Identitas Diri Anak Kecil, Renungan Ke-41 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “berguru”. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan setelah dipahami harus dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan artikel-artikel serta buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip wisdom dalam buku-buku tersebut agar tidak kehilangan esensi.

Sang Suami: Istriku, mari kita berolah-rasa tentang identitas diri…… Pengetahuan tentang baik dan buruk yang kita terima sejak kecil membentuk pola pikiran bawah sadar kita, sehingga pola tersebut  hampir menjadi permanen. Akan tetapi kita juga sering tidak sadar bahwa pola-pola yang telah terbentuk tersebut kadang saling bertabrakan  dan membingungkan diri kita sendiri. Kita mempunyai nilai tersendiri bagaimanakah identitas seorang saleh dan identitas seorang pendosa. Kita mempunyai banyak identitas diri misalnya sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai saudara, sebagai teman, sebagai laki-laki dan lain sebagainya. Karena pekerjaan, kita mempunyai juga identitas sebagai dokter, pengacara, pelatih, pengurus, alumni perguruan tinggi dan seterusnya. Pengetahuan juga menambah jumlah identitas kita sebagai orang bijaksana, matang, tegas, lembut, ramah dan masih banyak 1001 macam identitas lainnya. Persoalan bisa timbul setiap saat, misalnya pada waktu seorang laki-laki dewasa berbicara berdua dengan seorang perempuan cantik. Berbagai identitas bertikai, identitas sebagai laki-laki, sebagai suami, orang saleh, perayu, pemberi nasehat, dan ratusan identitas yang lain,yang semuanya bertikai memperebutkan dirinya. Contoh sederhana yang lain, uang di dompet sedang tipis, tetapi seorang sahabat mau pinjam duit, kita mau mempertahankan identitas sebagai sahabat yang baik atau kepala keluarga yang baik. Diri kita sering tidak tenang, karena berbagai identitas pribadi kita saling bertikai. Apa yang disebut kebahagiaan adalah suatu keadaan dimana sebagian besar pertikaian ini mereda. Kita menjadi polos dan tidak tergantung identitas ciptaan pikiran kita sendiri. Kita tidak terbelenggu identitas masa lalu dan bagaimana identitas kita di masa depan, di mata orang lain.

Sang Istri: Ketika kita masih bayi, dalam diri kita tidak ada pertikaian ini, karena bayi tidak mengalami konflik tentang hasrat-hasratnya. Belum ada pengetahuan tentang identitas antara orang saleh dan pendosa. Kebaikan dan keburukan mulai dipelajari ketika ibunya mengatakan suatu tindakan itu dengan anggukan atau gelengan kepala, ya atau tidak, boleh atau jangan, mana tindakan yang disukai ibu atau tidak. Dan si bayi mulai belajar menyenangkan ibunya. Kalau saja yang dikehendaki dirinya dan ibunya sama, dari dalam diri dan luar diri sejalan tidak ada masalah. Akan tetapi begitu dari dalam diri dan luar diri berbenturan mulailah timbul konflik. Benih rasa bersalah dan tindakan munafik sudah mulai tertanam. Temperamen “tak takut” si bayi mulai tercemar. Si bayi mulai menyangsikan nalurinya sendiri. Pertikaian di dalam diri sudah dimulai sejak kecil……. Apabila kita melakukan tindakan negatif kepada bayi yang masih polos, ia akan menangis atau berpaling. Suatu reaksi yang sehat untuk melepaskan energi-energi negatif, yang kalau tidak dilepaskan akan melekat dalam memori pikirannya. Seiring dengan bertambahnya usia, belajar dari pengalaman, anak tidak selalu bisa melampiaskan ekspresi secara spontan, demi, kesopanan, tahu diri, mematuhi orang tua, dia menjadi terbiasa tidak melepaskan energi-energi negatif. Sebagai orang dewasa kita telah menyimpan kemarahan, dendam, frustasi ketakutan selama bertahun-tahun. Kita sudah melupakan naluri untuk melepaskan energi negatif. Simpanan emosi negatif inilah yang harus dikeluarkan dengan cara ”cleansing” agar kita kembali kepada kepolosan anak kecil…….. Baca lebih lanjut

Iklan

Medan Kurukshetra Dalam Diri, Renungan Ke-40 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das,  buku-buku dan beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu pribadi mereka untuk memberdayakan diri.

Sang Istri: Suamiku, baru saja kita menghulang kembali file wejangan yang ada dalam topik Secangkir Kopi Kesadaran dari The Torchbearers Newsletter 5/2007………. Ketika seorang Sadguru mendirikan ashram atau padepokan yang menjadi harapan Beliau adalah menghadirkan suatu wadah dimana setiap orang yang ingin mewarnai hidupnya dengan spiritualitas dapat belajar bersama. Belajar bersama untuk meraih “Ananda” – kebahagiaan sejati. Jika ada satu orang yang meraih kebahagiaan – maka terpenuhilah tujuan suatu ashram. Dalam perkembangannya dibentuk juga sayap-sayap organisasi untuk memperkaya kebahagiaan, atau lebih tepatnya memperdalam “ananda”. Harapan tujuan awal adalah “ananda” terlebih dahulu, sehingga Sadguru dapat berbagi dengan orang lain. Setiap orang yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan ashram dan sayap-sayap lainnya mestinya selalu mengingat Satu Tujuan yaitu Ananda tersebut. Setiap orang butuh kebahagiaan dan sedang mencari. Namun lucu sekali, dalam pencarian itu mereka sering lupa tujuan. Dan, terjebak dalam kenyamanan dan kenikmatan sesaat.

Sang Suami: Benar istriku, dalam artikel tersebut juga disampaikan bahwa banyak orang yang lupa pada tujuan awalnya……… Apakah akan selalu terjadi seperti itu? Ya, selalu. Seorang artis, yang mendalami meditasi, kemudian tetap ingin bertahan dengan kemewahannya dan tidak berubah menjadi sederhana – tidak akan pernah meraih Ananda. Seseorang yang masih terobsesi dengan aksesori bermerek, kemudian memaksa diri untuk berubah tapi tidak pernah berhenti memikirkan hal-hal tersebut – tidak akan meraih ananda. Seseorang yang masih memikirkan kenyamanan bagi tubuh dan kenikmatan bagi indera masih berada pada lapisan jasmani sepenuhnya. Dia pun tidak akan meraih ananda. Let me put it straight, untuk meraih Ananda kau harus siap untuk hidup menjadi seorang fakir, seorang pengembara. Adalah hal lain jika Keberadaan mengangkat derajat seorang fakir dan menjadikannya seorang raja. Pengangkatan seperti itu sama sekali tidak merubah jiwa sang fakir, dia tidak terikat dengan sesuatu apapun. Melihat seorang Krishna yang begitu tampan dan necis, kita boleh bertanya apa bedanya dia dengan seorang “selebriti”? Beda. Apakah para “selebriti” kita mampu merubah Kurukshetra menjadi Dharmashetra? Baca lebih lanjut

Meditasi, Studi Dan Berkarya – Raja, Jnana Dan Karma, Renungan Ke-39 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan yang berhubungan dengan kesadaran. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka berusaha membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari referensi yang mereka gali. Mereka berusaha membuka hati dengan pemahaman secara repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri.

Sang Istri: Suamiku, kita baru saja membaca bersama file lama The Torchbearers Newsletter 2006. Dalam topik Secangkir Kopi Kesadaran yang isinya berbicara tentang perlunya latihan meditasi, memahami pengetahuan tentang kesadaran dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari…….. Latihan meditasi hanya membersihkan lahan jiwa kita. Studi adalah proses penanaman bibit. Kita memang sudah terbiasa mengambil apa saja yang terasa enak. Padahal tanpa sarana-sarana penunjang, rasa enak itu hanyalah untuk sesaat dan tidak akan bertahan lama. Setelah studi, masih ada tahap ketiga yaitu, menerjemahkan latihan meditasi dan studi kita dalam bentuk pekerjaan sehari-hari. Jika kita bekerja tanpa persiapan diri, maka kita akan selalu menyalahkan orang lain, keadaan dan sebagainya. Meditasi, studi dan kerja nyata – ketiganya merupakan tritunggal. Angkat salah satu di antaranya, dan hidup manusia akan menjadi pincang.

Sang Suami: Dalam artikel tersebut juga disampaikan…….. Mereka yang bekerja memiliki pemahaman bahwa meditasi dan studi tidak penting. Mereka meninggalkan keduanya dan menyibukkan diri dalam pekerjaan. Mereka yang menikmati meditasi tidak paham bahwa pekerjaan dan studi adalah pelengkap yang penting. Dan mereka yang melakukan studi meremehkan pekerjaan dan meditasi. Inilah akar persoalannya. Seseorang boleh bekerja 18 jam sehari untuk ashram, jika tidak dibarengi dengan meditasi dan studi, dia pasti gagal. Apalagi bila dia tidak memiliki keahlian dalam bidang pekerjaannya. Sebaliknya jika bekerja secara meditatif dan tidak melupakan tujuan bekerja, maka dengan keahlian yang pas-pasan pun akan tetap berhasil.

Sang Istri: Ketiganya merupakan kombinasi dari latihan meditasi-raja, pengetahuan-gyana dan pekerjaan-karma dan kemudian bhakti adalah warna dasarnya. Meditasi yang bukan raja murni, tapi bhakti raja yoga. Pengetahuan yang bukan pengetahuan murni tapi bhakti jnana yoga. Dan karma sebagai pengabdian, bhakti karma yoga. Baca lebih lanjut

Film Munna Bhai Dan Onepointedness, Renungan Ke-38 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri.

Sang Istri: Suamiku, kita pernah bersama-sama menonton film India, Lage Raho Munna Bhai, Lanjutkan Munna Bhai……. Pada awalnya, dikisahkan seorang pemuda bernama Munna jatuh cinta dengan suara Janhavi, seorang penyiar radio di Mumbai. Kebetulan sang penyiar sedang menyiarakan kontes quiz tentang Mahatma Gandhi. Semua orang boleh ikut dengan syarat dapat menjawab semua pertanyaan dalam quiz lewat telpon yang disiarkan langsung lewat radio. Munna ingin memenangkan kontes tersebut agar dapat menemui penyiar radio sang pujaan hati tersebut. Salah seorang teman Munna membantu memenangkan kontes dengan menculik dan menyuap sekelompok guru untuk memberi masukan ketika Munna menjawab quiz dari kontes tersebut. Sepuluh pertanyaan quiz tentang Gandhi dapat dijawab dengan sempurna dan Munna memenangkan kontes tersebut. Saat diwawancara lewat telpon sebagai pemenang kontes, Munna mengaku sebagai seorang profesor sejarah dan spesialis Gandhi. Akhirnya terwujudlah wawancara Munna dengan sang penyiar di radio. Janhavi, sang penyiar kemudian meminta Munna untuk memberikan kuliah tentang Gandhi untuk sebuah komunitas lansia yang tinggal di rumahnya…….. Dalam rangka mempersiapkan acara tersebut, Munna belajar tentang Gandhi di sebuah lembaga Gandhi. Selama tiga hari tiga malam, tanpa makanan dan tidur, Munna hanya membaca tentang kehidupan dan pandangan Gandhi. Begitu terobsesinya Munna dengan sang mahatma, sampai dia sampai lupa pada dirinya sendiri dan terserap dalam kehidupan Mahatma Gandhi. Begitu seriusnya Munna berfokus pada Gandhi sehingga dia bertemu dengan penampakan Mahatma Gandhi yang kemudian dipanggilnya “Bapu”. Selanjutnya Bapu  selalu muncul setiap Munna mendapatkan masalah. Seakan-akan otaknya telah terpenuhi dengan kebijakan Gandhi. Dengan bantuan Bapu, Munna berhasil membuat Janhavi terkesan dengan gaya hidup berdasarkan Gandhism, terutama kepatuhan terhadap non-kekerasan dan kebenaran, ahimsa dan satyagraha……

Sang Suami: Iya istriku…….. Selanjutnya Munna mulai mendapat kesempatan menjadi co-host radio-show bersama Janhavi membimbing pendengar radio untuk menggunakan Gandhigiri, Gandhism untuk menyelesaikan masalah sehari-hari para pendengar radio. Banyak sekali pendengar radio menyampaikan masalah kehidupannya dan terjawab dengan cara Gandhi tersebut. Acara radio tersebut menjadi terkenal dan sangat dicintai semua penduduk Mumbai, sehingga Munna menjadi sangat terkenal. Setiap pertanyaan tentang tindakan apa yang harus dilakukan terhadap permasalahan pribadi para pendengar lewat radio, selalu dijawab Munna berdasar bantuan Bapu. Hidup Munna kemudian berubah dan dia menjalankan hidup dengan cara Gandhi. Penerapan pandangan hidup Gandhi tentang Satyagraha dan Ahimsa dalam kehidupan modern adalah tematik isu sentral dari film.

Sang Istri: Sebetulnya ada pelajaran yang sangat berharga dari film tersebut, seseorang yang sangat fokus pada kehidupan dan pandangan Imam atau Guru atau Murshid dapat mendapatkan frekuensi Sang Murshid dan terjadilah quantum leap pada kesadarannya. Aku ingat buku “Youth Challenges And Empowerment” yang menyampaikan perihal onepointedness…….. Istilah ini sangat sulit untuk diterjemahkan: Memfokuskan Diri dengan “Pikiran yang Tak Bercabang”. Sesungguhnya one-“pointed”-ness jauh lebih berfokus daripada fokus. Maka, saya menambahkan “dengan pikiran yang tak bercabang”. Fokus pada suatu titik tidak menghilangkan segala sesuatu di sekitar titik itu. Persis seperti saat mengambil foto. Kita boleh berfokus pada suatu objek, namun apa yang ada di sekitarnya tetap ada. One-“pointed”-ness menghilangkan, melenyapkan segala sesuatu sekitar titik fokus. Seluruh kesadaran kita, pikiran kita, terpusatkan pada titik itu. Ini bukan konsentrasi. Konsentrasi adalah urusah pikiran saja. Dan, pikiran tidak pernah stabil, selalu naik turun, tidak bisa berada lama di suatu tempat atau pada suatu titik. Lagi pula, konsentrasi mesti selalu diupayakan. Sementara itu, one-“pointed”-ness bisa terjadi tanpa upaya, asal ada niat, hasrat, dan keinginan yang kuat “terhadap” titik yang dituju. Ketika titik yang dituju di”niat”kan sebagai satu-satunya kiblat dan kita mencintai kiblat itu, maka one-“pointed”-ness terjadi dengan sendirinya tanpa perlu diupayakan……. Baca lebih lanjut

SELAMAT HARI IBU 22 Desember 2010! Menghormati Wanita, Renungan Ke-37 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai da dan buku-buku serta artikel-artikel Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu diri pribadi mereka untuk memberdayakan diri.

Sang Istri: Suamiku, aku ingat sebuah wejangan bijak yang disampaikan sekitar 5 tahun yang lalu. Isinya lebih kurang demikian…….. Seorang bayi yang baru lahir diletakkan di dada seorang ibu dan dibiarkan mencari sendiri puting ibunya. Demikian saran pakar psikologi dari Barat agar Sang Bayi dengan nalurinya berjuang untuk mendapatkan sumber kehidupannya. Selama 9 bulan sebagai janin, bayi tinggal tenteram dalam rahim ibunya dan segalanya telah tercukupi. Bagi anak bayi yang baru lahir, payu dara ibu adalah sumber kehidupannya. Masalah apa pun yang dihadapi, saat Sang Bayi berada di dekat payudara ibunya, dia akan tenang kembali. Ketika bayi ini menjadi dewasa, dan bila ia seorang perempuan, ia menemukan sumber kehidupan itu ada di dalam dirinya. Celakanya, bila bayi yang menjadi dewasa ini seorang pria, ia merasakan betul perpisahan dari sumber kehidupan itu. Dan, ia pun mencari sumber itu dalam sosok perempuan yang lain. Tidak heran, bila seorang pria selalu memperhatikan payudara perempuan. Seorang pria yang merasa tidak sempurna, memerlukan sumber kehidupan itu, dan dia kawini seorang perempuan. Banyak duda separuh baya yang masih merasa belum sempurna, sehingga masih ingin kawin lagi. Tidak demikian dengan seorang janda, dia merasa sudah sempurna, sehingga sanggup hidup sendiri sampai akhir hayatnya…….

Sang Suami: Dilihat dari chromosom-nya, pria mempunyai kode XY dan masih membutuhkan X ganda untuk kesempurnaanya. Sebetulnya tidak harus seorang wanita, seorang sahabat pria atau Guru dengan kode XY pun yang mempunyai sifat keperempuanan atau keibuan sudah cukup. Sedangkan wanita dengan chromosom XX sudah merasa sempurna. Sebetulnya kesempurnaan bukanlah suatu benda. Kesempurnaan adalah perasaan, rasa. Bila seseorang merasa sempurna, sempurnalah orang itu. Seorang pria merasa tidak sempurna, hingga suatu ketika ia menemukan sumber kehidupan ke”perempuan”an di dalam dirinya. Kemudian dia merasa sempurna dan tidak akan kawin lagi walau menduda. Kalau seorang pria mulai menggunakan rasa, apalagi nuraninya, dia tidak akan kawin lagi ketika ditinggal mati isterinya. Ada hubungan antara sifat feminin dengan rasa sempurna. Baca lebih lanjut

Sukacita, Renungan Ketigapuluhenam Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta artikel-artikel Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri. Dan berfungsi sebagai suara nurani yang mengingatkan mereka saat melakukan pilihan dalam kehidupan sehari-hari.

Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membaca file wejangan lama yang sebenarnya telah mengingatkan kita sejak dulu, hanya rupanya kita tetap belum paham-paham juga……… Perasaan atau emosi tidak stabil. Tidak pernah stabil, tidak bisa stabil. Bila kita berbagi “perasaan”, maka sesungguhnya kita berbagi ketidakstabilan. “Joyfulness” atau keceriaan atau sukacita bukanlah sebuah emosi. Bukan perasaan. Joyfulness lahir dari kesadaran. Yang kita berbagi lewat jaringan maya ini bukanlah perasaan dan emosi yang selalu bergejolak – tetapi Joyfulness yang tidak mengenal gejolak. Joyfulness, Ananda, Bliss, Keceriaan, Kebahagiaan Sejati atau apapun sebutannya, berada diatas emosi. Melampaui perasaan. Bliss adalah “ananda” yang kita alami sendiri. Joyfulness adalah “ananda” yang dapat kita bagikan. It is one and same thing. Jalaluddin Rumi bercerita tentang keluhan Nabi Musa……… Ya, Sang Nabi pernah mengeluh: “Ya Allah, Ya Rabb…. Apa yang salah dengan Firaun? Kenapa begitu dungu? Sudah diberi sekian banyak bukti, masih tidak mau percaya?” Yang Maha Suci menjawab, “Adakah seorang Musa bila Firaun tiada?” Ia menjelaskan lebih lanjut, “Kau tidak tahu setiap malam Firaun berdoa dan merintih karena harus berperan sebagai Firaun.” Sang Nabi memahami maksud-Nya……… Ya, baik Musa maupun Firaun – dua-duanya sedang memainkan peran masing-masing. And yet, bila harus memilih dan harus berpihak – kita akan tetap memilih Musa. Akan tetap berpihak padanya. Asal kita sadar bahwa tiada satu pun makhluk Allah yang patut kita kutuk. Masih ingat ketika Taliban menghancurkan patung-patung Buddha di Afghanistan? Patung bisa dihancurkan, kebudhaan diri tak dapat dihancurkan…….. Hukum Alam berjalan rapi sekali. Yang menghancurkan, hancur sendiri. Yang menindas, akan tertindas……… Baca lebih lanjut

Membaca, Memahami Dan Melakoni, Renungan Ketigapuluhlima Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan yang berhubungan dengan Membaca. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari referensi yang mereka gali. Berusaha membuka hati dengan pemahaman secara repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri.

Sang Istri: Suamiku, kembali aku membaca file wejangan lama di dunia maya yang menyentuh jiwa……… Dalam tradisi India Kuno, istilah yang digunakan untuk membaca kitab suci bukanlah “membaca”, tetapi “mempelajari dengan merenungkan” – Paath. Dalam tradisi Timur Tengah, para pelajar kitab suci juga dianjurkan untuk ber-“ijtihad” – berupaya keras untuk “memperoleh” pencerahan “batin” lewat “apa yang tertulis itu”. Salah satu sebab utama konflik antar agama adalah pemahaman kita selama ini seolah “kitab suci”, “wahyu”, “pesan ilahi”, “shruti”, “injil”, “berita baik” atau apapun sebutannya bagi apa yang sekarang kita sebut “kitab suci” itu diturunkan dalam “bahasa manusia”. Entah itu bahasa Yahudi, Sanskerta, Aram, Pali ataupun Arab. Mungkin memang demikian adanya. Sang Khaliq bersabda dalam bahasa-bahasa tersebut. Atau, mungkin “Ia” bersabda dalam bahasa ruhani, bahasa kalbu. Dan, kemudian para penerima “pesan” tersebut “menerjemahkannya” dalam bahasa mereka masih-masing, dengan mengingat tingkat kecerdasan/pemahaman audiens mereka, para pendengar mereka. Maha Suci Allah, Maha Tahu Rabb….. Apa yang kutulis ini pun sekadar “pemahaman”-ku tentang apa yang pernah kudengar. Maha Suci Allah, Maha Tahu Rabb, Ia memberi kita kebebasan untuk membedah kata-kata yang tertulis atau berusaha untuk “menyelami” makna dibalik kata-kata itu…….. Sebuah wejangan yang perlu direnungkan, sang penulis pun menulis bahwa yang ditulisnya pun sekedar pemahamannya……..

Sang Suami: Benar istriku, dalam buku “Tantra Yoga” disampaikan bahwa………. Seorang Mursyid pernah menegur muridnya, “Bila ingin mengutip kitab suci, jangan lupa menambahi, “Demikianlah pemahamanku tentang Injil, atau tentang Al-Qur’an, atau tentang Veda, atau tentang Dhammapada………” Sang Mursyid betul. Memang Begitulah. Setiap orang menafsirkan ayat-ayat suci sesuai dengan kemampuan dan pemahamannya. Setiap ayat seluas laut. Cawan otak kita tidak mampu menampung satu pun ayat secara menyeluruh. Apalagi seisi kitab suci……….

Sang Istri: Oleh karena itu kita harus membaca suatu kitab suci seperti membaca surat cinta, dimana kasih menjiwai proses pembacaan tersebut. Dalam buku “Neo Psychic Awareness” disampaikan…….. Saat mengaji, membaca kitab suci, melakukan paath atau pengulangan sebagaimana disebut dalam bahasa Sindhi, bahasa ibu saya, saya ingatkan diri saya, janganlah engkau membacanya seperti novel. Janganlah engkau membaca kitab suci hanya karena ingin tahu cerita yang ada di dalamnya. Janganlah engkau tergesa-gesa, terburu-buru, hanya karena ingin tahu akhir cerita. Bacalah seperti engkau membaca surat cinta………..

Sang Suami: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan cara membaca kitab…….. “Membaca” yang dimaksud bukanlah seperti membaca novel, atau buku lain, “Membaca” di sini adalah “membaca dengan penuh khidmat dan khusyuk”. Dalam bahasa Sansekerta disebut “parayana”. Salah satu cara parayana, sebagaimana dianjurkan oleh Baginda sendiri, adalah membuat niat untuk menyelesaikan salah satu kitab dalam 1, 2, 3, 4, atau bahkan 52 minggu. Asal, setelah membuat niat itu, kita betul-betul melaksanakan apa yang telah kita niatkan. Membaca 1 halaman, atau 100 halaman, tetapi, jika kita sudah niatkan akan menyelesaikan satu kitab dalam waktu 1 minggu, maka kita menepati janji itu. Ini adalah salah satu cara untuk melatih rasa percaya diri, bahwasanya, apa yang kuhendaki dapat kulaksanakan. Aku bisa. Dengan mematuhi janji yang kita buat dengan diri sendiri, sesungguhnya kita tidak membantu siapa-siapa kecuali diri kita sendiri. Dan, dengan membantu diri, kita memperoleh berkah dari Hyang Maha Ada karena itulah tujuan ciptaan. Ya, tujuan ciptaan adalah bahwasanya kita ikut mencipta, menentukan, dan mengukir garis hidup kita masing-masing………..

Sang Istri: Pada waktu membaca kita menyadari bahwa setiap guru dalam kehidupan kita memberikan sesuatu yang penting kepada kita. Dalam buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif” disampaikan……… Hidup ini tidak mengenal titik akhir. Roda kehidupan, Kala Chakra, Roda Sang Waktu, bergulir terus. Selama masih hidup, belajarlah terus. Jangan berhenti belajar. Jangan menutup dirimu. Dan yang paling penting, jangan melupakan para gurumu. Setiap guru memberikan sesuatu kepadamu. Kalau kamu tidak bisa menerima lebih banyak darinya, itu salahmu sendiri. Gurumu yang pertama, yang mengajar A, B, C pun sangat berjasa. Tanpa belajar hal-hal mendasar, bagaimana bisa peroleh pelajaran selanjutnya?…………

Sang Suami: Ada sebuah contoh bagaimana membaca sebuah kitab yang baik. dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan bahwa……… Atma Bodha hanyalah sebuah buku. Tanpa meditasi, Atma Bodha tidak lebih dari bundelan kertas bertinta. Bila tidak ditindaklanjuti dengan meditasi, ulasan ini tak lebih dari ocehan biasa. Dalam tradisi Hindu, kitab suci tidak “dibaca”, tetapi “dipelajari”. Istilah yang mereka gunakan adalah Paathi—to learn, sebuah proses yang berjalan seumur hidup. Buku Teks seorang Paathi, seorang “pelajar” kitab suci adalah “kesucian” kitab itu. Dan, proses penyucian diri tak pernah berhenti. Bila kita seorang “pembaca”, membaca Atma Bodha satu kali sudah cukup. Sudah tahu isinya, ya sudah. Para pembaca professional bahkan hanya melakukan scanning. Seorang Paathi akan mempelajarinya berulang kali. Dan, tetap saja merasa tidak cukup. Setiap kali “belajar”, ia memperoleh wawasan baru, insight baru. Dan setiap insight mendekatkan dirinya dengan Ia yang berada inside………. Seorang pembaca “hanya” menggunakan mind untuk membaca. Dan, mind memang cepat bosan, jenuh. Setiap kali membutuhkan mainan baru. Berbeda dengan para meditator. Mereka adalah penyelam. Yang diselami lautan sama dan itu-itu juga. But every time there is a different kind of joy. Setiap pengalaman adalah pengalaman baru. Apa yang terjadi dalam sanggama? Bukanlah kita mengulangi sesuatu nyang sama? Tetapi setiap pengulangan menghasilkan pengalaman baru. Kebahagiaan baru………….

Sang Istri: Kita meyakini semua kitab suci merupakan pesan ilahi yang sangat berharga bagi kehidupan manusia, akan tetapi kita tetap perlu menggunakan pikiran yang jernih dalam memahaminya. Sebagai contoh dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles” disampaikan……… Saya mesti mengingatkan bahwasanya Yesus bicara dan mengajar dalam bahasa Aramaik. Di zaman Yesus, orang Yahudi sekalipun lebih banyak menggunakan bahasa Aramaik daripada bahasa Ibrani. Setiap kata yang terucap oleh Yesus dalam bahasa tersebut hanyalah terekam dalam ingatan para pengikut selama hampir 70 tahun, sebelum akhirnya ditulis dalam bahasa Yunani. Terjemahan dari bahasa Yunani ke bahasa Inggris dilakukan 500-an tahun yang lalu (buku ini ditulis lebih dari 100 tahun yang lalu, maka, sekarang mesti dibaca “600-an tahun yang lalu”). Itulah Terjemahan resmi yang disebut “King James Version”. Banyak kata dalam Bahasa Inggris yang sangat populer di masa itu, sudah tidak populer lagi. Bahkan, banyak kata yang telah kehilangan makannya atau tidak lagi digunakan untuk memaknai hal yang sama. Oleh sebab itu, sungguh tidak tepat jika kita mengartikan setiap kata yang terucap oleh Yesus secara baku, tanpa memperhatikan konteks di mana kata-kata itu terucap oleh-Nya. Jika kita melakukan hal itu, kita malah kehilangan mana dari apa yang hendak disampaikan Yesus. Kita tidak akan pernah memahami Yesus tanpa mempelajari ajaran-Nya sebagai satu keutuhan dengan konteks sejarah dan keadaan zaman-Nya……….

Sang Suami: Bagaimana pun yang penting adalah pengalaman diri sendiri, membaca buku tanpa praktik nyata hanya membebani otak saja. Dalam buku “Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik” disampaikan……… Kedamaian yang langgeng terwujud apabila terjadi peningkatan kesadaran dalam diri. Seseorang harus “mengalami”-nya sendiri. Membaca buku, mengumpulkan informasi tidak berguna. Bahkan bisa menjadi hambatan, rintangan dalam perjalanan spiritual kita. Itu sebabnya, saya tidak pernah bicara tentang “pengalaman-pengalaman” dalam alam meditasi. Apabila saya menceritakan, Anda akan berhalusinasi. Anda akan mencari pengalaman-pengalaman seperti itu, padahal pengalaman setiap individu berbeda. Anda mencari pengalaman yang sama. Lantas Anda berpikir bahwa Anda sudah sampai, padahal berjalan pun belum…………

Sang Istri: Dalam buku “Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern” disampaikan………. Seorang pujangga bicara dari pengalaman. Apa yang ia sampaikan bisa juga disampaikan oleh seorang yang tidak punya pengalaman. Anda pernah ke Amerika atau tidak, anda bisa saja bicara tentang Amerika. Dengan membaca beberapa buku tentang Amerika, anda bisa menguasai pengetahuan tentang Amerika. Tetapi pengetahuan bukanlah pengalaman. Seorang yang pernah “mengalami” Amerika, bisa “merasakan” Amerika. Yang hanya membaca buku tidak bisa begitu. Seorang pujangga bicara dari pengalaman, seorang cendikiawan bicara dari pengetahuan. Mereka berbeda. Itu sebabnya, apabila seorang Pujangga berbicara, kata-kata dia bisa mengubah sejarah. Yesus, Musa, Muhammad, Budha, Krishna, Lao Tze, para nabi dan avatar dapat mengubah kita. Para cendikiawan tidak mampu mengubah kita. Bahkan mengubah diri sendiri pun, mereka belum mampu. Sang Pujangga melihat dan memahami kerja alam……….

Sang Suami: Tanpa pengalaman pribadi pemahaman kita tentang kitab belum tentu tepat. Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran” disampaikan………. Apa yang mereka anggap “religi” atau “agama” atau “din” sesungguhnya adalah “pemahaman” mereka tentang agama. Dan pemahaman adalah produk “pancaindra”. Buku-buku agama dibaca lewat mata, penjelasan para pakar didengar lewat telinga. Kemudian, informasi itu dicerna oleh otak dan terciptalah sebuah “pemahaman”. Kemudian tergantung “kualitas” dan “referensi” yang ada di dalam otak kita, pemahaman kita bisa berbeda dari pemahaman orang lain, sebagaimana “otak” kita berbeda kualitas dari otak orang lain. Berdasarkan pemahaman itu pula, kita menciptakan “standar” tolok ukur. Kalau begini, baik. Kalau begitu, tidak baik………..

Sang Istri: Pemahaman tidak akan membantu kita, harus dibarengi dengan laku, dengan penghayatan. Dalam buku “Bersama J.P Vaswani Hidup Damai & Ceria” disampaikan…….. Sekadar pemahaman tidak akan membantu kita. Tidak akan terjadi perkembangan jiwa dalam diri kita. Sekadar pemahaman bahkan bisa mengelabui kita. Kita pikir sudah paham, ya sudah cukup, lantas kita duduk diam kita lupa melakoni apa yang kita pahami. Sekadar pemahaman sangat berbahaya, karena kita bisa tertipu olehnya. Pemahaman tanpa laku, tanpa penghayatan, tidak bermakna sama sekali, tidak berarti sama sekali. Apa yang kita baca, apa yang kita pahami, harus kita lakoni pula…….. Semoga………..

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Desember 2010