Komputer Dalam Diri Manusia, Renungan Keduapuluhsatu Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai alat untuk introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Sri Sai Satcharita” dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Bukan apa-apa, mereka hanya membuka diri dan membombardir diri dengan wisdom dari buku-buku tersebut, agar esensi dari buku-buku tersebut dapat merasuki diri.

Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membuka buku “Reinkarnasi, Melampaui Kelahiran Dan Kematian” dimana disampaikan ada tiga unsur utama yang mengaktifkan komputer manusia………  Pertama, badan kasat kita. Ini bagaikan hardware. Kedua, ego kita. Ini bagaikan software dan tentu saja, ketiga, kesadaran yang merupakan aliran listriknya. Badan kita bisa rusak, berhenti bekerja. Namun software-nya tidak ikut rusak. Ego kita masih utuh, masih dapat berfungsi. Software yang sama dapat digunakan, dengan menggunakan hardware baru. Tidak ada memori yang hilang, tidak ada program yang terhapus. Ada satu hal yang jangan sampai terlupakan : kesadaran atau “aliran listrik”. Kesadaran ini tidak pernah terganggu. Apakah software-nya yang dipindahkan, atau hardware-nya yang rusak, kesadaran kita tidak pernah mengalami gangguan apapun. Kehadirannya ibarat katalisator. Keberadaan akan kesadaran ini yang menentukan berfungsinya komputer kehidupan, namun ia sendiri tidak pernah mengalami gangguan, kerusakan dan lain sebagainya……. Badan kasat ini terdiri dari begitu banyak unsur, daging, darah, tulang, otot, sumsum. Semuanya pada suatu hari ditinggalkan oleh Ego yang harus menempati badan kasat baru. Badan kasat ini ada kadaluwarsanya. Ego adalah mekanisme yang sangat kompleks, yang terdiri dari pikiran, memori, keinginan-keinginan, impian-impian, harapan, perasaan dan lain sebagainya. Selama ini kita mengidentitaskan dari kita dengan Ego ini. Setiap kali Ego menghuni badan kasat, manusia menjadi nyata. Setiap kali ia meninggalkannya badan kasat menjadi jasad………..

Sang Suami: Dalam bahasa yang lebih spesifik, badan yang berhubungan dengan komputer dalam diri manusia adalah otaknya. Ego juga sering disebut sebagai “mind”. Dan, berita baiknya selama hardware-nya masih berfungsi, software-nya masih bisa diperbaiki. Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir” disampaikan……… Mind ibarat perangkat lunak komputer. Ia tidak bisa berfungsi sendiri. Harus ada perangkat keras agar dia bisa berfungsi. Otak adalah perangkat keras yang dibutuhkannya. Kemudian, selama kita masih memiliki otak, perangkat lunak itu (mind)dapat di-over write dapat dirancang kembali, dapat diubah total, sehingga sama sekali berada dari aslinya. Ini yang disebut proses deconditioning dan re-creating mind. Isi mind bukanlah harga mati. Kita bisa mengubahnya. Mind itu sendiri tidak lebih dari sebuah ilusi. Diatas apa yang ditulis, kita dapat menulis ulang apa saja. Mind itu rewritable!………

Sang Istri: Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern” disampaikan……. Mind kita dibentuk oleh informasi yang kita peroleh dari luar. Pendidikan di sekolah, pelajaran dari orangtua, pengetahuan tentang agama – semuanya itu telah membentuk mind kita. Itulah sebab adanya Mind-Islam, Mind-Kristen, Mind-Hindu, Mind-Buddhis dan Mind-Atheis. Kemudian, konflik antara mind yang satu dan mind yang lain tidak bisa dihindari, karena memang bahan baku setiap mind itu lain. Untuk menghindari konflik, para cendekiawan dan pakar agama selalu menganjurkan “dialog”. Demikian, mereka berharap bisa meminimalkan konflik. Harapan mereka tidak pernah terpenuhi. Kelompok-kelompok liberal dalam setiap agama telah melakukan eksperimen semacam ini. Setidaknya, sejak seribu tahun yang lalu mereka sudah mulai melakukan dialog. Hasilnya masih sangat tidak memuaskan. Paling banter, mereka menjadi toleran terhadap pandangan-pandangan yang berbeda. Toleransi semu yang sangat terbatas. Dan oleh karenanya, setiap kali masih saja terjadi konflik antar-agama, antar-suku dan lain sebagainya. Tidak ada jalan lain, kecuali kita melampaui mind yang sudah terkondisi dan diprogram oleh masyarakat, ketika masih sangat kecil dan tidak memiliki pilihan. Kemudian, setelah mind tersebut terlampaui, demi keberlangsungan hidup, kita perlu membentuk mind yang baru. Nah, mind baru kreasi kita ini harus dibentuk dengan menggunakan bahan baku prima sesuai dengan kesadaran kita. Ia yang cerah telah melampaui mind yang lama, yang dibuat oleh masyarakat. la telah berhasil menciptakan mind baru. Dan mind baru yang terciptakan oleh kesadaran tidak pemah fanatik, karena ia sadar bahwa di balik segala sesuatu yang terlihat berbeda ini ada kesatuan. Mereka yang meninggalkan Mind-Islam dan mengadopsi Mind-Kristen, atau meninggalkan Mind-Hindu dan mengadopsi Mind-Buddhis sesungguhnya masih berjalan di tempat. Mereka belum menyadari Kebenaran Hakiki di balik agama-agama yang nampaknya berbeda. Dalam bahasa I Ching, mereka tidak memperhatikan apa yang masuk ke dalam mulut mereka. Mereka meninggalkan satu program dan memasuki program lain. Itu tidak banyak membantu, karena program yang mereka masuki pun masih belum orisinil, masih merupakan hasil rekayasa masyarakat. Bahan baku bagi mind yang baru haruslah kesadaran kita. Dan kesadaran hanya dapat diperoleh dari pengalaman pribadi………

Sang Suami: Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan……… Selama pancaindra dikuasai pikiran, dikuasai oleh apa yang disebut upaadhi atau conditioning, maka Kebenaran akan tampak terbagi-bagi, terpecah-belah. Tampak banyak, padahal satu adanya. Upaadhi berarti “program” yang sudah berubah menjadi kebiasaan. Dari kecil kita diprogram untuk mempercayai kebenaran tentang berbagai hal. Beranjak dewasa, kita mulai kritis. Banyak hal tidak masuk akal, tetapi kita sudah terlanjur diprogram untuk mempercayainya. Karena itu terjadilah konflik di dalam diri. Banyak orang terperangkap dalam permainan lama: menolak conditioning lama, masuk conditioning baru pun akan membuat kita tetap jauh dari Kebenaran………..

Sang Istri: Pikiran manusia terdiri dari conscious mind dan subconscious mind dan superconscious mind. Pembentukan subconscious mind terjadi secara otomatis terbentuk dari kehidupan keluarga, pendidikan, lingkungan dan kehidupan serta genetika bawaan. Dalam buku “Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan” disampaikan……… Setelah kematian tubuh, subconscious mind yang tidak ikut mati dan akan lahir kembali itu mengalami proses “pengolahan”. Dan “pengolahan” tersebut dilakukan oleh superconscious mind. Berarti, lapisan superconscious mind pun sudah ada dalam diri setiap orang. Ada lapisan conscious mind, subconscious mind dan super conscious mind. Setiap lapisan sudah ada. Berkembang atau belum itu soal lain. Tetapi, sudah ada. Selama ini, lapisan superconscious mind berfungsi seperti accu mobil – dibutuhkan untuk start pertama. Setelah start, energi selanjutnya diperoleh dari bensin. Jika masih mau lahir kembali, superconscious mind sama pentingnya – bahkan mungkin jauh lebih penting – daripada subconscious mind. Tanpa superconscious mind, siapa yang akan mengelola dan menyimpan subconscious mind, lalu meneruskannya dalam tubuh lain? Tetapi, jika tidak mau lahir kembali, superconscious mind pun harus dilampaui. Dan harus dilampaui ketika kita masih “hidup”, masih ber-“tubuh”. Ditembus, dilewati, dilampaui, apa pun istilahnya, yang jelas superconscious mind harus berhenti bekerja, tidak berfungsi lagi. Demikian, bila pada saat kematian tidak ada yang mengelola subconscious mind dan tidak terjadi kelahiran kembali………

Sang Suami: Dalam buku tersebut juga disampaikan bahwa……… Subconscious Mind yang tidak ikut mati membentuk synap-synap asli dalam otak bayi yang baru lahir. Demikian, otak bayi mewarisi informasi, keinginan, dan obsesi yang tersimpan dalam Subconscious Mind tersebut. Selanjutnya, terbentuk pula bagian-bagian tubuh lainnya sebagai pelengkap pelaksana. Bahkan, Subconscious Mind bisa memilih tempat dan situasi, di mana tersedia stimulus-stimulus sesuai dengan yang dibutuhkannya. Dalam arti kata lain, “kita” memilih tempat lahir. Bahkan orangtua pun pilihan kita sendiri! Subconscious Mind seorang musikus bisa memilih lahir dalam keluarga yang senang dengan musik. Begitu pula, Subconscious Mind seorang penjahat, bisa memilih lahir dalam keluarga di mana ia bisa melakukan kejahatan. Semuanya tergantung pada kualitas Subconscious Mind kita sendiri! Semasa hidup, jika kualitas Subconscious Mind kita masih rendah sekali, setelah kematian pun kita akan memilih lahir dalam keluarga yang anggotanya sama-sama memiliki Subconscious Mind kualitas rendah. Kendati demikian, ada saja pengecualian. Seorang pemilik Subconscious Mind berkualitas baik, bisa memilih lahir dalam keluarga dengan kualitas rendah. Itu pun karena adanya “keinginan” yang tersimpan dalam Subconscious Mind. Biasanya ada keterikatan dengan keluarga tersebut. Ada keinginan untuk membantu keluarga tersebut, dan sebagainya. Setelah terjadi kelahiran kembali tergantung pada proses evolusi seseorang – bisa terbentuk synap-synap baru beserta reseptornya. Dan synap baru ini bisa memperkuat atau melemahkan synap-synap asli. Jadi proses evolusi justru terjadi pada saat mind terwujud sebagai wujud materi yang solid – yaitu tubuh. Dengan kata lain, tubuh beserta otaknya adalah alat untuk berevolusi. Karena itu, kita perlu lahir kembali berulang kali. Tanpa tubuh, kesadaran kita tidak akan meningkat. Kita membutuhkan tubuh sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran diri. Sayang sekali, jika tubuh ini disia-siakan, digunakan untuk hal-hal yang tidak penting……..

Sang Istri: Sekarang kita berbicara tentang unsur utama ketiga pada komputer dalam diri manusia yaitu kesadaran yang merupakan aliran listriknya. Kesadaran diri ini berbeda dari subconscious mind. Kesadaran bukanlah bagian dari subconscious mind. Dalam buku “Neo Psyhic Awareness” disampaikan……. Adakah intelegensi atau mekanisme di dalam diri manusia sendiri yang menjadi pengendali? Intelegensi atau mekanisme itu apa? Jawabannya: Kesadaran. Kesadaran berada di atas otak. Kesadaran melampaui pikiran. Walau otak sudah tidak bekerja, pikiran pun sudah tidak terdeteksi, kesadaran masih tetap ada. Dan, kesadaran ini bukanlah “kesadaran jaga”. Tetapi, just “Kesadaran”. Inilah Consciousness, inilah Awareness yang sesungguhnya. Bukan consciousness dalam pengertian psikologi dan medis saat ini, yang lebih tepat disebut “keadaan jaga”…….

Sang Suami: Dalam buku “Maranatha, Bersama Anthony de Mello Mabuk Anggur Kehadiran Tuhan” disampaikan……. Meditasi adalah Seni Kematian. Kita sebagaimana adanya saat ini harus mati! Terlalu banyak penyakit yang kita warisi dari masa lalu. Baru selesai mengobati yang satu, muncul yang lain. Very complicated! Lebih baik mati saja. Tetapi yang harus mati siapa? Badan? Ramai-ramai bunuh diri? Tidak ada gunanya, karena bagaimana pun juga badan akan mati. Bahkan “sedang” mati. Tanpa diapa-apakan juga, badan sudah dalam “proses” kematian. Mempercepat proses kematian badan tidak berguna. Yang harus mati adalah “identitas diri kita saat ini”. Yang harus mati adalah “kepribadian kita” yang sudah tercemari oleh “pikiran”, “alam bawah sadar”, “program-program kacau” yang kita dapatkan dari masyarakat dan lingkungan………. Semoga………

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

November 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: