SELAMAT HARI IBU 22 Desember 2010! Menghormati Wanita, Renungan Ke-37 Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai da dan buku-buku serta artikel-artikel Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu diri pribadi mereka untuk memberdayakan diri.

Sang Istri: Suamiku, aku ingat sebuah wejangan bijak yang disampaikan sekitar 5 tahun yang lalu. Isinya lebih kurang demikian…….. Seorang bayi yang baru lahir diletakkan di dada seorang ibu dan dibiarkan mencari sendiri puting ibunya. Demikian saran pakar psikologi dari Barat agar Sang Bayi dengan nalurinya berjuang untuk mendapatkan sumber kehidupannya. Selama 9 bulan sebagai janin, bayi tinggal tenteram dalam rahim ibunya dan segalanya telah tercukupi. Bagi anak bayi yang baru lahir, payu dara ibu adalah sumber kehidupannya. Masalah apa pun yang dihadapi, saat Sang Bayi berada di dekat payudara ibunya, dia akan tenang kembali. Ketika bayi ini menjadi dewasa, dan bila ia seorang perempuan, ia menemukan sumber kehidupan itu ada di dalam dirinya. Celakanya, bila bayi yang menjadi dewasa ini seorang pria, ia merasakan betul perpisahan dari sumber kehidupan itu. Dan, ia pun mencari sumber itu dalam sosok perempuan yang lain. Tidak heran, bila seorang pria selalu memperhatikan payudara perempuan. Seorang pria yang merasa tidak sempurna, memerlukan sumber kehidupan itu, dan dia kawini seorang perempuan. Banyak duda separuh baya yang masih merasa belum sempurna, sehingga masih ingin kawin lagi. Tidak demikian dengan seorang janda, dia merasa sudah sempurna, sehingga sanggup hidup sendiri sampai akhir hayatnya…….

Sang Suami: Dilihat dari chromosom-nya, pria mempunyai kode XY dan masih membutuhkan X ganda untuk kesempurnaanya. Sebetulnya tidak harus seorang wanita, seorang sahabat pria atau Guru dengan kode XY pun yang mempunyai sifat keperempuanan atau keibuan sudah cukup. Sedangkan wanita dengan chromosom XX sudah merasa sempurna. Sebetulnya kesempurnaan bukanlah suatu benda. Kesempurnaan adalah perasaan, rasa. Bila seseorang merasa sempurna, sempurnalah orang itu. Seorang pria merasa tidak sempurna, hingga suatu ketika ia menemukan sumber kehidupan ke”perempuan”an di dalam dirinya. Kemudian dia merasa sempurna dan tidak akan kawin lagi walau menduda. Kalau seorang pria mulai menggunakan rasa, apalagi nuraninya, dia tidak akan kawin lagi ketika ditinggal mati isterinya. Ada hubungan antara sifat feminin dengan rasa sempurna.

Sang Istri: Dalam buku “Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa” disampaikan…….. Sungguh masuk akal, karena penemuan medis pun mengakui bahwa kromosom “X” yang terdapat dalam diri manusia, baik pria maupun wanita, sesungguhnya berasal dari wanita. Dan, bila kita masih ingat, kromosom “X” inilah yang menjadi motor kehidupan. Seorang pria pun mewarisi kromosom ini dari induknya, dari ibunya, dari perempuan! Seorang pria tidak bisa hidup dengan kromosom “Y” saja – yang merupakan kromosom khas pria. Bila dikaitkan dengan matematika dan angka, maka kromosom “X”memiliki 23 angka, sementara kromosom “Y” hanya 22. Perempuan bisa hidup dengan kromosom khas wanita saja – “XX”. Sementara itu, pria tidak bisa hidup dengan kromosom “YY” saja. Ia harus memperoleh “X” dari induknya, supaya bisa bergerak……

Sang Suami: Secara medis dan biologis pun ia sudah terbukti sebagai sumber energi. Dalam bahasa Sanskerta, perempuan adalah shakti, sumber gerak, energi. Dalam buku “7 Steps Toward A Happy Marriage, Saptapadi Tujuh Langkah Menuju Keluarga Bahagia” disampaikan…….. Perempuan dapat melakukan apa saja yang dilakukan pria, namun seorang pria tidak dapat melakukan segala apa yang dilakukan seorang perempuan. Adalah seorang perempuan yang melahirkannya. Adalah kromosom X yang bersifat motorik dan diwarisinya dari induknya yang menggerakkan dia seumur hidup hingga ajal tiba. Kromosom pria, Y, mengandung memori namun tidak dapat melakukan sesuatu tanpa pasangannya X. Sementara itu perempuan dapat hidup dengan X saja. Pria XY, angkanya 23-22 – Perempuan XX, angkanya 23-23.

Sang Istri: Daya tahan perempuan jauh melebihi daya tahan pria. Itulah sebab ia dapat melakukan banyak hal yang tidak dapat dilakukan kaum pria. Rasa sakit saat kematian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan seorang perempuan saat melahirkan. Rasa sakit saat kematian hanyalah 50% dari apa yang dirasakan oleh perempuan saat melahirkan. Rasa sakit ada di dalam otak. Otaklah yang mendeteksi rasa sakit, kemudian menyebarkannya ke seluruh badan. Karena itu, penyelesaiannya di dalam otak. Kita dapat menciptakan anastesi alami sebagai penawar rasa sakit. Saat melahirkan, seorang perempuan secara alami menciptakan anastesi itu dengan pernapasannya yang cepat. Seorang pria harus belajar lama untuk menguasai pernapasan seperti itu. Setelah belajar pun belum tentu ia mengingatnya saat kematian. Ia lupa dan ia menderita. Seorang perempuan yang pernah melahirkan tidak pernah lupa, ia melakukannya juga saat kematian. Karena itu, ia terbebaskan dari penderitaan. Saat melahirkan, seorang perempuan sesungguhnya sudah mengalami kematian……. pengalaman yang sangat mirip kematian.

Sang Suami: Banyaknya Nabi yang pria, dikarenakan mengajar merupakan sifat Macho, Yang, Pria. Pria  cenderung memakai otak dan menjelaskan segala sesuatu berdasar logika dengan gamblang. Berlainan dengan wanita yang lebih banyak menggunakan rasa. Wanita mempunyai sifat feminin, kasih. Mungkin wanita tidak banyak tahu mengenai teori kasih, tetapi selama 9 bulan dia praktek mengasihi janin yang berada dalam kandungannya. Ada pendapat bijak yang mengatakan bahwa banyak wanita yang cerah, tetapi setelah mendapatkan pencerahan, cukuplah pencerahan bagi dirinya dan dia akan menari bersama Ilahi. Arjuna adalah contoh pria sejati, lelananging jagad, pria dunia, tetapi sampai pencerahannya Sri Krishna harus bicara berjilid-jilid dalam Bhagavad Gita. Sebaliknya Sang ibu, Dewi Kunthi, bicara blak-blakan dengan Sri Krishna, “Krishna aku bodoh nggak punya pengetahuan, tetapi aku yakin, aku beriman kepada-Mu, Krishna tolong buatlah anak-anakku Pandawa dalam keadaan menderita, karena pada waktu menderita mereka akan ingat pada-Mu.” Dewi Kunthi cerah dengan tidak perlu mempelajari buku-buku spiritual….. Bibi Chatijah adalah wanita pertama yang percaya kepada Nabi Muhammad, dan selalu mendampingi Nabi dengan setia sampai akhir hayatnya. Konon, beliau pun selama hidupnya dalam mendampingi Nabi sekitar 28 tahun berumah tangga, tidak pernah dimadu Nabi dikarenakan penghormatan nabi terhadapnya. Bunda Maria dan Maria Magdalena tetap menunggui Gusti Yesus di salib sampai diturunkan dari tiang salib, sementara murid-murid prianya konon tidak menungguinya…….

Sang Istri: Budaya kita menghormati perempuan, masyarakat kita, sejak zaman dahulu, memahami betul peran perempuan. Kedudukannya  dihargai. Perempuan dihormati. Tidak dikasihani, tapi dihormati. Keadaan ini berubah ketika para pedagang dari Timur Tengah, Timur Jauh dan Eropa mulai memasuki wilayah kita. Bersama uang, merekapun membawa budaya mereka. Kita terpengaruh, dan “jatuh” dari ketinggian yang pernah kita capai. Ketinggian peradaban, ketinggian budaya, ketinggian dalam segala bidang. Budaya kita tidak melihat perempuan sebagai obyek seks yang menakutkan dan merongrong kejatuhan manusia ke neraka, sehingga tak ada keperluan untuk mengharuskan perempuan menutup rapat badan mereka. Budaya kita lebih percaya pada pemberdayaan dari dalam dan bukannya meniadakan semua godaan dari luar. Bila kuat didalam, segala godaan diluar tak akan menggoda; bila lemah di dalam diri, segala virus di luar dapat dikalahkan; tetapi bila sudah lemah di dalam, apapun bisa jadi sumber penyakit…….. Demikian disampaikan dalam buku “7 Steps Toward A Happy Marriage Saptapadi Tujuh Langkah Menuju Keluarga Bahagia”.

Sang Suami: Dalam buku “Maranatha, Bersama Anthony de Mello Mabuk Anggur Kehadiran Tuhan” disampaikan………. Yang anda sebut “logis”, rasional”, dan “realistis” adalah produk-produk mind. Dan mind sendiri tidak pernah berada di satu tempat. Kadang ada, kadang tidak ada. Itu sebabnya anda selalu ragu-ragu. Undangan untuk memasuki “Balai Pertemuan” pun anda sia-siakan. Anda sakit. Kejantanan, kepriaan, kelelakian – itulah penyakit anda. Sadarilah penyakit diri. Obatilah penyakit anda. Jadilah “wanita”, karena yang bisa masuk ke dalam Balai Pertemuan hanyalah para “Pengantin Wanita”. Perhatikan senyuman mesra pada wajah Krishna dan kedamaian abadi pada wajah Siddhartha. Mereka adalah para “Pengantin Wanita” yang pernah memasuki Balai Pertemuan. Lihatlah cahaya kasih yang terpancarkan lewat wajah Yesus. Perhatikan kepolosan hati Muhammad. Mereka adalah para “Pengantin Wanita” yang pernah memasuki Balai Pertemuan.

Sang Istri: Dalam buku “Tantra Yoga” disampaikan………. Seorang cendekiawan yang hanya menggunakan otak dan logika – cenderung menjadi kering, keras, kaku, alot. Berwujud pria atau wanita, sami mawon – sama saja. Kecendekiaan adalah sifat maskulin……. Yang tidak bisa menerima Siddhartha siapa? Yang ingin membunuh Muhammad siapa? Yang menyalibkan Yesus siapa? Yang menghujat Krishna siapa? Tanpa kecuali, mereka semua adalah para ahli kitab. Para intelektual. Mereka-mereka yang sudah memiliki konsep. Mereka-mereka yang sudah kaku, keras, alot. Lalu siapa pula yang bisa langsung menerima para Buddha, para nabi, para mesias, para avatar? Mereka-mereka yang polos, berhati tulus, tidak berkepentingan dengan konsep-konsep baku. Amrapali, Khadija, Maria Magdalena, Radha. Incidentally, mereka semua adalah wanita, tidak sombong, tidak memiliki ijazah dari universitas, bahkan tidak memperoleh pengakuan dari masyarakat. Mereka tidak peduli. Mereka tidak takut mengungkapkan kebenaran.

Sang Suami: Dalam buku “Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern” disampaikan………. Ada bukit dan ada lembah. Bukit nampaknya begitu dekat dengan langit. Lembah nampaknya begitu jauh dari langit. Namun, semakin tingginya bukit, semakin gundulnya dia. Dan lembah-lembah selalu subur. Bukit adalah arogan. la berdiri tegak lurus. la sombong. la lebih awal menerima air hujan. la lebih banyak menerima air hujan. Namun karena arogansinya, air hanya melewatinya saja. Bukit tetap juga gundul, dan lembah di bawahnya semakin subur. Bukalah diri Anda. Jadilah reseptif seperti seorang wanita. Terimalah alam ini dan syukurilah segala pemberiannya. Wanita yang membuka diri demikian, kelak akan mengandung dan akan menghasilkan keturunan……….

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Desember 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: