Film “Defending Your Life”, Kemajuan Evolusi Ditentukan Oleh Pilihan Kita Sendiri, Renungan Ke-51 Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka ingin membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Membuka hati dengan repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri.

Sang Istri: Suamiku, bukankah kita pernah melihat film “Defending Your Life”, sebuah film fiksi komedi tentang kehidupan setelah mati. Mungkin kita dapat memetik beberapa hikmah dari film tersebut…….. Daniel Miller ( diperankan Albert Brooks ) meninggal dalam kecelakaan mobil pada hari ulang tahunnya dan dikirim ke alam baka. Ia sampai di “Kota Pengadilan” yang serba canggih dan sangat luas, tempat pensucian bagi orang-orang yang baru saja meninggal dunia. Seperti yang lainnya, Daniel Miller harus menjalani pengadilan atas seluruh tindakannya di bumi. Selama menunggu proses pengadilan, Daniel mendapatkan fasilitas seperti ketika berada di bumi. Restoran-restoran menyajikan apapun yang diinginkan yang tidak menyebabkan kenaikan berat badan, ada tempat bowling, klub komedi dan fasilitas lainnya. Daniel mendapatkan penjelasan bahwa orang Bumi hanya menggunakan sedikit sekali kemampuan otak mereka (sekitar3-5%) dan sebagian besar hidupnya dijalankan atas dasar “fear”, ketakutan. Pengacara Pembela Daniel, Bob Diamond (diperankan oleh Rip Torn) mengatakan bila orang Bumi menggunakan otak lebih besar dari 5%, maka dia tidak ingin lagi berada di Bumi. Jika pengadilan menetapkan bahwa Daniel telah mengalahkan ketakutannya, ia akan dikirim ke eksistensi tahap berikutnya, dimana ia akan dapat menggunakan lebih banyak otaknya. Dengan demikian ia akan mengalami penawaran alam semesta tingkat lanjut. Jika pengadilan menetapkan bahwa ia belum lulus, maka jiwanya akan mengalami reinkarnasi di bumi dalam fisik baru dalam upayanya melampaui rasa takut untuk meningkatkan evolusinya.

Sang Suami: Aku juga ingat bahwa film tersebut mempertontonkan…… pengadilan yang dipimpin oleh dua orang hakim. Sang Pengacara Pembela Daniel bersikeras bahwa Daniel harus mendapatkan peningkatan peran dan dapat meneruskan perjalanan tingkat lanjutan. Akan tetapi, Sang Jaksa Penuntut menunjukkan fakta-fakta tentang ketakutan yang masih dialami Daniel dalam berbagai fase kehidupan, sehingga Daniel harus dikembalikan ke bumi. Berkali-kali video kehidupan Daniel dalam berbagai usia diputar ulang oleh baik oleh Sang Pengacara maupun Sang Penuntut sebagai bahan pertimbangan dua orang hakim pada pengadilan tersebut……. Selama proses persidangan yang panjang, Daniel bertemu danjatuh cinta dengan Julia (diperankan Meryl Streep), yang menjalani kehidupan lebih sempurna daripada Daniel. Julia tampak berani dan murah hati dan di “Kota Pengadilan” mendapatkan akomodasi hotel berbintang lima dan fasilitas yang jauh lebih baik daripada Daniel. Daniel menjadi paham bahwa selama hidup di dunia, perbuatan Julia jauh lebih baik dari tindakan dirinya, sehingga Julia mendapatkan fasilitas yang lebih baik di “Kota Pengadilan”. Kemudian Daniel diajak Julia ke “theater past life” yang dapat memutar film kejadian manusia di masa lampau. Dalam film “past life” tersebut nampak bahwa ketakutan Daniel diawali saat ia masih menjadi manusia purba yang lari ketakutan dikejar-kejar makhluk buas yang mengejarnya dari belakang. Rupanya trauma ketakutan di zaman purba tersebut masih terbawa sampai zaman modern, dalam bentuk lain tentunya……

Sang Istri: Dalam proses persidangan, Sang Jaksa Penuntut menunjukkan serangkaian episode di mana Daniel tidak bisa mengatasi ketakutannya, serta berbagai keputusan buruk yang telah diambil Daniel dalam berbagai kesempatan……. Akhirnya ditetapkan Daniel harus kembali ke Bumi, sedangkan Julia bisa meneruskan kehidupan pada tahap berikutnya…… Daniel kemudian nampak siuman dan menemukan dirinya terikat pada kursi di sebuah trem jurusan Bumi dan ia melihat Julia berada di trem dengan jurusan berbeda. Rasa Cinta terhadap Julia membangkitkan Keberanian Daniel sehingga dia berani melakukan tindakan yang penuh bahaya. Daniel nekat melepaskan diri dari ikatan, keluar dari tremnya yang mulai berjalan dan melompat ke trem Julia. Trem yang ditumpangi Julia bergerak semakin cepat tetapi Daniel sudah sampai di atap gerbong yang ditumpangi Julia. Julia berteriak-teriak minta tolong agar pintu dibuka tetapi tidak bisa…… Sang Pengacara, Sang Jaksa Penuntut dan kedua orang hakim memantau kejadian tersebut. Dan, akhirnya kedua orang hakim memutuskan bahwa Daniel boleh meneruskan perjalanan bersama Julia….. pintu gerbong dibuka…….

Sang Suami: Film tersebut ingain menyampaikan bahwa segala tindakan kita dicatat dengan akurat oleh alam semesta, tak ada satu peristiwa pun yang tercecer. Nampak jelas dalam setiap peristiwa dari video kehidupan yang diputar ulang, bahwa pilihan apa pun yang telah kita ambil, kita harus mempertanggungjawabkan pilihan tersebut. Tuhan tidak menyebabkan penderitaan, musibah dan bencana bagi makhluk-makhluk-Nya……….. Dalam buku “Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa” disampaikan bahwa…….. Kita, dengan ulah kita sendirilah yang menyebabkannya. Kita bertanggungjawab penuh atas apa yang menimpa diri kita. Jangan lupa Ia mengingatkan: “Kelak setiap anggota badanmu akan dimintai pertanggunganjawab. Apa yang kau tanam, itu pula yang akan kautuai….”. Hukum Sebab-Akibat adalah Hukum Aksi-Reaksi yang pernah kita pelajari dalam ilmu fisika. Setiap aksi menimbulkan reaksi yang setimpal. Kita lupa.

Sang Istri: Film tersebut juga ingin menyampaikan bahwa pilihan kita dalam berbagai kejadian menentukan kecepatan evolusi diri kita. Dalam buku “Total Success, Meraih Keberhasilan Sejati” disampaikan…….. Alam berjalan dan bertindak sesuai dengan hukum yang sudah ditentukan. Penentunya siapa – silakan  Anda sendiri yang menentukan. Sebutlah Tuhan, Allah, Buddha, Bapa di Surga, Widhi, Tao, atau apa saja – Keberadaan atau Ketiadaan Abadi. Hukum Perubahan: Tak ada sesuatu pun yang tak berubah. Segalanya senantiasa berubah. Maka, bila kita tidak ikut berubah, sudah pasti sengsara sendiri. Hukum yang satu ini sangat erat kaitannya dengan Evolusi. Kita semua sedang berkembang. Ya, kecepatan kita beda. Namun, perbedaan itu bukanlah karena pilih kasih oleh alam. Perbedaan itu disebabkan oleh kita juga. Ada aksi, ada reaksi. Setiap aksi menimbulkan reaksi yang setimpal. Ini adalah hukum fisika. Kita tak dapat mengelakkannya. Karena itu berbuatlah baik, agar hasilnya baik pula. Dalam hal ini hendaknya kita selalu ingat bahwa alam tidak mengenal “plus-minus”. Setiap aksi yang bersifat “Plus” atau baik akan membawa akibat baik. Setiap aksi yang bersifat “Minus” atau jelek berakibat jelek pula………

Sang Suami: Julia teman wanita Daniel mengambil tindakan yang sangat berani untuk menyelamatkan seorang anak kecil yang berada di rumah yang sedang terbakar. Dia dapat merasakan ketakutan sang anak dan kesedihan orang tua si anak sehingga Julia melampaui ego-nya yang mestinya secara logika takut akan resiko terbakar. Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan…….. Untuk menunju ke sana, caranya adalah melalui “Cinta tanpa ego”. Tidak ada jalan lain. Jalan ini menuntut ketiadaan ego. Pilihannya adalah ego dan “tiada jalan” atau cinta dan “jalan”. Inilah  jalannya, dan saya ulangi, inilah satu-satunya jalan. Ketika emosi Anda tidak lagi berpusat pada diri sendiri, saat perasaan Anda tidak lagi terbatas pada keluarga dan orang-orang yang dekat dengan anda, maka saat itulah anda menemukan jalan itu. Saat itu, dan hanya dengan jalan itu anda menemukan “jalan masuknya”. Selama emosi dan perasaan kita masih hanya berpaku pada segala hal di sekitar kita, maka kita tak akan pernah menemukan jalan itu. Semangat kita harus berubah menjadi kasih. Kasih terjadi saat anda bersemangat, bergairah terhadap seluruh umat manusia, seluruh makhluk hidup dan kehidupan itu sendiri. Inilah  jalannya………

Sang Istri: Julia juga suka memberi. Memberi dengan tulus tanpa pamrih adalah tanda sudah melampaui ego yang selalu mendasarkan pada logika untung-rugi. Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir” disampaikan……. Saat lahir kita tidak membawa sesuatu; saat pergi nanti kita tak akan membawa sesuatu. Apa saja yang kita peroleh, kita memperolehnya di sini, dari sini, dan akan kita tinggal di sini. Keangkuhan kita sebagai “pemberi” pun sangat tidak masuk akal, karena sesungguhnya pemberian kita bukanlah “dari” kita; tidak ada sesuatu yang berasal dari kita. Kita hanya memberi “dari” apa yang kita peroleh. Kita hanyalah seorang perantara………. Berilah tanpa Arogansi seorang pemberi. Saat ini, kebetulan kita berperan sebagai Pemberi; sesaat kemudian bisa jadi peran kita berubah menjadi penerima. Panggung sandiwara kehidupan bersifat sementara, dapat diganti sewaktu-waktu. Pemberian kita tidak mengurangi sesuatu dari kita, karena apa yang kita berikan tidak berasal dari kita. Pemberian kita tidak membuat kita lebih hebat daripada mereka yang tidak memberi, karena apa yang kita berikan sesungguhnya bukan milik kita. Sambil melakoni Dharma dan mempertahankan kesadaran diri, mereka memberi tanpa pamrih, berbagi tanpa keterikatan; membantu tanpa pilih kasih… demikian, mereka memuliakan Jalan menuju Pencerahan…….

Sang Suami: Film tersebut menyampaikan bahwa ketakutan kita adalah ketakutan bawaan yang terbawa dalam setiap masa kehidupan. Daniel sudah mengalami trauma ketakutan saat menjadi orang purba yang lari pontang-panting menyelamatkan nyawanya dari kejaran binatang buas. Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan…….. Rasa takut kita warisi dari proses evolusi yang panjang. Rasa takut ini juga yang kita bagi dengan binatang lain. Rasa takut menurunkan kita menjadi binatang sosial. Dengan demikian, rasa takut adalah penghambat kemajuan dan evolusi lanjutan. Untuk menyadari takdir kita sebagai manusia, kita harus setidaknya berusaha meniadakan rasa takut. Begitu kita dapat melewati rasa takut dan menjadi berani, kita mulai bisa memproyeksikan, mewujudkan sifat ilahi dalam diri. Mekanisme “flight or fight” atau “lari atau berkelahi” lahir dari rasa takut. Karenanya kita menjadi reaktif. Begitu kita diserang, kalau tidak balik melawan, ya kita lari. Kita tidak bereaksi dengan cara lain. Namun, begitu kita dapat melewati rasa takut dan menjadi berani, saat itulah kita berhenti menjadi reaktif. Sebaliknya kita menjadi responsive, saat diserang, kita tidak langsung balik melawan atau mengambil langkah seribu. Dalam usahanya melawan penjajahan dan para penjajah, Buddha, Gandhi, Yesus dan Martin Luther King Jr. tidak bereaksi. Sebaliknya mereka merespons tanpa kekerasan. Seseorang yang penuh ketakutan itu hampir selalu penuh kekerasan. Hanya manusia pemberanilah yang dapat merespons  tanpa kekerasan………..

Sang Istri: Ada berita baik bahwa sudah semakin banyak manusia yang melampaui rasa ketakutan dengan cara melakukan pemberdayaan diri. Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, oleh Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Bapak Anand Krishna” disampaikan……… Evolusi di planet ini telah mencapai suatu tahap, di mana kita mulai tersadarkan akan kemandirian dan kemampuan diri kita. Kita mulai tersadarkan akan kemuliaan dan keilahian dalam diri kita. Sungguh suatu masa yang luar biasa, di mana “gelap-kebodohan” berabad-abad silam mulai sirna, dan “terang-kesadaran” mulai menyinari hidup kita semua. Terang kesadaran ini adalah pola pikir baru, cara baru untuk menyikapi hidup. Dan, pola pikir baru ini, cara baru untuk menyikapi hidup ini, landasannya adalah pemberdayaan diri, kemandirian diri…….. Selama bertahun-tahun kita dicekoki dengan pemikiran yang keliru, yaitu bahwasanya manusia lemah dan tak berdaya. Kemudian, diciptakan pula sosok Tuhan yang Maha Kejam, penuh dengan amarah dan kegusaran, dan selalu siap untuk menghakimi dan menghukum kita. Berkat informasi seperti inilah manusia menjadi penakut, pengecut, dan selalu ragu, bimbang. Tidak percaya diri. Kemajuan apa yang dapat diharapkan dari pola pikir seperti itu? Terlemahkan oleh rasa takut, manusia tidak berkembang. Ia akan berjalan di tempat. Rasa takut menyirnakan harapan dan mematahkan semangat………..

Sang Suami: Aku ingin meng-quote dari buku “Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan”……… Al Baqarah 62: Sesungguhnya orang-orang beriman, orang Yahudi, orang Nasrani dan orang Shabi-in, barang siapa yang beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala di sisi Tuhan mereka, tidak ada “ketakutan” bagi mereka, dan tidak pula mereka berduka cita…….. Orang Beriman telah dapat melampaui “ketakutan”-nya……..

Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Januari 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: