Rasa Cemburu Penyebab Kejatuhan


Sumber FB Bapak Marhento Wintolo.

 

Mazmur 73: 1-3 mengingatkan bahwa Allah adalah Maha Baik bagi mereka yang berhati baik, bersih, dan tulus. Demikianlah Gusti. Ia adalah Maha Besar. Dan, sesungguhnya kita tidak dapat mengukur kebesarannya kecuali dengan menggunakan ukuran yang kita miliki. Bila ukuran kita adalah kepalsuan, maka Allah yang terukur oleh ukuran itu adalah Allah Maha Palsu. Ukuran apa, timbangan atau meteran apa yang terpakai – Gusti menjadi seperti itu dalam pandangan kita.

 

Sesungguhnya kita semua mengetahui nilai kebaikan, dan kita mau menggunakan ukuran kebaikan pula tapi ketika melihat “yang tidak baik” kaya raya, hebat kita cemburu. Kita ingin mengikuti mereka. Rasa cemburu ini, menurut Nabi Daud menjadi sebab kejatuhan kita. Sekali waktu murshid menegur seorang murid, “apa yang menjadi tujuan awalmu datang ke khanqah (padepokan)? Bukankah karena menginginkan keselamatan dirimu, dan kebebasan jiwamu? Kemudian melihat orang lain dimanja pikirannya, dielus-elus badannya, dihangatkan emosinya, kenapa merasa cemburu? Biarlah mereka yang masih butuh digaruk, mencari penggaruk badan. Biarlah mereka yang masih mencari kenyamanan pikiran dan perasaan mencari penyaman pikiran dan perasaan.

 

Tentukan apa maumu, penggaruk badan, penyaman pikiran/perasaan atau pembebas jiwa? Jangan cemburu. Kalau ingin bergabung dengan mereka silakan. Kalau mau bergabung dengan padepokan silakan juga, asal kamu tahu badanmu itu adalah pembatas kodrati pemberian Allah. Badanmu tidak bisa di 2 tempat pada saat yang sama. Maka badan itu hanya bisa berada di sini atau di sana bersama orang-orang yang kau cemburui”.

 

Kadang kita tertipu oleh pikiran kita sendiri, “aku pikiran positif. Aku tidak terpengaruh, di sini, di sana – bagiku sama saja.” Itu yangdisebut “pelacur” oleh murshid. Badan tidak bisa berada di mana-mana, badan tidaklah maha ada. Yang bisa berada dimana-mana memang pikiran dan perasaan yang tidak tenang, tidak puas, masih mencari terus. Spiritualitas menuntut penjinakan pikiran dan perasaan. Semoga pelita pencerahan menerangi jiwa kita!

 

Mazmur 73: 1: Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya

Mazmur 73: 2: Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.

Mazmur 73: 3: Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: