Gong Xi Fa Chai Tahun Kelinci 2562, Memanfaatkan Dan Melampaui Pengaruh Astrologi, Renungan Ke-60 Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang berolah-rasa tentang berguru. Buku-buku serta artikel Bapak Anand Krishna mereka jadikan referensi. Mereka ingin memupuk benih kasih dalam diri dengan hujan wisdom secara repetitif intensif. Mereka membuka selubung diri dan menerima hujan wisdom guna membasahi dan mengembangkan benih kasih dalam diri.

Sang Suami: Istriku, kita sudah memasuki Tahun Kelinci 2562, kata orang Kelinci melambangkan keanggunan, sopan-santun, kehati-hatian, nasihat baik, kebaikan dan kepekaan terhadap segala bentuk keindahan. Kelinci bersifat lemah-lembut, dan gerak-geriknya luwes tetapi cekatan. Semua waktu selalu dipengaruhi oleh konstelasi bintang di alam semesta, sebagaimana kita selalu dipengaruhi oleh beberapa orang dominan yang berada di sekitar kita……..

Sang Istri: Suamiku, kali ini mari kita berbincang-bincang masalah astrologi. Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, oleh Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Bapak Anand Krishna” disampaikan……. Sri Yukteshwar, 1855-1936 Mistikus/Yogi, Guru Paramhansa Yogananda berpendapat bahwa kelahiran seorang anak terjadi saat pengaruh konstelasi perbintangan selaras dengan hasil perbuatan (karma) anak itu di masa lalu……..

Sang Suami: Baik istriku, Ilmu astrologi memang dapat menjelaskan “sifat dasar” seseorang berdasar pengaruh dari masa lalu, dan kemungkinan apa yang dapat terjadi pada masa mendatang. Namun “sifat dasar” di sini tidak berarti harga mati. Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, oleh Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Bapak Anand Krishna” disampaikan…….. Ilmu Astrologi yang berkembang di wilayah peradaban Sindhu atau Hindia tidaklah berdasarkan takhayul. Tapi, berdasarkan pengetahuan para ahli mereka tentang ruang angkasa, sebagai hasil penelitian selama ribuan tahun. Dari penelitian-penelitian ilmiah itu pula mereka dapat menyimpulkan bila kehidupan di bumi sangat terpengaruh oleh keadaan di ruang angkasa. Konstelasi perbintangan saat kelahiran tidak hanya menentukan sifat dasar manusia, tetapi juga memengaruhinya sepanjang hidup……… Catatan: “Sifat dasar” di sini tidak berarti harga mati. Ia ibarat kain blacu yang biasa digunakan untuk batik tulis. Kita memang tidak bisa mengubah tenunan kain itu. Tapi, dengan mengetahui sifat kain, kita bisa menentukan bahan celup, dan tulis yang sesuai. Kita juga bisa menentukan corak sesuai dengan selera kita. Pada akhirnya, harga kain itu bisa meningkat beberapa kali lipat karena tambahan-tambahan” yang kita lakukan………

Sang Istri: Benar suamiku, aku teringat bahwa dalam buku “Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik” disampaikan………. Segala sesuatu dalam alam ini saling berkaitan. Dalam hidup sehari-hari, manusia berhadapan dengan dua macam kekuatan. Kekuatan pertama adalah kekuatan gabungan elemen-elemen alami, seperti tanah, air, api , angin dan ruang angkasa, yang ada dalam dirinya. Kekuatan kedua adalah kekuatan alam di luar dirinya. Selama kesadaran manusia masih berada pada lapisan fisik yang bersifat sementara, ia akan selalu dipengaruhi oleh  perubahan-perubahan yang terjadi di bumi dan di langit. Astrologi merupakan ilmu untuk mempelajari respons manusia terhadap berbagai rangsangan yang diperolehnya dari planet-planet lain. Bintang-bintang dan planet-planet tidak pilih kasih. Mereka tidak bisa membantu, atau mencelakakan manusia. Mereka hanya menjadi sarana bagi terlaksananya hukum sebab-akibat. Seorang anak lahir pada hari dan jam tertentu, dan dipengaruhi oleh bintang tertentu, karena karma dia pada masa yang lalu. Ilmu astrologi dapat menjelaskan pengaruh dari masa lalu, dan kemungkinan apa yang dapat terjadi pada masa mendatang………… Walaupun demikian buku tersebut menambahkan………. Mereka yang bertakhayul dan tanpa pengetahuan yang benar, mempercayai ilmu perbintangan menjadi budak para peramal. Seorang bijak akan berhasil menaklukkan bintang-bintang yang mempengaruhi hidupnya. Caranya mudah, ia harus mengalihkan kesadarannya dari ciptaan, ke Sang Pencipta. Pengalihan kesadaran semacam itu – peningkatan kesadaran seperti itu – akan membebaskan dia dari pengaruh-pengaruh duniawi (Pengaruhbintang, ramalan dan lain sebagainya masih bersifat sangat duniawi)………. Peningkatan kesadaran yang terjadi dalam diri manusia akan membuat dia semakin menyadari ketidakterbatasan jiwanya. Sang Aku yang tidak pernah mati, karena tidak pernah lahir. Sang Aku tidak bisa dipengaruhi oleh bintang-bintang……….

Sang Suami: Iya istriku, dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, oleh Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Bapak Anand Krishna” disampaikan……… Leluhur kita yakin bila suratan takdir adalah buatan kita sendiri. Mengikuti hukum sebab-akibat kita menuai sesuai dengan apa yang kita tanam. Buah “akibat” yang kita peroleh hari ini adalah hasil perbuatan kita di masa lalu. Memang kita tidak bisa menolak buah itu. Tapi, kita bisa memastikan buah hari esok, dengan memperbaiki perbuatan kita hari ini. Manusia bukanlah korban nasib yang tidak berdaya. Ia memiliki kemampuan untuk mengubah nasibnya, demikianlah keyakinan leluhur kita. Demikianlah ajaran para bijak dari wilayah peradaban Sindhu, atau Hindia…….. Mereka baru mulai sadar bila penderitaan bukanlah “cobaan” dari Tuhan, tapi adalah akibat dari perbuatannya sendiri. Oleh karena itu, penderitaan dapat diakhiri sekarang, dan saat ini juga, dengan mengubah diri dan memperbaiki perbuatan diri. Obor pengetahuan dan kesadaran baru ini tidak hanya menerangi jiwa Barat, tapi juga membakar habis ilalang kebodohan dan ketidaksadaran vang selama itu menghalangi pertumbuhan jiwa mereka. Hidupmu adalah hidup-”mu”. Kau bertanggung jawab penuh atas hidupmu, atas setiap tindakan, bahkan ucapan, pikiran, dan perasaanmu. Kau bisa memilih hidup dengan kesadaran akan tanggung jawabmu, dan menjadi penentu garis hidupmu. Atau, memilih hidup tanpa menyadari tanggung jawab itu, dan ikut terombang-ambing bersama setiap gelombang pikiran, perasaan, dan keadaan di luar. Kita bisa memilih hidup tanpa kesadaran, dan sepanjang masa berjungkat-jungkit antara pengalaman suka dan duka…. Atau, memilih hidup dengan kesadaran, dan merayakan hidup sekarang dan saat ini juga!

Sang Istri: Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, oleh Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Bapak Anand Krishna” tersebut juga disampaikan…… Apabila kita menyadari sepenuhnya bahwa perbuatan kita pada masa lalu telah menentukan masa kini, maka dengan perbuatan kita pada masa kini, kita dapat merancang masa depan, sesuai dengan keinginan kita. Apalagi seorang manusia juga memiliki akses terhadap kekuatan-kekuatan spiritual, yang tidak terpengaruh oleh bintang dan planet……….

Sang Suami: Istriku, kita dapat memanfaatkan pengetahuan astrologi bagi peningkatan kesadaran. Buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, oleh Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Bapak Anand Krishna” memberikan informasi lengkap tentang setiap bintang, baik kelemahan maupun kelebihannya. Bahkan juga memberikan penjelasan ilmiah tentang pengaruh warna dan batuan kristal……… Kita bisa berkarya sesuai dengan potensi diri. Ada pepatah Cina: “Carilah pekerjaan yang kausukai maka kau tidak akan pernah merasa capek.” Berarti, mengubah hobi menjadi profesi. Silakan mempelajari pengaruh konstelasi perbintangan terhadap rasi Anda. Pelajari pula kekuatan-kekuatan alam yang siap mendukung Anda, dan membantu dalam hal pengembangan diri. Gunakan kekuatan-kekuatan itu untuk meraih keberhasilan. Di saat yang sama, pelajari pula kelemahan-kelemahan, dan kekurangan-kekurangan diri. Janganlah berpikir bila kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan itu tidak dapat diatasi. Semuanya dapat diatasi dan diperbaiki. Adalah kehendak yang kuat dan karya nyata untuk mengubah diri, dan mengubah keadaan. Itu saja yang dibutuhkan………

Sang Istri: Buku tersebut memberikan sebuah catatan tambahan……… Catatan: Bhakti Seva menerjemahkan kata “sankalpa” dalam bahasa Sanskerta sebagai “keinginan” atau “desire”. Adalah “sedikit” lebih tepat jika kata tersebut diterjemahkan sebagai “will power” atau “kehendak yang kuat”. Saya katakan “sedikit” lebih tepat karena memang sulit menerjemahkan “sankalpa”. Pengertiannya adalah “kehendak kuat yang selaras dengan Kehendak Ilahi”. Orang yang ber-sankalpa sesungguhnya telah hanyut dalam kesadaran ilahi. Hal ini telah saya jelaskan dalam “A New Christ, terjemahan, dan ulasan saya terhadap karya monumental, terpenting, dan terbaik Wallace Wattles, penulis The Science of Getting Rich, inpirasi di balik buku dan film The Secret”……. Selanjutnya, saya mesti melakukan revisi seperlunya, supaya pengertian umum yang sudah terlanjur salah mengaitkan “keinginan” atau “desire” dengan hukum ketertarikan atau law of attraction. Keinginan saja tidak cukup walau dibungkus rapi dengan keyakinan. Keinginan kita juga mesti selaras dengan seperangkat hukum alam yang lain, dan di atas segalanya adalah Hukum Sebab Akibat. Sankalpa adalah ‘kehendak kuat” yang selaras dengan Hukum Sebab-Akibat tersebut…….

Sang Suami: Dalam buku tersebut disampaikan…….. Para astrolog di wilayah peradaban Sindhu atau Hindia selalu menasihati supaya kita betul-betul memusatkan seluruh pikiran/kesadaran kita pada apa yang kita hendaki. Itulah satu-satunya cara untuk mewujudkan kehendak menjadi kenyataan dalam hidup. Dalam hal ini, keberhasilan seseorang sangat tergantung pada: Harapan, Kesabaran, dan Keteguhan Hati. Di balik setiap akibat ada sebab. Bukanlah tanpa alasan jika sebagian orang meraih keberhasilan dan kebahagiaan; sementara itu sebagian lagi gagal, sakit-sakitan, hidup dalam kemelaratan, kesengsaraan, dan penderitaan. Oleh sebab itu, memang ada baiknya kita belajar dari kejadian-kejadian di masa lalu sehingga tidak mengulangi kesalahan-kesalahan lama. Tetapi, sangat tidak baik jika kita bernostalgia terus dan menghabiskan waktu untuk menyesali kesalahan-kesalahan di masa lalu. Janganlah melemahkan diri, dan mengendurkan semangatmu dengan mengenang terus kesalahan-kesalahan yang terjadi di masa lalu. Sekarang, saatnya kau bersemangat kembali, dan menghadapi tantangan hidup dengan penuh keceriaan………. Dengan hati yang tenang tapi teguh ucapkan afirmasi ini: Terjadilah apa yang kuinginkan. Keberhasilan dan kebahagiaan mewarnai hidupku. Kesalahan-kesalahan di masa lalu tidak mengendurkan semangatku. Aku justru memanfaatkan pengalaman pengalaman itu sebagai anak tangga untuk meraih Keberhasilan Sejati, dan Kebenaran Abadi…….. Keteguhan hati, kesabaran, dan semangatmu akan mengundang kekuatan-kekuatan alam untuk membantumu sehingga kau dengan mudah meraih kesehatan, kekayaan, keberhasilan, dan kebahagiaan sejati………. Kiong Hi…….. Gong Xi Fa Chai…..

__/\__

Terima Kasih Bapak Anand Krishna

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Februari 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: