Identitas Diri Anak Kecil, Renungan Ke-41 Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “berguru”. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan setelah dipahami harus dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan artikel-artikel serta buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip wisdom dalam buku-buku tersebut agar tidak kehilangan esensi.

Sang Suami: Istriku, mari kita berolah-rasa tentang identitas diri…… Pengetahuan tentang baik dan buruk yang kita terima sejak kecil membentuk pola pikiran bawah sadar kita, sehingga pola tersebut  hampir menjadi permanen. Akan tetapi kita juga sering tidak sadar bahwa pola-pola yang telah terbentuk tersebut kadang saling bertabrakan  dan membingungkan diri kita sendiri. Kita mempunyai nilai tersendiri bagaimanakah identitas seorang saleh dan identitas seorang pendosa. Kita mempunyai banyak identitas diri misalnya sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai saudara, sebagai teman, sebagai laki-laki dan lain sebagainya. Karena pekerjaan, kita mempunyai juga identitas sebagai dokter, pengacara, pelatih, pengurus, alumni perguruan tinggi dan seterusnya. Pengetahuan juga menambah jumlah identitas kita sebagai orang bijaksana, matang, tegas, lembut, ramah dan masih banyak 1001 macam identitas lainnya. Persoalan bisa timbul setiap saat, misalnya pada waktu seorang laki-laki dewasa berbicara berdua dengan seorang perempuan cantik. Berbagai identitas bertikai, identitas sebagai laki-laki, sebagai suami, orang saleh, perayu, pemberi nasehat, dan ratusan identitas yang lain,yang semuanya bertikai memperebutkan dirinya. Contoh sederhana yang lain, uang di dompet sedang tipis, tetapi seorang sahabat mau pinjam duit, kita mau mempertahankan identitas sebagai sahabat yang baik atau kepala keluarga yang baik. Diri kita sering tidak tenang, karena berbagai identitas pribadi kita saling bertikai. Apa yang disebut kebahagiaan adalah suatu keadaan dimana sebagian besar pertikaian ini mereda. Kita menjadi polos dan tidak tergantung identitas ciptaan pikiran kita sendiri. Kita tidak terbelenggu identitas masa lalu dan bagaimana identitas kita di masa depan, di mata orang lain.

Sang Istri: Ketika kita masih bayi, dalam diri kita tidak ada pertikaian ini, karena bayi tidak mengalami konflik tentang hasrat-hasratnya. Belum ada pengetahuan tentang identitas antara orang saleh dan pendosa. Kebaikan dan keburukan mulai dipelajari ketika ibunya mengatakan suatu tindakan itu dengan anggukan atau gelengan kepala, ya atau tidak, boleh atau jangan, mana tindakan yang disukai ibu atau tidak. Dan si bayi mulai belajar menyenangkan ibunya. Kalau saja yang dikehendaki dirinya dan ibunya sama, dari dalam diri dan luar diri sejalan tidak ada masalah. Akan tetapi begitu dari dalam diri dan luar diri berbenturan mulailah timbul konflik. Benih rasa bersalah dan tindakan munafik sudah mulai tertanam. Temperamen “tak takut” si bayi mulai tercemar. Si bayi mulai menyangsikan nalurinya sendiri. Pertikaian di dalam diri sudah dimulai sejak kecil……. Apabila kita melakukan tindakan negatif kepada bayi yang masih polos, ia akan menangis atau berpaling. Suatu reaksi yang sehat untuk melepaskan energi-energi negatif, yang kalau tidak dilepaskan akan melekat dalam memori pikirannya. Seiring dengan bertambahnya usia, belajar dari pengalaman, anak tidak selalu bisa melampiaskan ekspresi secara spontan, demi, kesopanan, tahu diri, mematuhi orang tua, dia menjadi terbiasa tidak melepaskan energi-energi negatif. Sebagai orang dewasa kita telah menyimpan kemarahan, dendam, frustasi ketakutan selama bertahun-tahun. Kita sudah melupakan naluri untuk melepaskan energi negatif. Simpanan emosi negatif inilah yang harus dikeluarkan dengan cara ”cleansing” agar kita kembali kepada kepolosan anak kecil……..

Sang Suami: Istriku, bukan hanya emosi negatif, pola pikiran lama yang membelenggu pun perlu di “cleansing”. Setiap manusia lahir dengan sifat genetik bawaan, kemudian pola pikirannya dibentuk oleh orang tua, pendidikan dan lingkungan. Apapun yang dianggap benar oleh seseorang adalah “benar” menurut pola pikiran yang dimilikinya. Beda orang tua, beda pendidikan, beda lingkungan menyebabkan beda pola pikiran. Itulah yang membuat setiap manusia unik. Hanya dengan menyadari pola yang membelenggu tersebut dan membebaskan diri dari pola pikiran lama seseorang akan sampai pada suatu hal yang universal……. kepolosan anak kecil. Kepolosan anak kecil adalah suatu keadaan yang amat berharga. Dalam buku “Maranatha, Bersama Anthony de Mello Mabuk Anggur Kehadiran Tuhan” disampaikan…….. Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. “Anak kecil” di sini mewakili “ketulusan”, “keluguan” dan “kepolosan”. “Seperti anak  kecil” berarti “keadaan no-mind“- di mana ego sudah tidak ada lagi. Rasa angkuh dan arogansi pun tidak ada lagi………

Sang Istri: Secara tidak sadar kita menghilangkan kepolosan anak-anak kita demi konsep yang kita pegang. Dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” disampaikan……..  Anda tidak mencintai anak-anak. Anda tidak membimbing mereka. Anda menuntut! Anda ingin mereka hidup untuk Anda, bukan untuk diri mereka sendiri. Anda ingin mereka mengikuti kepercayaan Anda. Anda mengebiri anak-anak, Anda ingin mereka memakai sepatu yang ukurannya sama dengan Anda. Anda kejam! Anda mengkondisikan mereka. Anda memaksakan ide dan pandangan-pandangan Anda kepada mereka. Anda tidak membiarkan anak-anak tumbuh berdasarkan apa yang mereka sendiri yakini. Mereka tidak diperbolehkan hidup berdasarkan bimbingan dari hati nurani mereka sendiri. Mereka tidak boleh menghidupi kehidupannya sendiri. Mereka harus menjadi robot bagi Anda. Anda membuat mereka begitu tergantung kepada Anda. Betapa kejamnya! Untuk menyembunyikan rasa bersalah ini, Anda menggunakan uang, materi. Anda berbelanja dengan boros, membeli barang-barang yang tidak merupakan kebutuhan dan atas nama cinta memberikannya kepada anak-anak Anda. Anda memanjakan mereka. Anda membungkusi rasa bersalah Anda dengan kertas kado kebahagiaan materi yang tidak berarti bagi mereka. Mereka membutuhkan kasih Anda. Apa yang Anda lakukan bukan cara mendidik yang baik. Anda hanya mengulangi perbuatan orang tua Anda terhadap Anda. Anda sebenarnya tidak pernah tumbuh dan sekarang Anda menghalangi pertumbuhan anak-anak Anda. Anda ingin mereka menjadi fotokopi Anda. Anda berperan sebagai pengawas di rumah tahanan dan anak-anak Anda menjadi narapidana yang sedang menjalani hukuman……….

Sang Suami: Dalam buku “Isa Hidup dan Ajaran Sang Masiha” disampaikan…….. Yesus memberikan ciri-ciri seorang pengikut. Jika Anda belum “pas” dengan ciri-ciri tersebut, jangan menganggap diri Anda seorang pengikut. Seperti anak kecil yang hidup di atas lahan milik orang lain…..  Ciri Pertama, seorang pengikut harus berjiwa tulus, berhati polos—seperti seorang anak kecil. Ciri Kedua seorang pengikut harus sadar bahwa dunia ini bukan miliknya. Berarti, ia tidak terikat dengan dunia benda. Apakah Anda polos, tulus, lugu seperti seorang anak kecil? Apakah Anda tidak terikat dengan dunia benda? Jika ya, Anda seorang pengikut Yesus. Ciri Ketiga seorang pengikut, begitu tidak terikatnya dengan dunia benda, sehingga siap untuk meninggalkannya kapan saja. Siap menghadapi kematian raga kapan saja. Siapkah Anda?……..

Sang Istri: Konsep sebuah ajaran pun bisa membelenggu dan kita menjadi menjadi tidak polos lagi. Dalam buku “Tantra Yoga” disampaikan……… Kebenaran setiap ajaran, setiap kitab suci akan terungkapkan, bila seseorang sudah terbebaskan dari kesombongan intelektual dan melepaskan pendapat-pendapat kaku. Mau tak mau, saya harus memperhalus bahasa Tilopa. Kasihan, orang tua. Salah ngomong sedikit bisa kena cekal. Padahal, Tilopa benar. Yang tidak bisa menerima Siddhartha siapa? Yang ingin membunuh Muhammad siapa? Yang menyalibkan Yesus siapa? Yang menghujat Krishna siapa? Tanpa kecuali, mereka semua adalah para ahli kitab. Para intelektual. Mereka-mereka yang sudah memiliki konsep. Mereka-mereka yang sudah kaku, keras, alot. Lalu siapa pula yang bisa langsung menerima para Buddha, para nabi, para mesias, para avatar? Mereka-mereka yang polos, berhati tulus, tidak berkepentingan dengan konsep-konsep baku. Amrapali, Khadija, Maria Magdalena, Radha. Incidentally, mereka semua adalah wanita, tidak sombong, tidak memiliki ijazah dari universitas, bahkan tidak memperoleh pengakuan dari masyarakat. Mereka tidak peduli. Mereka tidak takut mengungkapkan kebenaran………

Sang Suami: Dalam buku “Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan” disampaikan……… la yang telah berserah-diri sepenuhnya kepada Kehendak Ilahi, ialah seorang Muslim sejati. Ialah yang disebut “Insannya Tuhan” oleh Rumi. la menjadi tulus, polos, lugu seperti seorang anak kecil. Dan kepolosannya itu, keluguannya itu, ketulusan dan kesederhanaannya itu mengundang Rahmat Ilahi, mengundang Kurnia Allah. Bagaikan seorang ibu, la yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang melindungi “Insannya Tuhan”. Jangan meragukan Kepedulian-Nya. Yakinilah Kasih-Nya. Lepaskan dirimu di Pangkuan-Nya………..

Sang Istri: Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas Bapak Anand Krishna” disampaikan…….. Para penyokong modern Law of Attraction seperti Rhonda Byrne, yang menjadi terkenal lewat karyanya “The Secret” dan, pasangan Esther dan Jerry Hicks yang meraih kesuksesan fenomenal setelah buku mereka berjudul  “Money and the Law of Attraction”, kiranya menempatkan joy atau keceriaan sebagai emosi tertinggi. Oleh sebab itu, setiap orang yang hendak “memanfaatkan” Hukum Ketertarikan untuk meraih keberhasilan mesti berada pada tingkat emosi yang tertinggi itu. Berada pada tingkat itulah “keinginan” berubah menjadi “kenyataan”. Berada pada tingkat itulah keceriaan menarik keceriaan. Kebahagiaan mengundang kebahagiaan……… Bagaimana Pendapat Yesus? Yesus menggunakan keadaan generik untuk menjelaskan maksud-Nya, “kembali menjadi seperti seorang anak kecil”. Seorang anak kecil tidak hanya ceria saja, ia juga lugu, polos, jujur, tidak berpura-pura, dan tampil apa adanya dalam segala kesahajaannya, sebagaimana adanya. Itu adalah keadaan awal kita, ketika pikiran belum cukup terbentuk dan emosi belum cukup berkembang. Keadaan itu bukan satuan pikiran atau thought; bukan gugusan pikiran, atau mind; bukan intelek, atau intellect; dan bukan pula emosi atau emotion. Karena tidak ada kata untuk menjelaskan keadaan ini dalam bahasa Aramaik maka Yesus menjelaskannya dengan menggunakan analogi keadaan seorang anak kecil. Dalam ajaran para Buddha – mereka yang sudah “terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi” – keadaan itu disebut “tatha”………..

Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Desember 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: