Renungan Akhir Tahun 2010: Film The Legend Of Bagger Vance, Membangkitkan Kearjunaan Dalam Diri, Renungan Ke-42 Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “berguru”. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan setelah dipahami harus dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan artikel-artikel serta buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip wisdom dalam buku-buku tersebut agar tidak kehilangan esensi.

Sang Istri: Suamiku, kita baru saja membaca ulasan seorang sahabat tentang film dasawarsa yang lalu yang mempunyai kesan mendalam bagi diri kita, “The Legend of Bagger Vance” dari blog http://joehanes.blogsome.com/ . Sutradara Robert Redford mengadaptasi sebuah Novel Steven Pressfield berjudul “The Legend of Bagger Vance: A Novel of Golf & The Game of life.” Steven Pressfield sendiri mengakui bahwa penulisan novel ini terinspirasi oleh Kitab Bhagavad Gita, yang berisi percakapan antara Sri Krishna dan Arjuna. Dalam cerita ini Rannulph Junuh ( diperankan Matt Damon ) yang dipanggil dengan” Junah”, Sang Arjuna yang sedang kehilangan authentic swing “jati diri,” dan Bagger Vance (diperankan Will Smith) yang dipanggil dengan “Bhagewans”, Sang Bhagavan, atau Sri Krishna penasehat Arjuna dalam kitab Bhagavad Gita.

Sang Suami: Junuh tadinya adalah pegolf handal kebanggaan masyarakat Savanah, Negara Bagian Georgia yang mempunyai pacar cantik putri seorang pengusaha lapangan golf di wilayah tersebut. Junuh ikut berperang dalam perang dunia pertama dan mengalami depresi karena berbeda dengan di lapangan golf, dia gagal memimpin pasukannya dalam peperangan dan semua anak buahnya mati terbunuh. Melarikan diri dari trauma kekecewaan , Junuh kemudian hidup mabuk-mabukan melupakan kehidupan bermasayarakat dan menjauhi sang pacar…….. Kita semua juga pernah menjadi manusia yang sempurna karena kita semua berasal dari Yang Mahasempurna. Kekecewaan beruntun ribuan kali disebabkan perasaan suka-duka yang dialami di dunia mayapada ini membuat kita lupa akan “authentic swing”, kesempurnaan diri yang pernah kita punyai karena kita telah terbenam dalam rawa mayapada, mabuk duniawi.

Sang Istri: Dikisahkan bahwa sang pacar ingin membangkitkan bisnis keluarganya sekaligus membangkitkan semangat masyarakat Savannah yang tenggelam dalam depresi global di tahun-tahun sebelum 1930-an. Sang pacar mengadakan turnamen pegolf antara dua pegolf nasional Amerika di Savanah. Untuk membangkitkan semangat masyarakat setempat, atas saran para pemuka masyarakat dia diminta membujuk Junuh agar ikut bermain dalam golf yang berhadiah 10 ribu dollar tersebut…….. Junuh sudah kehilangan semangat dan lupa bagaimana memukul golf. Adalah Bagger Vance yang datang kepadanya dan memberi semangat hidup agar dia kembali menemukan “authentic swing” yang telah terkubur dalam kesedihan berkepanjangan. Sang Bagger Vance bersedia menjadi caddy-nya yang akan selalu menasehati dalam pertandingan tersebut……..Begitu kasihnya Sang Bhagavan sebuah wujud keilahian yang selalu membimbing manusia setiap saat. Kita tinggal bilang ya, mengikuti petunjuk Ilahi dan Dia akan membimbing kita setiap saat…….

Sang Suami: Di tengah masyarakat yang “down” karena depressi global, Sang Bhagavan memilih Junuh untuk mengembalikan semangatnya sehingga Junuh sadar akan perannya di tengah masyarakat……. Arjuna juga dalam keadaan depresi berat sewaktu perang Bharatayudha akan dimulai, kelicikan para Korawa dankesusahan Pandawa dalam masa pembuangan selama duabelas tahun, membuat kepercayaan dirinya jatuh. Sang Bhagavan Krishna sebagai sais kereta perang Arjuna mengingatkan “jati diri” Arjuna sehingga dia bisa bangkit kembali untuk memenangkan perang melawan adharma.

Sang Istri: Junuh dalam keputusasaanya, mencari pembenaran bahwa dia sudah tidak bisa memukul golf lagi, authentic swing-nya telah punah dan tidak dapat diketemukan lagi. Junuh memberikan alasan-alasan akurat mengenai kegagalannya untuk menemukan kembali authentic swing-nya. Bagger Vance menasehatinya dengan berbagai cara, sehingga keyakinan Junuh bangkit kembali…..

Sang Suami: Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan” disampaikan……. Janganlah mencari pembenaran terus-menerus. Berhentilah mencari pembenaran. Akuilah kelemahan diri Anda. Hadapilah kelemahan diri Anda. Dan ubahlah menjadi kekuatan. Jangan mengharapkan bantuan dan dukungan dari orang lain, dari siapa pun juga! Ketahuilah bahwa puncak gunung Himalaya pun dapat anda taklukkan, jika Anda menghendakinya. Ketahuilah bahwa arus angin pun dapat Anda hadang, jika anda menginginkannya. Sadarlah akan kekuatan diri Anda! Katakan “tidak” terhadap ketidakwarasan, ketololan dan kebodohan. Katakan “ya” terhadap kewarasan dan kesadaran, apa pun risikonya. Jadilah sebuah mercu-suar. Jadilah sebuah pelita…….. Perhatikan kepolosan dan keluguan yang masih utuh, yang masih belum luntur, yang masih bisa ditemukan pada wajah anak-anak kecil. Dan Anda pun akan setuju dengan Gibran. Kepolosan wajah-wajah mereka, keluguan anak-anak kecil menjadi saksi nyata bahwa mereka tidak dilahirkan dalam dosa. Mereka tidak dilahirkan karena dosa. Keberadaan kita di sini bukanlah untuk mempertanggung-jawabkan dosa-dosa leluhur kita. Kehidupan ini bagaikan panggung sandiwara. Dan kita berada di sini untuk memainkan peran kita. Apa pula peran itu? Menurut Gibran: meniti jalan ke dalam diri, menemukan keindahan yang ada dalam diri kita. Itulah tujuan hidup. Itulah peran kita. Pernyataan Gibran tegas dan jelas, “Kepercayaan dan ajaran yang melemahkan jiwa tidak berguna sama sekali.” Anggapan bahwa kita berdosa dan mengucapkan hal itu berulang kali setiap hari akan melemahkan jiwa. Lalu jiwa yang lemah ingin menutupi kelemahannya dengan menguasai orang lain, dengan menimbun harta, dengan mengejar kesaktian. Demikian jiwa yang lemah justru menjadi keras. Demikian, manusia kehilangan kemanusiaannya……. Kepercayaan-kepercayaan yang justru melemahkan diri manusia, ajaran-ajaran yang justru merampas kebebasan dia, peraturan-peraturan dan dogma-dogma semu yang sudah kadaluwarsa harus ditinggalkan. Pembenaran Anda, justifikasi Anda sangat tidak masuk akal. Bagaimana Anda bisa mempertahankan sesuatu yang sudah tidak relevan lagi? Dan apabila Anda masih saja ngotot dan ingin mempertahankannya, Anda hanya membuktikan kebodohan diri……..

Sang Istri:Pada pertandingan putaran pertama, kedua pegolf nasional bermain cantik dengan cara khas mereka, sedangkan Junuh bermain buruk dan jauh tertinggal di belakang . Pada putaran kedua, dengan nasehat bijak caddy Bagger Vance, Junuh menemukan kembali nya “Authentic Swing” sehingga pada putaran ketiga mereka bertiga memiliki nilai yang sama. Pada babak terakhir, Junuh lalai akan nasehat Bagger Vance, bermain buruk, sehingga dia memukul bola sampai ke hutan. Di hutan, Junuh justru mengingat kilas balik trauma Perang Dunia Pertama yang dialaminya. Nasehat Bagger Vance membantu dia untuk meletakkan trauma ke belakang dan fokus pada pukulan golf. Junuh mulai mengesampingkan egonya dan mendengarkan nasihat  sang caddy yang menyarankan Junuh untuk menyadari secara seksama alam sekitarnya. Bagger Vance menerangkan bagaimana pencerahan dalam diri manusia terjadi lewat Ekagrata, onepointedness. Yang harus diupayakan hanyalah menjaga keselarasan diri dengan alam dan menyadari bahwa semuanya adalah kesatuan yang utuh. Diri Bagger Vance ataupun upaya Junuh tak dapat membawa kepada pencerahan, karena pencerahan akan memilih Junuh sendiri bila diri-nya sendiri sudah siap….. Sahabat kita mencatat pesan bermakna dalam film tersebut……. “There is only one shot that’s in perfect harmony with the field. One shot that is his authentic shot. And that shot is gonna choose him. There’s a perfect shot out there tryin’ to find each and every one of us. All we gotto do is get ourselves out of its way. Let it choose us……. He is in the field. You got look with your soft eyes to see the place where holes and seasons…… and turnin’ of the earth all come together. When everything there is become one”………

Sang Suami: Dalam buku “Youth Challenges And Empowerment” disampaikan tentang onepointedness…….. Istilah ini sangat sulit untuk diterjemahkan: Memfokuskan Diri dengan “Pikiran yang Tak Bercabang”. Sesungguhnya one”pointed”ness jauh lebih berfokus daripada fokus. Maka, saya menambahkan “dengan pikiran yang tak bercabang”. Fokus pada suatu titik tidak menghilangkan segala sesuatu di sekitar titik itu. Persis seperti saat mengambil foto. Kita boleh berfokus pada suatu objek, namun apa yang ada di sekitarnya tetap ada. One “pointed”ness menghilangkan, melenyapkan segala sesuatu sekitar titik fokus. Seluruh kesadaran kita, pikiran kita, terpusatkan pada titik itu. Ini bukan konsentrasi. Konsentrasi adalah urusah pikiran saja. Dan, pikiran tidak pernah stabil, selalu naik turun, tidak bisa berada lama di suatu tempat atau pada suatu titik. Lagi pula, konsentrasi mesti selalu diupayakan. Sementara itu, one “pointed”ness bisa terjadi tanpa upaya, asal ada niat, hasrat, dan keinginan yang kuat “terhadap” titik yang dituju. Ketika titik yang dituju di”niat”kan sebagai satu-satunya kiblat dan kita mencintai kiblat itu, maka one “pointed “ness terjadi dengan sendirinya tanpa perlu diupayakan………

Sang Istri: Irama permainan golf menyerupai irama kehidupan. Tujuannya adalah menemukan authentic swing dalam diri yang terlupakan. Diri kita pun memiliki kesempurnaan, hanya kita telah melupakannya, tertutup suka-duka mayapada duniawi. Bagaimana mendapatkan kemampuan kembali kesempurnaan itulah ajaran Bagger Vance, Sang Bhagavan. Setiap pemain golf bisa merasakan pukulan terbaik yang dapat mereka lakukan dalam setiap permainan. Dalam diri setiap orang ada satu “authentic swing”. Sesuatu yang lahir bersama kita. Itu adalah jati diri yang ada pada setiap manusia sejak dirinya dilahirkan. Jati diri ini tak dapat dipelajari tapi seharusnya diingat.

Sang Suami: Sahabat kita Anoop menutup resensi filmnya dengan kalimat cantik……. Dari sudut pandang spiritualitas, kehidupan ini bak permainan yang tidak dapat dimenangkan, tapi kita dapat ikut berperan dan bermain di dalamnya. Maka kita terus bermain sampai tiba saatnya kita memahami peran kita di dunia ini. Bagger Vance once said, “It is a game that can’t be won, only play. So I play, I play on. I play for the moment yet to come, looking for my place in the field.”…….. Dan, seorang Bagger Vance akan selalu menyertai kita sampai kita menemukan jati diri dan apa yang harus kita lakukan di dunia ini, pada masa kehidupan ini………. Semoga…….

Terima Kasih Bapak Anand Krishna

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Desember 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: