Mewaspadai Conditioning dan Programming dari Masyarakat, Renungan Keduapuluhdua Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri.

Sang Istri: Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan “ disampaikan bahwa…….. Sejak lahir, kita berhadapan dengan kepercayaan. Bukan pendidikan tetapi kepercayaan. Bukan pula pendidikan tentang kepercayaan-kepercayaan tetapi dogma dan doktrin dengan salah satu kepercayaan yang sudah baku. Sudah tidak ada tawar menawar lagi. Sejak lahir, seorang anak sudah diberi cap agama tertentu. la tidak diberi kesempatan untuk memilih dan harus menerima apa yang sudah ditentukan oleh kedua orangtuanya baginya. Hak pilih kita sudah dirampas sejak kelahiran. Generasi Robot. Sudah di-set, di-program, dan dikendalikan oleh remote control yang berada di tangan masyarakat. Robot tidak membutuhkan rasa percaya diri. Cukuplah ia berserah diri pada pemegang kendalinya. Bahkan ia tidak memiliki kesadaran bahwa dirinya bergerak hanya bila digerakkan oleh sang pengendali. Kita hidup sebagai budak dari dogma, doktrin, kepercayaan, lembaga, institusi, atau kepentingan lain dari masyarakat tertentu. Kita tidak merdeka, belum merdeka. Kita tidak memahami arti kebebasan…….

Sang Suami: Benar istriku, dalam buku tersebut disampaikan pula…….. Manusia tidak diciptakan atau tercipta untuk menjadi robot. la pun tidak lahir untuk menciptakan robot-robot manusia dan tidak berhak mengubah manusia menjadi robot yang dapat di-set dan di-program. Sebagian besar Generasi Robot bahkan tidak sadar bahwa kemanusiaan dalam diri mereka sudah mati. Kemanusiaan mereka sudah dirampas sejak lahir. Kita telah menjadi korban dari kepentingan-kepentingan pribadi orang tua kita yang seharusnya memfasilitasi untuk berkembang dan tidak mengerdilkan jiwa kita supaya mengikuti kehendak mereka. Celakanya, orangtua kita pun demikian. Mereka pun adalah korban dari sistem yang sama. Ujung-ujungnya bukan mereka pula yang memegang kendali tetapi sebuah sistem yaitu masyarakat bersama institusi-institusi buatannya yang memegang kendali. Dengan kondisi seperti ini, rasanya sulit membawa perubahan total, drastis, dan sekaligus bagi seluruh umat manusia……..

Sang Istri: Dalam buku “Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern” disampaikan kepatuhan buta terhadap programming dapat membuat manusia menjadi mesin, persis seperti robot, membuat kita menjadi komputer. Program yang diberikan dapat menentukan setiap tindakan, ucapan, pikiran, perasaan dalam diri kita. Komputerisasi umat manusia sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka yang berkuasa, mereka yang menjadi pemimpin, mereka yang berada pada pucuk pemerintahan telah melakukan programming. Tentu saja, programming ini harus menguntungkan mereka, kita hidup dalam ketidaksadaran. Sepertinya dibawah pengaruh hipnotis massa. Tindakan, ucapan, pikiran bahkan perasaan kita pun sesuai dengan programming yang telah diberikan kepada kita……….

Sang Suami: Ada yang mengkritik mereka yang berbicara perihal agama melulu, seolah-olah masalah terbesar yang sedang dihadapi oleh bangsa kita adalah agama. Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern” disampaikan…….. Masalah terbesar yang dihadapi oleh bangsa kita bukan masalah agama. Tetapi masalah conditioning, masalah programming. Dan, masalah ini pula yang dihadapi oleh setiap bangsa, oleh seluruh umat manusia. Kita sudah terkondisi, terprogram untuk mempercayai hal-hal tertentu. Padahal kepercayaan harus berkembang sesuai dengan kesadaran kita. Jika terjadi peningkatan kesadaran , maka kepercayaan pun harus ditingkatkan. Seorang anak kecil mempercayai ibunya. Menjelang usia remaja, ia mulai mempercayai para sahabatnya, pacarnya. Kalau sudah bekerja, ia akan mulai mempercayai rekan kerjanya. Bersama usia dan pengalaman hidup , kepercayaan dia pun berkembang terus. Ia bahkan mulai mempercayai berita di koran. Ia akan mempercayai siaran radio dan televisi. Kepercayaan yang berkembang terus ini sangat indah. Kepercayaan yang berkembang terus itu membuktikan bahwa kesadaran anda sedang meningkat. Sampai pada suatu ketika, anda akan mempercayai Keberadaan. Pada saat itu, kepercayaan anda baru bisa disebut “spiritual”……..

Sang Istri: Benar suamiku, dalam buku tersebut juga disampaikan bahwa……. Seorang anak kecil di bawah usia lima tahun memperoleh conditioning dari orang tua, mendapatkan programming dari masyarakat. Lalu, berdasarkan conditioning dan programming yang diperolehnya ia menjadi Hindu atau Muslim atau Kristen atau Katolik atau buddhis, atau entah apa. Ia mulai melihat Kebenaran dari satu sisi, dan seumur hidup ia melihat Kebenaran dari satu sisi saja. Kebiasaan dia melihat Kebenaran dari satu sisi ini yang berbahaya. Dan, karena kebiasaan ini ditanamkan lewat conditioning agama, solusinya harus lewat agama pula. Seseorang yang bisa menerima setiap agama sebagai jalan sah menuju Tuhan telah terbebaskan dari conditioning. Sekarang, ia bisa menerima Kebenaran seutuhnya. Pandangan dia sudah mengalami perluasan. Telah terjadi revolusi dalam dirinya. Membebaskan diri dari conditioning agama juga tidak berarti bahwa anda melepaskan agama. Kenapa dilepaskan kalau agama itu memang merupakan jalan menuju Tuhan? Kenapa pula mempertahankannya kalau sudah sampai tujuan? Tiba-tiba kita akan memiliki wawasan baru tentang jalan dan tujuan, tentang agama dan Tuhan. Orang-orang yang berwawasan baru inilah yang kita butuhkan. Sekali lagi deconditioning agama hanyalah sarana. Tujuannya adalah revolusi diri, kelahiran manusia baru. Dan manusia baru yang didambakan itu tidak akan lahir dari universitas yang berkiblat pada salah satu agama. Ia tidak akan menjadi alumni salah satu universitas. Ia akan berkiblat pada universe – pada semesta! la akan menjadi alumni universe – alumni semesta! Biarkan terjadi revolusi dalam diri kita. Biarkan kepercayaan kita berkembang. Biarkan kesadaran kita meningkat………

Sang Suami: Dalam buku “Dari Syari’at Menuju Mohabbat, Sebuah Dialog” disampaikan…….. Kebiasaan menerima “kebenaran siap-saji” dapat disalahgunakan oleh penguasa, oleh imam agama apa saja. Kemudian, manusia menjadi robot. Ia dapat “disetel”, dapat “diprogram”, dapat diarahkan untuk berbuat sesuai dengan program yang diberikan kepadanya……… Ini yang dilakukan oleh “para otak teroris”. Lewat lembaga-lembaga pendidikan agama yang mereka gelar di mana-mana, sesungguhnya mereka memprogram otak-otak yang masih segar, dan mematikan kemampuannya untuk ber-ijtihad. Kemudian, dengan sangat mudah mereka memasukkan program Jihad versi mereka”. Dan terciptalah sekian banyak pelaku bom bunuh diri yang siap membunuh siapa saja yang menurut programming mereka bertentangan dengan agama, dengan syariat, dengan apa yang mereka anggap “satu-satunya kebenaran”……..

Sang Istri: Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan……… Ibarat Super Komputer yang Mahacanggih, ke dua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengai fungsinya masing-masing. Bagian Limbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehidupan. Sedangkan bagiai Neo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di”manipulasi”……… Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya. Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. Pengertian “manipulasi” di sini hendaknya tidak dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat negatif atau jelek karena manipulasi bisa juga untuk sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya kita semua telah mengalami “manipulasi” serupa ketika masih berusia di bawah 12 tahun……… Celakanya, sejak lahir, keinginan untuk membunuh pun sudah ada dalam otak manusia. Percaya atau tidak percaya sama teori Darwin, somehow kita mewarisi insting hewani seperti itu dari evolusi panjang. Itu sebabnya, lewat meditasi kita justru membersihkan otak. Deconditioning dalam bahasa meditasi, dan detoksifikasi dalam bahasa media—dua-duanya sama dan untuk memperbaiki kualitas otak. Kualitas otak tidak bisa diperbaiki dengan apa yang disebut “optimalisasi” otak. Tidak bisa dengan sekadar membaca buku atau diberi perintah, “Janganlah kau membunuh”. Keinginan untuk membunuh dan perangkat otak yang dapat mewujudkan keinginan itu harus diolah sedemikian rupa, sehingga keinginan untuk membunuh lenyap, Perangkat lunak otak dibersihkan dari program bunuh-membunuh. Kemudian, pemicu-pemicu dari luar pun tak mampu memicu kita untuk melakukan pembunuhan………..

Sang Suami: Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara” disampaikan……. Tanah, air, udara, api, dan ruang kosong—inilah lima elemen alami di balik ciptaan, di balik keberadaan. Badan kita memiliki kelima-limanya, oleh karena itu padat. Pikiran dan perasaan tidak memiliki semuanya. Setidaknya berkurang satu elemen, yaitu tanah, maka tidak padat, lebih cair. Untuk menempuh jarak antara Jakarta dan Johannesburg, badan membutuhkan waktu berjam-jam. Pikiran mampu menempuhnya dalam sekejap. Pikiran tidak perlu diupayakan. Kita lahir dengan pikiran. Yang perlu diupayakan ialah kesadaran. Pikiran adalah hasil jerih-payah kita di masa lalu. Itu yang membentuk lapisan-lapisan alam bawah sadar dan sebagainya. Kesadaran adalah hasil upaya kita saat ini. Pikiran telah membentuk kita. Kesadaran dapat mengubah kita. Pikiran adalah program yang sudah ter-install dalam diri kita. Ada bagian memori, ada bagian obsesi, ada khayalan, ada keinginan, ada impian. Program ini sudah baku, seluas-luasnya program kita tetap ada batasnya. Kesadaran membebaskan kita dari segala macam program. Pikiran memperbudak diri kita. Kesadaran membebaskan diri kita……. Semoga kesadaran membimbing diri kita semua dalam mengarungi kehidupan ini………

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

November 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: