama. Perkaranya bukan cinta atau benci, perkaranya “tidak nyambung” – no signal, beda gelombang. Dengan keluarga terdekat pun demikian. Apalagi dengan orang lain…….

Sang Suami: Dalam wejangan tersebut juga disampaikan……. Sesungguhnya kalau sudah beda frekuensi, beda focus – keluarga atau bukan keluarga sama saja. Lalu bagaimana dengan kita yang mengaku sudah beriman, tapi begitu ketemu dengan orang yang bisa membuat jantung kita berdebar, gelombangnya langsung menurun. Sesungguhnya kita memang belum berada pada gelombang iman, baru tahu, belum mengenal rasul. Jika kita sudah mengenal, sudah menerima siaran-Nya, maka “turun frekuensi tidak akan terjadi”….. Selama ini Rasul sudah bekerja keras supaya frekuensi kita naik. Adalah berkahnya sehingga kita masih dekat dengannya, walau sesungguhnya belum pantas. Lagi-lagi pilihan di tangan kita. Iman dan rasul adalah cara pandang, memandang dunia sebagai bayang-bayang. Kekafiran adalah upaya untuk menguasai bayang-bayang. Upaya itu tidak pernah berhasil, tinggal tunggu kapan saat kecewa “lagi” dan berpaling kepadaNya. Rasul melarang umat awal untuk kawin dengan orang-orang yang tidak seumat. Kelihatannya sangat eksklusif. Ya, kalau dilihat secara fisk demikian. Tapi, kalau biara tentang energy dan frekuensi, maka maksud  Baginda Rasul menjadi jelas. Beliau mengasihani mereka yang sudah memiliki ilm dan semestinya meningkat menjadi beriman kemudian mengamalkan imannya, malah terseret oleh napsu rendahan yang akan mengobarkan apa saja demi makan/minum, kenyamanan, dan seks. Inilah insting-insting hewani yang mesti dikendalikan. Supaya kita tidak terkendali olehya.

Sang Istri: Masih mengenai electric impulse dari pikiran kita. Dalam buku “Neo Psyhic Awareness” disampaikan……… Dalam tradisi kuno, ini yang disebut Shaktipaat. DaIam tradisi Zen dikaitkan dengan transmisi-transmisi ajaran, transmisi kesadaran dari sang guru kepada siswa yang siap. Shaktipaat bukanlah sebuah ritual, tetapi suatu “kejadian” yang hanya terjadi bila guru dan siswa berada dalam gelombang yang sama; ketika keduanya sedang bergetar bersama. Kemudian, seorang guru tidak lagi membutuhkan kertas dan pena, atau media tulisan untuk menyampaikan pemikirannya. Sang siswa pun tidak membutuhkan sepasang telinga maupun mata untuk mendengarkan wejangan guru atau membaca tulisannya. Sungguh setajam apa pun pendengaran seorang siswa, sejernih apa pun penglihatannya, secerdas apa pun otaknya, sehebat apa pun pemahaman serta penangkapannya, dan semahir apa pun seorang guru menyampaikan apa yang hendak disampaikannya, ketika pikiran diterjemahkan menjadi ucapan atau tindakan, terjadilah “penurunan” kualitas; penurunan derajat; penurunan intensitas; penurunan kedahsyatan yang hanya ada dalam pikiran yang masih berupa electric impulse……..

Sang Suami: Dalam buku “Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian Menuju Keabadian” disampaikan sebuah tanya-jawab…… Keberadaan itu seperti stasiun radio. Bertahun-tahun lalu kamu berada pada gelombang radio, yang menyiarkan hal-hal yang kemudian digaungkan kembali…….  Jadi kata-kataku sebenarnya bukanlah dariku? Aku hanya mengulang apa yang kudengar?…… Tidak setiap saat, hanya di saat kamu berada pada gelombang yang sama…….. Dan ketika aku tidak sedang berada pada gelombang itu, apa yang terjadi?……. Kau akan tersambung dengan pikiranmu. Dan pikiranmu berbicara dari memorinya. Ia memiliki kosakata sendiri. Ia memiliki bahasa, tepatnya bahasa-bahasa dan pola-polanya sendiri…….. Saya menyadari kemudian bahwa “radio” yang dibicarakannya punya banyak stasiun, banyak channel. Jumlah frekuensinya tak terhitung. Jadi seseorang yang mengaku mendengar suara Tuhan sebenarnya telah berada di salah satu dari frekuensi-frekuensi itu. Berada pada gelombang frekuensi tertentu seseorang bisa mendengar pesan kekerasan. Seseorang bahkan bisa tergerak untuk membunuh dan terbunuh atas nama agama. Berada di frekuensi gelombang yang lain seseorang bisa mendengar pesan cinta, perdamaian, keharmonisan, dan pengorbanan………

Sang Istri: Aku ingat tulisan dalam buku “Surah Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern” disampaikan pandangan tentang “wahyu”. Penulis berkata…….. 50 tahun kemudian, generasi penerus kita, cucu dan cicit kita akan menerima pandangan ini. Penulis sudah tidak tahan lagi melihat ketololan manusia. Tolol tetapi angkuh! Sepertinya la sudah hebat. Sepertinya ia adalah makhluk terpilih……

Sang Suami: Benar istriku, dalam buku tersebut disampaikan…….  “Wahyu” adalah getaran-getaran Ilahi. Seperti siaran radio. Gelombang radio ada di mana-mana. Siaran dari setiap setasiun dari seluruh dunia berada dalam ruangan di mana kita berada saat ini. Bahkan, berada dalam setiap ruangan, di setiap tempat, di manapun kita pernah ada, dan akan berada. Untuk menerima siaran-siaran itu, yang dibutuhkan adalah sebuah receiver, alat penerima-radio. Nah, sekarang tergantung betapa canggihnya alat penerima kita. Semakin canggih radio yang kita miliki, semakin banyak siaran yang dapat kita terima…….. Anehnya, semakin pendek gelombang radio, semakin luas jangkauannya. Short wave bisa menerima siaran dari manca-negara, tetapi FM dan AM hanya bisa menerima siaran dalam negeri. Sesuai dengan gambaran itu, mari kembali kepada apa yang kita sebut “wahyu”. “Wahyu” adalah Getaran-Getaran Ilahi yang bergelombang amat sangat pendek. Semakin dalam kita meniti diri sendiri, semakin jelas penerimaan kita. Karena itu, mereka yang sibuk mengejar ilmu pengetahuan dari luar diri – yang “bergelombang panjang” – tidak pernah menerima wahyu. Yang menerima siapa? Muhammad, seorang yatim piatu, seorang pedagang yang buta huruf. Siapa lagi? Seorang Yesus, seorang Isa-anak tukang kayu! Siddhartha harus meninggalkan istana, melepaskan segala macam atribut luaran, untuk menerimanya. Krishna adalah seorang gembala sapi. Merekalah para penerima wahyu. Mereka ini meniti jalan ke dalam diri. Mereka menemukannya dalam diri sendiri……..

Sang Istri: Dalam buku tersebut juga disampaikan……. Perbedaan yang terlihat antara Al-Qur’an dan Veda, antara Dhammapada dan Zend Avesta, antara Taurat dan Guru Granth, disebabkan oleh “alat penerima”. Apalagi dalam hal ini, setiap “alat penerima” adalah manusia dengan berbagai budaya yang berbeda! “Alat penerima” wahyu di Timur Tengah berbeda sedikit dari “alat penerima” di India. Begitu pula dengan “alat penerima” di Cina, tentu saja berbeda dari “alat-alat penerima” yang lain. Setiap “alat penerima” dipengaruhi oleh budaya setempat. Nabi Muhammad dipengaruhi oleh budaya Arab. Buddha dipengaruhi oleh budaya India. Lao Tze dipengaruhi oleh budaya Cina. Musa dipengaruhi oleh budaya Mesir. Getaran-Getaran Ilahi atau “wahyu” yang diterima oleh masing-masing “alat penerima” oleh masing-masing nabi, avatar, mesias, dan buddha diterjemahkan dalam bahasa setempat. Juga dikaitkan dengan kondisi setempat, dengan kejadian-kejadian kontemporer. Itu sebabnya, setiap kitab suci-apakah itu Al-Qur’an, Veda, Dhammapada, Injil, Zend-Avesta, Taurat, Zabur, Guru Granth selain mengandung ajaran-ajaran yang bersifat universal, juga mengandung ayat-ayat yang bersifat sangat kontekstual……. Suamiku, semoga kesadaran ini menyebar ke seluruh penjuru Indonesia…….

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

November 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: