Film Munna Bhai Dan Onepointedness, Renungan Ke-38 Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri.

Sang Istri: Suamiku, kita pernah bersama-sama menonton film India, Lage Raho Munna Bhai, Lanjutkan Munna Bhai……. Pada awalnya, dikisahkan seorang pemuda bernama Munna jatuh cinta dengan suara Janhavi, seorang penyiar radio di Mumbai. Kebetulan sang penyiar sedang menyiarakan kontes quiz tentang Mahatma Gandhi. Semua orang boleh ikut dengan syarat dapat menjawab semua pertanyaan dalam quiz lewat telpon yang disiarkan langsung lewat radio. Munna ingin memenangkan kontes tersebut agar dapat menemui penyiar radio sang pujaan hati tersebut. Salah seorang teman Munna membantu memenangkan kontes dengan menculik dan menyuap sekelompok guru untuk memberi masukan ketika Munna menjawab quiz dari kontes tersebut. Sepuluh pertanyaan quiz tentang Gandhi dapat dijawab dengan sempurna dan Munna memenangkan kontes tersebut. Saat diwawancara lewat telpon sebagai pemenang kontes, Munna mengaku sebagai seorang profesor sejarah dan spesialis Gandhi. Akhirnya terwujudlah wawancara Munna dengan sang penyiar di radio. Janhavi, sang penyiar kemudian meminta Munna untuk memberikan kuliah tentang Gandhi untuk sebuah komunitas lansia yang tinggal di rumahnya…….. Dalam rangka mempersiapkan acara tersebut, Munna belajar tentang Gandhi di sebuah lembaga Gandhi. Selama tiga hari tiga malam, tanpa makanan dan tidur, Munna hanya membaca tentang kehidupan dan pandangan Gandhi. Begitu terobsesinya Munna dengan sang mahatma, sampai dia sampai lupa pada dirinya sendiri dan terserap dalam kehidupan Mahatma Gandhi. Begitu seriusnya Munna berfokus pada Gandhi sehingga dia bertemu dengan penampakan Mahatma Gandhi yang kemudian dipanggilnya “Bapu”. Selanjutnya Bapu  selalu muncul setiap Munna mendapatkan masalah. Seakan-akan otaknya telah terpenuhi dengan kebijakan Gandhi. Dengan bantuan Bapu, Munna berhasil membuat Janhavi terkesan dengan gaya hidup berdasarkan Gandhism, terutama kepatuhan terhadap non-kekerasan dan kebenaran, ahimsa dan satyagraha……

Sang Suami: Iya istriku…….. Selanjutnya Munna mulai mendapat kesempatan menjadi co-host radio-show bersama Janhavi membimbing pendengar radio untuk menggunakan Gandhigiri, Gandhism untuk menyelesaikan masalah sehari-hari para pendengar radio. Banyak sekali pendengar radio menyampaikan masalah kehidupannya dan terjawab dengan cara Gandhi tersebut. Acara radio tersebut menjadi terkenal dan sangat dicintai semua penduduk Mumbai, sehingga Munna menjadi sangat terkenal. Setiap pertanyaan tentang tindakan apa yang harus dilakukan terhadap permasalahan pribadi para pendengar lewat radio, selalu dijawab Munna berdasar bantuan Bapu. Hidup Munna kemudian berubah dan dia menjalankan hidup dengan cara Gandhi. Penerapan pandangan hidup Gandhi tentang Satyagraha dan Ahimsa dalam kehidupan modern adalah tematik isu sentral dari film.

Sang Istri: Sebetulnya ada pelajaran yang sangat berharga dari film tersebut, seseorang yang sangat fokus pada kehidupan dan pandangan Imam atau Guru atau Murshid dapat mendapatkan frekuensi Sang Murshid dan terjadilah quantum leap pada kesadarannya. Aku ingat buku “Youth Challenges And Empowerment” yang menyampaikan perihal onepointedness…….. Istilah ini sangat sulit untuk diterjemahkan: Memfokuskan Diri dengan “Pikiran yang Tak Bercabang”. Sesungguhnya one-“pointed”-ness jauh lebih berfokus daripada fokus. Maka, saya menambahkan “dengan pikiran yang tak bercabang”. Fokus pada suatu titik tidak menghilangkan segala sesuatu di sekitar titik itu. Persis seperti saat mengambil foto. Kita boleh berfokus pada suatu objek, namun apa yang ada di sekitarnya tetap ada. One-“pointed”-ness menghilangkan, melenyapkan segala sesuatu sekitar titik fokus. Seluruh kesadaran kita, pikiran kita, terpusatkan pada titik itu. Ini bukan konsentrasi. Konsentrasi adalah urusah pikiran saja. Dan, pikiran tidak pernah stabil, selalu naik turun, tidak bisa berada lama di suatu tempat atau pada suatu titik. Lagi pula, konsentrasi mesti selalu diupayakan. Sementara itu, one-“pointed”-ness bisa terjadi tanpa upaya, asal ada niat, hasrat, dan keinginan yang kuat “terhadap” titik yang dituju. Ketika titik yang dituju di”niat”kan sebagai satu-satunya kiblat dan kita mencintai kiblat itu, maka one-“pointed”-ness terjadi dengan sendirinya tanpa perlu diupayakan…….

Sang Suami: Dalam buku “Youth Challenges And Empowerment” tersebut juga disampaikan…… Apa yang terjadi saat “jatuh” cinta? Walau berskala kecil, saat itu pun terjadi one-“pointed”-ness. Setiap saat kau mengingat pacarmu, kekasihmu. Kau tidak perlu mengingatkan diri untuk mengingatnya. Ingatan itu muncul sendiri, wajah kekasih terbayang sendiri. Sebagai seorang-pelajar, siswa atau mahasiwa, apa yang menjadi kiblatmu? Apa yang menjadi tujuanmu ke sekolah atau kampus? Pikirkan, renungkan, kemudian bertanyalah pada diri sendiri berapa banyak waktu yang kau gunakan untuk mencapai tujuan itu dan berapa banyak waktu yang kau sia-siakan untuk mengejar hal-hal lain. Belajar. Ke sekolah untuk belajar, ke kampus untuk belajar. Bukan untuk pacaran, bukan untuk berpolitik. Apakah kau one”pointed” terhadap pelajaranmu? Silakan berkenalan dengan siapa saja, berteman siapa saja, bersahabat dengan siapa saja, tetapi tidak one”pointed” terhadap apa pun, selain pelajaran tujuanmu ke sekolah dan ke kampus. One-“pointed”-ness adalah latihan mental dan emosional untuk memperkuat syaraf dan nyalimu. Latihan ini juga membutuhkan tenaga yang luar biasa, tenaga ribuan kuda, yang hanya dimiliki oleh kaum muda. Maka, tentukan kiblatmu, cintailah kiblatmu. Arahkan seluruh kesadaranmu dan tunjukkan seluruh energimu untuk mencapainya. Bila kau tidak mempraktikkan one-“pointed”-ness ketika masih memiliki kekuatan yang luar biasa dan energi yang berlimpah, maka setelah berusia 40-an nanti kau tak dapat mempraktikkannya lagi. Saat untuk melatih diri adalah, sekarang……..

Sang Istri: Kemudian pengertian tentang Ahimsa. Dalam buku “Panca Aksara, Membangkitkan Keagamaan Dalam Diri Manusia” disampaikan…….. Saat Ahimsa muncul di dalam diri manusia, ia terbebaskan dari naluri hewani yang diwarisinya dari evolusi panjang sebagai hewan. Saat itu, ia betul-betul menjadi manusia. la menemukan kemanusiaan di dalam dirinya. Ahimsa juga tidak berarti menjadi pengecut. “Tidak,” kata Mahatma, “jika kau memilih Ahimsa karena takut sama musuh, maka kau seorang pengecut. Kau harus memiliki kekuatan untuk membalas musuhmu, tetapi memilih tidak membalasnya – itu baru Ahimsa.” Ahimsa adalah sifat seorang pemberani, seorang pahlawan, seorang yang memiliki kekuatan. Ahimsa tidak bisa dilakoni oleh seorang pengecut…….

Sang Suami: Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” disampaikan pengertian Ahimsa…….. Ahimsa, Do Not Act Violently, Do Not Cause Injury, Jangan Menggunakan Kekerasan, Jangan Menyakiti. Dikatakan Martin Luther King, Jr., seperti yang dipahami beliau dari ajaran Mahatma Gandhi. “Senjata kita hanya satu, senjata kasih!” Ahimsa juga berarti menghormati orang lain. Jika sudah membuat janji untuk bertemu jam 10 pagi, lima menit sebelumnya kita sudah berada di tempat pertemuan. Jangan sampai orang lain menunggu. Itu pun kekerasan. Melihat orang lain menderita, para radikal merasa bahagia. Ahimsa berarti merasakan penderitaan orang lain siapa pun orang lain itu. Ahimsa berarti memutuskan untuk tidak menambah penderitaan seorang pun, karena sudah cukup penderitaan di dunia ini. Ahimsa juga berarti tidak menyiksa diri; tidak mengintimidasi siapa pun dengan kehendak membakar diri jika keinginan kita tidak dikabulkan, atau membakar bendera negara lain, karena pemerintahnya tidak bertindak sesuai dengan keinginan kita. Kita juga harus ingat bahwa ahimsa bukanlah pekerjaan para pengecut. Seorang pengecut bertindak karena takut. Ia tidak memiliki keberanian. Pasal pertama abhaya tidak dimilikinya. Dalam bahasa Gandhi, “Kau harus memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membalas, tetapi memutuskan untuk tidak membalas itulah ahimsa”…..

Sang Istri: Kita juga dapat mengambil hikmah dari onepointedness Munna terhadap Mahatma Gandhi. Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara” disampaikan……. Kesadaran harus diraih lewat perjuangan panjang dan dipertahankan dengan segala upaya. Pengalaman seorang Murshid pun tak akan membantu. Kesadarannya tak akan serta merta menyadarkan diri Anda. Kesadaran sang Murshid hanya bisa merayu Anda, menggoda Anda, menggiur Anda untuk ikut mengalami sendiri apa yang sedang dialaminya…….. Seorang wanita yang dianggap tidak cukup susila meminyaki kaki Isa dengan minyak wangi—para murid pun berontak: ”Kesadaran macam apa itu? Uang itu lebih baik digunakan untuk sesuatu yang lebih berguna, dibagikan kepada fakir miskin.” Sang Murshid menarik napas panjang. “Kesadaran apa yang kalian bicarakan? Apa yang kalian tahu tentang kesadaran? Fakir miskin akan tetap ada sampai akhir zaman. Seorang Murshid tidak selalu mengetuk pintu rumahmu.” Amal salehmu selama sekian masa kehidupan telah mempertemukanmu dengan seorang Isa. Lalu saat pertemuan itu berlangsung, amal saleh apa lagi yang sedang kau bicarakan? Nikmati dulu pertemuan ini………

Sang Suami: Tanpa sadar Munna telah menggunakan “pintu gerbang Mahatma Gandhi” untuk menjalani kehidupannya. Dia telah menjadi tangan Sang Mahatma untuk menyadarkan masyarakat menjalani kehidupan yang benar. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan…….. Para sufi menggunakan “wujud” murshid sebagai gerbang untuk memasuki Tuhan. Ketika Yesus menyatakan diri sebagai pintu untuk memasuki Kerajaan Allah, maksudnya ya itu. Para lama di Tibet melakukan Guru Pooja, penghormatan khusus terhadap para guru. Begitu pula dengan para “pencari” di dataran India. Lewat Guru Bhakti atau cinta tak bersyarat dan tak terbatas terhadap seorang guru, mereka menemukan cinta yang sama di dalam diri mereka masing-masing. Seorang guru tidak membutuhkan puja dan bakti. Dia justru memberikan kesempatan bagi perkembangan puja dan bhakti di dalam diri kita masing-masing. Puja dan bakti terhadap seorang guru tidak berarti mencium kaki atau tangannya. Puja dan bakti terhadap seorang guru semata-mata untuk mendekatkan diri kita dengan Ia yang bersemayam di dalam setiap makhluk……..

Sang Istri: Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan……. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. la telah mencapai keadaan OnepointednessEkagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu……… Semoga………

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Desember 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: