Adakah Rasa Empati Di Dalam Diri, Renungan Ke-52 Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta artikel-artikel Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi dapat menjadi pemicu diri pribadi mereka untuk memberdayakan diri.

Sang Istri: Suamiku, baru saja kita membaca sebuah artikel Osho kiriman seorang sahabat…….. Di tengah-tengah para murid saat perahu yang mereka naiki berada di tengah sungai Gangga, tiba-tiba Sri Ramakrishna berteriak, “Jangan pukul saya”, dan air matanya bercucuran. Badannya bergerak-gerak seperti dipukuli orang. Ketika mereka mencapai tepi pantai seberang, mereka menemukan seorang nelayan sedang dipukuli oleh sekelompok masa. Dan, anehnya bilur-bilur di punggung sang nelayan terjadi pula di punggung Sri Ramakrishna…… Inilah empati……. Anda merasakan satu dengan orang lain dan identitas yang memisahkannya lenyap. Hausnya orang lain menjadi haus Anda, laparnya orang lain menjadi lapar Anda, sukacitanya orang lain menjadi sukacita Anda. Keterhubungan hati yang sangat dalam. Kita bisa bisa bepikir aku Hindu, aku Buddha, aku Muslim, aku Kristen, Aku Indonesia, Aku China, Aku Amerika, tetapi itu kerja mind bukan kerja hati. Hati kita tak mempunyai identitas yang berbeda-beda. Hati adalah hati.

Sang Suami: Dalam artikel tersebut disampaikan bahwa Sang Buddha Gautama mempunyai murid bernama Ananda yang selalu bersamanya sampai akhir hayatnya – hampir empat puluh dua tahun tanpa jedah, siang-malam, dua puluh empat jam sehari. Hubungan Ananda dengan Sang Buddha tidak berdasar mind. Hubungan antara Master dengan disciple-nya harus bukan hubungan mind……. Secara pelan-pelan hati mereka menjadi dekat, hampir menyatu. Dikatakan bahwa sebelum Sang Buddha minta air, Ananda telah membawakan minuman. Sebelum Sang Buddha berkata merasa dingin, Ananda telah membawakan selimut…… Sesekali Sang Buddha berkata, “Ananda, mengapa engkau membawakan minuman? Aku tidak meminta padamu. Ananda menjawab, “Tak ada masalah apakah Master meminta atau tidak, saya merasakan haus yang dirasakan Master; Saya merasa Master kedinginan. Saya tidak tahu bagaimana, karena ini bukan pertanyaan mind. Hanya rasa – dan begitu kuatnya sehingga saya tidak bisa melawannya. Apabila Master tidak haus, jangan minum”…… Sang Buddha tertawa dan berkata, “Tidak Ananda! Saya sedang bertanya-tanya bagaimana kamu mengetahuinya. Saya baru akan bilang merasa haus, saya baru akan bilang merasa dingin, tetapi kamu tidak memperbolehkan saya  bicara barang sepatah kata”…… Bahkan bila Sang Buddha tak dapat tidur karena nyamuk, Ananda pun tak dapat tidur. Saat Buddha bangun pagi – secara simultan  Ananda terbangun…… Terima kasih Yang Mulia Ananda yang telah memberikan contoh “onepointedness” dengan ungkapan empati yang nyaris sempurna…… Empati sudah sangat jarang empati terjadi sehingga manusia telah kehilangan rasa kemanusiaannya. Kehilangan empati menjadikan kita makhluk yang tidak spiritual.

Sang Istri: Suamiku, membicarakan ilustrasi tentang empati membuat aku teringat dengan artikel dalam The Torchbearers Newsletter 3/2007 dengan topik Secangkir Kopi Kesadaran yang setelah tiga tahun berjalan masih tidak menunjukkan banyak kemajuan, bahkan semakin mengalami kemunduran. Disampaikan dalam artikel tersebut…….. Empati adalah Ungkapan Kasih. Dan, kita harus mulai dengan diri sendiri. Kita harus mulai berempati pada wakil rakyat yang masih belum puas dengan gaji yang puluhan juta per bulan. Ada apa dengan mereka? Ketika saya berempati dengan mereka, saya menemukan bahwa mereka bergaul dengan orang-orang yang tidak menunjang kesadaran mereka sebagai wakil rakyat. Mereka berkonferensi di hotel-hotel mewah untuk membahas soal kemiskinan – mereka tidak dekat dengan rakyat. Mereka tidak dekat dengan Ibu Pertiwi. Mereka tidak dekat dengan bangsa Indonesia. Maka, kedekatan dengan institusi bernama negara menjadi sia-sia. Ketika kita memisahkan negara dari bangsa, maka negara menjadi sapi perah. Kesadaran kita terpusatkan pada bagaimana menciptakan sebuah proyek dan bagaimana menghasilkan keuntungan bagi diri……… Sebab itu, mari kita terlebih dahulu belajar berempati terhadap mereka yang tidak memahami arti empati. Kemudian dengan landasan empati itu, kita menegur mereka. Menjewer telinga mereka jika tidak sadar juga, maka demi empati terhadap kepentingan yang lebih luas, kita harus belajar dari kesalahan di masa lalu. Jangan memilih seorang wakil atau seorang pejabat hanya karena aliansi politiknya, latar belakang agamanya – tetapi atas dasar rasa empati dirinya terhadap masyarakat luas…….. Sesungguhnya ungkapan “menumbuhkan empati” tidak begitu tepat. Empati terjadi dengan sendirinya ketika ada cinta di dalam dirinya. Empati adalah ungkapan cinta. Dan cinta selalu memberi – memberi dan memberi. Selama seorang wakil rakyat atau pejabat negara masih tergantung pada apa yang dapat diperolehnya dari negara – maka jelas dia belum bercinta dengan negara. Dia belum mencintai bangsa ini. Bagi dia kedudukan sebagai wakil rakyat atau pejabat negara – adalah sebuah profesi. Padahal kedudukan sebagai wakil rakyat atau pejabat negara bukanlah sekedar profesi. Ini adalah sebuah pengabdian.

Sang Suami: Dalam buku “Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa” disampaikan……… Simpati berarti aku menaruh rasa kasihan terhadapmu. Empati berarti aku merasakan penderitaanmu. Marl kita bertanya kepada diri kita masing-masing dan menjawab sendiri pertanyaan itu. Jangan lupa, kita semua, pada suatu ketika, harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita. Amal-ibadah, dana-punia, apa pun yang kita lakukan, hanya mengantar kita hingga satu tertentu. Perjalanan selanjutnya kita lakukan sendiri, dan setiap anggota badan, jiwa, pikiran, serta perasaan kita akan dimintai pertanggunganjawab……….. Manusia baru bisa disebut “beragama” jika ia berakhlak. Tanpa akhlak yang penuh kasih dan empati – manusia tidak lebih baik dari hewan. Peng-“agama”-an adalah sebuah proses yang harus diupayakan terus-menerus. Manusia tidak dapat diagamakan hanya dengan dipaksa untuk beribadah, berpakaian, beratribut atau berpenampilan dengan cara tertentu. Tidak, tidak bisa. Peng-“agama”-an Manusia Indonesia berarti mengembalikan dirinya kepada nilai-nilai luhur yang telah ditinggalkannya selama ini, kepada Jati dirinya………

Sang Istri: Mereka yang sadar mulai mempraktekkan pemahaman empati dalam keseharian hidupnya. Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan……. la berkarya bukan bagi dirinya sendiri, bukan bagi keluarganya saja – tetapi bagi seluruh umat manusia. Ia berkarya bagi sesama makhluk. la berkarya bagi Semesta. la tidak memikirkan hasil. Seluruh kesadaran dipusatkannya pada apa yang dikerjakannya. Sehingga hasilnya pun sudah pasti baik. Tidak bisa tidak. Maka, tidak perlu dipikirkan. la berkarya dengan semangat persembahan dan pengabdian pada Hyang Maha Kuasa. Bagi seorang Karma Yogi, Maanava Sevaa atau Pelayanan terhadap Sesama Manusia, bahkan Sesama Makhluk, adalah Maadhava Sevaa atau Pengabdian terhadap Hyang Maha Kuasa. Dia tidak beramal-saleh atau berdana-punia demi pahala atau kenikmatan surgawi. Dia melakukan hal itu karena “senang” melakukannya………

Sang Suami: Rasa kasih dan empati nampak jelas pada kaum perempuan. Dalam buku “The Gospel of Obama” disampaikan…….. Di balik kesuksesan seorang laki-laki ada perempuan yang berperan. Dan pernyataan ini pun memang benar karena perempuan merupakan personifikasi dari Sumber Kekuatan. Dalam tradisi Veda, ini disebut Shakti. Dan, Shakti bermakna Energi, Sumber Kekuatan. Kekuatan perempuan terletak pada kelembutan dan kehalusan budinya, yang membuatnya penuh kasih dan empati. Kaum perempuan oleh, karena itu bisa menjadi perawat yang hebat. Mereka lebih perhatian. Sebagai ibu, dia merawat. Sebagai saudari, dia mendukung. Sebagai istri atau kekasih, dia memperkuat……….

Sang Istri: Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan” disampaikan tentang “rasa” empati, “rasa simpati plus”……… Jika tetangga tidak bisa tidur karena lapar, energinya yang terganggu itu sudah pasti mempengaruhi pola energi di rumah kita. Itu sebabnya Gibran menganjurkan, “Cobalah dengan tetanggamu.” Anda tidak serumah dengan dia, tetapi juga tidak jauh dengan dia. Dekat, tapi jauh. Jauh, tapi dekat. Dan, mencintai seorang tetangga sungguh sulit! Kahlil Gibran justru menjadikan “cinta dan simpati terhadap tetangga” sebagai tolok ukur sederhana mengenai “kasih” Anda. Ia tidak bicara tentang “bantuan”. Ia tidak bicara tentang “charity”, tentang sumbangan atau sedekah. Ia sedang bicara tentang “rasa”. Sedekah pun dapat anda berikan tanpa rasa kasih. Sumbangan pun dapat anda berikan untuk cari muka. “Charity” pun dapat anda lakukan untuk menjadi tenar. Melihat kemajuan tetangga, ikut bahagiakah anda? Atau justru iri? Anda harus jujur dengan diri sendiri. Apabila anda ikut berbahagia dan tidak iri, maka betul, anda menaruh simpati terhadap tetangga. Anda mengasihi dia. Dan kasih semacam itulah yang disebut Gibran lebih mulia daripada kebajikan yang anda lakukan di salah satu sudut biara. Lalu, mampukah anda menyebar-luaskan kasih semacam itu? Mampukah anda mengasihi seorang penjahat? Mampukah anda mengasihi seorang pelacur? Sadarkah anda bahwa sesungguhnya mereka lemah. Yang membuat mereka jahat adalah kelemahan diri mereka. Yang membuat seseorang melacurkan diri adalah kurangnya rasa percaya diri. Dan yang membutuhkan perhatian anda, kepedulian anda, kasih anda, justru mereka-mereka ini. Kasih menuntut agar anda “mengasihi” tetangga anda, demi “kasih” itu sendiri. Inilah Kebenaran! Kebenaran tidak pernah memecah-belah. Kebenaran selalu mempersatukan. Tetapi, kata Kahlil Gibran: Seorang pencari Kebenaran akan selalu menderita. Upayanya untuk mengungkapkan Kebenaran itu kepada masyarakat luas akan mengundang penderitaan. Saya tahu persis hal ini, karena itu pula yang terjadi terhadap diri saya. Kendati demikian, saya tidak mundur selangkah pun………..

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Januari 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: