Amarah, Cemburu Dan Napsu, Renungan Keduapuluhdelapan Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, buku-buku dan beberapa artikel Bapak Anand Krishna dijadikan referensi. Mereka mengutip sejumlah wisdom tersebut agar tidak menghilangkan esensi.

Sang Istri: Suamiku, kita baru saja membaca bersama file wejangan bijak delapan tahun yang lalu…… Semua keputusan, apapun sifatnya, yang diambil dalam keadaan marah – sudah pasti menyebabkan penderitaan. Lebih baik, “withdraw“, menarik diri, minta maaf dan tidak melanjutkan apa yang memang tidak perlu dilanjutkan. Tetapi, ego kita, keakuan kita, keangkuhan kita selalu menghalangi withdrawal seperti itu: “Apa yang akan dikatakan oleh rekan kerjaku, oleh mitra-kerjaku, oleh orang-orang yang sudah tahu tentang keputusanku, oleh mereka yang terlibat di dalamnya? Bagaimana dengan modal yang telah kutanamkan? Bagaimana dengan janjiku?” Amarah, sebagaimana dikatakan oleh Mahamaya, tidak bisa menjadi landasan bagi suatu “kerjasama”. Bagaimana menjadikan amarah sebagai landasan bagi kemitraan? Lebih baik mengakui kesalahan kita saat ini dan sekarang juga sebelum berlarut-larut dan kesalahan itu menjadi “Bukit Dosa”. Amarah, walau kita tidak mengakuinya, dan selalu ingin menutupinya, tidak dapat ditutup-tutupi…….

Sang Suami: Dalam wejangan tersebut disampaikan……… Seorang teman pernah ditegur oleh seorang Svami, “Your Anger has created all your problems.” Teman itu masih bersikeras, “Svami, my anger?” Walau bersikerasnya dengan tidak cara konyol seperti kita. Svami, Sang Guru mengatakan: “Ketika kau sedang membawa mobil di Jalan Raya, caramu membawa mobil itu sudah cukup untuk membuktikan amarahmu.” Teman itu baru sadar. Ia baru menyadari kesalahannya. Beberapa tahun sebelumnya, ia pernah ditunjuk oleh Svami sebagai “supir pribadi” untuk perjalanan pendek 120-an kilometer. Baru jalan 30-an kilometer, Sang Guru menghentikan kendaraan dan pindah ke kendaraan lain dalam rombongan yang biasa mengikuti beliau dalam perjalanan. Ia baru SADAR kenapa Sang Guru pindah mobil. Banyak peringatan yang kita peroleh dari Sang Guru, tetapi…… Persoalannya: Kenapa seorang pemarah biasanya tidak sadar bila dirinya penuh dengan amarah? Kenapa ia membutuhkan “seorang Guru” untuk menunjukkanya? Karena, amarah telah menjadi “sifat” dia. Sifat Bawaan, yang sulit dideteksi……… Kita membutuhkan bantuan soerang Murshid untuk menunjukkanya. Kita sendiri TIDAK MUNGKIN dapat melihatnya. Amarah yang terbawa dari masa kelahiran sebelumnya, Amarah yang kita carry forward itu, menjadi apa yang biasa disebut “sifat bawaan”. Dan, sifat ini tidak bisa dilenyapkan sama sekali. Berkat seorang Guru sifat ini bisa ditekan, akan tetapi membutuhkan kerja keras untuk menjaga supaya sifat ini tidak muncul ke atas. Seperti hewan, ia harus dijinakkan. Tidak bisa dibunuh. Ada juga yang memiliki sifat bawaan “cemburu”. Biasanya orang dengan sifat bawaan seperti itu menjadi penjudi. Ia ingin memperoleh sesuatu secepat mungkin dan tanpa kerja keras. Kemudian, ada yang sangat bernapsu terhadap jenis lain, karena sifat bawaannya juga. Biasanya orang itu tidak dapat melihat sesuatu dengan jernih. Ia akan terpengaruh oleh lawan jenis dengan mudah. Ia juga akan selalu menikmati perhabatan dengan lawan jenis. Ia akan mengorbankan apa saja demi napsunya. Apa yang terjadi bila amarah, cemburu dan napsu bertemu? It is a total destruction! Kita sudah diberi peringatan. Jika kita tidak mendengarnya, tidak mengindahkannya, kita tidak bisa menyalahkan orang lain atas apa yang sesaat lagi sudah pasti terjadi…………

Sang Istri: Mengenai amarah, aku ingat buku “Sehat Dalam Sekejap, Medina” yang menyampaikan…… Ribuan tahun sebelum lahirnya psikologi modern, para pujangga di Timur sudah mulai memikirkan masalah-masalah psikis dan efeknya terhadap kesehatan manusia. “Amarah”, misalnya, oleh Sri Krishna dijelaskan sebagai akibat dari rasa kecewa. Dan rasa kecewa itu sendiri merupakan akibat dari keinginan-keinginan yang tak terpenuhi. Jadi, sesungguhnya “amarah” adalah akibat keinginan manusia. Karena itu, untuk mengatasi amarah, hanya ada dua jalan. Memenuhi setiap keinginan atau tidak berkeinginan sama sekali…….. Yang pertama, memenuhi setiap keinginan jelas mustahil. Kursi presiden hanya satu. Yang menginginkannya sekian banyak. Jelas, yang tidak memperolehnya akan kecewa. Yang kedua, tidak berkeinginan. Tidak mustahil, tetapi sulit sekali. Kesadaran kita harus selalu prima dan berada pada lapisan yang teratas, sehingga kita bisa menerima “ada adanya”, tanpa keinginan pribadi. Dalam keadaan ini, kita sudah berserah diri sepenuhnya kepada Kehendak ILahi, no question asked, not mine but let Thy will be done! Kita tidak lagi mempertanyakan kebijakan-Nya, tetapi menerima sepenuhnya…..… Para avatar, para mesias, para nabi, para master dan para Buddha berada dalam kelompok kedua. Mereka tidak memiliki keinginan pribadi. Karena itu, mereka tidak pernah marah. Tidak pernah marah “seperti” kita. Kualitas amarah mereka berbeda. Amarah mereka bukan produk keinginan yang tak terpenuhi. Amarah mereka adalah produk kepedulian mereka terhadap keadaan kita. Amarah mereka lahir dari rasa kasih. Bila melihat seorang Yesus sedang marah-marah, jangan meragukan kemesiasannya. Amarah seorang Yesus sedang marah-marah, jangan meragukan kemesiasannya. Amarah seorang Yesus atau seorang Muhammad amat sangat manis amarah yang dapat mengupas daki ketidaksadaran dari batin kita……

Sang Suami: Mengenai cemburu, dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena” disampaikan…… Rasa cemburu adalah musuh utama kita. Terdorong oleh rasa cemburu, manusia bisa saling membunuh, saling menjatuhkan. Rasa cemburu membuat kita lupa akan segala kenikmatan yang sudah kita miliki. Dalam lapisan kecemburuan, kita lupa akan berbagai berkat yang sudah kita nikmati. Sudah memiliki kesehatan, sudah memiliki pekerjaan tetap, sudah ada tabungan di bank, keluarga pun oke-oke, apa lagi? Tidak, kita tidak puas. Dalam lapisan alam kecemburuan, melihat kendaraan milik tetangga yang lebih keren dari kendaran kita, kita merasa cemburu. Ada kalanya rasa cemburu kita meningkat menjadi organized jealousy, kecemburuan yang terorganisasi; Dalam lapisan kecemburuan, kita meluapkan amarah yang dilandasi oleh kecemburuan terorganisir itu, dengan berani karena kita berada dalam gerombolan. Ketika suatu institusi merasa cemburu terhadap institusi yang lain, jealousy pun terorganisasi. Berada dalam lapisan kecemburuan merampas akal budi kita, mengacaukan pikiran kita, membuyarkan pandangan kita, dan hilanglah kemampuan kita untuk membedakan yang tepat dari yang tidak tepat………

Sang Istri: Sekarang masalah napsu. Dalam buku “Ah, Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern” disampaikan…….. Seks, napsu birahi, bukanlah sesuatu untuk dihindari. Kita tidak bisa menghindari. Seks, napsu birahi sesungguhnya sangat alami. Satu-satunya yang “masih” alami. Makanan bisa diganti dengan “pil”. Tidur pun bisa direkayasa dengan “pil”. Kecerdasan otak pun bisa ditingkatkan dengan “pil”. Tetapi seks “belum” bisa diganti dengan pil. Pelampiasan napsu birahi harus lewat seks. Entah dengan cara masturbasi atau senggama, lalu untuk senggama anda mencari lawan jenis atau sejenis atau bahkan vibrator dan boneka yang terbuat dari plastik, tetapi “masih” harus dilakukan sendiri. Belum ada pil yang jika ditelan akan membuat anda lupa seks. Mereka yang sakit dan tidak bisa melakukan hubungan seks juga masih berpikir tentang seks. Tadinya “badan” mereka yang make love, sekarang “pikiran” mereka. Seks, napsu birahi muncul dari kesadaran rendah, kesadaran badaniah. Yang harus kita lakukan bukanlah mengharamkan sentuhan dan duduk kesebelahan, tetapi meningkatkan kesadaran diri. Peningkatan kesadaran diri inilah yang disebut “Pembangkitan Kundalini” dalam tradisi Yoga dan Tantra………

Sang Suami: Dalam buku “Seni Memberdaya Diri 2, Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran” disampaikan…….. Selama kesadaran kita masih berada pada salah satu dari 3 lapisan chakra terbawah, energi diri kita bersifat cairan. Dan mengikuti sifat dasarnya, cairan akan selalu mencari dataran rendah. Libido seks, napsu birahi, membuktikan bahwa kesadaran kita masih berada pada lapisan-lapisan chakra terbawah. Energi kita masih dalam bentuk cairan dan masih mencari penyaluran lewat hubungan seks, masturbasi dan lain sebagainya. Selama kesadaran kita masih berada pada lapisan-lapisan chakra terbawah, yang terjadi adalah Virya Paat. Energi yang keluar (Paat) dari diri kita masih bentuk cairan-cairan, itulah arti kata Virya. Ejakulasi Seksual itulah Virya Paat. Sebaliknya, peningkatan chakra atau peningkatan kesadaran akan mengubah sifat energi. Cairan Virya akan menjadi uap. Dan mengikuti sifat dasar uap, ia pun akan naik ke atas. Berada pada tingkat Kesadaran (Chakra) Teratas, pada tingkat Kesadaran Murni apabila seorang master mengalami “orgasme spiritual” kejadian itu disebut Shakti Paat. Energi yang keluar (Paat) berupa Kekuatan Murni atau Shakti. Ejakulasi Spiritual itulah Shakti Paat……….

Sang Istri: Dalam buku “Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra” disampaikan…….. Napsu atau passion hendaknya tidak selalu dikaitkan dengan seks. Obsesi dengan harta atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran dan dengan jabatan atau kedudukan semuanya adalah passion, napsu. Semuanya ini terjadi apabila kita belum mengalami peningkatan kesadaran. Mereka yang terobsesi oleh seks, oleh harta, oleh nama, oleh jabatan tidak akan pernah mengalami cinta dalam kehidupan. Mereka belum tahu cinta itu apa. Mereka belum punya cinta dalam diri mereka. Dari seks, dari birahi ke cinta dan dari cinta ke kasih, peningkatan kesadaran ini yang dibutuhkan oleh dunia kita saat ini. Peraturan-peraturan kita yang tidak berarti, upaya-upaya kita yang tidak bermakna, semuanya sudah terbukti gagal menciptakan dunia yang damai, yang lebih indah dan layak dihuni………

Sang Suami: Dalam buku “Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra” tersebut juga disampaikan…….. Kasih atau compassion adalah birahi terhadap alam semesta. Bila napsu birahi terhadap seorang dapat ditingkatkan menjadi birahi terdapat alam semesta, kita adalah seorang pengasih. Passion dan compassion, kedua kata dalam bahasa Inggris ini, berasal dari suku kata yang sama. Compassion berasal passion terhadap alam semesta, terhadap Tuhan, terhadap Yang Abstrak, Yang Tak Dapat Dijelaskan……… Istriku, mari kita garis bawahi pesan di akhir wejangan bijak di awal pembicaraan…….. Kita sudah diberi peringatan. Jika kita tidak mendengarnya, tidak mengindahkannya, kita tidak bisa menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi.…….. Seorang Guru sudah memberikan ”loving, sharing and caring” kepada kita, tetapi melaksanakan atau tidak itu pilihan kita sendiri……. Semoga kita semua sadar………

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Desember 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: