Esensi Agama Menembus Sekat-Sekat Dari Kotak-Kotak Yang Terpisah, Renungan Ke-71 Tentang Berguru

Sepasang suami istri melihat komentar para sahabat  dalam note di FB nya. Mereka melihat para sahabatnya tertarik pada pernyataan YM Bhikku Sanghasena pendiri Mahabodhi International Meditation Center , tentang tidak adanya kedamaian dunia karena dunia telah terkotak-kotak dan masyarakat berada dalam kotak-kotak yang terpisah……. Karena ada “division”, ada pembagian. Karena ada pembagian maka timbullah friksi, muncullah perkelahian. Pembagian, pengkotak-kotakan sudah terjadi menyeluruh dalam setiap kehidupan manusia, pembagian negara, agama, ras, warna kulit, geografi dan sebagainya. Semua orang menginginkan kedamaian, kebahagiaan, kemakmuran, betul demikian semuanya…… akan tetapi hanya kedamaian, kebahagiaan dan kemakmuran bagi kelompoknya. Kelompok Amerika hanya memperjuangkan bagi Amerika, demikian pula Eropa, Asia ataupun suatu agama hanya memperjuangkan kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat seagamanya saja. Dan selalu kita hanya memikirkan kelompok kita dan mengabaikan kelompok lain di luar kita, itulah sebabnya tidak pernah tercapai perdamaian……. Terlalu banyak pengkotak-kotakan dalam kehidupan, pada hal secara fundamental kita itu sama-sama manusia…… Harus ada transformasi, atau perubahan sikap mental, perubahan “attitude” untuk melihat persamaan dan bukan mencari perbedaan. Dan, esensi setiap agama pada dasarnya sama……

Sang Suami: Istriku, aku baru saja tertegun kala membaca status FB salah seorang sahabat…… “Kalau Ahli Hukum tak merasa tersinggung karena pelanggaran hukum, sebaiknya dia jadi tukang sapu jalanan”, tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca……. Dan salah seorang “sahabat” mengomentari status tersebut…….. “Itulah yg terjadi ketika para ahli hanya melihat fakta semu di permukaan tanpa mau menyelami kebenaran. Betapa langkanya para pemikir seperti Pramoedya di negeri ini. Salam kasih buatmu Bung, telah mengingatkan kita akan hal ini.”……….. Benar sekali tanggapan terhadap status tersebut……

Sang Istri: Saya pernah membaca bahwa Gus Dur menyampaikan, “Saya sendiri orang Islam – tetapi Islam pun banyak kekurangannya. Seperti yang diketahui, Islam itu terbagi dua, satu yang legalistik/formalistik, satunya lagi yang spiritual. Saya pribadi lebih cenderung kepada yang spiritual. Yang legal suka menghantam yang spiritual.”……. Dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi” disampaikan…….. Dalam setiap agama, ada bagian-bagian yang bersifat universal, ada pula yang bersifat kontekstual. Yang kontekstual ini mungkin sangat relevan pada masanya, tetapi sudah tidak relevan dengan masa kini. Kita tidak perlu mengkritiknya. Yang diperlukan adalah kearifan kita untuk memisahkan bagian-bagian yang sudah tidak relevan lagi……… Dengan segala hormat kepada pendiri setiap agama, bagaimanapun mereka adalah manusia biasa. Ilham atau Wahyu yang kita anggap “turun” dari Allah dan saya yakini berasal dari kesadaran tinggi mereka jabarkan sesuai “pemahaman” mereka. Dan “pemahaman” manusia meningkat terus. Bahkan secara anatomis, otak kita apapun sudah mengalami perubahan struktural. Kualitas otak manusia sekarang dan manusia purbakala – bahkan manusia yang lahir 2000 tahun yang lalu – sudah berbeda. Kita harus bisa menerima “perbedaan” ini dengan pikiran yang jernih dan hati yang terbuka. “Pembakuan” peraturan-peraturan yang dibuat ribuan tahun yang lalu – lantas menjadikannya landasan bagi suatu negara – akan menghentikan roda pembangunan. Kita akan lari di tempat………

Sang Suami: Dalam AI-Qur’an pun tertulis, “Kuciptakan kalian sebagai bangsa-bangsa dan suku-suku agar kalian saling mengenal satu sama lain. Sesungguhnya orang yang paling mulia di mata Allah adalah orang yang bertaqwa.”…….  Berarti taqwa menembus sekat-sekat perbedaan bangsa dan suku. Dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi” disampaikan…….. Entah berapa kali telah kita baca Firman Allah itu, namun sepertinya tidak pernah kita hayati. Bolak-balik yang kita permasalahkan adalah bentuk luar agama, bukan esensi ajaran agama itu sendiri. Esensi agama tidak bisa dipermasalahkan. Esensi agama adalah “taqwa” kepada Allah. Dan siapa yang bisa menentukan ke-“taqwa” -an seseorang, kecuali Allah? Baca lebih lanjut

Melihat Persamaan Antar Agama, Mutiara Renungan Bhikku Sanghasena di AKC Joglosemar, Renungan Ke-70 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membicarakan pesan Yang Mulia Bhikku Sanghasena yang berkunjung ke Anand Krishna Center Joglosemar pada tanggal 24 Februari 2011. YM Bhikku Sanghasena adalah yang mendirikan Mahabodhi International Meditation Center, sebuah Meditation Center  yang mudah ditemukan lewat Google search dalam internet. Dikatakan “Mahabodhi International Meditation Center is great example of one’s vision turning into reality”…….

Sang Suami: Pesan pertama YM Bhikku Sanghasena adalah tentang tidak adanya kedamaian dunia karena dunia telah terkotak-kotak dan berada dalam kotak-kotak yang terpisah…….Bhikku Sanghasena dengan spontan mengucapkan, “Wonderful!”,  saat melihat film tentang Anand Ashram di mana banyak orang dari anak kecil sampai dewasa, berbeda profesi, berbeda suku, berbeda ras, berbeda agama dapat bekerja bersama, meningkatkan kesadaran dalam suasana bahagia……. Beliau menyampaikan demikian pula di Ashram Mahabodhi Ladakh, India yang terbuka untuk semua, tidak ada larangan bagi setiap orang dari agama, ataupun kebangsaan apapun untuk datang. Di Ashram Mahabodhi memandang setiap orang sebagai manusia tidak melihat perbedaan agama dan kebangsaan………. Berbicara masalah kedamaian dunia. Mengapa tidak ada kedamaian? Karena ada “division”, ada pembagian. Karena ada pembagian maka timbullah friksi, muncullah perkelahian. Pembagian, pengkotak-kotakan sudah terjadi menyeluruh dalam setiap kehidupan manusia, pembagian negara, agama, ras, warna kulit, geografi dan sebagainya. Semua orang menginginkan kedamaian, kebahagiaan, kemakmuran, betul demikian semuanya…… akan tetapi hanya kedamaian, kebahagiaan dan kemakmuran bagi kelompoknya. Kelompok Amerika hanya memperjuangkan bagi Amerika, demikian pula Eropa, Asia ataupun suatu agama hanya memperjuangkan kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat seagamanya saja. Dan selalu kita hanya memikirkan kelompok kita dan mengabaikan kelompok lain di luar kita, itulah sebabnya tidak pernah tercapai perdamaian……. Terlalu banyak pengkotak-kotakan dalam kehidupan, pada hal secara fundamental kita itu sama-sama manusia…… Harus ada transformasi, atau perubahan sikap mental, perubahan “attitude”.

Sang Istri: Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” juga disampaikan…….. Kemanusiaan itu bukan hitam atau putih, atau keduanya. Kemanusiaan adalah satu. Anak adalah anugrah alam, keajaiban dan misteri. “Goresan” DNA berbeda, namun jika kita menilik cukup jauh ke belakang, kita akan temukan kita semua berasal dari satu sumber yang sama. Atom itu satu. Energi juga satu. Sumber segala kehidupan adalah satu. Perbedaan kita adalah geografis. Perbedaan biologis. Tetapi bukan perbedaan yang prinsipil. Pada dasarnya, kita semua satu. Jadi, kembali lagi pada kita. Bagaimana cara pandang kita? Apakah kita menyadari esensi yang satu dan sama, atau kita hanya melihat perbedaan-perbedaan di permukaan? Tiap orang dari kita adalah unik. Ya benar. Tetapi jangan biarkan keunikan ini memisahkan kita. Marilah kita selalu ingat bahwa pada intinya kita semua satu. Marilah kita rayakan keunikan individual kita. Namun janganlah lupa bahwa lantai dansa adalah satu juga. Kita tidak bisa berdansa tanpa lantai dansa  kesatuan ini. Keunikan tarian kita dapat terlihat hanya karena lantai dansa kesatuan. Tanpa lantai dansa ini, tidak mungkin ada tarian. Sesungguhnya, dalamnya inti, tidak ada hitam atau putih. Hitam dan putih tidak lagi menjadi masalah, atau dipandang sama rata. Melalui lagunya, sebenarnya dia sedang mengundang kita untuk masuk ke dalam diri dan menemukan esensi yang sesungguhnya………

Sang Suami: YM Bhikku Sanghasena menyampaikan tentang keadaan saat ini dimana tidak ada kedamaian yang nyata, yang ada hanya omongan belaka. Beliau menyampaikan……. Misalkan saya sedang damai, rileks duduk santai di atas kursi dan kopi di sebelah kita. Kemudian tangan kita sedang memegang cangkir. Kemudian kita mendengar suara ledakan di tetangga kita, apakah kita bisa rileks dan damai?………. Misalkan kita sedang rileks, merasa nyaman dan mau ambil secangkir kopi untuk dinikmati, akan tetapi dari jendela di sebelah kita duduk kita melihat seorang ibu dan anak terluka berdarah-darah, sedang menangis apakah kita bisa merasa damai?……… Kita hanya bisa merasa rileks, damai dan minum kopi dengan nyaman bila tetangga kita juga nampak dari jendela kita bahwa dia juga sedang duduk rileks dan minum kopi juga……… Beliau menyampaikan bahwa pada zaman dahulu, manusia melakukan perang hanya memakai busur dan anak panah yang jangkauannya hanya puluhan meter. Kemudian berita peperangan tersebut sampai ke telinga seseorang yang berada di luar daerah bisa makan waktu berbulan-bulan. Akan tetapi sekarang untuk menghancurkan sebagian dunia cukup memencel sebuah tombol. Kemudian pada saat ini, kejadian di belahan dunia lain dalam waktu menit sudah ada di depan kita…….. Dulu pengaruh suatu peristiwa perang terhadap kedamaian terbatas, kini beritanya tersebar dalam waktu singkat sekali……. Kita harus punya visi baru bagi kedamaian orang, keluarga, negara, agama. Bukan hidup sendiri, damai sendiri, dan kita tidak peka, tidak terpengaruh anak-anak kecil yang terbunuh dalam perang atau kekerasan. Baca lebih lanjut

Latihan “Sight Culturing” Dan Perbaikan Cara Pandang Terhadap Kehidupan, Renungan Ke-69 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membicarakan latihan meditasi yang mereka ikuti pada Anand Krishna Center Joglosemar, Center for Holistic Health & Meditation. Kali ini mereka melakukan pembicaraan mengenai Latihan Membudayakan Penglihatan/Visi dan Mengembangkan Kasih serta Intuisi.

Sang Istri: Suamiku, aku sangat menikmati latihan Membudayakan Penglihatan/Visi dan Mengembangkan Kasih serta Intuisi………. Duduk bersila atau duduk di atas kursi, menghadap lilin yang sudah dinyalakan. Menatap cahaya lilin terus-menerus. Membiarkan air mata mengalir tanpa dihapus. Setelah air mata sudah mengalir banyak, atau mata sudah terasa pedih, mata dipejamkan pelan-pelan dan duduk diam sampai rasa sakit hilang. Pada saat itu kita merasakan kelegaan. Dengan mata tetap tertutup, kemudian kita bayangkan cahaya lilin berada di tengah-tengah kedua alis mata. Kemudian dibayangkan cahaya tersebut dipindahkan ke mata, telinga, pipi, hidung, mulut dan leher. Dari leher, turunkan cahaya ini ke bawah, sampai ke dada. Selanjutnya cahaya ini dirasakan. Cahaya ini memberikan rangsangan kepada jantung, dan dengan sedikit upaya, kita dapat merasakan Kasih di dalam diri dan seterusnya……. Kemudian kita merasakan seluruh badan mandi dibawah pancuran kasih. Kasih mengisi seluruh badan dan sudah tidak dapat membendung lagi dan energi kasih ini mulai meluap ke luar dan mengisi seluruh ruangan. Selanjutnya energi kasih disebarkan ini ke seluruh rumah kita, kirimkan ke tempat kerja, dan tempat-tempat lainnya. diniatkan juga bahwa kita mengirimkan bingkisan kasih ini kepada para sahabat, mereka yang kita cintai. Juga kita kirimkan kepada mereka yang selama ini kita anggap sebagai musuh. Ucapkan dalam hati, “Aku tengah berupaya memahamimu. Terimalah bingkisan kasihku ini. Maafkan aku, mari kita bersahabat”. Sebarkan juga ke seluruh Indonesia, dengan membayangkan peta Indonesia – selanjutnya ke seluruh dunia……  dan seterusnya…. untuk lengkapnya dapat dilihat pada buku “Seni Memberdaya Diri 1, Meditasi Untuk Manajemen Stres dan Neo Zen Reiki”…… Latihan ini melatih pusat energi diantara kedua alis mata yang berkaitan dengan kebijaksanaan dan juga pusat energi di dada yang berkaitan dengan kasih…….

Sang Suami: Bila dalam satu waktu kita memikirkan banyak hal, maka gelombang otak kita bergerak diatas 13 Hertz (siklus per detik), yang dikenal sebagai kondisi ”beta”. Misalnya sambil berkendara, ngobrol dengan teman, melihat anak menyeberang jalan dan melihat polisi di perempatan jalan, serta telinga mendengar suara ambulance di belakang kita…….. pikiran terasa tegang. Selanjutnya, ketika kita fokus hanya memikirkan satu hal dalam satu waktu, gelombang otak akan menurun dibawah angka 13, yang disebut dalam kondisi ”alpha”. Misalnya membaca buku dengan sangat asyik….. atau hanya memperhatikan napas masuk dan napas keluar hidung. Prinsip ini dapat dimanfaatkan untuk mengalihkan perhatian dari pikiran tertentu misalkan pikiran tentang kesedihan dengan memikirkan hal yang lain, sehingga kesedihan tidak terpikirkan dan kita masuk dalam keadaan tenang. Pada prinsipnya, memikir satu hal tertentu dapat menggantikan pikiran yang lain. Kemudian, apabila dalam satu waktu, kegiatan memikir tersebut diganti dengan tindakan visualisasi, maka gelombang otak akan lebih melembut lagi……..  Pada waktu latihan “sight culturing” – pembudayaan penglihatan, ketika kita betul-betul memperhatikan nyala api lilin, pikiran-pikiran yang lain akan jarang masuk. Nyala lilin ini betul-betul terasa baru bukan sekedar pengertian umum nyala api lilin yang tersimpan dalam otak kita. Selanjutnya, ketika mata ditutup dan mulai memvisualisasikan nyala api lilin, kita semakin tenang dan pikiran semakin jernih. Pada waktu pikiran jernih,dan kita tidak merasakan adanya tangan, kaki dan badan kita, kita sudah mulai masuk kondisi theta yang sangat menyehatkan dan sangat inspiratif. Afirmasi dan visualisasi tentang kasih yang dilakukan saat latihan dalam kondisi ini sangat sugestif dan merasuk ke dalam bawah sadar. Gelombang theta sendiri berkisar antara 3,5 sampai 7 Hertz…… Baca lebih lanjut

Latihan Katarsis Dan Pelembutan Jiwa Anak Bangsa, Renungan Ke-68 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membicarakan latihan meditasi yang mereka ikuti pada Anand Krishna Center Joglosemar, Center for Holistic Health & Meditation. Kali ini mereka melakukan pembicaraan mengenai katarsis,salah satu cara pembuangan sampah emosi yang terpendam dalam diri.

Sang Suami: Istriku, setiap peristiwa yang mengakibatkan kekecewaan selalu kita simpan dalam otak satu paket lengkap dengan emosi yang mendampinginya. Pada waktu kita marah atau kecewa, dan kita tidak dapat melampiaskan akibat situasi yang tidak mendukung, misalnya marah dengan pimpinan kantor kita atau orang terpandang di lingkungan kita, atau gelisah membaca koran tentang negara yang tak kunjung menyelesaikan masalah kekerasan, maka peristiwa tersebut akan kita simpan lengkap dengan emosi negatif yang menyertainya…….. Sejak bayi pun, kita diprogram mana yang baik dan mana yang buruk oleh orang tua, pendidikan dan lingkungan. Ketika kita yang seharusnya melampiaskan emosi, akan tetapi tidak dapat kita lakukan dengan pertimbangan kriteria baik-buruk yang diprogramkan pada kita, maka peristiwa itu juga kita simpan lengkap dengan kegelisahannya. Emosi negatif yang terjadi sepanjang kehidupan, kita simpan dalam bagian otak yang disebut limbik. Semakin tua, kandungan emosi negatif tersebut semakin banyak, sehingga, semakin tua semakin mudah marah, kadang hanya terpicu hal yang sepele………

Sang Istri: Benar suamiku, pada zaman dahulu kala, manusia ke mana-mana bepergian dengan jalan kaki, sehingga fisik tubuh terlatih kuat dan kegelisahan tereduksi. Sekarang orang bepergian dengan  naik kendaraan, sehingga daya tahan fisik berkurang dan kegelisahan tidak tersalurkan lewat gerakan fisik. Pada zaman dahulu kita sambil jalan bisa menikmati pemandangan alam yang segar dan bunyi burung-burung yang berkicau di atas pohon. Sekarang perjalanan macet di mana-mana, penuh suara klakson dan asap knalpot. Dengan adanya HP di dekat kita maka informasi yang masuk kepada diri kita luar biasa banyaknya. Fisik kita semakin sedikit digunakan, beban psikis sangat berat, aura kegelisahan menyebar di koran, internet dan HP. Jelas kegelisahan orang sekarang jauh lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang pada zaman dahulu. Cara-cara menenangkan pikiran zaman dahulu perlu dikaji ulang…….

Sang Suami: Untuk itulah kita sangat menikmati latihan “katarsis” di Anand Krishna Center, manfaatnya sangat terasa. Katarsis, adalah semacam pengeluaran sampah emosi negatif lewat ”voice culturing”. Latihan ”voice culturing” dimaksudkan untuk memancing emosi negatif yang tersimpan dalam bawah sadar sehingga dapat dikeluarkan. Latihan dengan napas “kelinci” yang kacau ditambah musik keras tertentu akan memicu ketegangan diri, sehingga emosi yang terpendam dalam diri dapat terungkap keluar. Dan dengan teriakan yang keras, kita akan membuang sampah emosi negatif. Katarsis lewat “voice culturing” ini akan melegakan perasaan kita……. Aku ingat kutipan dalam  buku “Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian Menuju Keabadian”………. “Lakukan apa pun yang kau inginkan; lakukan yang sudah lama hendak kau lakukan. Jangan memendam emosimu. Berteriaklah, menjerit, dan ekspresikan dirimu… Bebaskan dirimu dari sampah pikiran. Lepaskan segala kecemasan dan kekhawatiran juga ketakutan…. kemudian barulah kau dengan lebih mudah bisa memasuki alam meditasi. Di situ kau akan mengalami kebahagiaan. Dalam kesadaran itu kau akan menemukan kebenaran yang sejati dan kebahagiaan yang tak pernah berakhir”……. Baca lebih lanjut

Dari Latihan Menyayangi Tubuh Menuju Menyayangi Sesama, Renungan Ke-67 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membicarakan latihan meditasi yang mereka ikuti pada Anand Krishna Center Joglosemar, Center for Holistic Health & Meditation. Kali ini mereka melakukan pembicaraan mengenai latihan menyayangi anggota tubuh.

Sang Suami: Istriku, kita melihat banyak dagelan di atas panggung bangsa, rasa nurani sudah terbeli. Kita sudah tidak menyayangi sesama, kita sudah tidak membela kebenaran, semua kalah oleh uang dan kepentingan pribadi. Mereka yang mempunyai wewenang pun, nampaknya menjadi peragu terhadap mereka yang bersuara keras. Padahal semua orang paham ada hukum alam, hukum sebab-akibat. Ada waktu mulut kita dikunci dan anggota tubuh harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ada senjata cakra-ilahi “sebab-akibat” yang akan mengikuti mereka yang berbuat jahat, dan lari ke mana pun akan dikejarnya sampai hutang impas. Sayang semuanya telah tertutup oleh kenyamanan duniawi yang bersifat sementara, semuanya tertutup oleh keindahan uang pembeli kenikmatan………

Sang Istri: Suamiku, ada baiknya kita berbicara masalah kesehatan jasmani dan kesehatan rohani. Salah satunya adalah latihan menyayangi anggota tubuh. Duduk diam dalam posisi bersila, atau di atas kursi. Dengan mata tertutup, selama 5-10 menit kita latihan menyayangi anggota tubuh. Mata ditutup, relaks, telinga mendengarkan musik yang lembut, napas diatur sehingga pikiran menjadi tenang. Kemudian kita mulai mencintai badan kita, mulai berdialog dengan badan kita. Kita mulai menyayangi dan mengelus-elus tubuh mulai kepala, mata, hidung telinga, bibir, otak dalam kepala, leher, dada, tubuh bagian dalam sampai dengan kaki, ujung jari kaki secara perlahan penuh rasa kasih. Setelah latihan terasa tubuh kita lebih bersemangat dan sehat seperti semangatnya para anak buah yang mendapat perhatian dari atasannya.

Sang Suami: Benar istriku, bagiku, latihan meditasi adalah latihan dalam skala kecil dari kehidupan manusia. Latihan bernapas tenang dan teratur adalah latihan untuk hidup tenang dan teratur, tidak bergejolak. Latihan napas yang pelan dan lembut adalah latihan bertindak penuh kelembutan dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Latihan menyayangi tubuh adalah skala kecil dari menyayangi sesama dan seluruh alam semesta. Saya ingat sebuah artikel tentang kelinci-kelinci percobaan yang membuka cakrawala kesadaran tentang pengaruh kasih sayang. Sekelompok kelinci diberi makanan berkolesterol tinggi untuk mendalami asal penyakit “cardio vasculair”. Hasilnya nampak pada beberapa kelinci ditemukan pengerasan di pembuluh arteri mereka. Akan tetapi sesuatu hal yang luar biasa terjadi, ada sekelompok kelinci yang sama sekali tidak menunjukkan kenaikan kolesterol. Usut punya usut, sang asisten laboratorium selalu mengelus-elus beberapa kelinci kala mereka sedang makan. Perasaan aman, terlindung, bahagia sewaktu menyantap makanan menawarkan kolesterol. Mengelus-elus anggota tubuh ternyata mempunyai pengaruh yang luar biasa.

Sang Istri: Selama ini kita melihat diri kita hidup, hewan juga hidup, tanaman pun hidup. Barangkali kita lupa, tubuh kita, tubuh hewan, tubuh tanaman terdiri dari trilyunan sel, yang kalau dilihat dengan mikroskop, mereka pun hidup. Ada ahli yang menghitung sel tubuh manusia berjumlah sekitar 50 trilyun. Mereka hidup, mereka lahir, mereka mati, mereka mempunyai usia hidup, dan setelah mati ada yang menggantikan mereka. Sel-sel tubuh kita bukan benda mati. Yang mati selalu dibuang oleh tubuh kita. Kita ambil contoh , sel-sel darah putih, mereka hidup sekitar 3 bulan menjalankan tugas melindungi tubuh, baru kemudian mati. Apabila ada virus jahat yang masuk dalam tubuh kita, sel-sel darah putih memeranginya dan mereka rela mati muda demi tubuh kita secara keseluruhan. Sel-sel darah putih begutu cerdas, mereka bisa membedakan siapa kawan siapa lawan. Mereka tidak pernah mogok kerja, melakukan demo. Kalau saja mereka mogok barang sebentar virus terlemahpun mudah menghancurkan tubuh kita. Informasi rasa manis dalam lidah sampai ke otak melalui barisan ribuan sel syaraf yang bersedia ber “estafet” mengantarkan informasi. Sel-sel dalam tubuh memahami tugas sel-sel yang lain, saling membantu, bekerjasama dalam keseluruhan. Seluruh sel-sel hidup dan melakukan kerjasama mendukung eksistensi tubuh kita. Baca lebih lanjut

Nasehat Luhur Tentang Modal Dasar Bagi Perjuangan Bangsa, Renungan Ke-66 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “budaya”. Mereka berdiskusi tentang “nasehat para leluhur” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni.Buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip pandangan dalam buku agar tidak kehilangan esensi.

Sang Istri: Leluhur kita tidak mendahulukan adat tetapi mendahulukan budaya. Budaya adalah sesuatu yang dinamis. Budaya adalah nilai-nilai luhur yang universal yang berasal dari masyarakat. Adat adalah tradisi. Sedangkan zaman selalu berubah. Misalkan ada adat berjudi pada malam tirakatan sebelum penguburan seseorang. Adat tersebut mungkin dapat berlaku pada suatu zaman, tetapi pada zaman yang lain  tidak sesuai. Tetapi  budaya bersifat dinamis dan menyesuaikan diri pada setiap zaman, karena bersifat universal. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika bersifat universal dan merupakan sari budaya Indonesia. Dalam buku “Isa Hidup dan Ajaran Sang Masiha” disampaikan……… Budaya bukanlah sesuatu yang mati. Budaya adalah sesuatu yang hidup. Bahkan menurut saya, budaya adalah sumber kehidupan suatu bangsa. Yang bisa mempersatukan kita adalah budaya. Suatu bangsa yang melupakan nilai-nilai luhur budayanya sendiri akan hancur lebur. Tanpa nilai-nilai budaya, kesatuan dan persatuan bangsa tidak dapat dipertahankan. Agama kita berbeda. Warna kulit, suku dan ras kita berbeda. Kita bahkan memiliki kebiasaan-kebiasaan yang berbeda. Apabila kita masih bersatu sebagai suatu bangsa yang besar perekatnya hanyalah budaya, budaya Nusantara. Dan dalam Lautan Budaya Nusantara itu, bersatulah aliran-aliran yang berbeda. Ada aliran Jawa, ada sungai Sunda, ada kultur Sulawesi dan Kalimantan dan lain-lain. Tetapi dalam Lautan Budaya Nusantara—semuanya bersatu. Persatuan itu pula yang sampai saat ini masih mempersatukan kita………

Sang Suami: Sejak zaman dahulu, para leluhur dapat menerima esensi semua agama, tetapi bukan dengan cara mengikuti adat kebiasaan yang dibawa agama tersebut. Adat tersebut tidak bersifat universal, mungkin lokal, regional dan perlu penyesuaian dengan zaman…….. Kini, masyarakat yang belum sadar dapat terjebak dalam budaya asing yang ikut terbawa agama yang masuk. Seharusnya yang diterima adalah sifat-sifat universalnya dan bukan adatnya. Selama tidak menyadari hal tersebut, para pengikut agama dapat terkesan kolot……..

Sang istri: Banyak negara yang kebudayaannya sudah tinggi, seperti Turki, tetapi tenggelam dalam adat luar. Sehingga begitu memproklamasikan kemerdekaan, Kemal Ataturk, perlu mengumpulkan seluruh ahli bahasa untuk mengumpulkan para ahli bahasa untuk menuliskan lagi aksara Turki…… Kita pun perlu memantau aksara dan hasil budaya kita. Salah satu contoh adalah tari-tarian. Kesenian adalah hasil budaya. Silakan dikemas sesuai kemajuan zaman agar dapat menerbitkan selera para kaum muda. Tanpa usaha yang sungguh-sungguh, tarian yang indah dan luhur dapat lenyap dan dipelihara bangsa lain. Padahal budaya adalah jatidiri bangsa. Bangsa yang kehilangan jati diri mudah terombang-ambingkan. Budaya berakar dalam masa yang lama, dan dalam DNA diri kita terdapat  benih-benih budaya tersebut………

Sang Suami: Demikian pula Ramayana semoga dapat diambil nilai-nilai luhur universalnya dan bukan adat yang berlaku pada zamannya. Ramayana adalah kisah epik pertama yang ada dalam sejarah manusia. Naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga India, Walmiki……. Istriku, mari kita menggali hikmah dalam kisah Ramayana.  Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” disampaikan “Bekal Berkarya” untuk menjalani kehidupan yang diperoleh dari Ramayana, Baca lebih lanjut

Sepuluh (10) Butir Pandangan Mahatma Gandhi untuk Mengubah Dunia, Renungan Ke-65 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membicarakan tentang Mahatma Gandhi. Kali ini mereka tidak berdiskusi, tetapi menyimak bersama buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World”, tulisan Bapak Anand Krishna. Mereka sudah tidak tahan melihat kekerasan, kemunafikan dan kesemrawutan yang terjadi di tengah bangsanya. Mereka menyadari bahwa bangsanya harus berubah, akan tetapi mereka sadar putra-putri bangsanya diliputi rasa “takut” untuk melakukan perubahan. Yang berada dalam “comfort zone” takut kehilangan “comfort” dan ingin mempertahankan keadaannya dengan segala cara. Yang berada dalam “uncomfort-zone” takut bergerak sendiri karena merasa lemah dan menggantungkan diri pada mereka yang memiliki “wewenang – yang diibaratkan angkatan bersenjata ampuh” yang ternyata belum bergerak juga. Yang memiliki media tidak memihak pada kesatuan negeri, kecuali “kepentingan pribadi”. Yang melakukan provokasi tidak pernah sadar mereka hanya korban penanaman program sejak kecil agar merasa “fasad/kekerasan” yang dilakukannya adalah benar dan diridhoi Gusti. Yang memahami keadaan diam. Dan adharma semakin merajalela ditengah bangsa. Apakah artinya bila semua putra-putri bangsa memiliki hati nurani tetapi tidak melakukan perubahan dengan tindakan nyata?

Mereka ingat sebuah wisdom yang diilhami kehidupan Michael Jackson…….. Seluruh kezaliman, ketidakadilan dan kekejaman di sekitar kita harus dihentikan. Kita tidak bisa berharap seorang nabi diutus untuk membersihkan masalah yang kita buat sendiri. Kita harus berdiri dan bergerak! Berdiri saja dengan cukup. Kita harus bertindak, dan menjadi aktivis. Seorang kritikus kerjanya mengkritik, dan dia berhenti di situ. Seorang penulis ya menulis, dan juga berhenti di situ. Analis juga begitu. Banyak orang yang memiliki kemampuan seperti itu, namun tetap saja dengan terjadi perubahan yang berarti. Mengapa? Karena dengan berhenti. Dengan tidak berdiri, tidak bergerak; tidak bertindak dan menjadi aktivis. Kita tidak kekurangan humanis yang merasakan dan menangisi penderitaan umat manusia. Namun itu saja tidaklah cukup. Kita harus menghapus air mata itu. Michael Jackson membujuk kita untuk menjadi aktivis, “berdiri, bergerak” untuk menyembuhkan dunia ini……. “Heal the World-Sembuhkan Dunia”, “Mangasah mingising Budhi-Mencerdaskan bangsa”, “Mamasuh Malaning Bhumi-membersihkan borok Ibu Pertiwi”, “Mamayu Hayuning Bawono-Memperindah Keadaan Negeri”………

Mereka merasa petikan atau “wisdom quotation” dari buku yang sangat mulia ini dapat memicu perubahan diri………

Butir # 1 Change Yourself:You must be the change you want to see in the world.” Kau sendiri mesti menjadi perubahan seperti yang kauinginkan terjadi dalam dunia……… Perubahan mesti dimulai dari diri sendiri. Jangan mengharapkan perubahan dari dunia luar. Jangan menunda perubahan diri hingga dunia berbeda. Coba perhatikan, dunia ini senantiasa berubah. Kalau kita tidak ikut berubah, kita menciptakan konflik antara diri kita dan dunia ini…….Pengotakan manusia berdasarkan suku, ras, agama, kepercayaan dan lain sebagainya lahir dari pikiran yang masih belum dewasa. Pikiran yang masih hidup dalam masa lampau, masih sangat regional atau parsial, belum universal……. Pikiran seperti inilah yang telah mengacaukan negeri kita saat ini. Kita hidup dalam kepicikan pikiran kita, dalam kotak-kotak kecil pemikiran kita, tetapi ingin menguasai seluruh Nusantara, bahkan kalau bisa seluruh dunia. Jelas tidak bisa. Baca lebih lanjut