Pujian Yang Menina-bobokan, Renungan Ke-49 Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “berguru”. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni.Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip wisdom dalam buku-buku tersebut agar tidak kehilangan esensi.

Sang Istri: Suamiku, kebutuhan akan pujian sering menutupi nilai pelayanan. Dalam buku “Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa” disampaikan…….. Kemuliaan melayani atau nilai pelayanan sering terkalahkan oleh pujian dan penghargaan. Kemudian, pujian dan penghargaan itu yang menjadi penting. Kita lupa bahwa pelayanan bukanlah pelayanan bila yang dituju adalah pujian dan penghargaan. Jiwa pelayanan tercemar oleh pujian dan penghargaan. Pujian dan penghargaan mengubah pelayanan menjadi jasa. Dan, jasa adalah dagang, usaha, bisnis……… Adakah kebahagiaan dari pujian dan penghargaan yang kita peroleh dari seseorang yang tidak waras? Pujian dan penghargaan dari orang-orang yang tidak waras hanya membuktikan bahwa kita dianggap sebagai bagian dari komunitas yang tidak waras. Dan, dengan mempercayai pujian mereka, menerima penghargaan dari mereka – kita mengamini kepercayaan mereka…….. Istriku, banyak forum yang terlalu murah memberikan pujian, yang bila tidak hati-hati akan menina-bobokan sehingga kita merasa sudah sampai dan berhenti……. “Come, join the club!” Kita menerima undangan itu, dan menjadi bagian dari komunitas yang tidak waras……… Kita perlu belajar dari pemandu yang sudah paham dengan jalan menuju tujuan bukan hanya mereka yang pandai berdebat…… bila kita sharing, itu pun bukan sharing dari diri kita yang masih kacau tetapi sharing dari pemandu yang kita trust dengan Beliau……..

Sang Suami: Benar istriku, banyak orang yang hatinya berkembang karena pujian dan tidak percaya diri lagi kala mereka tak mendapat pujian……  Dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” disampaikan……… Pujian dan pengakuan adalah koleksi mereka yang tidak percaya diri dan tidak percaya Gusti. Pujian dan pengakuan dari siapa? Dari dunia ini? Dunia yang senantiasa berubah? Untuk apa? Sifat dunia yang berubah terus dapat mengubah pujian menjadi hujatan dalam sekejap. Hati kita menjadi besar ketika dipuji orang dan menjadi ciut ketika dimaki orang. Hati seperti apakah ini? Dalam bahasa Inggris, hati seperti ini disebut chicken heart, hati seekor ayam……….

Sang Istri: Seseorang yang bersandar pada pujian orang berarti dirinya bersandar pada pengakuan pihak luar. Dalam buku “Sehat Dalam Sekejap, Medina” disampaikan…….. Yang menyebabkan depresi adalah diri kita sendiri, berbagai macam perasaan kurang enak yang timbul dari dalam diri, misalnya: Perasaan kurang diperhatikan; Kurang perkara diri/minder; Kesepian; Dan lain sebagainya. Perasaan-perasaan tersebut muncul karena kita belum menemukan jati diri. Kita tidak mengetahui potensi diri. Kita bersandar pada pengakuan dari pihak luar. Jika ada yang memuji, kita senang. Jika ada yang mencaci-maki, kita sedih. Berarti, kita membiarkan orang lain mengendalikan diri kita. Selama kita masih bersandar pada sesuatu di luar diri, depresi pun tidak bisa dihindari…….

Sang Suami: Benar istriku dalam buku “Shri Sai Satcharita” tersebut disampaikan……… Keterikatan dengan dunia benda dan keserakahan, dwitunggal inilah penghalang utama. Seorang pencari tak akan pernah menemukan apa yang dicarinya, selama belum bebas dari keduanya. Keserakahan dan kesadaran tidak pernah bertemu. Keterikatan dengan dunia benda berarti kesadaran mengalir keluar. Pencarian jatidiri berarti kesadaran mengalir ke dalam. Beda aliran. Seorang ilmuwan, sepintar, dan secerdas apa pun dia, jika masih serakah tetap tidak mengenal dirinya. Jika kau masih terikat dengan hasil perbuatanmu, masih mengharapkan imbalan, pujian dan penghargaan, maka pencapaian jatidiri bukanlah untukmu. Sia-sia pula bertemu dengan seorang guru, bila kau masih angkuh dan belum mampu mengendalikan kelima indera. Maka janganlah mencari sesuatu yang belum waktunya kau cari, Ikutilah tahapan-tahapan yang mesti kau lalui. Biarlah pikiranmu tenang dulu, biarlah hatimu bersih dan suci dulu setelah itu baru Brahma-Gyaan, barulah mencari pengetahuan sejati tentang jatidiri, tentang Tuhan……….

Sang Istri: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” tersebut juga disampaikan……… Seorang panembah tak pernah kekurangan sesuatu. Aku memenuhi segala kebutuhan para panembah yang telah berserah diri kepada-Ku. Demikian pula janji Sri Krishna dalam Bahagavad Geeta. Maka, sesungguhnya kau tidak perlu khawatir tentang kebutuhanmu sehari-hari. Jika kekurangan sesuatu, mintalah kepada-Ku. Mintalah kepada Tuhan Hyang Maha Memiliki. Untuk apa mengharapkan sesuatu dari dunia, berharaplah kepada Hyang Memiliki dunia. Untuk apa mengharapkan penghargaan dan pengakuan dari dunia, lebih baik mengharapkan berkah dan karunia Ilahi. Janganlah terperangkap dalam permainan dunia. Pujian yang kau terima dari dunia tidak berarti apa pun jua. Jalani hidupmu dengan kesadaranmu sepenuhnya terpusatkan kepada Tuhan. Ketertarikan kepada dunia sungguh tak berarti. Tuhan adalah Hyang Maha Menarik! Ingatlah Aku setiap saat, sehingga dunia benda tidak menggodamu. Hanyalah dengan cara ini kau dapat merasakan kedamaian, dan ketenangan sejati. Inilah cara untuk hidup tanpa beban apapun. Untuk itu perhatikan pula pergaulanmu. Pikiran menjadi kacau kembali bila pergaulanmu kacau dan tidak menunjang kedamaian dan ketenangan yang telah kau peroleh dengan susah payah……….

Sang Suami: Dalam buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World” disampaikan…….. Janganlah mengharapkan pujian dari siapa pun jua. Janganlah menjadikan pujian sebagai pemicu untuk berkarya lebih lanjut. Berkaryalah terus menerus walau dicaci, dimaki, ditolak…….. Berkaryalah karena keyakinan pada apa yang mesti kita kerjakan……….

Sang Istri: Pujian dari manusia tidak bersifat langgeng….. Dalam buku “Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri” disampaikan…….. Apa pun yang saat ini kita miliki, pernah dimiliki oleh orang lain. Kepemilikan kita tidak langgeng…. Lalu kehilangan apa yang mesti ditakuti? Suami, istri, anak, saudara, orang tua, kawan, kerabat , semuanya adalah hubungan-hubungan yang “terjadi” dalam hidup ini, dan di dunia ini………. Penolakan, penerimaan, pengakuan, pujian, maupun makian seseorang mestinya tidak mempengaruhi kualitas hidup kita. Kita sendiri yang menentukan kualitas hidup kita.

Sang Suami: Untuk itu kita semestinya tidak terikat dengan pujian dari luar. Dalam buku “Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri” tersebut juga disampaikan…….. Apa yang dimaksud dengan ketakterikatan? Dan, apa pula keterikatan itu? Keterikatan adalah ketergantungan dan kepercayaan kita pada pujian, pada imbalan, pada penghargaan dan pengakuan. Selama kita masih mengejar semuanya itu, kita masih terikat. Dan, selama kita masih terikat, kita masih takut. Lapisan Inteligensia kita memperoleh energi dari dua sumber utama, sumber dalam diri, dari rasa percaya diri yang tidak tergantung pada pujian dan makian orang dan sumber di luar diri, dari pujian dan pengakuan. Ketika pujian berubah menjadi hujatan, dan pengakuan menjadi penolakan, lapisan inteligensia kita kehausan energi. Saat itu menjadi ganas. Kita akan melakukan apa saja untuk memperoleh pujian dan pengakuan. Selama masih mengejar, kita masih terikat. Janganlah tergantung pada sumber energi di luar diri. Gunakan energi yang berasal dari dalam dirimu sendiri. Ketidaktergantungan pada sesuatu di luar diri inilah yang disebut ketidakterikatan………

Sang Istri: Seorang yang sudah tidak terikat dengan keduniawian disebut Jeevan Mukta. Dalam buku “Sandi Sutasoma Menemukan Kepingan Jiwa Mpu Tantular” disampaikan……. Ada juga yang mencapai “keadan” itu dalam hidup ini. Kemudia ia menjadi Jeevan Mukta. Ia hidup di dalam dunia ini, tetapi tidak terikat dengan dunia dan keduniawian. Ialah seorang Bodhisattwa. Seorang Jeevan Mukta atau Bodhisattwa juga tidak terpengaruh oleh pendapat siapa pun tentang dirinya. Ia selalu berusaha untuk berbuat baik. Kebaikan adalah sifatnya. Seorang Jeevan Mukta atau Bodhisattwa tidak berbuat baik untuk dipuji, atau untuk memperoleh penghargaan. Karena itu, jika sebagian masyarakat  tidak memahaminya, atau malah menghujatnya, ia pun tidak terpengaruh oleh hujatan itu………

Sang Suami: Seorang yang sadar bahkan bisa memilah mana pujian dan penghargaan yang patut diterima atau tidak. Dalam buku “Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa” disampaikan……… Adakah kebahagiaan dari pujian dan penghargaan yang kita peroleh dari seseorang yang tidak waras? Pujian dan penghargaan dari orang-orang yang tidak waras hanya membuktikan bahwa kita dianggap sebagai bagian dari komunitas orang-orang yang tidak waras. Dan, dengan mempercayai pujian mereka, menerima penghargaan dari mereka – kita mengamini kepercayaan mereka………. Bagaimana pula dengan penghargaan dan pujian yang diberikan oleh seseorang yang telah menyebabkan banyak penderitaan bagi banyak orang? Sama saja, setiap penerima pujian dan penghargaan itu menjadi bagian dari “Komunitas Orang-Orang Yang Menyebabkan Penderitaan”……. Rabindranath Tagore ditawari gelar kehormatan oleh pihak penjajah. Ia menolak gelar tersebut. Dengan sopan, secara santun, ia berterima kasih kepada pihak pemberi, tetapi secara tegas menyampaikan penolakannya karena la merasa dirinya sebagai bagian dari ratusan juta penduduk India saat itu yang masih hidup dalam penindasan dan penderitaan…….

Sang Istri: Suamiku, aku ingat sebuah wejangan bijak yang pada intinya berbicara bahwa alam semesta ini bersifat siklus. Musim silih berganti. Tiada musim yang berakhir untuk selamanya. Tiada kematian yang tidak dilanjuti oleh kelahiran kembali. Roda kehidupan berputar terus. Semuanya bersifat sesaat. Saat ini ada saat berikutnya tidak ada. Manusia yang sadar akan kemanusiaannya tidak pernah terjebak oleh pasang surutnya kehidupan. Ia selalu fokus pada Hyang Menyebabkan semuanya termasuk pasang-surut itu sendiri………. Berarti bila kita ingin mempertahankan pujian orang kepada kita, berarti mengingkari bahwa pujian pun hanya merupakan kejadian yang bersifat sesaat…….. Dalam wejangan tersebut juga disampaikan……… Ibarat burung yang ketika turun hujan mencari tempat yang teduh, hanyalah jenis elang yang justru terbang lebih tinggi dan melampaui awan gelap pembawa hujan. Ia menggapai langit luas tak berawan, dan dengan cara itu ia melampaui air hujan……… Jangan merasa tersanjung ketika dipuji, dan jangan merasa terhina ketika dimaki. Lampauilah semuanya itu, terbang tinggi sebagai seekor elang, dan kita tak akan terombang-ambing oleh pengalaman-pengalaman rendahan yang sesungguhnya hanyalah mempengaruhi badan, pancaindra, pikiran dan perasaan rendah kita………

Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Januari 2011

Iklan

2 Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: