Mendengarkan Bisikan Bunda Alam Semesta, Renungan Ke-46 Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, buku-buku dan artikel-artikel Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu pribadi mereka untuk memberdayakan diri. Mereka merasa benih kesadaran kasih dalam diri dapat tumbuh dan berkembang dengan pupuk siraman wisdom setiap hari.

Sang Istri: Suamiku, aku teringat sebuah wisdom dari buku “Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern”……… Lao Tze mengatakan bahwa suara hati nurani kita berasal dari sumber sama yang menyebabkan terjadinya segala sesuatu dalam alam ini. Kebijaksanaan yang tidak dapat ditandingi, itulah suara nurani kita. Tetapi, suara hati nurani ini tidak akan terdengar oleh para cendekiawan. Mereka yang membanggakan dirinya sebagai cendekiawan akan menjadi tajam, menjadi teknokrat, birokrat. Mereka bisa menjadi apa saja. Mereka dapat menduduki jabatan-jabatan tinggi. Tetapi mereka kehilangan kontak dengan sesuatu yang tidak dapat dinilai dengan materi, suara hati mereka, kesadaran mereka. Sebaliknya, mereka yang sadar begitu percaya pada diri sendiri, sehingga tidak akan terikat pada identitas-identitas diri yang palsu. Mereka tidak akan menyombongkan diri mereka sebagai cendekiawan. Mereka akan semakin rendah hati. Pandangan mereka semakin lembut, tidak terfokuskan pada sesuatu. Mereka melihat dunia ini seutuhnya. Untuk meraih sesuatu, mereka tidak akan besikeras sedemikian rupa sampai-sampai tindakannya merugikan orang lain………

Sang Suami: Istriku, mari kita baca ulang artikel dalam The Torchbearers Newsletter 2/2006 pada topik Secangkir Kopi bagi Kesadaran. Dalam artikel tersebut disampaikan……… Mengapa air mengalir di kali? Mengapa angin bertiup? Mengapa burung berkicau? Tidak semua pertanyaan bisa dijawab. Tapi jika saya menggunakan secuil “otak” yang saya miliki, saya hanya bisa berkata bahwa Bunda Alam Semesta selalu berbicara. Ia tidak pernah berhenti menasehati, menegur dan menyapa anak-anak-Nya. Jika kita tidak merasakan kehadiran-Nya, karena kita selalu berisik, sibuk dengan kegiatan-kegiatan kita sehingga Bunda terlupakan. Ketika kita berhasil memisahkan diri dari kebisingan dunia, suara Bunda pun terdengar jelas. Kita hanya mendengar suara-Nya jika kita berhenti berbicara, berhenti mengoceh. Jika saat ini suara-Nya terdengar lagi, kemungkinannya hanya satu – bahwa pada saat-saat tertentu kita berhasil meredakan kebisingan di dalam diri. Dan, suara Bunda pun terdengar……….

Sang Istri: Benar suamiku, dalam artikel tersebut disampaikan…….. Sejak dulu, setiap manusia memiliki pilihan yang sama. Antara Preya yang nikmat atau Shreya atau mulia. Kita sering dijebak oleh panca indera kita sendiri untuk memilih yang nikmat. Bunda senantiasa mengingatkan kita untuk berpihak pada yang mulia. Sesungguhnya banyak sekali ayat-ayat yang bertebaran di sekitar kita. Lihat saja mereka yang memilih kenikmatan, apa yang terjadi akhirnya? Siapa yang akan mengenang nama seorang konglomerat? Dia akan terlupakan oleh sejarah. Sebaliknya siapa yang dapat melupakan seorang fakir seperti Mahatma Gandhi? Teman-teman, kita harus meraih kecakapan untuk membaca ayat-ayat ini. Tujuan kita meditasi dan melakukan kegiatan-kegiatan lain semata-mata untuk meraih kecakapan ini………

Sang Suami: Dalam artikel tersebut juga disampaikan………. Saya pun harus mengerti jika seseorang yang sudah menyelami meditasi selama bertahun-tahun namun kemudian berbelok dan memilih kenikmatan, barangkali ada yang membenarkan pilihannya dengan dalih kebutuhan. Saya tidak percaya. Ketika kebutuhan bahkan dari sekedar kebutuhan sudah terpenuhi, dan kita masih juga berbelok – alasannya hanya satu, kita terjebak dengan permainan panca indera. Teman-teman yang melakukan hal itu terpaksa harus kita relakan……… Apa yang mereka dapatkan dari meditasi tidak pernah hilang. Kelak, pasti ada penyesalan, namun terlambat. Dan mereka harus memulai dari awal lagi. Barangkali juga mereka tidak akan menemukan apa yang mereka cari semudah yang mereka pernah temukan dengan cara semudah seperti sebelumnya. What can you do? Kita harus menghormati pilihan setiap orang, kendati pilihan itu kadang-kadang bodoh sekali.

Sang Istri: dalam artikel tersebut disampaikan…….. Krishna berbicara kepada Arjuna di tengah-tengah medan peperangan Kurukshetra: “Keterlibatan diri dengan objek-objek duniawi menyebabkan keterikatan. Keterikatan membuahkan keinginan dan dari keinginan timbul amarah. Amarah membuat penglihatan manusia menjadi kabur….” That’s true. Saya akan berusaha untuk melihat apa yang menyebabkan keinginan sehingga jika keinginan itu tidak terpenuhi menimbulkan kekecewaan kemudian kita marah dan kehilangan akal sehat kita. Yang menyebabkan keinginan adalah kebiasaan kita melakukan window shopping. Kebiasaan kita bergaul dengan orang-orang yang tidak menunjang kesadaran kita. Kebiasaan kita mengunjungi tempat-tempat yang tidak perlu dikunjungi. Jika saya setiap hari ke mall atau bergaul dengan orang-orang yang hidup dalam kemewahan – keinginan untuk hidup mewah seperti mereka sudah pasti timbul. Para Nabi di Timur-Tengah mengharamkan pemicu-pemicu seperti itu. Para Nabi di Timur-Jauh dan Asia-Tengah mengharapkan manusia bisa menolak semua pemicu karena kesadarannya. Saat ini kita harus memutuskan sendiri apa yang terbaik bagi diri kita. Pendekatan Timur-Tengah, Timur-Jauh, atau Asia Tengah? Saya pikir kita butuh kombinasi dari semua pendekatan itu………

Sang Suami: Artikel tersebut juga memberikan ilustrasi……. Seorang teman yang kembali “tergoda” – diambil sebagai contoh. Pertama, selama mengikuti meditasi – dia tidak menjalaninya secara apa yang dalam Islam disebut Khafa – whole heartedly, sepenuh hati. Berarti apa? Latihan meditasi untuk menenangkan pikiran. Latihan-latihan lain untuk dekondisi. Tapi setelah itu kita harus menciptakan pikiran baru sesuai dengan kesadaran, ini yang disebut dengan Bodhichitta – kesadaran seorang Budha atau pikiran yang sadar. Untuk itu kita butuh menambah wawasan kita dengan menyelami beberapa literatur yang sudah tersedia. Kita juga harus melembutkan jiwa kita dengan kegiatan-kegiatan lain yang juga sudah di adakan. Teman kita ini walau “hadir” namun tidak “mengikuti” semua kegiatan. Maka, gampang terpengaruh……… Pengaruh dari luar ini yang kemudian menjadi keinginan. Keinginan untuk melakukan apa yang orang lain lakukan. Keinginan untuk hidup mewah seperti mereka. Bahkan keinginan untuk menjadi pahlawan. Ada seorang ibu yang menghabiskan seluruh penghasilan suaminya dengan membiayai siapa saja dari pihak keluarganya sendiri. Rumah dia sudah menjadi kebun social animals. Dari adik hingga keponakan semua jadi pemalas karena dibiayai sepenuhnya. Ibu yang satu ini rentan terhadap pengaruh-pengaruh di luar…….. Kebutuhan adik saya yang sudah berpendidikan, tidak cacat, sudah bekerja, bukanlah urusan saya. Begitu juga dengan anak saya, dengan keponakan saya, dengan siapa saja. Kebutuhan saya adalah satu rumah, bukan dua. Jika saya mau mempertahankan dua rumah, saya harus memiliki penghasilan yang cukup. Jika tidak ada penghasilan yang cukup saya akan tergoda untuk melakukan hal-hal yang tidak menunjang kesadaran saya. Jadi, sebelum keinginan itu muncul dan menyeret kesadaran kita ke bawah – ada beberapa hal yang perlu kita awasi: 1. Jaga Pergaulan! 2. Kebutuhan diri diminimalkan! 3. Jangan menjadi sinterklas! Biarlah setiap orang menjalani hidupnya sendiri……….

Sang Istri: Suamiku, dalam buku “Kundalini Yoga, Dalam Hidup Sehari-Hari” disampaikan…… “Anahat” berarti “Suara yang tak terdengarkan”. Yang dimaksudkan adalah hati nurani kita. Suara hati nurani tidak terdengarkan, tetapi  terasakan. Chakra ini mengantar kita ke kesadaran Kasih…….. Dalam buku “Sexual Quotient, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra” disampaikan…… Suara Nurani Anahat Chakra. Anahat berarti Suara Yang Muncul Bukan Karena Friksi. Untuk bertepuk pun dibutuhkan dua tangan. Suara Anahat terdengar tanpa tepukan. Inilah Suara Hati, Nurani, yang hanya terdengar jelas bila kau dalam keadaan tenang, rileks, damai, ceria. Berada pada Anahat Chakra, kita memahami betul bahasa badan dan keluhan organ-organ di dalam tubuh. Sehingga manusia menjadi sehat secara alami. Ia akan menolak segala sesuatu yang tidak selaras dengan badannya, tidak sesuai dengan kebutuhannya………

Sang Suami: Dalam buku “Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati” disampaikan……. Selama ini kita terlalu banyak bicara. Energi kita mengalir ke luar terus-menerus. Memperhatikan orang lain melulu, sehingga diri sendiri tidak terurus, sehingga suara nurani dan ilham pun tak terdengar. Kita lupa meniti jalan ke dalam diri……… Dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” disampaikan…….. Kebenaran dihasilkan oleh intuisi dan intuisi berkembang dalam keheningan. Intuisi melampaui instink-instink hewani Anda, melampaui pikiran dan logika, melampaui filsafat, dan hanya intuisilah yang dapat bertatap muka dengan Kebenaran. Biarkan dunia, menentang Anda – pikiran Anda mungkin mengatakan satu hal dan hati Anda mengatakan hal yang lain. Jangan ikuti mereka. Ikutilah intuisi Anda. Pada saat-saat awal, memang sulit, bahkan sangat sulit untuk mendengar suara halus intuisi Anda. Tetapi, jangan menyerah. Suatu saat mungkin Anda salah menangkap suara pikiran ataupun suara hati Anda sebagai intuisi. Lewat kesalahan-kesalahan Anda sendiri, Anda akan belajar. Saat dalam kebingungan, duduklah diam bersama diri Anda. Rileks, berhenti sejenak, tenang dan Anda akan mulai mendengar suara halus intuisi Anda, intuisi yang sinonim dengan Kebenaran. Hanya apabila Anda berada dalam keadaan hening, intuisi mulai berfungsi. Tak peduli betapa populernya suatu kepercayaan, apabila suara halus intuisi Anda tidak mendukungnya, itu bukan diperuntukkan bagi Anda. Ikuti intuisi Anda sendiri. Sebutlah itu nurani Anda, atau mungkin intuisi Anda-apa pun yang Anda suka, itu adalah rahim yang mengandung Kebenaran. Inilah definisi saya tentang Kebenaran dan saya percaya bahwa Kebenaran ini sendiri saja yang dapat membuat Anda jaya, menang……..

Sang Istri: Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern” disampaikan……. Suara lembut hati nurani anda, adalah suara “wong cilik” dalam diri anda. Dengarkan suara hati anda. Biarkan diri anda dituntun olehnya. Jangan tergoda oleh suara keras mind yang selalu membingungkan. Mind tergantung pada fakta dan akan selalu menghitung laba-rugi. Sebaliknya, hati nurani mewakili Kebenaran – Kebenaran Hakiki, Kebenaran Ilahi di balik fakta-fakta yang terlihat oleh mata kasat. Hati nurani telah melampaui dualitas. la tidak mengenal laba-rugi. la akan mempertemukan anda dengan “hakikat diri”, dengan “jati diri”. Dan penemuan “jati diri” tidak bisa disebut keuntungan ataupun kerugian. Bahkan tidak bisa disebut “penemuan”. Anda tidak pemah kehilangan jati diri. Selama ini, anda hanya tidak menyadarinya. Dengarkan suara nurani anda………

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Januari 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: