Mengasihi Gusti Pangeran, Renungan Keduapuluhempat Tentang Berguru


Sepasang suami istri setengah baya sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan pengingat diri. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku-buku Bapak Anand Krishna dan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai mereka jadikan referensi. Bagi mereka buku-buku adalah Surat Cinta dari Gusti, yang perlu dibaca dan dipelajari berulang-kali.

Sang Istri: Dalam buku Shrimad Bhagavatam digambarkan bahwa Shri Krishna mempunyai istri 16.000 orang. Dia bisa membagi diri dan hidup bersama 16.000 istrinya, masing-masing sesuai kehidupan istri-istrinya. Demikianlah bagi para Pecinta, Gusti Pangeran adalah satu-satunya lelaki yang ada dan kita semua yang bergender pria atau wanita adalah “perempuan” yang mengharapkan hidup berbahagia dengan-Nya. Gusti Pangeran mempunyai hubungan khusus dengan masing-masing Pencinta-Nya. Gusti bisa “membagi” diri-Nya dengan adil. Gusti Pangeran ibarat kekosongan, sehingga “suara” apa pun yang disampaikan kepada-Nya akan kembali kepada yang mempersembahkan “suara”-nya. Seseorang yang memberikan “suara” kebaikan maka kebaikan pula yang akan dia terima. Bila seseorang memberikan “suara”kejahatan, maka kejahatan pula yang akan kembali kepadanya.

Sang Suami: Aku ingat akan sebuah kisah serupa…… Seorang suami yang mempunyai empat istri pergi ke luar negeri selama beberapa bulan. Ini adalah cerita dimana sang suami bertindak sangat adil terhadap istri-istrinya seperti hubungan Sri Krishna dengan para “istri”-Nya yang sulit dilaksanakan oleh orang awam seperti kita. Selesai menyelesaikan tugas di luar negeri sebelum pulang sang suami telepon dengan keempat istrinya, mereka mau dibelikan oleh-oleh apa? Isteri ke-4 minta obat yang sangat manjur agar penyakitnya sembuh dan dia dapat melayani suaminya dengan baik. Isteri ke-3 minta oleh-oleh kain baju yang mahal dan kosmetik berkelas agar suaminya selalu berbahagia bersamanya. Istri ke-2 minta dibelikan buku hubungan suami istri ideal, agar hubungan mereka dapat langgeng. Istri ke-1 tidak minta apa-apa, baginya yang penting suaminya pulang dengan selamat…….. Istri ke-4 lambang manusia tipe ”arthi”, yang berdoa pada Tuhan bila berada dalam kesulitan. Istri ke-3 lambang manusia ”arthaarthi”, yang mohon kepada Tuhan diberikan anugerah duniawi. Kedua istri ini masih dalam tingkatan kesadaran ”untung-rugi” terhadap Tuhan. Istri ke-2 adalah tipe ”jignasu”, yang menekuni kerohanian, penuh cinta terhadap Tuhan, ingin mengetahui bagaimana bisa berhubungan dengan Tuhan. Isteri ke-1 tipe seorang ”jnani”, orang yang mengetahui kebenaran. Tindakannya tidak menggunakan pikiran lagi, dipenuhi kasih pada Tuhan.

Sang Istri: Suamiku, aku ingat sebuah wejangan sejati…… Nafsu dan kasih, keduanya ialah manifestasi kama. Ketika kita terobsesi dengan kemakmuran diri, kemakmuran keluarga, komunitas kita, lembaga kita, ini dan itu kita – maka kita menjadi penuh nafsu. Nafsu selalu egois dan mementingkan diri sendiri. Ia tak tahu bahasa tanpa pamrih. Kasih, di sisi lain, tahu bahasa tanpa pamrih. Ia dapat berkarya untuk keuntungan semua, untuk kemakmuran semua, untuk kebaikan semua, untuk kemajuan dan pertumbuhan semua. Kasih ialah ketika kita sungguh memahami semangat di balik kata-kata, “Satu untuk Semua, Semua untuk Satu”…… Di antara nafsu dan kasih ialah tangga cinta. Dalam nafsu, kamu ialah kamu, dan aku ialah aku. Nafsu itu individualistik. Cinta ialah persaudaraan, persahabatan dan kebersamaan. Cinta ialah persatuan kamu dan aku. Cinta ialah perjumpaan individualitas kita yang tadinya berjarak. Cinta ialah di mana kita bertemu. Cinta ialah di mana aku untuk kamu, dan kamu untuk aku…….. Nafsu selalu menuntut, mengambil, dan menerima. Cinta saling memberi dan menerima. Kasih memberi, memberi, dan memberi.

Sang Suami: Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan beberapa jenis Pencinta sesuai 3 sifat alam yang mempengaruhinya yaitu tamas-malas, rajas-agresif, satva-tenang dan pencinta tanpa syarat……. Seorang Pencinta Tamasic tampak sangat dinamis, aktif, sibuk dengan ritual-ritual keagamaan. Tidak mengenal lelah. Disuruh bangun tengah malam, mau. Disuruh apa saja, siap. Tapi, harus ada yang memberitahunya. Dia tak akan bergerak tanpa pemberitahuan. Dia harus diatur, diurus. Kadang oleh  buku, kadang oleh masyarakat dan hukum, kadang oleh seorang guru atau pemimpin.  Dalam tradisi Sufi, ada sebuah kata yang indah sekali, yaitu Ijtihad atau upaya. Dalam hal ini yang dimaksud adalah upaya untuk menemukan sendiri Kebenaran Hakiki. Upaya untuk menemukan makna tersirat di balik yang tersurat. Pencinta Tamasic tidak pernah ber-ijtihad. Dia malas. Dan, untuk menutupi kemalasan diri, dia akan selalu mencari pembenaran. “Kami kan orang awam, manusia biasa. Mereka itu para ahli tafsir. Biar merekalah yang menuntun kami……….

Sang Istri: Seorang Pencinta Rajasic tidak tumpul, tidak malas. Mereka cukup tajam, berpengetahuan. They have very sharp minds. Itu sebabnya mereka sibuk melakukan kalkulasi. Menghitung laba rugi. Mereka tidak akan melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan. Mereka akan menafikan ritus-ritus dan tradisi-tradisi lama “yang dianggap tidak berguna”. Dan mempertahankan apa saja “yang dianggap masih berguna”. Bagi para Pencinta Rajasic, segala sesuatu harus “berguna” – entah berguna bagi diri mereka, atau bagi masyarakat luas – sesuai “pandangan” mereka. Itu sebabnya mereka bisa memaksakan kehendak diri, pandangan pribadi. Apa yang mereka “anggap” benar harus diterima oleh masyarakat luas. Bila memiliki kekuasaan, para Pencinta Rajasic bisa menjadi tiran, kejam, keji. Mereka bisa mengangkat pedang dan memaksa kita untuk menerima kebenaran sebagaimana mereka definisikan, kebenaran sebagaimana mereka artikan……….

Sang Suami: Seorang Pencinta Satvic sadar bahwa kepuasan intelektual hanyalah “sebuah slogan”. Intelek tidak pernah puas. Sudah menguasai satu ilmu, dia ingin menguasai yang lain. Itu sebab para saintis tulen, para ilmuwan sejati – tidak pernah berhenti meneliti. Mereka tidak pernah puas. Kebebasan dari penderitaan juga sebuah slogan. Seseorang bisa merasa dirinya sudah terbebaskan. Padahal yang terbebaskan itu apa, “diri” yang mana? Seorang sadar juga masih bisa jatuh sakit. Taruhlah kesadaran dia sudah meningkat. Rasa sakit tidak mengganggunya lagi. Tetapi badan tetap saja sakit. Bagaimana mengabaikan kenyataan itu? Apakah “si badan” bukan bagian dari dirinya? Secara intelektual, memang bisa dijelaskan bahwa badan bukan aku, pikiran bukan aku, rasa bukan aku. Kita lupa bahwa pernyataan “badan bukan aku” datang dari badan. Dari mulut dan lidah yang masih merupakan bagian dari badan. Oleh karena itu, seorang pencinta Satvic akan menerima hidup seutuhnya. Dia tidak akan lari dari penderitaan. Dia akan menerima penderitaan se bagai bagian dari hidup. Dia sadar dan dia cinta kesadaran. Doa dan ibadahnya bertujuan jelas. Satu kata: kesadaran. “Ya, Allah, Ya Rabb, Widhi, Tao, Bapa di Surga… sadarkan diriku. Bantulah aku sehingga bisa mempertahankan kesadaran diri.” Bagi Narada, ketiga macam cinta ini masih “bersyarat”, masih bersifat, masih bertujuan, masih terbatas………

Sang Istri: Benar suamiku, dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan bahwa Cinta tak bersyarat lebih mudah……….. Sejak berabad-abad, sutra ini telah membingungkan sekian banyak penafsir dan penerjemah. Masa’ iya, cinta tak bersyarat lebih mudah daripada cinta bersyarat?……… Lain pemahaman kita, lain pemahaman Narada. Pemahaman Narada berbeda, “Untuk mencintai dengan cara tamas, rajas maupun satva, engkau harus bekerja keras, berupaya, karena tujuanmu jelas. Dan tujuan itu harus tercapai, engkau gelisah. Engkau memikirkan hasil melulu. Entah yang kau harapkan adalah kenikmatan sesaat atau kebahagiaan untuk selama-lamanya, harapan itu sendiri menggelisahkan.” Bayangkan.. Bila Anda menginginkan kemewahan hotel bintang lima, dompet Anda harus tebal. Bila Anda menginginkan kenikmatan Surga, deposito amal saleh Anda harus banyak. Setelah berdana-punia, beramal saleh pun kita masih ragu-ragu: “Cukup nggak, cukup nggak? Jangan-jangan tidak cukup!” Dalam hal beramal saleh pun kita berlomba dan bersaing. Dan perlombaan serta saingan semacam itu diperlukan. Itu sebabnya Narada tidak mengkritik para pencinta bersyarat. Mereka dibutuhkan. Berkat persaingan dan perlombaan ketat antar mereka, hidup di dalam dunia menjadi sedikit lebih nyaman bagi mereka yang kurang beruntung. Bagi para yatim piatu, janda, fakir miskin dan para jompo………..

Sang Suami: Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan, walau yang menjadi tujuan adalah kesadaran, tetap memerlukan kerja keras juga…… Bila yang kita inginkan adalah kesadaran, sulit juga. Kesadaran kita bagaikan layang-layang. Ketinggian dan kerendahan kita tergantung pada sekian banyak faktor di luar diri. Cuaca, angin, atap rumah, tiang listrik dan sebagainya. Tidak hati-hati, layang-layang pun putus dan jatuh. Apa saja yang dilakukan dengan tujuan tertentu bisa membawakan hasil. Bisa juga tidak. Cinta bersyarat pun demikian. Kadang membahagiakan, kadang menyedihkan. Kadang panas, kadang dingin. Kadang manis, kadang pahit. Sebaliknya, cinta tanpa syarat sungguh mudah. You have no goal to achieve. Tidak ada tujuan yang harus dicapai. Kita tidak mengharapkan sesuatu dari Tuhan. Kita tidak mendambakan sesuatu dari keluarga atau kerabat yang kita cintai. Kita mencintai “karena” cinta itu sendiri. Bahkan, penggunaan kata “karena” dalam hal ini sungguh dangkal. Love for love’s sake. Cinta karena cinta. Kata “karena” tidak dibutuhkan. Kata “karena” malah membingungkan. Tapi, terpaksa digunakan untuk membantu pemahaman kita. Itu saja………

Sang Istri: Walau sudah berupaya, sesungguhnya Kasih diperoleh berkat bantuan para suci dan berkah Tuhan. The Last word is Lord’s – Kata akhir adalah Kata Dia. Kata Awal pun kata Dia. Dan ketika akhir melingkar dan bertemu dengan titik awal, pertemuan itu pun karena Dia. Para suci “berada” di titik akhir. Dan berada pada titik itu, suara mereka sudah tidak berbeda dari suara Keberadaan. Itu sebab Narada menyejajarkan “bantuan” para suci dengan “berkah” Tuhan. Sesungguhnya, keberadaan para suci itu sudah merupakan “berkah”Tuhan. Kesempatan untuk mencium tangan mereka datang dari Tuhan……… Demikian disampaikan dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas”………..

Sang Suami: Dalam buku tersebut disampaikan…….. Kesimpulan Narada sungguh sederhana. Love means fulfillment. Terisi oleh cinta, jiwa tak akan menuntut sesuatu lagi. Bila sudah menemukan cinta, kita tidak akan mencari sesuatu lagi. Pencarian kita membuktikan bahwa kita belum menemukan cinta. Belum terjamah oleh Kasih……. Berhentilah mencari di luar diri. Hentikan pencarianmu. Kasih ada dalam dirimu. Sadarilah Keberadaan-Nya. Kembangkan kesadaran itu. Tingkatkan kesadaranmu, hingga pada suatu ketika, yang kau sadari hanyalah Kasih. Yang kau rasakan hanyalah Kasih. Yang kau lihat hanyalah Kasih…………

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

November 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: