Melihat Persamaan Antar Agama, Mutiara Renungan Bhikku Sanghasena di AKC Joglosemar, Renungan Ke-70 Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang membicarakan pesan Yang Mulia Bhikku Sanghasena yang berkunjung ke Anand Krishna Center Joglosemar pada tanggal 24 Februari 2011. YM Bhikku Sanghasena adalah yang mendirikan Mahabodhi International Meditation Center, sebuah Meditation Center  yang mudah ditemukan lewat Google search dalam internet. Dikatakan “Mahabodhi International Meditation Center is great example of one’s vision turning into reality”…….

Sang Suami: Pesan pertama YM Bhikku Sanghasena adalah tentang tidak adanya kedamaian dunia karena dunia telah terkotak-kotak dan berada dalam kotak-kotak yang terpisah…….Bhikku Sanghasena dengan spontan mengucapkan, “Wonderful!”,  saat melihat film tentang Anand Ashram di mana banyak orang dari anak kecil sampai dewasa, berbeda profesi, berbeda suku, berbeda ras, berbeda agama dapat bekerja bersama, meningkatkan kesadaran dalam suasana bahagia……. Beliau menyampaikan demikian pula di Ashram Mahabodhi Ladakh, India yang terbuka untuk semua, tidak ada larangan bagi setiap orang dari agama, ataupun kebangsaan apapun untuk datang. Di Ashram Mahabodhi memandang setiap orang sebagai manusia tidak melihat perbedaan agama dan kebangsaan………. Berbicara masalah kedamaian dunia. Mengapa tidak ada kedamaian? Karena ada “division”, ada pembagian. Karena ada pembagian maka timbullah friksi, muncullah perkelahian. Pembagian, pengkotak-kotakan sudah terjadi menyeluruh dalam setiap kehidupan manusia, pembagian negara, agama, ras, warna kulit, geografi dan sebagainya. Semua orang menginginkan kedamaian, kebahagiaan, kemakmuran, betul demikian semuanya…… akan tetapi hanya kedamaian, kebahagiaan dan kemakmuran bagi kelompoknya. Kelompok Amerika hanya memperjuangkan bagi Amerika, demikian pula Eropa, Asia ataupun suatu agama hanya memperjuangkan kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat seagamanya saja. Dan selalu kita hanya memikirkan kelompok kita dan mengabaikan kelompok lain di luar kita, itulah sebabnya tidak pernah tercapai perdamaian……. Terlalu banyak pengkotak-kotakan dalam kehidupan, pada hal secara fundamental kita itu sama-sama manusia…… Harus ada transformasi, atau perubahan sikap mental, perubahan “attitude”.

Sang Istri: Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” juga disampaikan…….. Kemanusiaan itu bukan hitam atau putih, atau keduanya. Kemanusiaan adalah satu. Anak adalah anugrah alam, keajaiban dan misteri. “Goresan” DNA berbeda, namun jika kita menilik cukup jauh ke belakang, kita akan temukan kita semua berasal dari satu sumber yang sama. Atom itu satu. Energi juga satu. Sumber segala kehidupan adalah satu. Perbedaan kita adalah geografis. Perbedaan biologis. Tetapi bukan perbedaan yang prinsipil. Pada dasarnya, kita semua satu. Jadi, kembali lagi pada kita. Bagaimana cara pandang kita? Apakah kita menyadari esensi yang satu dan sama, atau kita hanya melihat perbedaan-perbedaan di permukaan? Tiap orang dari kita adalah unik. Ya benar. Tetapi jangan biarkan keunikan ini memisahkan kita. Marilah kita selalu ingat bahwa pada intinya kita semua satu. Marilah kita rayakan keunikan individual kita. Namun janganlah lupa bahwa lantai dansa adalah satu juga. Kita tidak bisa berdansa tanpa lantai dansa  kesatuan ini. Keunikan tarian kita dapat terlihat hanya karena lantai dansa kesatuan. Tanpa lantai dansa ini, tidak mungkin ada tarian. Sesungguhnya, dalamnya inti, tidak ada hitam atau putih. Hitam dan putih tidak lagi menjadi masalah, atau dipandang sama rata. Melalui lagunya, sebenarnya dia sedang mengundang kita untuk masuk ke dalam diri dan menemukan esensi yang sesungguhnya………

Sang Suami: YM Bhikku Sanghasena menyampaikan tentang keadaan saat ini dimana tidak ada kedamaian yang nyata, yang ada hanya omongan belaka. Beliau menyampaikan……. Misalkan saya sedang damai, rileks duduk santai di atas kursi dan kopi di sebelah kita. Kemudian tangan kita sedang memegang cangkir. Kemudian kita mendengar suara ledakan di tetangga kita, apakah kita bisa rileks dan damai?………. Misalkan kita sedang rileks, merasa nyaman dan mau ambil secangkir kopi untuk dinikmati, akan tetapi dari jendela di sebelah kita duduk kita melihat seorang ibu dan anak terluka berdarah-darah, sedang menangis apakah kita bisa merasa damai?……… Kita hanya bisa merasa rileks, damai dan minum kopi dengan nyaman bila tetangga kita juga nampak dari jendela kita bahwa dia juga sedang duduk rileks dan minum kopi juga……… Beliau menyampaikan bahwa pada zaman dahulu, manusia melakukan perang hanya memakai busur dan anak panah yang jangkauannya hanya puluhan meter. Kemudian berita peperangan tersebut sampai ke telinga seseorang yang berada di luar daerah bisa makan waktu berbulan-bulan. Akan tetapi sekarang untuk menghancurkan sebagian dunia cukup memencel sebuah tombol. Kemudian pada saat ini, kejadian di belahan dunia lain dalam waktu menit sudah ada di depan kita…….. Dulu pengaruh suatu peristiwa perang terhadap kedamaian terbatas, kini beritanya tersebar dalam waktu singkat sekali……. Kita harus punya visi baru bagi kedamaian orang, keluarga, negara, agama. Bukan hidup sendiri, damai sendiri, dan kita tidak peka, tidak terpengaruh anak-anak kecil yang terbunuh dalam perang atau kekerasan.

Sang Istri: Dalam buku “A NEW CHRIST Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Anand Krishna” disampaikan……. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia (tetanggamu) seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.” (Markus 12 : 30-31).  Adalah dalam konteks kesetaraan pula ketika Yesus berperan supaya kita mencintai tetangga, atau sesama manusia, sebagaimana mencintai diri. Apa arti mencintai tetangga, atau sesama manusia? Seandainya saya hendak makan siang bersama istri saya, di atas meja makan hanyalah tersedia sepotong kue pai dan sisa roti yang sudah kering. Kemudian saya ambil pai untuk diri saya dan menyisakan roti kering untuk istri, yang konon saya cintai, apakah dengan cinta seperti ini saya dapat mencintai tetangga saya? Jelas tidak. Jika saya mencintai istri saya, saya akan menginginkan kue itu untuk dia sebagaimana saya inginkan untuk diri saya. Jika saya mencintai tetangga saya, segala kenikmatan yang saya inginkan untuk diri saya akan saya inginkan untuk dia pula. Jika saya mencintaimu, apa yang saya upayakan untuk diri saya akan saya upayakan pula untuk dirimu. Apa yang saya upayakan bagi anak-anak saya akan saya upayakan pula bagi anak-anakmu. Saya tidak akan membiarkan dirimu dizalimi sebagaimana saya tidak akan membiarkan diri saya dizalimi. Saya tidak akan menerima ketidakadilan terhadap mereka yang kaucintai, sebagaimana saya tidak menerima ketidakadilan terhadap mereka yang saya cintai…….

Sang Suami: YM Bhikku Sanghasena menyampaikan tentang setiap agama mempunyai perbedaan normatif, semua agama memang mempunyai hal demikian. Beda lokasi, beda masyarakat, beda zaman, maka pesan ilahi yang disampaikan nampak berbeda, padahal ada kesamaannya, esensinya sama. Kemudian sumbernya adalah beberapa orang yang mengalami “pencerahan”. Beliau menyampaikan…….. Agama seperti bunga di taman, tanpa bunga tidak indah. Biarlah kita memilih bunga yang sesuai dengan selera kita. Jangan sekali-sekali kita membuat agama baru yang meliputi semua agama, jangan membuat negara baru yang meliputi semua negara. Jangan menambah masalah baru. Satu negara, satu agama? Ibarat membuat bunga khusus dan bunga yang lama dimusnahkan semuanya. Tidak akan jalan bahkan menambah permasalahan baru. Semua bunga indah, cocok dalam suatu taman. Siapa yang bisa bilang suatu bunga adalah yang paling indah?

Sang Istri: Dalam buku “Tantra Yoga” disampaikan…… Kita lupa bahwa seorang Master datang untuk menunjukkan jalan. Kita lupa bahwa ajaran mereka bagaikan peta. Harus dipelajari dan dijalani, tidak hanya disembah-sembah dan dipuja-puja. Yang lebih aneh lagi, bila ada orang yang mau membuka peta itu, mau mempelajarinya, kita berang: “Eh, ada urusan apa kamu membuka peta itu? Nanti malah rusak. Taruh kembali, jangan dipegang.” Lucu yah! Kata-kata bukanlah ajaran. Untuk menjadi ajaran, kata-kata haruslah diterangi oleh pencerahan si penyampainya, Pencerahan seorang Master, seorang Mursyid bagaikan nyawa. Kata-kata plus nyawa sama dengan ajaran. Bila anda berwawasan luas, tidak fanatik terhadap suatu ajaran, dan masih bisa berpikir dengan kepala dingin, anda akan melihat persamaan dalam setiap ajaran. Setiap master, setiap Guru, setiap Murysid sedang menyampaikan hal yang sama. Cara penyampaian mereka bisa berbeda. Tekanan mereka pada hal-hal tertentu bisa berbeda. Tetapi inti ajaran mereka sama. Dan memang harus sama, karena berasal dari sumber yang sama.

Sang Suami: YM Bhikku Sanghasena menyampaikan penghormatan pada Anand Ashram. Beliau sangat kagum dengan sebuah contoh nyata yang dilakukan di Anand Ashram, orang-orang dari berbagai bangsa, suku, ras, berbagai profesi, berbagai usia, berbagai bahasa ibu, dari berbagai agama dapat bekerja sama meningkatkan kesadaran. Mempunya visi satu bumi, satu langit, satu umat manusia. Beliau berkomentar, “Bukankah itulah “surga” dan kalian menjadi dewa dan dewinya?”…….  Surga bukan terletak pada lokasi geografis tertentu, bukan pula terletak jauh di atas sana. Surga terletak di dalam kedamaian dan kepuasan hati……. Contoh nyata “surga” itulah yang harus diaplikasikan di negara dan di dunia. Sebagian besar penduduk dunia berada dalam ignorance, kebodohan , masih tidur, belum sadar.

Sang Istri: Aku ingat sebuah wejangan bijak….. Di suatu pulau di Jepang hidup sekitar 300 ekor kera. Beberapa ekor kera dilatih membersihkan ubi sebelum makan, sangat sulit untuk berubah, tetapi setelah satu ekor berubah, diikuti beberapa ekor sampai 30 ekor dan kemudian semua kera di pulau tersebut membersihkan ubi sebelum makan. Dan luar biasanya kera-kera di pulau lain yang terpisah lautan tiba-tiba ikut-ikutan mencuci ubi sebelum memakannya…. Sebuah energi yang luar biasa agar kita tetap semangat menghadapi rintangan-rintangan dalam penyebaran kesadaran…..

Sang Suami: Pesan YM Bhikku Sanghasena selanjutnya adalah jangan “under estimate” terhadap kemampuan diri pribadi. Beliau menyampaikan……. Dalam sejarah, kedamaian selalu dimulai dari 1 orang saja. Dan kemudian berkembang. Kekuatan seseorang adalah 10.000 kali dari perkiraan kita. Bila kita damai, dan kita berhubungan dengan internet, maka kedamaian kita cepat menyebar…… Beliau memberikan ilustrasi…….. kita mempunyai 5 jari tangan yang berbeda. Bila jari-jari tangan tersebut disatukan dalam satu kepalan tangan, maka sewaktu berhadapan dengan orang lain akan muncul bahaya. Jari-jari tangan yang berbeda-beda tersebut membentuk kepalan tinju. Biarkanlah jari-jari tangan tersebut dalam keadaan berbeda. Dan, kelima jari yang berbeda bisa digunakan untuk berjabat tangan, untuk persahabatan……. Beliau memberikan ilustrasi lain……. Semua agama disampaikan dalam “bahasa” berbeda, nampaknya berbeda tetapi semuanya berawal dari seorang yang mendapat pencerahan purna. Kasih murni, cinta murni…….. Seorang dokter sedang memeriksa pasien, dia akan memeriksa tubuh yang sakit secara mendalam, dokter tak akan bilang, kamu agama Islam maka sakitmu akan kuobati, kamu agama kristen kamu saya obati sebagian, kamu beragama hindu saya tidak mau mengobati. Dokter saja menganggap sama manusia apalagi manusia yang sudah mengalami pencerahan purna dia akan menganggap semua manusia sama…… Krishna, Muhammad, Jesus, Buddha, Guru Nanak dan lain sebagainya adalah dokternya dokter, selalu menganggap manusia sama.

Sang Istri: Aku ingat tentang sebuah pandangan bijak…….. “Wahyu” adalah getaran-getaran Ilahi. Seperti siaran radio. Gelombang radio ada di mana-mana. Siaran dari setiap setasiun dari seluruh dunia berada dalam ruangan di mana anda berada saat ini. Bahkan, berada dalam setiap ruangan, di setiap tempat, di manapun anda pernah ada, dan akan berada. Untuk menerima siaran-siaran itu, yang dibutuhkan adalah sebuah receiver, alat penerima-radio. Nah, sekarang tergantung betapa canggihnya alat penerima anda. Semakin canggih radio yang anda miliki, semakin banyak siaran yang dapat anda terima. Anehnya, semakin pendek gelombang radio, semakin luas jangkauannya. Short wave bisa menerima siaran dari manca-negara, tetapi FM dan AM hanya bisa menerima siaran dalam negeri. Sesuai dengan gambaran itu, mari kembali kepada apa yang kita sebut “wahyu”. “Wahyu” adalah Getaran-Getaran Ilahi yang bergelombang amat sangat pendek. Semakin dalam anda meniti diri sendiri, semakin jelas penerimaan anda. Karena itu, mereka yang sibuk mengejar ilmu pengetahuan dari luar diri – yang “bergelombang panjang” – tidak pernah menerima wahyu. Yang menerima siapa? Muhammad, seorang yatim piatu, seorang pedagang yang buta huruf. Siapa lagi? Seorang Yesus, seorang Isa-anak tukang kayu! Siddhartha harus meninggalkan istana, melepaskan segala macam atribut luaran, untuk menerimanya. Krishna adalah seorang gembala sapi. Merekalah para penerima wahyu. Mereka ini meniti jalan ke dalam diri. Mereka menemukannya dalam diri sendiri. Perbedaan yang terlihat antara Al-Qur’an dan Veda, antara Dhammapada dan Zend Avesta, antara Taurat dan Guru Granth, disebabkan oleh “alat penerima”. Apalagi dalam hal ini, setiap “alat penerima” adalah manusia dengan berbagai budaya yang berbeda! “Alat penerima” wahyu di Timur Tengah berbeda sedikit dari “alat penerima” di India. Begitu pula dengan “alat penerima” di Cina, tentu saja berbeda dari “alat-alat penerima” yang lain. Setiap “alat penerima” dipengaruhi oleh budaya setempat. Nabi Muhammad dipengaruhi oleh budaya Arab. Buddha dipengaruhi oleh budaya India. Lao Tze dipengaruhi oleh budaya Cina. Musa dipengaruhi oleh budaya Mesir. Getaran-Getaran Ilahi atau “wahyu” yang diterima oleh masing-masing “alat penerima” oleh masing-masing nabi, avatar, mesias, dan buddha diterjemahkan dalam bahasa setempat. Juga dikaitkan dengan kondisi setempat, dengan kejadian-kejadian kontemporer. Itu sebabnya, setiap kitab suci-apakah itu Al-Qur’an, Veda, Dhammapada, Injil, Zend-Avesta, Taurat, Zabur, Guru Granth selain mengandung ajaran-ajaran yang bersifat universal, juga mengandung ayat-ayat yang bersifat sangat kontekstual………

Sang Suami: YM Bhikku Sanghasena menyampaikan agar kita melihat persamaan agama bukan perbedaannya…….. Misalkan ada sebuah kita umat lain setebal 1.000 halaman. Yang kita betul-betul tidak dapat menerima mungkin hanya 20 lembar, mengapa kita berfokus pada yang 20 lembar tersebut. Bukankah kita bisa menjalin persahabatan dengan kesamaan yang 980 lembar? Beliau memberikan ilustrasi………. Ibarat kita pesta ada banyak makan di atas meja sebagian besar sesuai selera, kenapa kita memakan yang tidak sesuai selera? Pinggirkan yang tidak sesuai selera, makan yang sesuai selera dulu. Bukankah bisa demikian? Pada akhirnya kita bisa menerima yang tidak sesuai selera kita juga. “Acceptable first and we make frienship, disagreement not touch”……… Selanjutnya YM Bhikku Sanghasena menyampaikan agar kita  jangan “membuta” dan agar kita menggunakan pikiran jernih……. Jangan memaksa anak kecil dengan dikte-dikte tertentu. Biarkan pikiran mereka berkembang. Jangan hanya mengikuti secara membuta……. Bila kita kita mengikuti pemimpin yang bijak kita akan berbahagia, tetapi mengikuti pemimpin yang tidak bijak kita akan menderita. Bila melihat pemimpin tidak bijaksana, kita jangan ikut membuta gunakan pikiran. Demikian pula kepemimpinan dalam bidang agama, kita harus tetap menggunakan pikiran jernih….. Pada waktu Buddha hidup belum ada Budhism, pada waktu Jesus hidup belum ada christianism demikian pula agama-agama yang lain. Yang diajarkan oleh mereka hanyalah kasih dan kemanusiaan. Kita sekarang terpisah karena agama. Padahal para junjungan kita jelas menjujnjung kasih, kamnusiaan dan tidak membeda-bedakan. Renungkanlah.

Sang Istri: Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan…….. Apapun agamamu, dan apapun agamaku – “keagamaan” kita sama. Esensi atau nilai-nilai luhur yang terdapat dalam semua agama sama, yaitu Kasih, Kedamaian, Kebenaran, dan Kebajikan. Ketika kau menerjemahkan nilai-nilai itu dalam keseharian hidupmu, dan ketika aku menerjemahkannya dalam hidupku – maka kita bertemu!

Sang Suami: YM Bhikku Sanghasena menyampaikan tentang masalah tempat ibadah………. Kita bisa makan dan minum bersama di restaurant. Perbedaan agama tidak eksis saat minum cocacola di sana. Tetapi mengapa, di gereja, di vihara, di kelenteng, di Pura, di Mesjid kita membeda-bedakan agama setiap orang dengan jelas. Mengapa justru di tempat suci kita tidak bisa  duduk bersama? Mengapa mereka yang beragama lain tidak boleh masuk? Pemisahan justru terjadi di tempat suci? “Ignorance”, ketidaksadaran. Mengapa para pemimpin agama, para Guru tidak sadar?

Sang Istri: Dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern” disampaikan……… Ada pula yang menamakannya Kesadaran, Pencerahan. Alam kesadaran ini bisa dialami, tetapi tidak ada kata yang dapat menjelaskannya. Inilah meditasi. Sri Mangkunagoro mengisyaratkan bahwa hanya yang telah mencapai kesadaran tersebut, layak disebut guru. Pertama Bhoutik atau kesadaran fisik, jasmani. Apabila kesadaran kita hanya mencapai tingkat ini, kita akan selalu mementingkan materi. Kita tidak bisa melepaskan diri kita sepenuhnya dari tarikan-tarikan hawa nafsu. Kita masih terobsesi oleh keduniawian. Kedua, Daivik atau kesadaran psikis, enersi. Tingkat ini lebih tinggi daripada tingkat sebelumnya. Berada pada tingkat ini, seseorang mulai melihat persamaan antara segala sesuatu yang kelihatannya berbeda. Bentuk fisik kita berbeda, tetapi proses pernapasan kita sama. Bumi di mana kita berpijak juga sama.  Alam ini satu dan sama. Berada pada tingkat ini, kita akan sangat terbuka. Kita bisa mempelajari setiap agama tanpa harus meninggalkan agama kita sendiri. Pada tingkat ini, cinta mulai bersemi. Kita akan mencintai sesama makhluk, bukan hanya sesama manusia. Kita mulai sadar bahwa segala sesuatu itu ciptaan Tuhan yang satu dan sama. Yang terakhir adalah kesadaran Adhyatmika. Lapisan kesadaran ini akan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, dengan alam semesta. Tingkat ini hanya dapat dirasakan, tidak adapat dijelaskan. Menurut Sri Mangkunagoro, sruning brata kataman wahyu dyatmika: dengan latihan-latihan tertentu, Anda akan menerima wahyu yang berasal dari kesadaran Adhyatmika. Berarti, Anda akan dituntun oleh kesadaran Anda sendiri……….

Sang Suami: YM Bhikku Sanghasena menyampaikan tentang meditasi……. Kita bukan mesin, manusia punya emosi, punya rasa. Mobil yang penyok tidak bersuara, tidak demikian dengan manusia……. Kita makan, kita minum, kita berobat, fisik itu penting. Tetapi pikiran itu penting, meditasi itu penting. Kebersihan fisik itu penting, tetapi kita itu pada dasarnya adalah pikiran, maka membersihkan pikiran itu penting. Nabi Muhammad, Jesus selalu berjalan di gurun, Buddha selalu berjalan di hutan, mereka tidak bercermin di gurun atau di hutan. Tetapi hati mereka bersih. Coba kita melihat seorang wanita cantik fisiknya, tetapi hatinya kotor, bencana. Coba kita melihat wajah yang buruk rupa tetapi hatinya cantik, kita bisa menerima. Membersihkan fisik itu penting, tetapi membersihkan hati dengan meditasi itu penting……. Setelah selesai mari kita melakukan meditasi bersama……

Sang Istri: Aku ingat sebuah wejangan bijak……… Membersihkan rumah merupakan suatu tindakan pembersihan lingkungan. Setiap perlengkapan rumah, pintu maupun dinding menangkap dan menahan aura manusia yang berasal dari setiap individu di rumah, begitu juga dengan para tamu. Sisa-sisa ini harus dibuang melalui penyapuan dan pembersihan……. Sebagaimana fisik yang perlu pembersihan rutin, demikian pula pikiran kita, ada hal berharga dan banyak pula sampah pikiran yang perlu dikeluarkan secara rutin. Katarsis dalam meditasi, pembuangan sampah pikiran dan emosi, perlu dilakukan secara rutin……. Semoga……

Terima Kasih Bapak Anand Krishna


 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Februari 2011

Iklan

2 Tanggapan

  1. Semua agama memang mulia. Tinggal masing-masing kita yang meyakininya dan tidak perlu meyakinkan orang lain yang sudah punya keyakinan melainkan duduk bersama untuk berbuat kebajikan. Posting bapak penuh dengan pencerahan. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: