Dari Pelayan Menuju Pemilik, Renungan Ke-54 Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka ingin membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Membuka hati dengan repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri.

Sang Istri: Suamiku, kita tidak pernah punya pembantu, semua pekerjaan rumah selalu kita kerjakan sendiri. Hanya kadang-kadang untuk memperbaiki rumah dan sekali-sekali untuk merapikan taman ada orang yang datang membantu. Aku sering melihat para pembantu di rumah mewah, mereka merasa derajatnya lebih tinggi daripada mereka yang berjualan keliling. Mereka merasa punya kelas, pakaiannya bagus, pegang hape dan sering diantar pengemudi bosnya ke pasar. Padahal sang pemilik rumah mewah biasa-biasa saja.Tetapi kadang aku juga melihat beberapa pembantu yang sadar, yang memelihara rumah yang ditungguinya sebaik mungkin. Mereka merasa sebagai penjaga dan selalu menjaga keamanan dan kebersihan rumah yang dijaganya. Suamiku, aku hanya berpikir, ini adalah masalah rasa saja. Di dalam diri kita juga ada rasa pembantu yang angkuh, ada rasa pelayan yang setia, dan juga juga ada rasa sebagai pemilik rumah.

Sang Suami: Istriku, aku jadi ingat buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Bapak Anand Krishna”. Dalam buku tersebut disampaikan……… Alam semesta ibarat Rumah Besar… Dengan jumlah kamar dan pelayan yang tidak terhitung. Tentu rumah ini ada pemiliknya. Baik pelayan maupun pemilik bebas untuk memasuki kamar yang mana saja. Pelayan, untuk membersihkan kamar. Pemilik, untuk menikmati apa yang ada dalam kamar itu. Pemilik bebas untuk menentukan penggunaan setiap kamar. Pelayan tidak memiliki kebebasan itu. Pemilik bisa bongkar-pasang, bisa mengubah interior, bisa melakukan apa saja. Pelayan tidak bisa. Pemilik dan pelayan, dua-duanya tinggal di dalam rumah yang sama. Tapi, hidup mereka tidak sama. Pemilik hidup dengan kesadaran akan kepemilikannya. Pelayan hidup dengan kesadaran akan tugas dan kewajibannya sebagai pelayan……….

Sang Istri: Aku juga baru saja membaca buku tersebut………. Pemilik boleh mengisi salah satu kamar saja. la boleh mengunci diri dalam kamar itu selama berhari-hari, atau seumur hidup. la boleh tidak mengunjungi kamar-kamar lain. Tapi, kepemilikannya atas setiap kamar yang ada di dalam rumah itu tidak mengalami perubahan. la tetap memiliki rumah itu. Pemilik boleh meninggalkan rumah itu selama beberapa hari, atau berhari-hari. Ia boleh tidak ada di dalam rumah itu. Namun, kepemilikannya atas rumah itu sama sekali tidak terganggu………

Sang Suami: Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Bapak Anand Krishna” tersebut juga disampaikan bahwa……. Selama ini kita menganggap pikiran dan perasaan adalah non-materi. Anggapan itu, saya yakin seyakin-yakinnya, tidak akan bertahan lama. Bahkan, barangkali para ilmuwan sudah tidak menganggapnya non-materi lagi. Lalu, apa yang bersifat non-materi? Kesadaran yang menyadari kebendaan, materi, fisik, pikiran, perasaan, emosi, energi, vibrasi – barangkali, mungkin – itulah non-materi. Spiritualitas adalah perjalanan batin dari aku-badan, aku-pikiran, aku-perasaan, aku-emosi, aku- energi, aku-vibrasi, bahkan aku-kebenaran dengan “a” dan “k” kecil, atau Akulah Kebenaran dengan “A” dan “K” besar menuju “kesadaran”. Siapakah yang menyadari semuanya itu? Siapakah yang merasakan semuanya itu? Segala sesuatu yang mengelilingi kesadaran itu adalah kebendaan. Kebendaan adalah proyeksi dari kesadaran. Materi adalah manifestasi dari non-materi………

Sang Istri: “Kepemilikan” inilah Non-materi, inilah Kesadaran… Sekarang, kita tinggal memilih, mau tinggal di rumah alam semesta sebagai pemilik, atau pelayan. Seorang pemilik hidup di tengah dunia benda dengan kesadaran akan kepemilikannya. la tidak perlu digaji. la tidak bekerja demi penghasilan. la berkarya demi kepuasan diri. Hanyalah seorang berkesadaran pemilik yang bisa berkarya tanpa pamrih. Dengan kesadaran pelayan, sulit untuk berkarya tanpa pamrih. Mereka yang berkarya tanpa pamrih, setidaknya menjalin “hubungan khusus” dengan sang pemilik. Dan, menjadi bagian dari kepemilikan Hyang Maha Memiliki……..

Sang Suami: Benar istriku, aku ingat seorang sahabat mengatakan bahwa Baginda Rasulullah pernah menyampaikan… Aku adalah Ahmad tanpa mim, atau Ahad-Esa, Arab tanpa ain atau Rab-Penguasa……. dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Bapak Anand Krishna” tersebut juga disampaikan……. Yesus mengatakan bila Hyang Memiliki adalah Bapa. Kendati, pada saat yang sama la pun meyakini bila sesungguhnya Bapa dan diri-Nya sama. Rabiah, Meera, dan Rumi menjalin hubungan kasih dengan-Nya. Sementara itu, Mansur, Sarmad, dan Siti Jenar secara tegas menyatakan kepemilikan-Nya, “Akulah Kebenaran”. Kita tidak memahami maksud mereka, dan menggantung mereka, membunuh mereka. Itu adalah kerugian kita, dan hanyalah membuktikan sempitnya pandangan, wawasan, serta kesadaran kita. Karena, “Aku”-nya Mansur, Sarmad, dan Siti Jenar bukanlah aku-fisik, aku-pikiran, aku-perasaan, dan lain sebagainya. “Aku” mereka adalah kesadaran murni. “Aku” mereka mewakili “kepemilikan” Sang Pemilik. Seorang duta besar negara yang berdaulat mewakili negaranya dan bertindak atas nama pemerintahnya. Salahkah dia? Ketika ia menggunakan “aku” atau “kami”, itu adalah negara dan pemerintahnya yang dimaksudkan. Bukankah itu tugas dan kewajibannya?

Sang Istri: Buku tulisan Bhakti Seva ini mengajak kita, merayu kita, untuk menuntut hak kita atas “kepemilikan diri”. Atau, lebih tepatnya, menyadarkan kita akan hak itu, akan kepemilikan kita terhadap diri sendiri. Rumah Semesta ini milikmu! Jika kau belum menyadari hal itu, terlebih dahulu sadarilah kepemilikanmu, tanggung jawabmu terhadap hidupmu. Hidupmu adalah hidup-”mu”. Kau bertanggung jawab penuh atas hidupmu, atas setiap tindakan, bahkan ucapan, pikiran, dan perasaanmu. Kau bisa memilih hidup dengan kesadaran akan tanggung jawabmu, dan menjadi penentu garis hidupmu………..

Sang Suami: Istriku, mari kita berbicara dengan referensi buku “A NEW CHRIST Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Bapak Anand Krishna”. Dalam buku tersebut disampaikan…….. “Mengenal” Allah Bapa berarti “sadar akan kemanunggalan diri dengan-Nya”, dengan Allah Bapa, Allah Roh Agung, Allah Roh Kudus, atau apa pun sebutannya. Tidak ada cara lain untuk memahami dan menjelaskan hal ini. Karena, hanyalah ketika “Aku” manunggal dengan “Allah”, dengan “Bapa”, atau “Roh” maka “Aku akan tahu” apa saja yang “diketahui Allah, Bapa, atau Roh”. Saat itu, apa yang diketahui-Nya, Ku-ketahui pula; apa yang dilihat-Nya, Ku-lihat pula; dan, apa yang dikerjakan-Nya, Ku-kerjakan pula! Betul, bila Bapa jauh lebih agung, jauh lebih tinggi, jauh lebih sempurna daripada diri-Ku; Aku berasal dari-Nya, Aku datang dari Dia… Namun, ketika Aku menyatu dengan-Nya dalam roh, atau kesadaran kosmis; ketika Aku manunggal dengan-Nya maka Dia berada di dalam diri-Ku dan Aku berada di dalam diri-Nya. Saat itu, Aku dan Dia satu adanya……

Sang Istri: Gusti Yesus menyatakan bila kesadaran kosmis adalah sumber segala kekuatan…….. Ia menunjukkan bila kesadaran kosmis adalah kesehatan yang sempurna bagi dirinya, maupun bagi orang lain yang disembuhkan oleh-Nya. Ia mengatakan bahwa Dia dan Tuhan satu adanya dan, bahwasanya kita pun sesungguhnya sama. Sekarang, bagaimana menyatukan kemauan dan keinginan kita dengan kehendak-Nya itu saja; bagaimana kita bisa menerima kehendak-Nya secara utuh itu saja. Yesus berjanji, siapa saja yang berkehendak sesuai dengan kehendak Allah akan “mengetahui” maksud-Nya dan masuk ke dalam “Kerajaan Allah”. Ia melanjutkan : “…Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu… “ (Yohanes 14 : 12)…….

Sang Suami: Dalam buku tersebut ada sebuah catatan……. Menyelaraskan kemauan, keinginan, obsesi, dan impian pribadi dengan kehendak Allah membuat kita sadar, membuat kita “tahu” jatidiri kita. Ah, ternyata saya anak raja. Ternyata aku kaya raya. Ternyata semua ini disediakan bagi saya dan saudara-saudara saya. Kemudian, apa yang mesti saya khawatirkan? Kenapa mesti merampas hak saudara saya? Kesadaran seperti inilah yang dibutuhkan untuk memasuki Kerajaan-Nya. Yesus yakin betul bila kesadaran yang dimiliki-Nya dapat dimiliki setiap orang. Doa-Nya, sebagaimana kita baca dalam Yohanes 17:21 sungguh menarik. “… Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita…”. Yesus tahu persis bahwa kita semua memiliki potensi yang sama untuk meraih kesadaran kosmis. Kita semua bisa manunggal dalam kesadaran ilahi, Allah Bapa, atau kesadaran kosmis tersebut. Dalam hal itu, tidak beda antara Dia dan kita………

Sang Istri: Doa Gusti Yesus supaya kita “semua menjadi satu” dengan-Nya, dengan Roh, dengan  Allah Bapa adalah doa tertinggi………. Tiada kebaikan yang lebih besar, lebih hebat, daripada apa yang Yesus doakan bagi kita. Menyatu dengan-Nya, dengan Allah Bapa, atau Roh, berarti menyelaraskan pikiran kita, hidup kita, segala kekuatan, pengetahuan, dan apa saja yang kita miliki dengan Kekuasaan-Nya, dengan Roh, Allah Bapa atau Kesadaran Kosmis. Jika itu terjadi, jika kita menyadari hubungan kita dengan Roh, dengan Semesta, segala pengetahuan, segala kebijaksanaan dari Roh, dari Semesta akan mengalir dan mengisi pikiran dan hidup kita…….

Sang Suami: Dalam buku “A NEW CHRIST Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Bapak Anand Krishna” tersebut disampaikan……. Kita semua “terbuat” dari zat yang sama, substansi kita sama Roh. Namun, ketika “keluar” dari Roh, kita memperoleh kemampuan untuk berpikir secara terpisah. Kemampuan itu memberi kebebasan, sekaligus membuka kemungkinan bagi terjadinya kesalahan. Jika kita tidak menyadari hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, dengan Allah Bapa, maka terjadilah kesalahan. Awalnya, pikiran kita yang salah, kemudian perbuatan. Tanpa kesadaran akan hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, pandangan kita menjadi terbatas, sempit. Kita tidak bisa melihat kebenaran secara utuh sehingga kesimpulan kita sudah pasti salah. Merosotnya kualitas hidup, kekuatan diri, dan inteligensia atau kebijaksanaan kita selalu dalam proporsi yang persis sama dengan kemerosotan ke sadaran yang kita alami. Dan, dengan kemerosotan kesadaran yang dimaksud adalah kealpaan kita akan hubungan dengan Sumber Hyang Tunggal, Roh, Allah Bapa Hyang Maha Bijak, Kehidupan Abadi. Yesus menemukan dunia dalam keadaan sakit parah karena merosotnya kesadaran manusia. Kemerosotan itu pula yang menyebabkan manusia mengejar kenikmatan indra secara berlebihan; menimbulkan rasa takut dan khawatir; kemudian, tenggelam dalam lautan penuh derita. Kesadaran Kosmis, atau kesadaran akan kemanunggalan diri dengan Roh Hyang Kekal Abadi hanya dapat diraih dan dipertahankan dengan upaya yang sungguh-sungguh dan secara terus-menerus. Upaya yang dimaksud adalah hal ini adalah upaya mental, upaya pikiran. Pikiran yang senantiasa memikirkan, menginginkan, dan mengupayakan kemanunggalannya dengan Roh, dengan Allah Bapa……..

Sang Istri: Doa bukanlah untuk “membangun” hubungan dengan Tuhan karena, hubungan itu sudah ada. Doa adalah upaya kita untuk menyadari hubungan itu, hubungan yang sudah ada. Doa adalah upaya pikiran untuk selalu mengingat hubungan itu, untuk senantiasa memikirkan hubungan itu, supaya kemanunggalan diri terasa setiap saat. Sesungguhnya, doa tidak memiliki tujuan lain. Satu-satunya tujuan doa adalah kemanunggalan dengan Roh karena segala sesuatu yang lain sudah ada dalam kemanunggalan dengan Roh itu. Hendaknya kita tidak mencari kesehatan, kedamaian, kekayaan, ataupun kekuatan dan kekuasaan lewat doa. Doa kita, hendaknya untuk menyadari kemanunggalan kita dengan Tuhan…  itu saja. Setelah manunggal, kesehatan, kedamaian, kekayaan, kekuatan, kekuasaan, dan lain sebagainya akan menjadi milik kita dengan sendirinya……….

 

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Januari 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: