Kesetaraan, Renungan Ketigapuluh Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang pengaruh conditioning oleh masyarakat. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai dan buku-buku serta beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari referensi yang mereka gali. Membuka hati dengan pemahaman secara repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri.

Sang Istri: Dalam buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa” disampaikan……. Jiwa-jiwa yang beribadah kepada Yang Maha Tinggi, akan seketika menyadari kerendahannya dan kesetaraanya dengan jiwa-jiwa lain, dengan sesama manusia! Bila kita menganggap diri kita beragama dan rajin beribadah, namun tidak merasakan kesetaraan dan kebebasan macam itu, maka ibadah kita masih dangkal. Bila kita masih menciptakan class antar manusia, maka jiwa kita belum beragama, belum beribadah. Class atau derajat rendah-tinggi (ketidaksetaraan) itu hanya terasa oleh kaum Asura, Daitya, Syaitan, Raksasa karena kepala mereka masih tegak. Mereka belum belajar menundukkannya di hadapan Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi itu! Sekali bersujud di hadapan-Nya, diri kita menjadi sadar, bahwa semut pun tidak lebih rendah dari diri kita. Semut dan cacing pun adalah makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Namun, apa gunanya bersujud, menundukkan kepala, bila keangkuhan kita tidak ikut menunduk?………

Sang Suami: Dalam buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa” tersebut disampaikan……. Kesetaraan dan kebersamaan dalam bahasa Soekarno “Gotong Royong”, dalam bahasa Muhammad “Umma”, dalam bahasa Buddha “Sangha”, dalam bahasa Inggris “Communal Living” dalam bahasa  Bali “Banjar” tidak dapat dipaksakan. Kesetaraan lahir dari kesadaran, kesadaran kita sendiri. Kesadaran manusia. Kesadaran akan kemanusiaan kita. Kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan yang kita warisi bersama. Kemanusiaan yang saleh, beradab. Kemanusiaan yang menerima makhluk-makhluk lain sebagai saudaranya. Termasuk bebatuan dan pepohonan, sungai-sungai dan lingkungan. Sehingga ia tidak akan menggunakan kekerasan terhadap siapa pun jua. Kebersamaan dan kesetaraan hanyalah memungkinkan bila kita kembali kepada  Sila Ketuhanan dalam Pancasila. Dasarnya haruslah Ketuhanan. Bila tidak, kita tidak bisa bersama. Kita tak akan pernah merasakan kesetaraan. Perbedaan antara kita banyak sekali, tapi yang dapat mempersatukan kita hanyalah Kesadaran Ilahi. Kesadaran akan adanya Satu Kekuatan Tunggal yang berada dimana-mana, meliputi kita dan dalam diri kita……….

Sang Istri: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan……… Memberi makan kepada seekor anjing, atau kepada-Ku, sama saja. Anjing itu pun sesungguhnya adalah jiwa. Badan dia lain, badan kita lain. Tetapi, setiap badan merasakan lapar. Saat lapar, ada makhluk yang bisa bersuara, dan minta makan. Ada juga yang tidak bisa bersuara, tidak bisa minta. Yakinilah, siapapun yang memberi makan kepada manusia, hewan, atau siapa saja yang lapar, sesungguhnya telah memberi makan kepada-Ku. Inilah Kebenaran Hakiki……….

Sang Suami: Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas” disampaikan bahwa Gusti Yesus mengajarkan kesetaraan………. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia (tetanggamu) seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.” (Markus 12 : 30-31)……… Adalah dalam konteks kesetaraan pula ketika Yesus berperan supaya kita mencintai tetangga, atau sesama manusia, sebagaimana mencintai diri………. Apa arti mencintai tetangga, atau sesama manusia? Seandainya saya hendak makan siang bersama istri saya, di atas meja makan hanyalah tersedia sepotong kue pai dan sisa roti yang sudah kering. Kemudian saya ambil pai untuk diri saya dan menyisakan roti kering untuk istri, yang konon saya cintai, apakah dengan cinta seperti ini saya dapat mencintai tetangga saya? Jelas tidak. Jika saya mencintai istri saya, saya akan menginginkan kue itu untuk dia sebagaimana saya inginkan untuk diri saya. Jika saya mencintai tetangga saya, segala kenikmatan yang saya inginkan untuk diri saya akan saya inginkan untuk dia pula………

Sang Istri: Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas” tersebut juga disampaikan………. Jika saya mencintaimu, apa yang saya upayakan untuk diri saya akan saya upayakan pula untuk dirimu. Apa yang saya upayakan bagi anak-anak saya akan saya upayakan pula bagi anak-anakmu. Saya tidak akan membiarkan dirimu dizalimi sebagaimana saya tidak akan membiarkan diri saya dizalimi. Saya tidak akan menerima ketidakadilan terhadap mereka yang kaucintai, sebagaimana saya tidak menerima ketidakadilan terhadap mereka yang saya cintai……….. Ketika kita menginginkan bagi orang lain segala apa yang kita inginkan bagi diri sendiri, tidak ada lagi kompetisi. Tidak ada perlombaan, persaingan, dan pertikaian. Untuk apa memperebutkan lempengan emas jika bukit emas di depan mata itu milik kita bersama? Kita semua memiliki akses terhadap Sumber Abadi yang tak terbatas dan tak pernah habis harta kekayaan yang berlimpah Kerajaan Allah yang Maha Agung. Apa yang mesti kita khawatirkan?………

Sang Suami: Para pemimpin besar berbicara mengenai kesetaraan. Dalam buku “The Gospel of Obama” disampaikan……… Mendiang Presiden Soekarno dari Indonesia berbicara mengenai “membangun tatanan dunia yang baru”. Reformis Martin Luther King Jr. memimpikan “tentang keadilan sosial dan kesetaraan. Visi dan impian Presiden Obama juga demikian, “Kita hanya bisa membangun suatu dunia baru, jika kita bergandengan tangan dan bekerja sama. Jika tidak visi ini hanya menjadi mimpi.”………

Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membuka file artikel mengenai kesetaraan……… “Bhinneka Tunggal Ika” adalah kearifan lokal kita. Kita tidak mengimpornya dari luar. Dan, kearifan lokal ini adalah cerminan budaya bangsa kita. Budaya kita bukanlah budaya yang berbasiskan tradisi saja – entah tradisi agama atau yang lain – tetapi berbasiskan “pengalaman spiritual”. Spiritualitas kita berada di atas kepercayaan-kepercayaan yang kita warisi dari nenek moyang kita sendiri atau dari luar. Seorang Mpu Tantular yang beragama Buddha bisa mengapresiasi ajaran Shiwa dan menemukan persamaan serta kesamaan dalam hal kedua aliran besar tersebut. Ini adalah hasil dari “pengalaman pribadi” Sang Mpu sendiri. Ia tidak meminjamnya dari pengalaman dan pencerahan orang lain…….

Sang Suami: Benar istriku, agama belum tentu dapat menemukan persamaan-persamaan seperti itu. Karena, “pendirian” suatu agama adalah “pernyataan” tentang tidak setujunya sang pendiri terhadap agama-agama lain yang ada pada zamannya. Bila ia setuju dan hanya ingin melakukan pembaharuan, maka jelas ia tidak akan mendirikan agama baru…….. Spiritualitas adalah sebuah kesadaran bahwa “agama” memang berbeda-beda, dan tidak dapat dipersatukan. Namun, “esensi” dari setiap agama, intisarinya satu dan sama. Kesadaran ini tidak diperoleh lewat pengetahuan, tetapi lewat pengalaman pribadi………

Sang Istri: Dalam buku “Indonesia Baru” disampaikan…….. Gotong royong tidak dapat dilakukan seorang atau kelompok masyarakat yang tidak dapat menerima perbedaan, kebhinekaan… Gotong royong hanya terjadi dalam iklim kesetaraan dan kebersamaan. Gotong royong hanya dapat hidup dalam masyarakat yang menerima perbedaan sebagai Hukum Keberadaan yang tak dapat diganggu-gugat. Semangat gotong royong hanya dapat dipertahankan bila kita mampu melihat benang-merah yang mempersatukan masyarakat. Bagaimana aku dapat “bergotong royong” denganmu bila aku melihatmu lebih rendah dariku? Untuk bergandengan tangan denganmu, aku harus berada di atas podium yang sama bersamamu. Aku tidak bisa berada di atasmu, tidak bisa pula berada di bawahmu………

Sang Suami: Benar istriku, dalam  buku “Indonesia Baru” tersebut juga disampaikan…….. Bagaimana aku dapat “bergotong royong” denganmu bila kelompokmu, agamamu, sukumu, pemahamanmu dan sebagainya kuanggap lebih rendah dari kepunyaanku? Bagaimana aku dapat “bergotong royong” denganmu bila aku belum mampu menerima perbedaan yang ada di antara kita? Perbedaan agama, perbedaan kepercayaan, perbedaan status sosial, ekonomi dan sebagainya dan seterusnya… Aku hanya dapat “bergotong royong” dengamu bila kau menerima perbedaan kelas, dualitas dan sebagainya sebagai kenyataan hidup. Kenyataan hidup yang justru melahirkan semangat gotong royong. Tanpa adanya perbedaan, tanpa adanya penerimaan terhadap perbedaan, gotong royong menjadi bermakna karena adanya perbedaan. Semangat untuk berkarya bersama walau berbeda – itulah gotong royong. Gotong royong tumbuh dalam kandungan kebhinnekaan. Kemampuan kita berkarya bersama walau banyak perbedaan antara kita – itulah “Persatuan”! Manusia Indonesia Baru tidak hanya bersatu, namun melihat “kesatuan” yang menjiwai persatuaannya……… Semoga kita semua turut aktif dalam mengupayakan datangnya Indonesia Baru…….

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Desember 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: