Kepemilikan, Renungan Berguru Ketigapuluhempat


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “berguru”. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta artikel-artikel Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip pandangan dalam berbagai referensi tersebut agar tidak kehilangan esensi.

Sang Istri: Suamiku, aku tertegun saat membaca kembali file wejangan di dunia maya tujuh tahun yang lalu……. Radha dan Meera, “sama-sama” mencintai Krishna. And yet, there love was not the same. Tampak sama, namun cinta mereka berbeda. Radha hidup sejaman “dengan” Krishna. Meera tidak hidup sejaman, tidak hidup dengan Krishna – ia hidup di “dalam” Krishna. Radha ingin “memiliki” Krishna. Meera ingin menjadi “milik”-Nya. Menghadapi seorang murshid, kita pun dapat memilih: Mau bersikap seperti Radha, atau seperti Meera. aku memilih Meera…. Penyerahan Diri Meera sungguh tak tertandingi. Ia tidak peduli apakah Krishna “menerimanya” atau tidak… Bagi seorang Meera, yang penting adalah “penyerahannya”, “persembahannya”. Ia tidak kecewa bila Krishna tidak memperhatikannya: “Bolehlah kau, wahai Krishna, memutuskan tali cinta dan melupakan diriku – aku tak akan pernah memutuskannya. Aku akan selalu mencintaimu.” Lain Meera, lain Radha… Seruling bambu di tangan Krishna pun dapat menggelisahkan dirinya: “Kau lebih mencintai seruling itu….” Bagi Meera, jangankan seruling bambu, kehadiran Radha pun hanya menambah kegembiraannya. Senantiasa ia bersukacita: “Krishna, kau sungguh hebat! Kau dapat memikat hati sekian banyak Gopi.” Tapi, janganlah kau terpengaruh oleh pilihanku… Pilihanku bagiku, pilihanmu bagimu… Nandalaalaa Navaneetchoraa Raadhaa-Pyaare Nandalaal… Maayee Meeraa Maanasa Choraa Hridaya-Nivaasi Nandalaal….  O Krishna, Darling of Radha, Stealer of Meera’s heart, Steal too my heart.

Sang Suami: Wejangan tersebut menyadarkan kita, bahwa selama ini kita ingin memiliki Tuhan yang senantiasa siap sedia untuk mengabulkan permohonan kita dan bukan mengabulkan permohonan orang lain. Dalam buku “Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah” disampaikan…….. Kita ingin “memiliki” Tuhan. Bayangkan Tuhan pun ingin kita “miliki”! Betapa angkuhnya manusia. Kita belum berserah diri. Sadar atau tidak, kita malah berkeinginan agar Tuhan menyerahkan Diri-Nya kepada kita. Senantiasa siap sedia untuk mengabulkan setiap permohonan. Aneh! “Keinginanmu untuk ‘memiliki’ Tuhan masih berasal dari kesadaran rendah, dari naluri hewani. Tingkatkan kesadaranmu. Jadilah “milik” Dia! Orang yang sudah menjadi “milik-Nya”, berserah diri sepenuhnya akan selalu waspada. Dia akan menghormati dan mencintai Ciptaan-Nya, tidak akan merusak lingkungan, mencelakakan atau menyakiti orang lain, akan “menjalani” agama dalam hidup sehari-hari………

Sang Istri: Benar istriku, dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” disampaikan……… Kita masih mengejar kemewahan, kekayaan, pujian, dan kedudukan. Kita masih membutuhkan anak, siswa, murid, penggemar, dan sebagainya. Kita belum cukup percaya diri. Tanpa kerumunan massa dan jumlah orang yang menjadi bagian dari kerumunan itu, kita masih menganggap diri kita kurang, lemah, dan tak berdaya. Kita masih belum siap untuk menerima jiwa, menerima energi, menerima spirit. Kita masih menganggap lumpur materi sebagai satu-satunya kebenaran. Tidak berarti ketika kita menerima energi, materi mesti ditinggalkan. Tidak sama sekali. Menerima energi berarti menerima materi sebagai ungkapan terendah dari energi. Materi adalah manifestasi dari energi yang sama. Tapi materi bukanlah satu-satunya ungkapan energi……..

Sang Suami: Benar istriku, dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan……… Tidak, kita tidak dapat hidup tanpa kepemilikan. Kita bisa saja memilih hidup telanjang di tengah hutan – kita tetap punya badan. Badan ini juga kepemilikan. Kita bisa batasi barang-barang kita, tetapi kita takkan pernah ada tanpa kepemilikan. Yang bisa kita lakukan adalah “tidak posesif”. Nikmati apa yang kita punyai. Nikmati semua yang kita dapatkan secara benar, asalkan jangan terobsesi karenanya. Jangan malah kita yang menjadi milik barang-barang kita. Janganlah kita kembangkan rasa kepemilikan yang membuat kita serakah dan selalu ingin yang lain dan yang lebih……..

Sang Istri: Dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” disampaikan…….. Tenang, santai, rileks – jangan tegang. Milikilah kemewahan tanpa rasa kepemilikan. Nikmatilah keberuntungan kita. Kita belum tahu seni kehidupan. Kita belum tahu cara menikmati kehidupan. Kadang kita menolak Tuhan, kadang kita menolak Setan. Kadang kita malah ingin memiliki kedua-duanya. Kadang kita berada pada ekstrim kiri, kadang pada ekstrim kanan. Kita telah kehilangan keseimbangan. Kita tidak perlu menolak apa pun. Kita tidak perlu mendambakan apa pun. Semuanya datang dengan sendiri, datang pada waktunya. Rasa kepemilikan kita telah membuat hidup kita menjadi kacau. Bagaimana dapat memiliki langit biru, bulan dan bintang, hawa sejuk ataupun angin panas? Apakah kita dapat menentukan kapan Sang Surya harus menampakkan dirinya, kapan Si Bulan harus menghilang dari penglihatan? Terimalah, apa yang diberikan oleh Keberadaan. Penerimaan total seperti ini dapat membuat kita lepas dari rasa kepemilikan. Kita tidak harus melepaskan apa pun. Keinginan untuk pelepasan pun hanya sekadar ilusi dan harus dibuang jauh-jauh. Kita tidak memiliki sesuatu sehingga dapat melepaskannya. Keinginan untuk pelepasan timbul karena kita merasa memiliki. Jangan merasa memiliki dan kita akan menemukan kehidupan baru……

Sang Istri: Untuk lepas dari kepemilikan seorang panembah telah berserah diri sepenuhnya pada Gusti. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan…….. Seva bukanlah sekedar “melayani”. Seorang pelayan masih memiliki kebebasan untuk melayani atau tidak melayani. Seorang panembah telah berserah diri sepenuhnya, maka raga dia bukanlah milik dia lagi. Raga dia adalah milik Dia. Raga itu ada hanyalah untuk melayani Dia………

Sang Suami: Benar istriku, untuk itu kita harus selalu berupaya menyelaraskan kemauan, keinginan, obsesi dan impian pribadi dengan Kehendak Gusti. Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas Bapak Anand Krishna” disampaikan…….. Menyelaraskan kemauan, keinginan, obsesi, dan impian pribadi dengan kehendak Allah membuat kita sadar, membuat kita “tahu” jatidiri kita. Ah, ternyata saya anak raja. Ternyata aku kaya raya. Ternyata semua ini disediakan bagi saya dan saudara-saudara saya. Kemudian, apa yang mesti saya khawatirkan? Kenapa mesti merampas hak saudara saya? Kesadaran seperti inilah yang dibutuhkan untuk memasuki Kerajaan-Nya. Yesus yakin betul bila kesadaran yang dimiliki-Nya dapat dimiliki setiap orang. Doa-Nya, sebagaimana kita baca dalam Yohanes 17:21. “… Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita…”Yesus tahu persis bahwa kita semua memiliki potensi yang sama untuk meraih kesadaran kosmis. Kita semua bisa manunggal dalam kesadaran ilahi, Allah Bapa, atau kesadaran kosmis tersebut. Dalam hal itu, tidak beda antara Dia dan kita………

Sang Istri: Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas Bapak Anand Krishna” tersebut juga disampaikan…….. Lebih baik bergandengan tangan dan bersama-sama menuju tempat perjamuan. Di sana banyak tempat, dan cukup untuk kita semua. Untuk apa saling mengungguli atau saling menguasai? Dengan kesetaraan dan demokrasi, seperti yang diajarkan Yesus, kita dapat mengakhiri segala macam pertikaian dan meringankan beban pada jiwa kita masing-masing. Kiranya, seperti itu pula sikap Yesus. Ia menghendaki agar kita semua memiliki akses yang sama terhadap Sumber Abadi yang telah disediakan oleh Allah Bapa bagi kita semua. Akses yang sama berarti kesetaraan, demokrasi, dan dengan adanya kesetaraan dan demokrasi jelas tidak ada lagi kemiskinan dan kemelaratan. Tidak ada lagi seorang pun yang kekurangan. Kemiskinan, kemelaratan, dan kekurangan terjadi karena kesalahan kita sendiri. Kita ingin menguasai meja, ingin duduk paling depan. Padahal, semuanya itu tidak diperlukan. Persediaan diatas meja sudah jauh melebihi kebutuhan kita semua. Ibarat dalam perjalanan menuju bukit emas, kita merebutkan beberapa lempengan emas yang ditemukan di jalan. Bukit sudah di depan mata, tapi kita tidak melihatnya lagi karena sibuk bertikai. Pertikaian terjadi karena diantara kita ada yang merasa lebih berhak, bahkan mengambil posisi sebagai pengemban amanah atau pelindung…….

Sang Suami: Dalam buku tersebut juga disampaikan……. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan Kasihilah sesamamu manusia (tetanggamu) seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini……….. Jika saya mencintai tetangga saya, segala kenikmatan yang saya inginkan untuk diri saya akan saya inginkan untuk dia pula. Jika saya mencintaimu, apa yang saya upayakan untuk diri saya akan saya upayakan pula untuk dirimu. Apa yang saya upayakan bagi anak-anak saya akan saya upayakan pula bagi anak-anakmu. Saya tidak akan membiarkan dirimu dizalimi sebagaimana saya tidak akan membiarkan diri saya dizalimi. Saya tidak akan menerima ketidakadilan terhadap mereka yang kaucintai, sebagaimana saya tidak menerima ketidakadilan terhadap mereka yang saya cintai. Ketika kita menginginkan bagi orang lain segala apa yang kita inginkan bagi diri sendiri, tidak ada lagi kompetisi. Tidak ada perlombaan, persaingan, dan pertikaian. Untuk apa memperebutkan lempengan emas jika bukit emas di depan mata itu milik kita bersama? Kita semua memiliki akses terhadap Sumber Abadi yang tak terbatas dan tak pernah habis harta kekayaan yang berlimpah Kerajaan Allah yang Maha Agung. Apa yang mesti kita khawatirkan?……….

Sang Istri: Dalam buku tersebut juga disampaikan…….. Tidak demikian dalam Kerajaan Allah. Di sana tidak ada perebutan kekuasaan. Dalam Kerajaan Allah tak seorang pun ingin menguasai orang lain; tak seorang pun memaksakan kehendaknya terhadap orang lain; tak seorang pun ingin mengungguli orang lain. Pandangan hidup seperti inilah yang membedakan Kerajaan Allah dari Kerajaan dunia. Yesus menolak tawaran Kerajaan dunia…….. Kenapa? Karena ia tahu bahwa Kerajaan dunia yang hendak dipaksakan kepada-Nya tetaplah berlandaskan prinsip-prinsip dunia yang sudah usang: persaingan, pertikaian, dan akhirnya pasti binasa. Ia hendak membangun Kerajaan Allah yang berlandaskan kesetaraan dan kebersamaan, tempat setiap orang memiliki akses yang sama terhadap Allah dan terhadap Sumber Abadi yang telah disiapkan-Nya bagi semua. Untuk mencapai tujuan-Nya itu; untuk membangun Kerajaan Allah seperti itu, Ia mengutus murid-murid-Nya ke “dunia”. Ia sendiri menggambarkan keadaan mereka seperti domba-domba yang berada di tengah kawanan serigala yang buas. Oleh sebab itu, Ia pun berdoa agar mereka diberi kekuatan dan senantiasa dilindungi Allah. Mereka diutus bukan untuk menaklukkan dunia, tetapi untuk menyembuhkan penyakitnya. Ia hendak mengubah Kerajaan dunia yang tidak waras dan sibuk bertikai itu menjadi Kerajaan Allah berlandaskan kasih dan persaudaraan. Yesus meyakini betul bila diri-Nya telah berhasil melampaui tatanan “dunia” yang lama dan bahwasanya tatanan lama itu akan segera berakhir……….. Semoga kita semua sadar, memilih Kerajaan Allah dan bukan Kerajaan Dunia……

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Desember 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: