Tidak Menghakimi Tetapi Tetap Memilah, Renungan Ke-56 Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan menjadi tak berharga dan hanya membebani diri bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri.

Sang Istri: Seorang teman di FB memberikan nasehat yang nampak bijak, dalam dunia itu selalu ada hal positif dan hal negatif. Baik dan buruk hanyalah persepsi masing-masing orang, kita tidak perlu ikut campur urusan orang. Memang dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena” disampaikan……  Jiwa tidak pernah menghakimi. Hakim-menghakimi adalah urusan pikiran. Pikiran tidak mengenal Jiwa, karena Kebenaran Jiwa melampaui keterbatasan pikiran………. Kemudian dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan” juga disampaikan……… Jangan menghakimi orang lain; mungkin apa yang ia lakukan dalam posisinya, merupakan tindakan yang tepat baginya. Bagi dia itu mulia. Jangan juga meniru, karena bagi Anda, tindakan yang sama belum tentu mulia…….. Buku “Membuka Pintu Hati, Surah Al-Fatihah Bagi Orang Modern” menyampaikan……. Dalam Injil pun berulang kali Nabi Isa, Yesus, diriwayatkan mengucapkan kata-kata yang sama, “Jangan menghakimi orang lain”……. Hendaknya kita melakukan introspeksi diri. Sebelum menghakimi orang lain, seharusnya kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah perfect, sudah sempurna? Sebelum menuduh dan menuding orang lain melakukan korupsi, kiranya kita sadar bahwa selama ini kita pun terlibat dalam kolusi dan korupsi. Mungkin secara langsung, mungkin secara tidak langsung. Walaupun baju kita sendiri cukup kotor, kita masih saja melihat kotoran pada baju orang lain. Atau justru karena kekotoran kita, lalu kita menipu diri dan berpura-pura bersih dengan menunjuk-nunjuk orang lain kotor?!……….

Sang Suami: Istriku, bila kita membaca buku kita tidak bisa mengutip kalimat sepotong-sepotong, kita harus memahami secara keseluruhan. Tidak menghakimi, tidak berarti kita tidak memilah dan membela dharma. Pandawa memahami mengapa sifat Korawa demikian, tetapi Pandawa mengikuti nasehat Sri Krishna untuk berperang melawan kebatilan. Dharma tetap harus ditegakkan dan kita tidak membiarkan adharma merajalela….. Melihat adharma merajalela di tengah masyarakat, kita tidak dapat diam. Kita bisa mencontoh Mahatma Gandhi dengan senjata Ahimsa-nya. Dalam buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World” disampaikan…… Memang kita tidak perlu mencari keburukan manusia, tetapi bila seseorang melakukan kejahatan, jelas kita harus melawan. Hanya saja perlawanan yang kita berikan tidak menggunakan kekerasan. Kita melawan tanpa senjata, tetapi dengan kekuatan logika, rasio, dan di atas segalanya cinta-kasih dan pemaafan. Ahimsa juga menuntut agar mereka yang dapat membedakan kebatilan dari kebaikan, kejahatan dari kebajikan – tidak membiarkan kejahatan dan kebatilan merajalela. Ketika adharma merajalela, hadapilah adharma itu dengan segala daya dan kekuatan diri………

Sang Istri: Terima kasih suamiku…… Sejalan dengan pandangan tersebut, kita melihat bahwa pengalaman setiap orang adalah unik, karena setiap orang memiliki genetik bawaan, pendidikan, lingkungan dan pengalaman yang berbeda. Kebenaran bagi setiap orang adalah kebenaran dengan kerangka pola yang terbentuk olehnya. Sehingga wajar saja bila pandangan setiap orang tentang kebenaran berbeda……. Kita bisa menerima pendapat orang lain, bisa memahami kehidupan orang lain, akan tetapi kita tetap tidak akan membiarkan adharma merajalela………

Sang Suami: Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Bapak Anand Krishna” disampaikan……. Kita semua “terbuat” dari zat yang sama, substansi kita sama Roh. Namun, ketika “keluar” dari Roh, kita memperoleh kemampuan untuk berpikir secara terpisah. Kemampuan itu memberi kebebasan, sekaligus membuka kemungkinan bagi terjadinya kesalahan. Jika kita tidak menyadari hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, dengan Allah Bapa, maka terjadilah kesalahan. Awalnya, pikiran kita yang salah, kemudian perbuatan. Tanpa kesadaran akan hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, pandangan kita menjadi terbatas, sempit. Kita tidak bisa melihat kebenaran secara utuh sehingga kesimpulan kita sudah pasti salah. Merosotnya kualitas hidup, kekuatan diri, dan inteligensia atau kebijaksanaan kita selalu dalam proporsi yang persis sama dengan kemerosotan ke sadaran yang kita alami. Dan, dengan kemerosotan kesadaran yang dimaksud adalah kealpaan kita akan hubungan dengan Sumber Hyang Tunggal, Roh, Allah Bapa Hyang Maha Bijak, Kehidupan Abadi……. Istriku berarti saat seseorang menyadari hubungannya dengan Tuhan maka dia taubat dari berbuat salah……. Berarti orang berbuat jahat, karena tanpa sadar dia hanya memenuhi keinginan panca indera dan egonya. Bila dia sampai terketuk hati nuraninya, dia akan sadar dan kembali ke jalan kebenaran. Oleh karena itu kita tetap harus menyampaikan kebenaran……….

Sang Istri: Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Bapak Anand Krishna” disampaikan bahwa Sri Yukteshwar, 1855-1936 Mistikus/Yogi, Guru Paramhansa Yogananda berkata, kelahiran seorang anak terjadi “saat” pengaruh konstelasi perbintangan selaras dengan hasil perbuatan (karma) anak itu di masa lalu…….. Hukum Sebab-Akibat tidak bisa tidak dikaitkan dengan Reinkarnasi, atau Tumimbal-Lahir. Hukum inilah yang menjelaskan kenapa sebagian di antara kita lahir dalam keluarga baik, sebagian dalam keluarga kurang baik, dan sebagian dalam keluarga di mana sulit mengembangkan potensi diri. Hukum Karma dan Reinkarnasi menjelaskan kenapa seorang anak lahir cacat dan dalam keluarga miskin pula, sementara anak lain lahir dalam keluarga kaya-raya di mana segala kebutuhan bahkan kenyamanan hidup tersedia. Kelahiran kita “kini” adalah hasil dari perbuatan kita di masa lalu. Namun, tidak berarti kita tidak berdaya, dan mesti menerima “nasib” untuk selamanya. Tidak demikian……… Benar suamiku, kita bisa memahami kecenderungan seseorang berdasar karma masa lalunya, akan tetapi kita tidak bisa membiarkan orang tersebut bertindak semena-mena, berkubang dalam adharma hanya karena walaupun kita memahami bahwa orang tersebut lahir dengan potensi adharma…….

Sang Suami: Istriku, seseorang berbuat adharma karena pilihannya yang salah. Pilihan yang salah bisa diakibatkan oleh faktor genetik, pendidikan, lingkungan dan pengalaman yang membuat dia berkecenderungan memilih tindakan adharma tersebut. Tetapi didalam diri orang tersebut tetap ada benih kebenaraan, dia mempunyai hati nurani, saat dia mendengarkan dan mengikuti hati nurani maka dia bertaubat dan kembali ke jalan yang benar…… Mungkin dia mempunyai kecenderungan tertentu akibat kelahirannya, tetapi itu bukan harga mati……. Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Bapak Anand Krishna” disampaikan……… Di sinilah, kadang Hukum Karma tidak dipahami atau malah disalahpahami. Kelahiran kita dalam keluarga miskin tidak berarti kita mesti hidup sebagai orang miskin hingga akhir hayat. Atau, jika kita lahir dalam keluarga yang tidak berpendidikan berarti kita tidak bisa atau tidak boleh menimba ilmu. Tidak seperti itu. Kita lahir dalam keluarga miskin dan/atau tidak berpendidikan, itu adalah hasil ulah kita di masa lalu. Tapi, hidup kita selanjutnya sepenuhnya tergantung pada kemauan kita sendiri. Kita bisa memastikan hari esok yang lebih baik dengan berbuat baik hari ini. Demikian, sesungguhnya Hukum Karma adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma bukanlah Hukum Fatalistis – Hukum Tanpa Harapan – sebagaimana sering digambarkan oleh mereka yang tidak memahaminya. Hukum Karma justru adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma membuat kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menyaksikan. la tidak menghakimi dan menghukum kita. Kita mengalami suka dan duka karena perbuatan kita sendiri. Kita dapat mengubah nasib……..

Sang Istri: Aku ingat sebuah wejangan bijak……. Tauhid bebas dari penghakiman, tapi ketika berada di tengah keramaian dunia, tetaplah mesti memilah, tentunya “tanpa menghakimi”. Yang nyaman dan menyenangkan itu tidak jahat, dan yang mulia tidak perlu diberi label “yang maha baik”. Pilihlah yang memuliakan tanpa menghakimi bahwa yang menyenangkan dan menyamankan itu jelek…….. Yesus mengatakan “jangan menghakimi” – kita tidak memahami maksudnya. Ia tidak mengatakan jangan memilah. Ia tidak mengatakan jangan melindungi dirimu dari jurang. Kita lupa bahwa adalah dia pula yang melarang supaya kita tidak melemparkan mutiara kepada kawanan babi……… Dalam buku “A New Christ Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Bapak Anand Krishna” disampaikan…….. “Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.” (Yohanes 12:47)…… Dan menyelamatkan dunia berarti tetap memilah antara dharma-adharma, tetap memilih antara shreya-yang memuliakan dan preya-yang menyamankan pikiran dan panca indera, serta tetap menentukan sikap mau berpihak ke mana………

Sang Suami: Kita tidak menghakimi, akan tetapi memilah dan menentukan sikap itu penting. Dalam buku “Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern” disampaikan nasehat leluhur kita tentang “weweka”……… Kata “weweka” berasal dari kata “viveka”, the faculty for discrimination kemampuan kita untuk memilih tindakan mana yang tepat dan tindakan mana yang tidak tepat. Jangan memilih antara mana yang baik dan mana yang buruk. Baik dan buruk sangat relatif. Yang harus dipilih adalah mana yang tepat, mana yang tidak tepat. Apabila kita kehilangan sense of discrimination atau viveka ini dan tidak dapat memilah tindakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat akibatnya hanyalah kekacauan…….. Jangan menghakimi tetapi tetap memilah mana dharma mana adharma, mana shreya mana preya, kita berpihak ke mana……. Semoga………

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Januari 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: