Memahami Program Rekayasa Mind, Renungan Ke-58 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan yang berkaitan dengan pemrograman pikiran. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai, buku-buku dan artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari referensi yang mereka gali. Berusaha membuka hati dengan pemahaman secara repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri.

Sang Suami: Istriku, aku baru saja membuka arsip catatan tentang manipulasi pikiran, sebuah artikel tulisan Bapak Anand Krishna yang pernah dimuat Harian Kompas 15 Agustus 2009…….. Dalam sejarah modern, adalah Adolf Hitler (1889-1945) adalah yang pertama kali menggunakan mind manipulation atau manipulasi pikiran sebagai senjata. Ibarat komputer, mind atau ”gugusan pikiran” manusia dapat dimanipulasi, dapat di-hack, bahkan dapat disusupi virus untuk merusak seluruh jaringannya. Dalam otobiografinya (Mein Kampf), Hitler menulis, ”Teknik propaganda secanggih apa pun tak akan berhasil bila terdapat hal yang terpenting tidak diperhatikan, yaitu, membatasi kata-kata dan memperbanyak pengulangan.” Kemungkinan besar, Hitler telah mempelajari penemuan Pavlov, ilmuwan asal Rusia dan peraih hadiah Nobel 1904 untuk psikologi dan ilmu medis. Melalui teorinya tentang conditioned reflex atau involuntary reflex action, sang ilmuwan membuktikan, ”perilaku manusia dapat diatur atau dikondisikan” sesuai ”proses pembelajaran yang diperolehnya”. Sebenarnya Pavlov terinspirasi oleh law of association atau ”hukum keterkaitan” yang banyak dibahas para pujangga dan ilmuwan sebelumnya. Menurut hukum itu, ”suatu kejadian” dalam hidup manusia atau bentuk kehidupan lain —tetapi tidak terbatas pada hewan dan tumbuhan—dapat dikaitkan dengan ”keadaan” atau ”perangsang” atau ”apa saja” yang sebenarnya tidak terkait secara langsung dengan kejadian itu.

Sang Istri: Iya suamiku, dalam artikel tersebut disampaikan…….. Ketika seekor anjing diberi makanan, ia mengeluarkan air liur. Ini disebut refleks yang lazim atau unconditioned reflex. Ia tak perlu menjalani proses pembelajaran.Namun, pada saat yang sama bila dibunyikan lonceng, terjadilah proses pembelajaran. Anjing itu mulai ”mengaitkan” bunyi lonceng dengan makanan dan air liurnya. Setelah beberapa kali mengalami kejadian serupa, maka saat mendengar bunyi lonceng, air liurnya keluar sendiri meski tidak diberi makanan. Ini disebut conditioned reflex, refleks tak lazim. Keluarnya air liur itu tidak lazim, tidak ada makanan. Namun, ia tetap mengeluarkan air liur. Pembelajaran ini harus diulang beberapa kali agar ”keterkaitan” yang dihendaki tertanam dalam gugusan pikiran atau mind hewan, atau… manusia! Maka, tak salah bila Adolf Hitler menganjurkan ”pengulangan”. Dalam ilmu psikologi dan neurologi modern, pengulangan atau repetition juga dikaitkan dengan intensity. Apa yang hendak ditanam harus terus diulangi secara intensif. Demikian bila seekor anjing dapat mengeluarkan air liur yang sesungguhnya tak lazim, manusia pun dapat dikondisikan, dipengaruhi untuk berbuat sesuatu di luar kemauannya……… Pengulangan tidak dapat mengubah kebohongan menjadi kebenaran. Tetapi pengulangan dapat membuat orang percaya pada kebohongan. Hitler membuktikan keabsahan sebuah pepatah lama dari Tibet, Bila diulangi terus-menerus, kebohongan pun akan dipercayai orang……… Baca lebih lanjut

Melayani Sesama, Renungan Ke-57 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang berolah-rasa tentang berguru. Buku-buku serta artikel-artikel Bapak Anand Krishna mereka jadikan referensi. Mereka yakin siraman wisdom secara repetitif-intensif dari referensi tersebu bagaikan pemberian pupuk bagi pengembangan tanaman kasih di dalam diri.

Sang Suami: Sifat bawaan hewani dalam diri membuat kita hanya memikirkan diri, keluarga dan kelompoknya sendiri. Pengembangan sifat manusiawi membuat kita tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, tetapi juga memikirkan kepentingan orang lain. Setelah berkembang menjadi Manusia-Plus, dia akan berkata, Wahai Gusti, kebutuhan pribadi kami telah Gusti cukupi, ‘sampun cekap Gusti’….. biarlah waktu, napas dan apa pun yang telah Gusti karuniakan kepada kami, kami persembahkan bagi pelayanan kepada sesama……… Dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi” disampaikan……… Kepuasan batin yang kita peroleh setelah membantu, melayani orang lain sungguh tak terhingga nilainya. Hanya mementingkan diri sendiri dan bersikap “cuwek” terhadap kepentingan orang lain adalah sifat hewani. Naluri hewani yang masih tersisa dalam diri manusia membuat dia bersikap demikian. Mementingkan diri sendiri, tetapi pada saat yang sama peduli juga terhadap kepentingan orang lain adalah sifat manusiawi. Siapa saja bisa bersifat demikian. Seharusnya setiap makhluk yang disebut “manusia”, “insan” bersifat demikian. Demikianlah kodrat manusia. Yang bisa menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi adalah Manusia-Plus. Saya katakan Manusia-Plus, karena banyaknya orang yang “alergi” terhadap istilah “Manusia Ilahi”, “Manusia Allah”. Jangan mempermasalahkan kata, jangan terjebak dalam permainan kata. Yang penting adalah esensinya. Apa pun istilah yang Anda gunakan, dialah Manusia Sejati. Ia telah berhasil mengembangkan potensi dirinya. Ia berada pada lapisan atas kesadaran diri. Dan berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi “berkah” bagi lingkungan Anda. Berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi Duta Damai, Utusan Kasih. Kehadiran Anda saja sudah dapat menyejukkan suasana……… Baca lebih lanjut

Tidak Menghakimi Tetapi Tetap Memilah, Renungan Ke-56 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan menjadi tak berharga dan hanya membebani diri bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri.

Sang Istri: Seorang teman di FB memberikan nasehat yang nampak bijak, dalam dunia itu selalu ada hal positif dan hal negatif. Baik dan buruk hanyalah persepsi masing-masing orang, kita tidak perlu ikut campur urusan orang. Memang dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena” disampaikan……  Jiwa tidak pernah menghakimi. Hakim-menghakimi adalah urusan pikiran. Pikiran tidak mengenal Jiwa, karena Kebenaran Jiwa melampaui keterbatasan pikiran………. Kemudian dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan” juga disampaikan……… Jangan menghakimi orang lain; mungkin apa yang ia lakukan dalam posisinya, merupakan tindakan yang tepat baginya. Bagi dia itu mulia. Jangan juga meniru, karena bagi Anda, tindakan yang sama belum tentu mulia…….. Buku “Membuka Pintu Hati, Surah Al-Fatihah Bagi Orang Modern” menyampaikan……. Dalam Injil pun berulang kali Nabi Isa, Yesus, diriwayatkan mengucapkan kata-kata yang sama, “Jangan menghakimi orang lain”……. Hendaknya kita melakukan introspeksi diri. Sebelum menghakimi orang lain, seharusnya kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah perfect, sudah sempurna? Sebelum menuduh dan menuding orang lain melakukan korupsi, kiranya kita sadar bahwa selama ini kita pun terlibat dalam kolusi dan korupsi. Mungkin secara langsung, mungkin secara tidak langsung. Walaupun baju kita sendiri cukup kotor, kita masih saja melihat kotoran pada baju orang lain. Atau justru karena kekotoran kita, lalu kita menipu diri dan berpura-pura bersih dengan menunjuk-nunjuk orang lain kotor?!……….

Sang Suami: Istriku, bila kita membaca buku kita tidak bisa mengutip kalimat sepotong-sepotong, kita harus memahami secara keseluruhan. Tidak menghakimi, tidak berarti kita tidak memilah dan membela dharma. Pandawa memahami mengapa sifat Korawa demikian, tetapi Pandawa mengikuti nasehat Sri Krishna untuk berperang melawan kebatilan. Dharma tetap harus ditegakkan dan kita tidak membiarkan adharma merajalela….. Melihat adharma merajalela di tengah masyarakat, kita tidak dapat diam. Kita bisa mencontoh Mahatma Gandhi dengan senjata Ahimsa-nya. Dalam buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World” disampaikan…… Memang kita tidak perlu mencari keburukan manusia, tetapi bila seseorang melakukan kejahatan, jelas kita harus melawan. Hanya saja perlawanan yang kita berikan tidak menggunakan kekerasan. Kita melawan tanpa senjata, tetapi dengan kekuatan logika, rasio, dan di atas segalanya cinta-kasih dan pemaafan. Ahimsa juga menuntut agar mereka yang dapat membedakan kebatilan dari kebaikan, kejahatan dari kebajikan – tidak membiarkan kejahatan dan kebatilan merajalela. Ketika adharma merajalela, hadapilah adharma itu dengan segala daya dan kekuatan diri……… Baca lebih lanjut

Pintu Masuk Dari Luar, Pintu Keluar Dari Sangkar Serta Pintu Nurani, Renungan Ke-55 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang nasehat Guru tentang keterikatan sebagai bahan introspeksi. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Memupuk dengan wisdom secara repetitif intensif bagi benih kesadaran dalam diri.

Sang Istri: Kita sering tidak sadar, pikiran kita begitu gaduh, karena beraneka-ragamnya tamu masuk ke dalam diri tanpa terkontrol dengan baik. Aku ingat buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” yang menyampaikan bahwa……… Peran mata harus dipahami dengan betul. Pemicu-pemicu di luar menggunakannya sebagai pintu untuk masuk ke dalam diri kita. Misalnya Anda “melihat” sesuatu di showcase toko. Muncul keinginan untuk memperolehnya, membelinya, maka tangan akan mencari dompet. Awal mulanya dari “penglihatan”. Kesadaran kita mengalir ke luar lewat sekian banyak indra, tetapi mata adalah indra utama, gerbang utama. Jauh lebih mudah mengalihkan kesadaran ke dalam diri, bila gerbang utama ditutup………

Sang Suami: Benar istriku, sebelum berdoa kita harus menutup pintu panca indera dulu. Dalam buku “Maranatha, Bersama Anthony de Mello Mabuk Anggur Kehadiran Tuhan” disampaikan…….. Jika seorang Yesus bicara tentang doa, yang dia maksudkan adalah “meditasi”. Dan untuk “meditasi” anda tidak membutuhkan bangunan gereja atau masjid atau pura atau vihara. Bahkan kamar pun tidak dibutuhkan. Lalu apa yang dia maksudkan dengan “masuklah ke dalam kamarmu” dan “tutuplah pintu”? Yang Yesus maksudkan adalah “kamar diri” kita. Pintu yang harus ditutup adalah “pintu panca indera” kita. Berarti seluruh perhatian, seluruh kesadaran dialihkan ke “dalam diri”. Ini baru “tempat tersembunyi”. Kamar di rumah anda bukanlah tempat tersembunyi. Kemudian, jangan menggunakan terlalu banyak kata-kata. Bahkan kalau bisa, jangan menggunakan sama sekali. Mau menyampaikan apa kepada Tuhan Yang Maha Tahu Ada-Nya? Tanpa diberitahu pun Dia sudah tahu…….. Baca lebih lanjut

Dari Pelayan Menuju Pemilik, Renungan Ke-54 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka ingin membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Membuka hati dengan repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri.

Sang Istri: Suamiku, kita tidak pernah punya pembantu, semua pekerjaan rumah selalu kita kerjakan sendiri. Hanya kadang-kadang untuk memperbaiki rumah dan sekali-sekali untuk merapikan taman ada orang yang datang membantu. Aku sering melihat para pembantu di rumah mewah, mereka merasa derajatnya lebih tinggi daripada mereka yang berjualan keliling. Mereka merasa punya kelas, pakaiannya bagus, pegang hape dan sering diantar pengemudi bosnya ke pasar. Padahal sang pemilik rumah mewah biasa-biasa saja.Tetapi kadang aku juga melihat beberapa pembantu yang sadar, yang memelihara rumah yang ditungguinya sebaik mungkin. Mereka merasa sebagai penjaga dan selalu menjaga keamanan dan kebersihan rumah yang dijaganya. Suamiku, aku hanya berpikir, ini adalah masalah rasa saja. Di dalam diri kita juga ada rasa pembantu yang angkuh, ada rasa pelayan yang setia, dan juga juga ada rasa sebagai pemilik rumah.

Sang Suami: Istriku, aku jadi ingat buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Bapak Anand Krishna”. Dalam buku tersebut disampaikan……… Alam semesta ibarat Rumah Besar… Dengan jumlah kamar dan pelayan yang tidak terhitung. Tentu rumah ini ada pemiliknya. Baik pelayan maupun pemilik bebas untuk memasuki kamar yang mana saja. Pelayan, untuk membersihkan kamar. Pemilik, untuk menikmati apa yang ada dalam kamar itu. Pemilik bebas untuk menentukan penggunaan setiap kamar. Pelayan tidak memiliki kebebasan itu. Pemilik bisa bongkar-pasang, bisa mengubah interior, bisa melakukan apa saja. Pelayan tidak bisa. Pemilik dan pelayan, dua-duanya tinggal di dalam rumah yang sama. Tapi, hidup mereka tidak sama. Pemilik hidup dengan kesadaran akan kepemilikannya. Pelayan hidup dengan kesadaran akan tugas dan kewajibannya sebagai pelayan……….

Sang Istri: Aku juga baru saja membaca buku tersebut………. Pemilik boleh mengisi salah satu kamar saja. la boleh mengunci diri dalam kamar itu selama berhari-hari, atau seumur hidup. la boleh tidak mengunjungi kamar-kamar lain. Tapi, kepemilikannya atas setiap kamar yang ada di dalam rumah itu tidak mengalami perubahan. la tetap memiliki rumah itu. Pemilik boleh meninggalkan rumah itu selama beberapa hari, atau berhari-hari. Ia boleh tidak ada di dalam rumah itu. Namun, kepemilikannya atas rumah itu sama sekali tidak terganggu……… Baca lebih lanjut

Antara Shri Hanuman Dan Yang Mulia Ananda, Renungan Ke-53 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membicarakan buku “The Hanuman Factor Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO” karya Bapak Anand Krishna. Mereka membicarakan kecintaan Hanuman kepada Sri Rama, Sang Guru. Dan mereka juga ingat kisah Osho tentang Yang Mulia Ananda yang juga begitu cinta kepada Sang Buddha, Yang Telah Terjaga.

Sang Suami: Istriku, seorang filsuf Islam abad pertengahan bernama Averroes (1128-1198) menulis bahwa meskipun kita memiliki raga yang terpisah, pikiran kita tidaklah terpisah. Ia meyakini bahwa kita ini menyerupai sebuah tumbuhan air yang batang-batangnya menyembul ke permukaan, namun menyatu pada akar tunggal utama di bawah air……. Hanuman pendengarannya terfokus pada gelombang pikiran Sri Rama, pada akar tunggal utama kehidupan. Karena kecintaannya terhadap Sri Rama, Hanuman sangat fokus pada Sri Rama, dia dapat mendengarkan pikiran Sri Rama. Setiap menghadapi masalah seakan-akan dia dapat kontak dengan Sri Rama karena berada satu gelombang dengan Sri Rama, sehingga setiap tindakannya selalu sesuai dengan pikiran Sri Rama……… Pada suatu hari Sri Rama bertanya kepada Hanuman, “Bagaimana caranya kamu memusatkan perhatian padaku?” Hanuman menjawab, “pada lapisan fisik, Gusti adalah Master dan kami adalah Disciple. Pada lapisan mental, kami adalah percikan sinar keilahian dari Gusti. Pada lapisan Atmik, Gusti dan kami adalah satu”…….. Kira-kira demikian pula jawaban seorang Sufi kepada Murshidnya……..

Sang Istri: Aku ingat bahwa dialog tersebut ada dalam kisah setelah Sita dan Sri Rama bersatu kembali di Ayodya setelah memenangkan perang melawan Rahwana. Sita sangat senang dengan jawaban Hanuman, dan Sita menghadiahi Hanuman seuntai kalung mutiara, pemberian Raja Janaka, ayahanda Sita kepada Sita pada saat pernikahan Sita dengan Sri Rama……. Hanuman mengucapkan terima kasih dan kemudian memegang kalung berharga itu dengan tangannya, dia mulai melepaskan mutiara-mutiara dari kalungnya dan mendekatkannya pada telinganya. Setelah beberapa saat dia menggigit setiap mutiara dan melemparkannya………. “O Gusti, hamba meneliti apakah hamba dapat mendengar Nama Gusti pada mutiara-mutiara tersebut. Mutiara tersebut tidak lebih berharga dari batu apabila tak ada nama Gusti di dalamnya”………… Mendengar jawaban Hanuman, Sri Rama memeluknya dengan penuh haru…….. Baca lebih lanjut

Adakah Rasa Empati Di Dalam Diri, Renungan Ke-52 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta artikel-artikel Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi dapat menjadi pemicu diri pribadi mereka untuk memberdayakan diri.

Sang Istri: Suamiku, baru saja kita membaca sebuah artikel Osho kiriman seorang sahabat…….. Di tengah-tengah para murid saat perahu yang mereka naiki berada di tengah sungai Gangga, tiba-tiba Sri Ramakrishna berteriak, “Jangan pukul saya”, dan air matanya bercucuran. Badannya bergerak-gerak seperti dipukuli orang. Ketika mereka mencapai tepi pantai seberang, mereka menemukan seorang nelayan sedang dipukuli oleh sekelompok masa. Dan, anehnya bilur-bilur di punggung sang nelayan terjadi pula di punggung Sri Ramakrishna…… Inilah empati……. Anda merasakan satu dengan orang lain dan identitas yang memisahkannya lenyap. Hausnya orang lain menjadi haus Anda, laparnya orang lain menjadi lapar Anda, sukacitanya orang lain menjadi sukacita Anda. Keterhubungan hati yang sangat dalam. Kita bisa bisa bepikir aku Hindu, aku Buddha, aku Muslim, aku Kristen, Aku Indonesia, Aku China, Aku Amerika, tetapi itu kerja mind bukan kerja hati. Hati kita tak mempunyai identitas yang berbeda-beda. Hati adalah hati.

Sang Suami: Dalam artikel tersebut disampaikan bahwa Sang Buddha Gautama mempunyai murid bernama Ananda yang selalu bersamanya sampai akhir hayatnya – hampir empat puluh dua tahun tanpa jedah, siang-malam, dua puluh empat jam sehari. Hubungan Ananda dengan Sang Buddha tidak berdasar mind. Hubungan antara Master dengan disciple-nya harus bukan hubungan mind……. Secara pelan-pelan hati mereka menjadi dekat, hampir menyatu. Dikatakan bahwa sebelum Sang Buddha minta air, Ananda telah membawakan minuman. Sebelum Sang Buddha berkata merasa dingin, Ananda telah membawakan selimut…… Sesekali Sang Buddha berkata, “Ananda, mengapa engkau membawakan minuman? Aku tidak meminta padamu. Ananda menjawab, “Tak ada masalah apakah Master meminta atau tidak, saya merasakan haus yang dirasakan Master; Saya merasa Master kedinginan. Saya tidak tahu bagaimana, karena ini bukan pertanyaan mind. Hanya rasa – dan begitu kuatnya sehingga saya tidak bisa melawannya. Apabila Master tidak haus, jangan minum”…… Sang Buddha tertawa dan berkata, “Tidak Ananda! Saya sedang bertanya-tanya bagaimana kamu mengetahuinya. Saya baru akan bilang merasa haus, saya baru akan bilang merasa dingin, tetapi kamu tidak memperbolehkan saya  bicara barang sepatah kata”…… Bahkan bila Sang Buddha tak dapat tidur karena nyamuk, Ananda pun tak dapat tidur. Saat Buddha bangun pagi – secara simultan  Ananda terbangun…… Terima kasih Yang Mulia Ananda yang telah memberikan contoh “onepointedness” dengan ungkapan empati yang nyaris sempurna…… Empati sudah sangat jarang empati terjadi sehingga manusia telah kehilangan rasa kemanusiaannya. Kehilangan empati menjadikan kita makhluk yang tidak spiritual.

Sang Istri: Sua Baca lebih lanjut