Sukacita, Renungan Ketigapuluhenam Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta artikel-artikel Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri. Dan berfungsi sebagai suara nurani yang mengingatkan mereka saat melakukan pilihan dalam kehidupan sehari-hari.

Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membaca file wejangan lama yang sebenarnya telah mengingatkan kita sejak dulu, hanya rupanya kita tetap belum paham-paham juga……… Perasaan atau emosi tidak stabil. Tidak pernah stabil, tidak bisa stabil. Bila kita berbagi “perasaan”, maka sesungguhnya kita berbagi ketidakstabilan. “Joyfulness” atau keceriaan atau sukacita bukanlah sebuah emosi. Bukan perasaan. Joyfulness lahir dari kesadaran. Yang kita berbagi lewat jaringan maya ini bukanlah perasaan dan emosi yang selalu bergejolak – tetapi Joyfulness yang tidak mengenal gejolak. Joyfulness, Ananda, Bliss, Keceriaan, Kebahagiaan Sejati atau apapun sebutannya, berada diatas emosi. Melampaui perasaan. Bliss adalah “ananda” yang kita alami sendiri. Joyfulness adalah “ananda” yang dapat kita bagikan. It is one and same thing. Jalaluddin Rumi bercerita tentang keluhan Nabi Musa……… Ya, Sang Nabi pernah mengeluh: “Ya Allah, Ya Rabb…. Apa yang salah dengan Firaun? Kenapa begitu dungu? Sudah diberi sekian banyak bukti, masih tidak mau percaya?” Yang Maha Suci menjawab, “Adakah seorang Musa bila Firaun tiada?” Ia menjelaskan lebih lanjut, “Kau tidak tahu setiap malam Firaun berdoa dan merintih karena harus berperan sebagai Firaun.” Sang Nabi memahami maksud-Nya……… Ya, baik Musa maupun Firaun – dua-duanya sedang memainkan peran masing-masing. And yet, bila harus memilih dan harus berpihak – kita akan tetap memilih Musa. Akan tetap berpihak padanya. Asal kita sadar bahwa tiada satu pun makhluk Allah yang patut kita kutuk. Masih ingat ketika Taliban menghancurkan patung-patung Buddha di Afghanistan? Patung bisa dihancurkan, kebudhaan diri tak dapat dihancurkan…….. Hukum Alam berjalan rapi sekali. Yang menghancurkan, hancur sendiri. Yang menindas, akan tertindas………

Sang Suami: Istriku, dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas Bapak Anand Krishna” disampaikan……. “Joy is not in things; it is in us.”  RICHARD WAGNER, 1813-1883 (German Dramatic Composer, and Theorist) ”Joy Delights in Joy.” WILLIAM SHAKESPEARE, 1564-1616 (English Dramatist, and Poet) “Keceriaan tidak bisa diperoleh dari sesuatu di luar diri. Keceriaan ada di dalam diri”, demikian maksud Wagner. Shakespeare mengatakan hal yang sama secara puitis, “Keceriaan bersukacita dalam keceriaan.” Keceriaan seperti inilah yang dimaksudkan Yesus. Dalam bahasa Sanskerta disebut “Anand”…….. Para penyokong modern Law of Attraction seperti Rhonda Byrne, yang menjadi terkenal lewat karyanya The Secret pada tahun 2006; dan, pasangan Esther dan Jerry Hicks yang meraih kesuksesan fenomenal setelah buku mereka berjudul Money and the Law of Attraction, masuk ke dalam daftar bestseller New York Times pada bulan Agustus 2008 (buku pertama mereka A New Beginning terbit sekitar tahun 1988), kiranya menempatkan joy atau keceriaan sebagai emosi tertinggi. Oleh sebab itu, setiap orang yang hendak “memanfaatkan” Hukum Ketertarikan untuk meraih keberhasilan mesti berada pada tingkat emosi yang tertinggi itu. Berada pada tingkat itulah “keinginan” berubah menjadi “kenyataan”. Berada pada tingkat itulah keceriaan menarik keceriaan. Kebahagiaan mengundang kebahagiaan…….

Sang Istri: Benar suamiku, dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas Bapak Anand Krishna” juga disampaikan penjelasan dari kata “Ananda”……. “Ananda”.Satu kata ajaib ini, setidaknya mengandung tiga makna: Supreme Bliss, atau Kebahagiaan Abadi nan Tertingi; Everlasting Joy atau Keceriaan Abadi; dan Unconditional Love, atau Kasih Tanpa Syarat. Sesungguhnya, Unconditional Love, atau “Kasih Tanpa Syarat” adalah landasan bagi keadaan ini. Ibarat fondasi bangunan. Landasan inilah yang dikatakan oleh Buddha, “Tak terjelaskan.” Bagaimana kita bisa melihat fondasi suatu bangunan? Jelas tidak bisa. Namun, dengan mempelajari keadaan bangunan itu, kita bisa memastikan bila fondasinya kuat atau tidak. Bagian luar, atau eksterior bangunan Ananda adalah Everlasting Joy atau “Keceriaan Abadi” – keceriaan yang tidak membutuhkan alasan. Jika kita “ceria” karena memperoleh sesuatu, sesungguhnya kita baru “senang” saja, belum ceria. *A New Christ halaman 187

Sang Suami: Buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas Bapak Anand Krishna” juga mengkaitkan keceriaan abadi ini dengan sifat anak kecil…….. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil,ia tidak akan masuk ke dalamnya. “(Lukas 18:17) Berarti apa? Berarti, “tidak menjadi ceria” karena telah memasuki Kerajaan Allah. Tapi, “menyambut dengan penuh keceriaan”. Belum masuk, sudah ceria duluan. Keceriaannya tanpa alasan karena itulah sifat dia. Ya, itulah sifat orang-orang yang “telah”, dan “akan” memasuki Kerajaan Allah. Ceria tanpa alasan, itulah keceriaan tanpa keterikatan dengan kebendaan. Inilah keceriaan sejati nan abadi. Nah, interior, atau bagian dalam bangunan Ananda adalah Supreme Bliss, “Kebahagiaan Kekal nan Tertinggi”………

Sang istri: Benar suamiku, buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas Bapak Anand Krishna” disampikan bahwa……… Tritunggal Unconditional Love, atau “Kasih Tanpa Syarat”; Supreme Bliss atau “Kebahagiaan Kekal nan Tertinggi”; dan, Everlasting Joy, atau “Keceriaan Abadi” inilah Ananda. Itulah sifat seorang Tathagata. Itulah yang terjadi ketika kita “kembali menjadi seperti seorang anak kecil”. Dan, Tritunggal Ini Bukanlah Emosi. Tritunggal ini, Ananda ini, adalah Sifat Diri kita yang sesungguhnya. Pikiran dan emosi telah menciptakan berlapis-lapis daki yang mesti dibersihkan sebelum kita dapat mengakses sifat awal ini. Buddha menyebut sifat awal ini Bhava, atau Bhavana. Tidak ada kata lain dalam bahasa Inggris untuk menjelaskan keadaan ini, kecuali innermost feeling. Karena, jika kita menggunakan “feelings” atau “perasaan” saja, psikologi modern akan menafsirkannya sebagai salah satu emosi bersama mood atau “keadaan hati”. Ananda adalah Bhava atau Bhavana, keadaan terdalam dalam diri kita. Ananda, sekali lagi, bukanlah pikiran, bukanlah emosi, dan bukan pula inteligensia…….

Sang Suami: Buku tersebut mengingatkan perbedaan antara seperti anak kecil dan kekanak-kanakan…….. Supaya kita ingat, Yesus hanya menggunakan “seperti seorang anak kecil” sebagai analogi, perumpamaan. Sebab itu, la menggunakan kata “seperti anak kecil” – childlike, bukan childish atau kekanak-kanakan. Adakah yang membedakan kedua keadaan itu? Adakah yang membedakan keadaan “seorang anak kecil yang masih belum terlalu terikat” dari keadaan “seorang dewasa yang telah melampaui keterikatan, kembali menjadi seperti seorang anak kecil atau yang disebut Tathagata”? Jawabanya: ya, ada. Seorang anak kecil yang belum terikat bersikap cuek, indifferent. Sebaliknya, seorang dewasa yang telah melampaui keterikatan tidak cuek. la tidak indifferent. la tidak meninggalkan masyarakat untuk menyepi di tengah hutan, dan menghabiskan sisa umurnya di sana. Justru sebaliknya, ia menjadi sangat peduli terhadap keadaan dunia. la melayani dunia dengan penuh semangat dan keceriaan, dan tanpa mementingkan keuntungan pribadi. la menjadi pelayan dunia yang sangat istimewa. la menjadi Mesias, ia menjadi Buddha……

Sang Istri: Suamiku, buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas Bapak Anand Krishna” adalah buku yang perlu dimiliki bagi seorang yang ingin mendapatkan sukacita sejati. Dalam buku tersebut juga disampaikan……… “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Lukas 18:17). Bahkan, Kerajaan Allah tidak perlu “ditemukan” karena ia tidak pernah hilang. Kerajaan Allah hanyalah perlu di-”sambut”. Salah satu terjemahan dalam bahasa Inggris, Amplified English Translation, menerjemahkannya sebagai berikut: “Truly I say to you, whoever does not accept and receive and welcome the kingdom of God like a little child (does) shall not in any way enter it (at all).” Tidak ada jalan lain untuk memasuki Kerajaan Allah, kecuali dengan menyetujui-Nya (accept), menerima-Nya (receive), dan menyambut-Nya (welcome) seperti seorang anak kecil.” “Menyetujui” berarti mengakhiri segala macam keraguan dan kebimbangan. Pikiran sudah puas, tidak ada pertanyaan lagi. “Menerima”, berarti secara proaktif mewujudkan Kerajaan-Nya dalam keseharian hidup kita. Dan, “menyambut seperti seorang anak kecil” berarti, menyambut dengan sukacita, dengan penuh keceriaan. Menyetujui dengan pikiran (mind), menerima secara fisik, dan menyambut dengan jiwa (soul, atau lebih tepatnya, consciousness, kesadaran).

Sang Suami: Dalam Mazmur 4: 8-9 disampaikan: “Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur. Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.” Joy bukanlah sesuatu yang diperoleh “karena” limpahan gandum dan anggur. Dalam bahasa kita, joy tidak bisa diperoleh dari harta-benda, tabungan, ataupun keluarga. Suka cita adalah buah dari jiwa yang tidak ikut bergejolak karena emosi yang senantiasa naik-turun. Joy diperoleh dari pikiran yang tajam, dinamis, kreatif, tapi tenang. Sukacita, keceriaan, atau joy tidak bisa dirasakan oleh mereka yang malas, tidak kreatif, tidak produktif, dan menyia-nyiakan waktunya tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, dan bagi orang-orang di sekitarnya. Sukacita adalah hati yang puas karena sudah melakukan apa yang mesti dilakukannya dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu Allah berfirman lewat nabinya, orang yang bersukacita itu “bisa tidur nyenyak’………

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Desember 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: