Masih Tertidur-Belum Terjaga, Renungan Ke-59 Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang berolah-rasa tentang berguru. Beberapa buku, artikel dan wejangan Bapak Anand Krishna mereka jadikan referensi. Mereka yakin siraman wisdom dari referensi tersebut secara repetitif intensif bagaikan pemberian pupuk bagi pengembangan tanaman kasih dalam diri.

Sang Suami: Istriku, kita baru saja membaca ulang bersama sebuah wejangan pada beberapa tahun lalu yang masih selalu menyentuh hati kita………. Sri Krishna berkata di Bhagawad Gita: malam bagi mereka yang tidak sadar, merupakan siang bagi mereka yang sadar. Saat itu mereka dalam keadaan jaga. Dan pada saat mereka yang belum sadar dalam keadaan jaga, seorang bijak berada dalam keadaan tidur…… Secara apa yang tersirat dan apa yang tersurat dalam kata-kata tersebut – dua-duanya perlu direnungkan. Yang tersurat: malam hari adalah saat yang paling tepat untuk melakukan olah spiritual. Sadhu Vaswani pernah menulis, “keep awake at night to please Rama.” Jangan tidur sepanjang malam, terjagalah sepanjang malam untuk menyenangkan Yang Maha Kuasa. Seperti pengantin baru, rasa ngantuknya sudah hilang. Walaupun sebelumnya ia capek karena pesta perkawinan, tetapi rasa capek itu terkalahkan oleh rasa bahagia untuk bertemu dengan Sang Kekasih. Seorang murid atau seorang pengabdi, seorang disciple, seorang devotee – adalah seorang pengantin baru. Dia tidak pernah berubah menjadi istri lama yang sudah bersikap acuh tak acuh terhadap suaminya. Sebab itu bhakti disebut NITNUTAN – selalu baru. Bhakti tidak pernah menjadi usang, tidak pernah menjadi layu karena waktu………. Ada kalanya ketika kita berguru, kita merasa sangat excited. Ini juga terjadi ketika kita baru belajar agama, atau baru menjalani olah spiritual. Namun setelah beberapa waktu kemudian excitement itu hilang, malah lenyap tanpa bekas. Ini bukan bhakti. Bhakti adalah excitement sepanjang masa. Tidak pernah mengalami pasang surut. Seorang bhakta adalah seorang penganten baru sepanjang masa. Cintanya, kerinduannya tidak pernah surut. Itu yang tersurat…….

Sang Istri: Kemudian wejangan tersebut menjelaskan yang tersirat………. Sekarang yang tersirat: malam adalah gelap. Dan, seluruh dunia sedang mengejar cahaya. Kita pun bekerja ketika matahari masih ada. Kita sepenuhnya tergantung pada cahaya di luar diri. Seorang bhakta tidak tergantung pada cahaya itu. Dia tidak tergantung pada cahaya di luar diri, cahaya matahari, maupun cahaya buatan. Dia sepenuhnya bergantung pada cahaya jiwa di dalam dirinya, sinar kesadaran di dalam batinnya. Batin yang selama ini gelap gulita bagi mereka yang belum mengenal bhakti adalah terang benderang bagi para bhakta. Para pecinta telah menemukan bulan, bintang dan matahari. Kesadaran serta pencerahan di dalam diri mereka. Sebab itu, keep awake, O my soul while the world sleeps, karena Sang Kekasih dapat mengunjungimu setiap saat. Jangan sampai Ia menemukan dirimu tertidur lelap ketika Dia mengunjungi rumahmu. Jangan sampai jiwamu tidak mendengar langkah kaki-Nya, dan ketukan-Nya pada pintu batinmu. Do not seek company…… Dunia ini masih tertidur, biarlah mereka yang suka tidur bersahabat dengan mereka yang sama-sama suka tidur. Janganlah kau bersahabat dengan mereka. Nantikan kedatangan Sang Kekasih dalam kesepianmu, keheninganmu kehampaanmu – seorang diri!

Sang Suami: Benar istriku, dunia ini masih tertidur, kita masih tertidur. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan……… Ada yang mengejar harta, ada yang mengejar pahala. Ada yang mengejar takhta, ada yang mengejar sorga. Dilihat sepintas, mereka tampak berbeda. Padahal, tidak demikian. Selama Anda masih mengejar sesuatu, Anda belum “terjaga”. Anda kekurangan harta dalam mimpi, dan Anda mengejar harta dalam mimpi. Anda menginginkan pahala dalam mimpi, dan Anda mengejar pahala dalam mimpi. Anda tidak memiliki takhta dalam mimpi, dan Anda mengejar takhta dalam mimpi. Anda kehilangan sorga dalam mimpi, dan Anda mengejar sorga dalam mimpi. Ada yang pernah menanyakan kepada Siddhartha Gautama, “Siapakah Engkau sebenarnya? Manusia atau Dewa, Malaikat?” Sang Buddha menjawab, “Aku Buddha—Yang Terjaga!”………….

Sang Istri: Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” tersebut juga disampaikan……… Umat manusia terbagi dalam dua kelompok utama. Kelompok yang masih tidur, masih bermimpi. Dan kelompok yang sudah terjaga. Ironisnya, kelompok yang masih tidur inilah kelompok mayoritas. Yang sudah terjaga, sedikit sekali. Syukur-syukur kalau mereka hanya tidur dan bermimpi. Di zaman Shankara, mungkin demikian. Sekarang, ceritanya lain lagi. Mereka tidak hanya bermimpi, tetapi berjalan dalam tidur, sehingga terjadilah kekacauan di mana-mana………

Sang Suami: Sesungguhnya kesadaran kita tidak pernah mati, hanya tertidur lelap. Gusti Yesus memberikan istilah “lahir kembali” kepada orang yang telah terjaga. Kita semua berasal dari Roh. Namun, kemudian kita memperoleh kemampuan untuk berpikir secara terpisah. Kemampuan itu memberi kebebasan, sekaligus membuka kemungkinan bagi terjadinya kesalahan. Jika kita tidak menyadari hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, dengan Allah, maka terjadilah kesalahan. Awalnya, pikiran kita yang salah, kemudian perbuatan. Dan kita “tertidur lelap” dalam ketidaksadaran. Dalam buku “Maranatha, Bersama Anthony de Mello Mabuk Anggur Kehadiran Tuhan” disampaikan…….. Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah. Yang harus lahir kembali siapa? Banyak penafsir liberal mengkaitkan ayat ini dengan reinkarnasi; padahal tidak demikian. Ayat ini tidak menjelaskan reinkarnasi. “Dilahirkan kembali” sepuluh ribu kali pun tidak menjadi jaminan bahwa Anda akan “melihat Kerajaan Allah”. Yang dimaksudkan oleh Yesus adalah “kematian mind” dan “kelahiran kembali kesadaran”. Bangkitnya kesadaran diri – bangkitnya Kundalini – itu yang dimaksudkan oleh Yesus. Sesungguhnya “kesadaran” dalam diri kita tidak pernah mati, hanya tertidur lelap. Dalam simbolisasi Yoga, kesadaran ini digambarkan sebagai seekor ular yang sedang tertidur pulas, sulit dibangunkan. Tetapi sekali terjaga, sekali terbangunkan, dia tidak membutuhkan bantuan siapa pun juga. Dia bisa mengangkat sendiri kepalanya. Dia bisa bergerak sendiri………

Sang Istri: Ajaran para Buddha menyebut istilah “keadaan terjaga dari tidur panjang” tersebut sebagai “Tatha”. Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Bapak Anand Krishna” disampaikan……… Dalam ajaran para Buddha – mereka yang sudah “terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi” – keadaan itu disebut “Tatha”. “Tatha”, Berarti….“Thus”, atau “Such” – seperti itulah!. Ya, seperti itulah arti “Tatha” – “Seperti Itulah!” Singkatan dari “Yatha-Bhuta”, yang juga bisa diartikan “As It Is”, atau  sebagaimana adanya”. “Tatha” adalah keadaan awal setiap manusia……. Yesus mengatakan kita “kembali seperti seorang anak kecil” – like a little child! “Kembali seperti seorang anak kecil”, berarti, “tetap dewasa, tapi dengan kepolosan, kesahajaan, dan terutama keceriaan seorang anak kecil.” Oleh sebab itu, seorang yang telah terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi disebut “Tathagata”-”ia yang telah mencapai keadaan itu”. Menjadi “seperti seorang anak kecil” berarti menjadi seorang Tathagata. Polos, tapi tidak bodoh. Bersahaja, tapi tidak naif. Lembut, tapi tidak lemah. Sopan, tapi menjaga diri, “supaya tidak dimakan orang juga”…….. Ketika Buddha ditanya seperti apakah ciri-ciri seorang Tathagata la menjelaskan: “Tak terjelaskan”. Namun, Buddha menjelaskan cara untuk mencapai keadaan itu, yakni dengan membebaskan diri dari keterikatan pada kebendaan yang senantiasa berubah terus. Dan, menyadari hal itu, menyadari bahwa “perubahan adalah sifar dasar benda”. Jika kita terikat dengan salah satu wujud, ketika wujud itu berubah menjadi sesuatu yang lain, kita merasa kehilangan, kecewa, dan berduka……….

Sang Suami: Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Bapak Anand Krishna” tersebut juga disampaikan……… Adakah Kemungkinan Kita Bisa Bebas dari Keterikatan? Ada. Jika kita bisa mengakses “keadaan awal seperti itu” – Tatha. Ada kemungkinan, jika kita bisa berada dalam keadaan itu – Tathagata. Ya, ada kemungkinan. Jika kita bisa menjadi “seperti seoarang anak kecil”. Analogi Yesus sungguh sangat indah, dan mudah untuk dipahami. Awam yang sedang mendengar wejangan-Nya tidak perlu memutar otak tujuh keliling untuk memahami maksud-Nya………. Ketika seorang anak kecil kehilangan mainannya, apakah ia menangis hingga berhari-hari? Menangis sebentar, setelah itu ia “lupa”. Ya, sudah. Hilang, ya hilang. Tapi, apa yang terjadi ketika kita kehilangan sesuatu, ketika kita kehilangan seorang yang kita cintai? “Ah, jangan membandingkan orang dengan mainan!” kata kawanku. Tidak, kawan. Tidak, sobat. Perbandingan itu sesungguhnya tidak penting, yang penting adalah “rasa kehilangan”. Seorang anak kecil “kehilangan” sesuatu, dan kita pun “kehilangan” sesuatu, bagaimana sikap dia dan bagaimana sikap kita? Seorang anak balita yang kehilangan ibunya juga tidak akan merasakan seperti apa yang kita rasakan jika kehilangan seorang yang kita cintai……… Kehilangan tetaplah kehilangan.  Lalu, apa yang membedakan seorang anak kecil yang kehilangan dan kita yang kehilangan? Adakah yang membedakan kita, yang sudah dewasa, dari anak kecil yang jelas masih kecil? Adalah “keterikatan” yang membedakan. Seorang anak kecil masih belum “terlalu” terikat. Orang dewasa, sudah “terlanjur” sangat terikat. Kemudian, apa yang terjadi jika seorang dewasa “kembali menjadi seperti seorang anak kecil”? Apakah ia menjadi seperti anak kecil “yang belum terlalu terikat itu”? Tidak, hidup ini tidak mengenal langkah balik. Tidak bisa regresi, itu akan menafikan hukum alam akan evolusi dan kemajuan. Hidup bersifat progresif. Seorang dewasa yang “kembali menjadi seperti seorang anak kecil” melampaui keterikatannya. la tidak melangkah balik, tapi melangkah maju……….

Sang Istri: Benar suamiku, dalam buku tersebut juga disampaikan……… Supaya kita ingat, Yesus hanya menggunakan “seperti seorang anak kecil” sebagai analogi, perumpamaan. Sebab itu, la menggunakan kata “seperti anak kecil” – childlike, bukan childish atau kekanak-kanakan. Adakah yang membedakan keadaan “seorang anak kecil yang masih belum terlalu terikat” dari keadaan “seorang dewasa yang telah melampaui keterikatan, kembali menjadi seperti seorang anak kecil atau yang disebut Tathagata”? Jawabanya: ya, ada. Seorang anak kecil yang belum terikat bersikap cuek, indifferent. Sebaliknya, seorang dewasa yang telah melampaui keterikatan tidak cuek, tidak indifferent, tidak meninggalkan masyarakat untuk menyepi di tengah hutan, dan menghabiskan sisa umurnya di sana. Justru sebaliknya, ia menjadi sangat peduli terhadap keadaan dunia. la melayani dunia dengan penuh semangat dan keceriaan, dan tanpa mementingkan keuntungan pribadi. la menjadi pelayan dunia yang sangat istimewa. la menjadi Mesias, ia menjadi Buddha!…….. Semoga mosaik wisdom ini menjadi penambah semangat untuk peningkatan kesadaran kita semua……

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Februari 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: