Meditasi, Studi Dan Berkarya – Raja, Jnana Dan Karma, Renungan Ke-39 Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan yang berhubungan dengan kesadaran. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka berusaha membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari referensi yang mereka gali. Mereka berusaha membuka hati dengan pemahaman secara repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri.

Sang Istri: Suamiku, kita baru saja membaca bersama file lama The Torchbearers Newsletter 2006. Dalam topik Secangkir Kopi Kesadaran yang isinya berbicara tentang perlunya latihan meditasi, memahami pengetahuan tentang kesadaran dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari…….. Latihan meditasi hanya membersihkan lahan jiwa kita. Studi adalah proses penanaman bibit. Kita memang sudah terbiasa mengambil apa saja yang terasa enak. Padahal tanpa sarana-sarana penunjang, rasa enak itu hanyalah untuk sesaat dan tidak akan bertahan lama. Setelah studi, masih ada tahap ketiga yaitu, menerjemahkan latihan meditasi dan studi kita dalam bentuk pekerjaan sehari-hari. Jika kita bekerja tanpa persiapan diri, maka kita akan selalu menyalahkan orang lain, keadaan dan sebagainya. Meditasi, studi dan kerja nyata – ketiganya merupakan tritunggal. Angkat salah satu di antaranya, dan hidup manusia akan menjadi pincang.

Sang Suami: Dalam artikel tersebut juga disampaikan…….. Mereka yang bekerja memiliki pemahaman bahwa meditasi dan studi tidak penting. Mereka meninggalkan keduanya dan menyibukkan diri dalam pekerjaan. Mereka yang menikmati meditasi tidak paham bahwa pekerjaan dan studi adalah pelengkap yang penting. Dan mereka yang melakukan studi meremehkan pekerjaan dan meditasi. Inilah akar persoalannya. Seseorang boleh bekerja 18 jam sehari untuk ashram, jika tidak dibarengi dengan meditasi dan studi, dia pasti gagal. Apalagi bila dia tidak memiliki keahlian dalam bidang pekerjaannya. Sebaliknya jika bekerja secara meditatif dan tidak melupakan tujuan bekerja, maka dengan keahlian yang pas-pasan pun akan tetap berhasil.

Sang Istri: Ketiganya merupakan kombinasi dari latihan meditasi-raja, pengetahuan-gyana dan pekerjaan-karma dan kemudian bhakti adalah warna dasarnya. Meditasi yang bukan raja murni, tapi bhakti raja yoga. Pengetahuan yang bukan pengetahuan murni tapi bhakti jnana yoga. Dan karma sebagai pengabdian, bhakti karma yoga.

Sang Suami: Apa pun yang kita kerjakan, kita lakukan dengan semangat pengabdian terhadap Yang Tunggal. Dan, sama sekali tidak mengharapkan imbalan apa pun termasuk ucapan terima kasih sekali pun betul-betul menunjukkan sikap pengabdiannya tanpa pamrih. Hanyalah pekerjaan yang dilakukan dengan semangat mengabdi tidak berurusan dengan imbalan. Dan pekerjaan semacam ini belum pernah kita lakukan sebelumnya. Ini merupakan pesan sentral dalam Bhagavad Gita, yang anehnya juga tidak dipahami oleh mereka yang sudah khatam dengan Bhagavad Gita puluhan bahkan ratusan kali. Bhagavad Gita adalah kitab umat manusia yang relatif pendek. Jika disalin, keseluruhannya akan mengisi 20-an halaman A4. Banyak orang yang memilih kebiasaan untuk membacanya setiap hari. Namun karena sekedar membaca dengan tujuan khatam, maka tidak terjadi apa-apa………

Sang Istri: dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” disampaikan…….. Ibadah, Pemujaan, Sembahyang adalah sarana untuk menciptakan Pengabdian dalam diri kita. Tidak lebih dari itu. Disiplin-disiplin seperti itu dibutuhkan untuk melahirkan Pengabdian dalam diri kita. Begitu lahir Rasa-Pengabdian dalam diri, kita akan mulai melihat kekasih kita di mana-mana. Dia ada di Selatan dan di Timur, di Utara dan di Barat, Dia di mana-mana. Dengan kesadaran seperti itu, apa pun yang kita lakukan akan menjadi pemujaan. Kita tidak akan lagi melakukan sesuatu untuk keuntungan pribadi, apa pun yang kita lakukan, kita lakukan demi cinta kasih. Kita harus memahami definisi Pengabdian secara benar, karena sudah sering sekali kita gagal mengenali seorang Pengabdi. Konsep kita tentang Pengabdian salah. Kita percaya bahwa seorang Pengabdi akan menolak, akan menyangkal dunia materi dan merangkul dunia rohani yang abstrak. Tidak, mereka yang melakukan hal itu karena pelarian, tidak dapat disebut seorang Pengabdi……… Menerima atau menolak, kita tidak dapat melakukan keduanya sekaligus dan bersamaan. Pengabdi menerima segala sesuatu yang ada dalam Keberadaan ini. la mencintai semuanya. la tidak berurusan dengan kebencian, penolakan atau penyangkalan. Biji mangga tidak dapat tumbuh menjadi pohon apel. Ini bertentangan dengan hukum alam. Saat kita menolak dunia, kita sedang menabur bibit kebencian. Bagaimana kita dapat berharap akan pohon cinta dan Pengabdian? Mereka telah lupa cara merayakan kehidupan. Mereka tidak dapat menyanyi, bisu, tidak dapat berdansa di bawah sinar matahari dan cahaya rembulan. Jika ini merupakan hasil Pengabdian, jika ini adalah hasil akhir dari kepercayaan mereka, terserah mereka. Kita tidak berkepentingan apa pun dengan Pengabdian ala mereka itu, dengan religiositas ala mereka itu…….. Pengabdi tidak pernah serius, dia tidak pernah bermuka panjang dengan penampakan serius. kita akan menemukannya menerima hidup secara keseluruhan. Ia akan menerima hidup secara total. Kita akan melihat dia menari, bernyanyi dan berpesta. Dia selalu ceria. Pengabdi akan membuat hidupnya menjadi perayaan cinta kasih yang tak pernah berakhir dan dia akan mengundang siapa saja untuk bergabung dalam perayaannya. Entah mereka berkulit putih atau sawo matang atau kuning, dari kelompok kepercayaan A, B atau C. Seorang Pengabdi, seseorang yang sungguh religius akan berhenti mencari, karena ia telah bertemu dengan Sang Kekasih. la senang, puas. la berada dalam keadaan kebahagiaan yang sempurna……..

Sang Suami: Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan……… la berkarya bukan bagi dirinya sendiri, bukan bagi keluarganya saja – tetapi bagi seluruh umat manusia. Ia berkarya bagi sesama makhluk. la berkarya bagi Semesta. la tidak memikirkan hasil. Seluruh kesadaran dipusatkannya pada apa yang dikerjakannya. Sehingga hasilnya pun sudah pasti baik. Tidak bisa tidak. Maka, tidak perlu dipikirkan. la berkarya dengan semangat persembahan dan pengabdian pada Hyang Maha Kuasa. Bagi seorang Karma Yogi, Maanava Sevaa atau Pelayanan terhadap Sesama Manusia, bahkan Sesama Makhluk, adalah Maadhava Sevaa atau Pengabdian terhadap Hyang Maha Kuasa. Dia tidak beramal-saleh atau berdana-punia demi pahala atau kenikmatan surgawi. Dia melakukan hal itu karena “senang” melakukannya………

Sang Suami: Dalam buku “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, Karya Terakhir Mahaguru Shankara Saadhanaa Panchakam” disampaikan…….. Mengabdilah selalu pada Yang Mahamemiliki. Mengabdi kepada siapa? Berbakti kepada siapa? Kepada mereka yang mengaku mahatahu dan mahamemiliki? Kepada mereka yang telah menyadarkan hak kita untuk berpikir dan berperasaan? Kepada mereka yang ingin menguasai kita? Kepada mereka yang ingin menguasai kita? Tentunya tidak. Mengabdilah kepada Ia Yang Maha Memiliki. Kepada ia yang adalah Pemilik Tunggal Alam Semesta. Kepada Dia yang disebut Hyang Widhi oleh orang Hindu, Adi Budha oleh orang Buddhis, Bapa di  Surga oleh orang Kristen, dan Allah oleh orang muslim. Dia pula Tao Yang Tak Terungkap, dan Kami Yang Tak Terjelaskan namun dapat “dijalani”, dilakoni dalam keseharian hidup. Dialah Satnaam para pemuja Sikh, Sang Nama Agung Yang Berada di Atas Semua Nama. Janganlah engkau goyah dari imanmu itu, dari pengabdianmu itu. Dari Iman pada Pengabdian itu sendiri……… Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidup. Ilmu apa yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh gelombang suka dan duka? Temyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. la telah mencapai keadaan Onepointedness – Ekagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu…….

Terima kasih Bapak Anand Krishna

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Desember 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: