Membaca, Memahami Dan Melakoni, Renungan Ketigapuluhlima Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan yang berhubungan dengan Membaca. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari referensi yang mereka gali. Berusaha membuka hati dengan pemahaman secara repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri.

Sang Istri: Suamiku, kembali aku membaca file wejangan lama di dunia maya yang menyentuh jiwa……… Dalam tradisi India Kuno, istilah yang digunakan untuk membaca kitab suci bukanlah “membaca”, tetapi “mempelajari dengan merenungkan” – Paath. Dalam tradisi Timur Tengah, para pelajar kitab suci juga dianjurkan untuk ber-“ijtihad” – berupaya keras untuk “memperoleh” pencerahan “batin” lewat “apa yang tertulis itu”. Salah satu sebab utama konflik antar agama adalah pemahaman kita selama ini seolah “kitab suci”, “wahyu”, “pesan ilahi”, “shruti”, “injil”, “berita baik” atau apapun sebutannya bagi apa yang sekarang kita sebut “kitab suci” itu diturunkan dalam “bahasa manusia”. Entah itu bahasa Yahudi, Sanskerta, Aram, Pali ataupun Arab. Mungkin memang demikian adanya. Sang Khaliq bersabda dalam bahasa-bahasa tersebut. Atau, mungkin “Ia” bersabda dalam bahasa ruhani, bahasa kalbu. Dan, kemudian para penerima “pesan” tersebut “menerjemahkannya” dalam bahasa mereka masih-masing, dengan mengingat tingkat kecerdasan/pemahaman audiens mereka, para pendengar mereka. Maha Suci Allah, Maha Tahu Rabb….. Apa yang kutulis ini pun sekadar “pemahaman”-ku tentang apa yang pernah kudengar. Maha Suci Allah, Maha Tahu Rabb, Ia memberi kita kebebasan untuk membedah kata-kata yang tertulis atau berusaha untuk “menyelami” makna dibalik kata-kata itu…….. Sebuah wejangan yang perlu direnungkan, sang penulis pun menulis bahwa yang ditulisnya pun sekedar pemahamannya……..

Sang Suami: Benar istriku, dalam buku “Tantra Yoga” disampaikan bahwa………. Seorang Mursyid pernah menegur muridnya, “Bila ingin mengutip kitab suci, jangan lupa menambahi, “Demikianlah pemahamanku tentang Injil, atau tentang Al-Qur’an, atau tentang Veda, atau tentang Dhammapada………” Sang Mursyid betul. Memang Begitulah. Setiap orang menafsirkan ayat-ayat suci sesuai dengan kemampuan dan pemahamannya. Setiap ayat seluas laut. Cawan otak kita tidak mampu menampung satu pun ayat secara menyeluruh. Apalagi seisi kitab suci……….

Sang Istri: Oleh karena itu kita harus membaca suatu kitab suci seperti membaca surat cinta, dimana kasih menjiwai proses pembacaan tersebut. Dalam buku “Neo Psychic Awareness” disampaikan…….. Saat mengaji, membaca kitab suci, melakukan paath atau pengulangan sebagaimana disebut dalam bahasa Sindhi, bahasa ibu saya, saya ingatkan diri saya, janganlah engkau membacanya seperti novel. Janganlah engkau membaca kitab suci hanya karena ingin tahu cerita yang ada di dalamnya. Janganlah engkau tergesa-gesa, terburu-buru, hanya karena ingin tahu akhir cerita. Bacalah seperti engkau membaca surat cinta………..

Sang Suami: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan cara membaca kitab…….. “Membaca” yang dimaksud bukanlah seperti membaca novel, atau buku lain, “Membaca” di sini adalah “membaca dengan penuh khidmat dan khusyuk”. Dalam bahasa Sansekerta disebut “parayana”. Salah satu cara parayana, sebagaimana dianjurkan oleh Baginda sendiri, adalah membuat niat untuk menyelesaikan salah satu kitab dalam 1, 2, 3, 4, atau bahkan 52 minggu. Asal, setelah membuat niat itu, kita betul-betul melaksanakan apa yang telah kita niatkan. Membaca 1 halaman, atau 100 halaman, tetapi, jika kita sudah niatkan akan menyelesaikan satu kitab dalam waktu 1 minggu, maka kita menepati janji itu. Ini adalah salah satu cara untuk melatih rasa percaya diri, bahwasanya, apa yang kuhendaki dapat kulaksanakan. Aku bisa. Dengan mematuhi janji yang kita buat dengan diri sendiri, sesungguhnya kita tidak membantu siapa-siapa kecuali diri kita sendiri. Dan, dengan membantu diri, kita memperoleh berkah dari Hyang Maha Ada karena itulah tujuan ciptaan. Ya, tujuan ciptaan adalah bahwasanya kita ikut mencipta, menentukan, dan mengukir garis hidup kita masing-masing………..

Sang Istri: Pada waktu membaca kita menyadari bahwa setiap guru dalam kehidupan kita memberikan sesuatu yang penting kepada kita. Dalam buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif” disampaikan……… Hidup ini tidak mengenal titik akhir. Roda kehidupan, Kala Chakra, Roda Sang Waktu, bergulir terus. Selama masih hidup, belajarlah terus. Jangan berhenti belajar. Jangan menutup dirimu. Dan yang paling penting, jangan melupakan para gurumu. Setiap guru memberikan sesuatu kepadamu. Kalau kamu tidak bisa menerima lebih banyak darinya, itu salahmu sendiri. Gurumu yang pertama, yang mengajar A, B, C pun sangat berjasa. Tanpa belajar hal-hal mendasar, bagaimana bisa peroleh pelajaran selanjutnya?…………

Sang Suami: Ada sebuah contoh bagaimana membaca sebuah kitab yang baik. dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan bahwa……… Atma Bodha hanyalah sebuah buku. Tanpa meditasi, Atma Bodha tidak lebih dari bundelan kertas bertinta. Bila tidak ditindaklanjuti dengan meditasi, ulasan ini tak lebih dari ocehan biasa. Dalam tradisi Hindu, kitab suci tidak “dibaca”, tetapi “dipelajari”. Istilah yang mereka gunakan adalah Paathi—to learn, sebuah proses yang berjalan seumur hidup. Buku Teks seorang Paathi, seorang “pelajar” kitab suci adalah “kesucian” kitab itu. Dan, proses penyucian diri tak pernah berhenti. Bila kita seorang “pembaca”, membaca Atma Bodha satu kali sudah cukup. Sudah tahu isinya, ya sudah. Para pembaca professional bahkan hanya melakukan scanning. Seorang Paathi akan mempelajarinya berulang kali. Dan, tetap saja merasa tidak cukup. Setiap kali “belajar”, ia memperoleh wawasan baru, insight baru. Dan setiap insight mendekatkan dirinya dengan Ia yang berada inside………. Seorang pembaca “hanya” menggunakan mind untuk membaca. Dan, mind memang cepat bosan, jenuh. Setiap kali membutuhkan mainan baru. Berbeda dengan para meditator. Mereka adalah penyelam. Yang diselami lautan sama dan itu-itu juga. But every time there is a different kind of joy. Setiap pengalaman adalah pengalaman baru. Apa yang terjadi dalam sanggama? Bukanlah kita mengulangi sesuatu nyang sama? Tetapi setiap pengulangan menghasilkan pengalaman baru. Kebahagiaan baru………….

Sang Istri: Kita meyakini semua kitab suci merupakan pesan ilahi yang sangat berharga bagi kehidupan manusia, akan tetapi kita tetap perlu menggunakan pikiran yang jernih dalam memahaminya. Sebagai contoh dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles” disampaikan……… Saya mesti mengingatkan bahwasanya Yesus bicara dan mengajar dalam bahasa Aramaik. Di zaman Yesus, orang Yahudi sekalipun lebih banyak menggunakan bahasa Aramaik daripada bahasa Ibrani. Setiap kata yang terucap oleh Yesus dalam bahasa tersebut hanyalah terekam dalam ingatan para pengikut selama hampir 70 tahun, sebelum akhirnya ditulis dalam bahasa Yunani. Terjemahan dari bahasa Yunani ke bahasa Inggris dilakukan 500-an tahun yang lalu (buku ini ditulis lebih dari 100 tahun yang lalu, maka, sekarang mesti dibaca “600-an tahun yang lalu”). Itulah Terjemahan resmi yang disebut “King James Version”. Banyak kata dalam Bahasa Inggris yang sangat populer di masa itu, sudah tidak populer lagi. Bahkan, banyak kata yang telah kehilangan makannya atau tidak lagi digunakan untuk memaknai hal yang sama. Oleh sebab itu, sungguh tidak tepat jika kita mengartikan setiap kata yang terucap oleh Yesus secara baku, tanpa memperhatikan konteks di mana kata-kata itu terucap oleh-Nya. Jika kita melakukan hal itu, kita malah kehilangan mana dari apa yang hendak disampaikan Yesus. Kita tidak akan pernah memahami Yesus tanpa mempelajari ajaran-Nya sebagai satu keutuhan dengan konteks sejarah dan keadaan zaman-Nya……….

Sang Suami: Bagaimana pun yang penting adalah pengalaman diri sendiri, membaca buku tanpa praktik nyata hanya membebani otak saja. Dalam buku “Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik” disampaikan……… Kedamaian yang langgeng terwujud apabila terjadi peningkatan kesadaran dalam diri. Seseorang harus “mengalami”-nya sendiri. Membaca buku, mengumpulkan informasi tidak berguna. Bahkan bisa menjadi hambatan, rintangan dalam perjalanan spiritual kita. Itu sebabnya, saya tidak pernah bicara tentang “pengalaman-pengalaman” dalam alam meditasi. Apabila saya menceritakan, Anda akan berhalusinasi. Anda akan mencari pengalaman-pengalaman seperti itu, padahal pengalaman setiap individu berbeda. Anda mencari pengalaman yang sama. Lantas Anda berpikir bahwa Anda sudah sampai, padahal berjalan pun belum…………

Sang Istri: Dalam buku “Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern” disampaikan………. Seorang pujangga bicara dari pengalaman. Apa yang ia sampaikan bisa juga disampaikan oleh seorang yang tidak punya pengalaman. Anda pernah ke Amerika atau tidak, anda bisa saja bicara tentang Amerika. Dengan membaca beberapa buku tentang Amerika, anda bisa menguasai pengetahuan tentang Amerika. Tetapi pengetahuan bukanlah pengalaman. Seorang yang pernah “mengalami” Amerika, bisa “merasakan” Amerika. Yang hanya membaca buku tidak bisa begitu. Seorang pujangga bicara dari pengalaman, seorang cendikiawan bicara dari pengetahuan. Mereka berbeda. Itu sebabnya, apabila seorang Pujangga berbicara, kata-kata dia bisa mengubah sejarah. Yesus, Musa, Muhammad, Budha, Krishna, Lao Tze, para nabi dan avatar dapat mengubah kita. Para cendikiawan tidak mampu mengubah kita. Bahkan mengubah diri sendiri pun, mereka belum mampu. Sang Pujangga melihat dan memahami kerja alam……….

Sang Suami: Tanpa pengalaman pribadi pemahaman kita tentang kitab belum tentu tepat. Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran” disampaikan………. Apa yang mereka anggap “religi” atau “agama” atau “din” sesungguhnya adalah “pemahaman” mereka tentang agama. Dan pemahaman adalah produk “pancaindra”. Buku-buku agama dibaca lewat mata, penjelasan para pakar didengar lewat telinga. Kemudian, informasi itu dicerna oleh otak dan terciptalah sebuah “pemahaman”. Kemudian tergantung “kualitas” dan “referensi” yang ada di dalam otak kita, pemahaman kita bisa berbeda dari pemahaman orang lain, sebagaimana “otak” kita berbeda kualitas dari otak orang lain. Berdasarkan pemahaman itu pula, kita menciptakan “standar” tolok ukur. Kalau begini, baik. Kalau begitu, tidak baik………..

Sang Istri: Pemahaman tidak akan membantu kita, harus dibarengi dengan laku, dengan penghayatan. Dalam buku “Bersama J.P Vaswani Hidup Damai & Ceria” disampaikan…….. Sekadar pemahaman tidak akan membantu kita. Tidak akan terjadi perkembangan jiwa dalam diri kita. Sekadar pemahaman bahkan bisa mengelabui kita. Kita pikir sudah paham, ya sudah cukup, lantas kita duduk diam kita lupa melakoni apa yang kita pahami. Sekadar pemahaman sangat berbahaya, karena kita bisa tertipu olehnya. Pemahaman tanpa laku, tanpa penghayatan, tidak bermakna sama sekali, tidak berarti sama sekali. Apa yang kita baca, apa yang kita pahami, harus kita lakoni pula…….. Semoga………..

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Desember 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: