Nada, Irama Dan Nyanyian Ilahi, Renungan Keduapuluhtujuh Tentang Berguru


Setelah bersama-sama mendengarkan lagu “Shri Hanuman Chalisa”, sepasang suami istri melanjutkan  pembicaraan mereka mengenai nyanyian yang menyentuh jiwa. Mereka menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensi bahan pembicaraan mereka.

Sang Istri: Suamiku, banyak pejalan spiritual yakin bahwa bukan “bahasa kata-kata” yang dapat menghubungkan manusia dengan keilahian, akan tetapi “bahasa suara” yang berirama. Dalam buku “The Secret Doctrine” Madam H.P. Blavastsky menyampaikan……… Kata-kata manusia tidak bisa sampai kepada keilahian. Kata-kata tersebut mesti dibangkitkan menjadi bahasa ilahi. Bahasa tersebut disusun oleh suara, bukan dengan kata-kata. Bahasa atau mantra-mantra ini menjadi wahana paling efektif dan merupakan kunci pertama yang membuka pintu komunikasi antara Yang Fana dengan Yang Kekal………

Sang Suami: Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”dijelaskan bahwa……. Sewaktu mendengar lagu atau musik yang indah, tiba-tiba kita merasa terlepaskan dari pikiran, memasuki alam rasa. Begitu memasuki alam rasa, sesungguhnya memasuki alam “spiritual” juga. Keindahan yang menjadi pemicunya. Dan alam spiritual, alam “keagamaan” sesungguhnya tidak ada di luar diri tetapi di dalamnya. Keindahan adalah esensi, intisari setiap agama………..

Sang Istri: Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan……… Dalam lagunya Dangerous, Michael Jackson menyanyi……… Dalam banyak kejadian, ketika aku menari, aku merasakan sentuhan dari sesuatu yang suci. Dalam banyak peristiwa, aku merasakan semangatku meluap dan menjadi satu dengan semua yang ada. Aku menjadi bintang dan rembulan. Aku menjadi kekasih dan yang dicintai. Aku menjadi pemenang dan yang ditaklukkan. Aku menjadi majikan dan bawahan. Aku menjadi penyanyi dan nyanyian. Aku menjadi yang tahu dan yang diketahui. Aku terus menari dan kemudian, ini menjadi tarian abadi penciptaan. Pencipta dan yang diciptakan larut dan menyatu dalam keceriaan yang begitu dalam. Aku terus menari…sampai suatu saat yang ada hanyalah tarian………

Sang Suami: Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” tersebut juga disampaikan……… Alam semesta ini adalah musik. Di mana-mana ada musik. Jika kita cukup sensitif terhadap vibrasi suara, kita dapat dengan mudah mendengar suara merdu Sang Agung. Dan di dalam suara Sang Agung itulah, di dalam lagu Sang Agung itulah, kita semua bertemu…….. Dalam buku “Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi” disampaikan…….. Getaran getaran yang dikeluarkan oleh suara, oleh kata kata tertentu, tidak hanya mempengaruhi fisik kita, tetapi juga pikiran dan rasa kita. Bahkan lingkungan sekitar kita pun terpengaruh olehnya. Obat obatan atau operasi, tidak dapat melakukan hal itu. Itu sebabnya para mistik jaman dahulu menggunakan mantra.  Getaran getaran yang dikeluarkan oleh suara, oleh kata kata tertentu. Jangan terkecoh oleh sebutan. “Mantra” berarti man-tra atau alat untuk menyelaraskan “man” atau mind manusia……….

Sang Istri: Dalam buku “Seni Memberdaya Diri 2, Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran” disampaikan………. Segala sesuatu dalam alam ini sedang bergetar, sedang menari. Rasakan tiupan angin, dengarkan suara air, perhatikan kibaran api semuanya berirama, bergetar, sedang menari. Dan tarian semesta ini begitu indah, begitu harmonis! Molekul-molekul dalam atom pun sedang menari, sedang bergetar. Tidak ada sesuatu apa pun yang statis. Tarian mampu mempersatukan kita dengan Semesta. Jadilah gelombang yang sedang menari dalam lautan kehidupan. Jangan berpisah dari lautan kehidupan. Sadarilah kesatuan dan persatuan kita dengan lautan kehidupan……..

Sang Suami: Lagu-lagu rohani mungkin adalah nyanyian tertua di dunia.Setiap kebudayaan dan peradaban telah mengetahui daya magis dari nyanyian lagu-lagu rohani. Tradisi menyanyikan lagu-lagu rohani telah berlangsung selama berabad-abad dan dimasukkan dalam berbagai ritual dan upacara sakral……… Istriku, coba kita perhatikan mereka yang sedang melakukan lagu-lagu “sankirtan”, lagu-lagu pujian…….. Seorang penyanyi dengan suara merdu menyanyikan lagu spiritual dengan diiringi musik sebagai latar belakangnya. Keberadaan musik adalah sebagai pengantar lirik sang penyanyi, tidak mengganggu suara sang penyanyi. Lirik sang penyanyi begitu jelas terdengar menyentuh kalbu para pendengarnya. Seluruh orang yang hadir kemudian menirukan lirik sang penyanyi, bait demi bait, dengan segenap rasa. Kegiatan menyanyi bersama ini disebut bhajan. Bhajan akan terasa lebih berjiwa ketika Sang Guru, Sang Murshid mengikuti kegiatan bhajan tersebut……….

Sang Istri: Benar suamiku, masing-masing peserta yang berpartisipasi sesungguhnya mempunyai ego sendiri-sendiri, dan mempersatukan ego tidaklah mudah, bahkan sangat sulit. Akan tetapi musik bersifat universal dan dapat mempersatukan jiwa semua peserta yang berlainan egonya. Musik dan lirik spiritual dapat merasuk diri, dan dapat diterima semua peserta bhajan dengan jiwa terbuka. Penyanyi adalah “The Leader”, Sang Pemimpin. Sang Pemimpin tidak bernyanyi mengikuti irama musik seperti yang terjadi pada musik karaoke. Para pemain musiklah yang mengikuti nyanyian Sang Pemimpin. Seluruh yang hadir mengulangi lirik lagu Sang Pemimpin dengan lirik yang sama. Di situlah para pemain musik dan para peserta bhajan bertindak menafikan ego untuk mengikuti Sang Pemimpin. Penyanyi handal yang menyanyikan dengan sepenuh jiwa, diikuti pemain musik yang harmonis dan peserta bhajan yang patuh menghasilkan lagu yang indah dan menyentuh hati. Seandainya saja hal tersebut terjadi pada Pemimpin Negara handal yang bekerja sepenuh jiwa, diikuti para pejabat (pemain musik) yang telah menghilangkan ego pribadi dan warga negara (peserta bhajan) yang patuh dan yakin pada Sang Pemimpin maka kemajuan suatu negara sudahlah pasti diambang mata.

Sang Suami: Lagu-lagu spiritual yang dinyanyikan sepenuh hati dalam bhajan terasa melembutkan jiwa para pendengarnya. Dalam buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia” disampaikan……… Hanya mereka yang telah menemukan “Lapisan Dalam” akan menikmati tarian dan nyanyian. Mereka yang telah menemukan kelembutan diri akan menghargai pula kelembutan di luar diri. Mereka yang baru menyadari kekasaran diri tidak dapat menghargai kelembutan di luar………

Sang Istri: Musik adalah imitasi alam. Musik alam dapat tercipta dari guntur, badai, aliran sungai ataupun hujan. Dan alam peka sekali terhadap harmoni, keselarasan. Adanya disharmoni selalu ditanggapi dan diadakan penyesuaian. Pada diri manusia juga terdapat irama abadi dari getaran seluruh organ-organ……. Pada waktu seseorang sedang marah, irama tubuhnya akan berbeda dengan pada waktu bersantai ria. Seseorang yang peka terhadap musik akan berkembang “rasa”-nya. Dia akan dapat merasakan keharmonisan suasana batinnya. Dia akan merasakan selaras dengan alam atau tidak tindakannya. Musik mempengaruhi fisik, seperti denyutan nadi, kedipan mata, irama napas dan aliran darahnya. Musik juga berpengaruh kepada intelegensi, sehingga pikiran dapat bekerja secara sistematis dan harmonis . Kemudian musik juga berpengaruh terhadap emosi, bisa membuat tenang atau bergejolak.

Sang Suami: Musik yang hebat tercipta dari hati bukan dari pikiran. Musik mempengaruhi otak kiri terutama masalah pola atau keteraturan. Musik juga mempengaruhi dengan kreatifitas dan imaginasi yang berhunungan dengan otak kanan. Karena musik bersifat non-verbal, maka musik bisa menjangkau bagian otak yang disebut limbik, pusat emosi manusia. Musik dapat mempengaruhi limbik yang menyebabkan cinta kasih dan ketenangan. Musik dapat dijadikan sebagai penanda keselarasan kejiwaan. Budi pekerti luhur hanya tumbuh pada jiwa yang dapat merasakan musik, yang penuh kelembutan.

Sang Istri: Nada-nada alam semesta diungkapkan menjadi nada-nada musik lewat kepekaan rasa. Lewat nada-nada musik tersebut manusia melakukan pemujaan dan perenungan spiritualnya. Nada-nada musik bukan sekedar seni, tetapi merupakan bahasa jiwa. Sebagai media dan bentuk komunikasi universal, nada-nada musik melewati bahasa verbal, diterima indera pendengaran, diteruskan ke hati, pusat rasa. Karena Rasa itulah, maka nada-nada musik melewati batas-batas etnis, agama, komunitas dan negara.

Sang Suami: Dalam buku, “Gamelan Stories: Tantrism, Islam, and Aesthetics in Central Java”, Judith Becker menemukan bahwa pada zaman pertengahan, di Indonesia, gamelan digunakan dalam ritual puja. Dia mengutip Sastrapustaka yang mengungkapkan makna esoteris nada-nada gamelan yang berhubungan dengan chakra, panca indera dan rasa. Musik gamelan digunakan sebagai alat, yantra. Membantu tahapan meditasi sebelum keadaan samadhi tercipta. Lewat musik tersebut orang bisa melakukan penjernihan pikir, pembeningan hati dan pemurnian jiwa……… Pementasan gamelan sendiri bertujuan untuk acara keagamaan pada awalnya. Musik gamelan mengungkapkan keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledak-ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Seluruh sikap hidup dan filosofi masyarakat diimplementasikan dalam suatu orkestra musik  gamelan melalui tarikan tali rebab, paduan seimbang bunyi kenong, pukulan kendang dan gambang serta gong pada setiap penutup irama.

Sang Istri: Keharuman suatu bangsa terletak pada keluhuran budayanya. Berpijak dengan hal tersebut di atas memberikan pengertian pula bahwa melestarikan peninggalan budaya adiluhung merupakan kewajiban seluruh komponen bangsa. Seperti makhluk hidup, kesenian pun perlu dipelihara. Bisa saja suatu kesenian lahir dari tengah kita, tetapi kita kurang menghargai dan tidak dipelihara, maka dia akan hidup di negeri lain yang menghargainya…….

Sang Suami: Dalam suatu pergelaran gamelan, beragam alat dengan beragam nada mempunyai peranan yang sama, asalkan semuanya mengikuti satu irama kesepakatan, sehingga komposisi yang indah dan harmonis tercipta. Suatu pengimplementasian dari falsafah Bhinneka Tunggal Ika, nampaknya berbeda-beda tetapi esensinya satu kesatuan jua………..

Terima Kasih Bapak Anand Krishna


Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Desember 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: